Makna Dukkha, Memahami dan Mengakui Hidup Secara Apa Adanya Demi Hidup Berbahagia, Itulah Paradoks Kehidupan, Akui Dukkha Demi Hidup Bahagia Bebas dari Dukkha

ARTIKEL HUKUM

SERI SENI HIDUP, Manajemen Diri Mengatasi Dukkha, Akui dan Pahami Tiga Corak Kehidupan : Selalu Berubah, Derita serta Tidak Terpuaskan, dan Tanpa Inti Diri yang Kekal Bernama “AKU”

Ada Kalanya, Kebebasan Tertinggi Tanpa Batas-Diri ialah Penjara Terbesar bagi Pikiran dan Tubuh Seorang Manusia

Seorang bayi, ketika baru dilahirkan, akan menjerit penuh kesakitan sejadi-jadinya sebagai pembuka lembaran baru hidupnya di dunia ini. Apakah terhadap sang bayi yang baru di-“cipta”-kan serta dilahirkan tersebut, adalah “tidak sopan” karena menjerit-jerit kesakitan, serta tidak bersyukur karena telah di-“cipta”-kan serta dilahirkan ke dunia ini? Bagaimana dengan Anda sendiri, jIka Anda diberi kesempatan serta dapat memilih, apakah Anda akan tetap memilih terlahirkan ke dunia ini dan terlahir kembali ke dalam rahim mana pun di antara berbagai alam kehidupan, maupun pernah terlahir, atau bahkan memilih untuk tidak pernah tercipta serta tidak pernah terlahirkan dalam rahim manapun lagi?

Buddhisme adalah kebenaran yang lain dari ajaran doktrim maupun dogma agama lainnya, dimana ketika keyakinan-keyakinan tetangganya menyatakan bahwa hidup serta terlahirkan ialah indah dan menyenangkan, layak untuk dilekati dan digelayuti, patut disyukuri dan untuk kembali menjelma, bagai sedang berkunjung ke kafe untuk menikmati santai bersama secangkir minuman hangat sebelum menuju “surga atau neraka” ataupun “neraka berlabel surga”, maka Buddhistik justru menyatakan bahwa hidup dan kehidupan dalam siklus tidak berkesudahan yang menjemukan berupa alam kelahiran kembali tumimbal-lahir, ialah serangkaian “dukkha”—yang bermakna “derita” serta “tidak memuaskan dan tidak akan pernah dapat terpuaskan”. Pelangi itu indah, ciptaan Tuhan. Namun, berbagai penyakit serta hal-hal mengerikan yang akan lebih banyak lagi dapat dengan mudah kita jumpai dalam dunia ini, adalah buruk dan menjijikkan, ciptaan siapakah? Manusia buruk dan jahat, yang selama ini mengganggu dan merugikan hidup kita, ciptaan siapakah?

Hanya dengan memahami dan mulai mengakui, bahwa hidup adalah “dukkha”, barulah kita bersedia untuk membuka mata kita lebar-lebar serta melepaskan diri dari segala fantasi, khayalan, angan-angan, fatamorgana, halusinasi, maupun kemelekatan duniawi ataupun segala pembentukan yang kondisional sifatnya—termasuk melepaskan kemelekatan dari siklus tumimbal lahir yang tidak berkesudahan : lahir, tua, meninggal, untuk kembali terlahirkan, tua, meninggal kembali dan kembali memulai proses siklus yang serupa, berulang-ulang, tanpa jelas ujung pangkal dan ujung akhirnya, bagaikan suatu permainan “komedi putar” yang menjemukan.

Tanpa memahami dan mengakui prinsip kebenaran demikian, maka makhluk hidup akan terus melekat sehingga kembali menjelma terlahirkan dalam rahim pada kehidupan selanjutnya dan berikutnya yang belum tentu bisa secara lebih beruntung terlahir kembali sebagai seorang manusia, yang bisa jadi terlahir kembali sebagai hewan melata ataupun arwah gentayangan, atau bahkan bertumimbal lahir sebagai penghuni alam neraka. Hanya dengan bersedia melepaskan diri dari cengkeraman kemelekatan, kita baru benar-benar terbebas dari derita yang ditawarkan oleh dunia ini.

Terdapat sebentuk bayaran yang harus kita bayarkan demi menikmati kenikmatan duniawi, yang sangat menyerupai simbolisasi seekor ular berbisa yang ganas, yang mana ekornya menawarkan kesenangan untuk kita pegang erat dan disaat bersamaan ular bertaring dengan bisa ular tersebut akan mematuk kita. Hanya dengan melepaskan kesenangan duniawi dengan membuka mata untuk menyadari bahaya yang ada dibaliknya, barulah kita akan dapat terbebas dari derita duniawi—paradoks mengenai kehidupan, yang bukan hanya mencengkeram alam manusia di bumi, namun juga alam para dewata yang dapat memudar sinarnya dan meninggal dunia karena buah Karma Baik yang menipis untuk kemudian terlahir kembali di alam yang lebih rendah, siklus lahir-mati).

Kita semua, tanpa terkecuali, pernah terlahir dengan jumlah kelahiran yang tidak lagi terhitung jumlahnya, dimana Sang Buddha memberi umpama berupa jumlah tetesan air mata derita kita dalam berbagai siklus kelahiran kembali dari satu makhluk ke makhluk berikutnya pada berbagai alam kehidupan, ialah sebanyak volume air pada samudera planet bumi ini. jumlah seluruh pasir di pantai seluruh dunia ketika disatukan, masih lebih kurang dari jumlah kelahiran kembali yang pernah kita lalui.

Karenanya pula, kita semua pernah “mencicipi” bagaimana rasanya dan deritanya terlahir sebagai seorang miskin, seorang jutawan, seorang raja, seorang budak-tawanan, seorang pandai, seorang bodoh, seorang pria, seorang wanita, seorang bangsawan, seorang pelayan, sebagai arwah gentayangan, sebagai makhluk penghuni alam neraka, tidak terkecuali sebagai penghuni alam dewata, sebelum kemudian kembali menjelma makhluk seperti apa adanya diri kita saat kini.

Kita tidak dapat melakukan tawar-menawar dalam hal ini, seperti secara curang hanya bersedia menerima dan mengakui hal-hal yang menyenangkan, sementara itu memungkiri dan menolak dasariah kehidupan yang menyertainya berupa kebenaran mengenai “dukkha” yang menjerat serta mencengkeram setiap bentukan kehidupan sebanyak apapun upaya kita dalam memungkirinya, semakin dipungkiri semakin “babak-belur” kita dibuat olehnya.

Banyak diantara kita, sebagai umat manusia, karena tidak terbiasa berlatih pengendalian dan pembatasan diri, menjelma makhluk yang selalu mengejar kenikmatan duniawi dengan memungkiri dan mengingkari hakekat hidup yang “dukkha”, karenanya dibuat pontang-panting hilir-mudik bersusah-payah demi mencoba memuaskan berbagai ketidak-puasan dalam hidupnya, hingga “membanting-tulang” dalam arti yang sesungguhnya, bahkan jika perlu melakukan perbuatan jahat dan tercela seperti menipu, mencuri, merampok, ingkar-janji mengembalikan dana pinjaman, semata agar dirinya tidak lagi menghadapi “dukkha”—melarikan diri secara temporer, sebelum kemudian “dukkha” akan menjadi lebih menguasai dirinya yang terdesak hingga berakhir pada “jalan buntu” semacam “over dosis” (simbolisasi bagi “kenikmatan tertinggi ialah kematian”, cara yang sangat pragmatis namun bodoh, karena menutup mata dari konsekuensinya).

Tidak sedikit pula diantara para manusia, yang kemudian menjadi pecandu obat-obatan terlarang, minum-minuman keras, maupun produk-produk bakaran tembakau, semata agar dapat melarikan diri dari kenyataan hidup yang “pahit” (truth always bitter, demikian menurut pepatah). Ironinya, terkadang obat bagi kehidupan dan sakitnya hidup, ialah ketika kita harus menelan “pil pahit” itu sendiri—sebagaimana dituangkan oleh adagium klasik yang selalu relevan : Yang manis jangan selalu ditelan, dan yang pahit jangan langsung dibuang.

Dapat pula kita jumpai orang-orang yang menimbun sebanyak mungkin dirinya dengan kepemilikan berupa properti, saham perusahaan, aset berupa uang dan deposito, hingga dilayani oleh selusin istri, namun ternyata tetap dikuasai oleh ketidak-puasan dalam hidupnya yang merupakan pengejewantahan serta manifestasi kebenaran “tilakhana” mengenai tiga corak kehidupan, yakni “anicca, dukkha, anatta”. Karena tiada “diri AKU yang kekal”, maka sejatinya tiada yang dapat benar-benar kita puaskan. Mulanya mungkin puas mendapat segala perolehan demikian, temporer adanya sekalipun kita ingin sekali meyakininya sebagai permanen dengan terus-menerus mengejarnya, sebelum kemudian menemukan diri kita terjatuh serta tidak berdaya tunduk pada “hukum ketidak-kekalan” sebelum akhirnya kembali merasakan keserakahan dan ketidak-puasan yang lebih hebat lagi menguasai diri dan menyabotase cara berpikir jernih kita, bagaikan meminum air laut dengan harapan dapat melepaskan haus dan dahaga.

Sekalipun telah menjabat sebagai seorang presiden, sang presiden masih ingin kembali terpilih sebagai Kepala Negara dalam periode masa jabatan berikutnya, jika perlu menduduki jabatan presiden tanpa batasan. Yang telah memiliki belasan istri, masih juga berfantasi untuk memiliki wanita penghibur sejumlah puluhan bidadari berdada “montok” yang selalu siap melayani nafsu bidahi badaniah (worldly pleasure in heaven). Yang berbuat banyak dosa dan kejahatan, masih juga merasa tidak puas, selain terus-menerus menimbun diri dengan serangkaian dosa dan berbagai kejahatan, masih pula secara serakah dan demikian “korup” mengharap dapat dihapus segala-gala dosanya dan diberikan “karpet merah” menuju alam surgawi.

Pendosa yang “kotor” menghadap disebut “suci”, bahkan mengharap pula dapat bersatu dengan Tuhan yang “suci murni bersih” ataupun alam surgawi yang “jernih suci”. Bahkan sosok semacam Tuhan-pun digambarkan oleh berbagai keyakinan, sebagai subjek yang juga tunduk pada hukum ketidak-puasan karena masih menuntut disembah serta dipuja-puji oleh para manusia, seolah-olah tidak akan eksis tanpa diakui oleh manusia. Adakah pendosa yang “bersih suci murni jernih”? Atau, adakah “orang suci yang pendosa”?

Mengapa demikian masifnya orang-orang di seluruh penjuru dunia, memakai obat-obatan terlarang, bahkan menjadi pecandu yang mencandu? Karena hidup ini “dukkha” adanya dan faktanya, semata karena alasan itulah adanya. Bila kelahiran serta kehidupan ini ialah membahagiakan dan menggembirakan atau menyenangkan bagai berada di taman hiburan, maka tidaklah perlu nenek-moyang maupun generasi masa kini dan masa selanjutnya, akan tertarik menggunakan produk-produk semacam obat-obatan terlarang, maupun barang madat lainnya yang hanya melemahkan kesadaran—melemahkan kesadaran dari apa? Melemahkan kesadaran dari kebenaran eksistensi “dukkha” itu sendiri.

Kita mengenal berbagai bumbu masak yang mampu “menggoyang lidah” dengan cita-rasa yang kaya, yang membuat kita tidak lagi sekadar mengenal rasa manis, asam, dan asing. Namun, masih juga, kita merasa tidak puas dan ingin mencicipi lebih banyak lagi hidangan dengan segudang citarasa unik dan eksentrik dari belahan benua lainnya, menjadi demikian pemilih serta banyak menuntut sekalipun untuk urusan makanan, sekalipun nenek-moyang kita bisa jadi hanya memakan satu jenis umbi-umbian dan daun-daunan sebagai makanan pokoknya sehari-hari tanpa pernah mengenal atau dengan sedikit bumbu yang sangat sederhana, dimana dahulu kala bumbu dapur untuk memasak seperti garam dan kecap demikian langka dan hanya dapat dinikmati oleh segelintir pejabat kenegaraan.

Nenek-moyang kita tidak mengenal alat elektronik sumber hiburan, kendaraan bermotor, ataupun rumah permanen, terlebih semacam listrik dan lampu penerangan di malam hari, hidup secara sederhana, bersahaja, tidak merepotkan, tidak banyak menuntut dalam hidupnya, namun tidak semenderita masyarakat modern masa kita yang segala keinginan serta tuntutan hidupnya demikian banyak dan tidak terhitung jumlahnya telah dipenuhi, akan tetapi justru banyak dijumpai mengalami tekanan kejiwaan hebat. Mengapa demikian? Semata karena nenek-moyang kita telah mengembangkan kemampuan adaptif untuk beradabtasi dengan lingkungan dan kondisinya yang serba terbatas, dengan kesadaran situasional itulah mereka melatih keterampilan yang bernama “pengendalian terhadap keinginan dan tuntutan diri”, pembatasan diri, serta kontrol diri—dimana kesemua keterampilan demikian ialah anugerah, bukan petaka ataupun “mimpi buruk” dan akhir dari segalanya.

Salah satunya ialah Sang Buddha, Pangeran Sidharta Gotama melepaskan segala kemewahan dan kenikmatan duniawi hidupnya, demi melatih pengendalian diri, pembatasan diri, serta kontrol diri, dalam rangka menemukan kebahagian sejati, yakni TIDAK MELEKAT. Karena siap menghadapi dan mengakui adanya fenomena kebenaran mengenai “dukkha” dalam hidup ini dan mencoba memahaminya secara lebih dekat, karenanya tidak melekat pada kesenangan duniawi yang tidak kekal, tidak dapat dipegang erat, serta selalu berubah. Karenanya, Sang Buddha memiliki kemampuan yang disebut sebagai “batin yang tidak tergoyahkan oleh kondisi duniawi yang rapuh dan serba tidak pasti”. Sang Buddha menggambarkan kondisi mental mereka yang terlatih praktik latihan diri sebagai, “batin yang kokoh bagaikan batu karang yang tidak tergoyahkan sekalipun dihempas ombak dan badai”.

Terbiasa berlatih pengendalian diri, pembatasan diri, dan kontrol diri, karenanya tuntutan diri menjadi sangat minim, demikian hidup bersahaja serta sederhana, tidak merepotkan, serta memiliki “kebahagiaan tanpa syarat” serta “kebahagiaan yang tidak bergantung pada kondisi eksternal diri”—itulah tepatnya yang menjadi praktik latihan diri dalam Buddhisme, mempersiapkan batin dan kondisi mental para siswa Sang Buddha untuk siap siaga menghadapi dan mengakui eksistensi serta kebenaran “dukkha” yang mendampingi kehidupan segala bentukan, dan terbebas dari “dukkha” karena telah menaklukkannya dengan tidak lagi tunduk kepada supremasi “dukkha” yang selama ini mempermainkan dan memperbudak umat manusia.

Bagaimana caranya menaklukkan “dukkha”? Yakni dengan cara hidup moderat (jalan tengah), tidak melekat pada kedua kutub yang ekstrim, baik terhadap kenikmatan duniawi (simbolisasi “hidup suka-suka”) maupun terhadap “dukkha” (simbolisasi “penyiksaan diri”) itu sendiri, tanpa pilih-pilih, namun melepaskan kemelekatan dari kedua kutub ekstrim demikian tanpa terjebak pada salah-satunya. Tidak terbuka ruang tawar-menawar bila seorang praktisi kesucian hendak merealisasi Nibbana.

Keserakahan, tidak mengenal batasan. Keinginan, juga tidak mengenal kata puas. Tuntutan hidup, tiada akan pernah ada habisnya. Karenanya, bukanlah lagi “bebas untuk menginginkan” (freedom to wanting), namun strateginya dibalik oleh Buddhisme menjadi “bebas dari (banyak) keinginan” (freedomg from wanting). Strategi manajemen hidup untuk hidup berbahagia, bukan terletak pada sikap hidup bebas tanpa batasan. Bebas, bebas dari apakah, itu yang perlu terlebih dahulu kita tentukan. Justru kita harus berlatih untuk membatasi diri, dan hidup secara sederhana, agar segala indera-indera kita menjadi tenang dan tidak menjadi liar penuh gejolak hebat akibat digelitik dan digoda maupun dirangsang oleh kekotoran batin semacam “lobbha” alias keserakahan yang tidak mengenal batasan ataupun kata puas ketika kita ladeni dan ikuti yang senantiasa mempermainkan dan memperbudak umat manusia, tergelincir setiap kali berdelusi hendak mencari tingkat kepuasan tertinggi yang permanen.

Menjadi gawat, ketika seseorang menjadi abai dan gagal untuk mewaspadai dan membatasi perilakunya sendiri, sehingga bahkan demi mengejar kepuasan dan kenikmatan hidup (upaya pengingkaran terhadap fenomena universal mengenai kebenaran “dukkha” yang mengusai segala bentukan kehidupan semua makhluk hidup), tidak sedikit orang-orang kemudian berbuat kejahatan dan menimbun diri dengan hutang, menjadi beban bagi orang lain, hingga meng-koleksi berbagai dosa, atau bahkan menabung dosa—suatu jenis tabiat “kesenangan tidak sehat” sekaligus “hobi yang buruk”.

Keinginan agar segala dosa-dosa dirinya terhapuskan, adalah candu serta keinginan atau keserakahan dalam derajat yang paling buruk, puncak manifestasi keserakahan, yang membawa pelaku kejahatan tersebut akan semakin dalam menuju lembah serta jurang “dukkha” karena menggali kian dalam “lubung kubur” bagi dirinya sendiri, suatu cerminan sikap “egoistik terhadap diri sendiri”. Manusia, bahkan takut menghadapi dosa dan konsekuensi buah Karma Buruk yang akan dihadapinya sendiri, dan memilih untuk hidup dalam hayalan semu mengenai remisi ataupun pengampunan dosa yang kian melemahkan kesadaran individu bersangkutan. Iming-iming maupun janji-janji perihal “pengampunan dosa” ialah “candu” itu sendiri, “candu pengampunan dosa”, yang bahkan lebih mematikan dan lebih berbahaya daripada sekadar candu obat-obatan terlarang.

Karena telah menyadari dan mampu memahami serta mengakui eksistensi “dukkha” yang menguasai segala bentuk kehidupan makhluk hidup, tanpa terkecuali siapa pun menghadapinya, maka opsi satu-satunya yang paling rasional ialah menghadapi dan mencoba memahaminya alih-alih melarikan diri darinya. Demikianlah manajemen diri menuju kebahagiaan, yakni berdampingan dengan “dukkha” tanpa mencoba memungkirinya. Hal demikian ibarat hidup harmonis bersama alam liar yang dapat berupa satwa-satwa liar, berbagai penyakit, bencana alam, dan segala ketidak-idealan dalam hidup, tidak terkecuali kebenaran mengenai usia tua, sakit, dan meninggal dunia. Kita menjadi siap, dimana mental kita terlatih untuk siap menghadapinya dan mampu untuk bertahan tanpa banyak goyah ketika harus berhadap-hadapan dari jarak dekat dengan sumber dari sang “dukkha”, yang mana cepat atau lambat sang “dukkha” akan merasa bosan menghadapi kita yang ternyata tidak mampu dipermainkan olehnya.

Sang Buddha merupakan salah satu contoh sosok agung guru para dewa dan para manusia yang secara sempurna yang telah mampu menjinakkan serta menaklukkan sang “dukkha”—dimana “dukkha” ternyata bersemayam di dalam kekotoran batin (kilesa) dan kebodohan batin (moha) diri kita sendiri, bukan karena disebabkan faktor eksternal seperti ada atau tiadanya “banyak uang”. Karenanya, upaya serta harapan untuk dapat menaklukkan “dukkha”, harus dimulai dari kesiap-sediaan kita untuk menghadapi serta menaklukkan diri kita sendiri, terutama dimulai dari melatih diri mengendalikan keenam inderawi dalam diri kita.

Kita memiliki tugas kemanusiaan untuk memahami sang “dukkha” yang menampilkan dirinya “meminta perhatian” lewat komunikasi berupa nestapa derita dan ketidak-puasan. Yang menarik dari pengetahuan dan pemahaman mengenai kebenaran kehidupan terkait “dukkha”, ialah kita mulai menjadi mafhum bahwasannya bukan hanya diri kita yang selama ini pernah dan dapat merasakan derita kehidupan dan ketidak-puasan, namun SEMUA ORANG DARI BERBAGAI GENERASI MASA LAMPAU, MASA KINI, DAN MASA YANG AKAN DATANG. Bahkan, penghuni alam dewata pun masih diliputi oleh berbagai ketidak-puasan.

Dengan telah memahami bahwa semua orang menghadapi masalah dan kondisi yang serupa dengan yang kita alami, entah tua atau muda, kaya atau miskin, pria atau wanita, berkuasa ataupun rakyat jelata, cantik ataupun buruk rupa, lemah ataupun kuat, kesemuanya tidak terkecuali dan tidak kebal ataupun resisten dari sang “dukkha” yang menjadi bagian dari darah dalam nadi kehidupan setiap makhluk hidup di berbagai alam kehidupan, tidak terkecuali para dewata, para brahma di alam brahma (yang kita sebut sebagai “Tuhan”, yang karenanya masih ingin disembah, butuh memiliki pengikut, serta menuntut untuk dipuja-puji), maupun makhluk-makhluk di alam “apaya” (alam tanpa kebahagiaan) semacam hewan, setan gentayangan, jin raksasa, maupun penghuni alam neraka.

Orang-orang yang hidup normal tanpa obat-obatan terlarang, tanpa minuman ber-alkohol, tanpa produk candu tembakau, bukan artinya mereka tidak bisa hidup sebagai manusia normal, sehat, sukses, dan bahagia tanpa pernah dan sedang mengalami fenomena “dukkha” pada tubuh maupun batinnya—itu pemikiran dan sekaligus asumsi sang sangat picik. Bukanlah mustahil, namun niscaya mampu hidup bahagia, cerdas-brilian, serta bersinar, tanpa pernah bersentuhan dengan barang madat maupun candu demikian. Namun adalah delusi serta kemustahilan, tidak dapat “survive” secara gemilang tanpa barang madat maupun candu. Yang disebut hidup “normal”, ialah hidup berdampingan bersama dengan “dukkha” itu sendiri, bukan hidup tanpa “dukkha”.

Telah demikian banyak contoh, orang-orang sukses dari segi ekonomi, seperti para pengusaha maupun para artis bintang film kawakan yang memenangkan berbagai piagam penghargaan dunia sinema, yang ternyata jatuh dalam keadaan depresi akibat mencandu minum-minuman keras, maupun candu tembakau tidak terkecuali obat-obatan terlarang. Karenanya, kebahagiaan sejatinya “tanpa syarat”, dimana bahkan Sang Buddha hanya makan satu kali sehari, hanya memiliki sehelai jubah, tidak memiliki harta kepemilikan lainnya, bahkan hidup mengembara tanpa rumah-tinggal tetap.

Karenanya pula, hentikan bersikap seolah-olah hanya diri kita sendiri yang sedang dan dapat mengalami kondisi fenomena “dukkha” dalam hidup kita, sehingga kerap menjadi beban bagi hidup orang lain, menuntut demikian banyak, protes yang tidak beralasan seolah hanya diri kita sendiri yang mengalami masalah serupa, ataupun sikap-sikap keluh-kesah yang pada pokoknya bersikap seolah-olah hanya diri kita sendiri yang digelayuti “dukkha”, menjadi iri terhadap hidup dan kehidupan orang lain yang tampak tenang karena mampu menahan, mengelola, dan meredam “dukkha” dalam dirinya (meski tidak tampak di permukaan maupun dari raut wajahnya, namun bisa jadi batinnya sedang berjuang menahan rasa sakit), ataupun menjadi beban tambahan bagi hidup orang lain seolah-olah orang lain tersebut belum cukup terbebani dengan masalah hidupnya sendiri. Ingatlah selalu, yang disebut hidup “normal” ialah hidup bukan tanpa “dukkha”—justru menjadi “tidak normal” bila berupaya memungkirinya dengan melarikan diri.

Kita selalu memiliki pilihan bebas dalam hidup kita, untuk hidup “pontang-panting”, “jungkir-balik”, dan “hilir-mudik” begitu repotnya demi mencari kepuasan duniawi dalam hidup yang penuh ketidak-pastian ini, dimana tiada yang pasti selain ketidak-pastian itu sendiri, atau memilih untuk hidup secara tidak mengikuti segala keinginan dalam diri kita dan menaklukkannya dengan bersikap “melampaui segala keinginan”—yakni kesederhanaan hidup, hidup yang bersahaja, bebas dari kemelekatan, bahkan bebas dari “belenggu rantai karma” (yakni Nibbana).

Orang-orang tanpa pemahaman mengenai “hidup adalah dukkha”, seringkali terjebak dalam kondisi mental yang menolak dan memungkirinya, lari dari kenyataan perihal “dukkha” sebagai hakekat hidup, dan barulah merasa benar bila dirinya diliputi kegembiraan, kesenangan, dan kebahagiaan duniawi yang mana sifatnya “penuh syarat”, dan terus-menerus pontang-panting karenanya untuk memenuhi segala “syarat” tersebut dalam rangka untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan rasa kegiuran dan kesenangan yang temporer saja sifatnya—menjelma dibudaki dan terbudaki.

Mereka, merasa “jika gembira dan senang barulah benar dan hidup yang benar”, dan sebaliknya “jika derita dan tidak puas itu adalah keliru dan ada yang salah dalam hidup saya ini”. Semata karena tidak memahami, bahwa hakekat “tiga corak kehidupan” (tilakhana) setiap bentukan dan setiap makhluk hidup yang masih terkondisikan, selalu dicengkeram oleh : “anicca” (ketidak-kekalan, selalu berubah, karenanya tidak dapat dipegang erat seperti apapun kita berupaya untuk menggenggamnya), “dukkha” (derita dan tidak akan pernah dapat terpuaskan secara permanen), serta “anatta” (tiada “AKU” ataupun inti diri yang kekal karenanya bahkan kita tidak mampu mengontrol tubuh dan pikiran kita sendiri untuk menjelma seperti apa, seperti mengapa kita tidak bisa memerintahkan agar tubuh ini tetap terjaga berat badannya atau agar tidak menumbuhkan kumis ataupun jerawat, serta rambut yang tidak memutih dan rontok).

Karena faktor kebodohan batin (moha) serta kekotoran batin (kilesa), seseorang berpikir dan berasumsi secara berdelusi, bahwasannya dengan memperoleh banyak hal, maka dirinya mencapai puncak kepuasan, yakni kepuasan tertinggi, permanen, dan kekal—yang artinya mencengkeram dan tercengkeram oleh lebih banyak lagi keinginan serta keserakahan yang bersarang dan tumbuh subur hingga besar dalam diri dan pikiran mereka sebelum kemudian menguasai dan mengambil-alih kendali diri. Sebaliknya, kontras dan bertolak-belakang dengan para manusia yang sangat “duniawi”, Nibbana hanya dapat direalisasi oleh mereka yang justru telah mampu untuk melepas “keduniawian”, yang artinya melepaskan diri dari segala kemelekatan.

Nibbana, mudahnya dapat dipahami sebagai suatu “kebahagiaan tanpa syarat”. Itulah sebabnya, Sang Buddha tidak pernah membutuhkan konsumsi barang madat ataupun barang-barang candu yang memabukkan, bahkan sebaliknya, membuat kesadaran semakin jernih dan kian jernih untuk melihat “dukkha” secara apa adanya “as it is” (Vipassana Bhavana). “Kebahagiaan yang penuh syarat” selalu rapuh sifatnya, karena bergantung pada faktor eksternal diri yang dicengkeram oleh “tilakhana”. Berkebalikan dari itu, “kebahagiaan tanpa syarat” adalah kebahagiaan itu sendiri, kebahagiaan yang sejati dan sesungguhnya, sekalipun “dukkha” itu eksis dan diakui serta hidup berdampingan dengan hidup kita.

Sadar dan menyadari hidup apa adanya, adalah memang menyakitkan, pahit, derita, tidak puas adanya, apa adanya secara alamiahnya, yang mana dialami oleh setiap makhluk hidup yang masih terkondisikan. Namun memang itulah jalan satu-satunya untuk menghadapi “dukkha” dan menerimanya secara apa-adanya, bahkan menjadikannya sebagai “teman baik” yang senantiasa menemani hidup kita sepanjang waktu, bukan lagi diperangi sebagai musuh bebuyutan yang membuat hidup kita terobsesi untuk menyingkirkannya jauh-jauh dari hidup kita sementara kita masih melekat dan bergelayut pada berbagai kenikmatan duniawi yang bagaikan “bunga mawar berduri”.

Mereka yang menenggelamkan diri dalam minum-minuman keras beralkohol, candu produk tembakau, maupun candu obat-obatan terlarang, sejatinya sedang melarikan diri dalam rangka memungkiri alias tidak mengakui fakta realita fenomena kehidupan perihal “dukkha” yang menguasai segala bentukan kehidupan pada berbagai alam kehidupan. Apa yang kemudian terjadi? Memang, mulanya mereka merasa “semua tampak baik-baik saja” ketika sedang “tidak sadarkan diri” atau lemah kesadarannya. Namun, selalu ada harga yang harus dibayarkan dari menipu diri sendiri dan mencoba mencurangi kehidupan ini, yakni “dukkha” akan semakin tampil mewujud dan kian nyata menampakkan supermasinya lebih besar dan lebih besar lagi untuk menarik perhatian dan pengakuan lewat bahasa komunikasi berupa derita dan ketidak-puasan.

Uniknya, sekalipun pada mulanya kesakitan dan derita serta ketidak-puasan hidup tampak demikian nyata dan tidak berjarak dengan kita ketika kita menguatkan alam sadar serta kesadaran yang jernih dan murni, ibarat kolam yang tenang (simbolisasi indera yang tenang terkendalikan dan terlatih dikontrol), maka lumpur akan mengendap di dasar kolam, mengakibatkan permukaan air menjadi jernih, sehingga kita mampu mengamati dan mendapati adanya ikan-ikan yang hidup di dalam kolam tersebut (ikan sebagai simbolisasi “dukkha” yang mengisi hidup kita).

Ketika kita mampu mengenali, mengakui, dan berkenalan dengan ikan-ikan tersebut, ikan-ikan tersebut justru kian mengecilkan diri hingga menyerupai tidak lagi tertarik untuk hidup bersama kita. Para praktisi meditasi seperti para yogi Vipassana Bhavana, memahami betul fenomena kebenaran demikian sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha yang memegang Paten serta Hak Cipta metode meditasi Vipassana Bhavana—satu-satunya jalan untuk memutus “belenggu rantai karma” (break the chain of kamma!).

Kabar buruknya, mereka yang tidak terbiasa mengontrol keenam inderanya, serta tidak terlatih praktik pengendalian diri akibat lemahnya kesadaran dikarenakan konsumsi maupun kegiatan “candu” yang fungsi utamanya ialah semata untuk melemahkan kesadaran (mati rasa), tidak akan mampu untuk duduk bermeditasi—semata karena rasa “TAKUT” serta “GELISAH” karena selama ini hanya terbiasa “melarikan diri”, kini harus mengamati, melihat, dan mengakui eksistensi “dukkha” dalam dirinya yang sudah demikian akut menyerupai sesosok raksasa, berupa rasa sakit, cemas, gundah, tidak puas karena berbagai keinginan yang tidak terpenuhi, desakan dalam diri yang menyesakkan, kekalutan, kegalauan, hingga indera-indera yang liar dan derita fisik maupun derita batiniah itu sendiri.

Terkadang, memiliki kepemilikan adalah beban itu sendiri. Ilustrasi sederhananya ialah sebagai berikut. Mereka yang tidak memiliki properti maupun kendaraan bermotor, hanya akan merasa sakit dan terluka ketika jari kaki atau tangannya terluka terkena benda tajam dan berdarah. Ia tidak akan kecewa ataupun sedih ketika melihat dan mendapati adanya sebuah kendaraan bermotor dalam kondisi rusak ataupun dicuri seorang pencuri, semata karena kendaraan yang hilang atau rusak tersebut adalah bukan miliknya.

Sebaliknya, ketika kendaraan tersebut ialah kepemilikan diri kita, maka kendaraan tersebut seolah menjadi bagian dari anggota tubuh kita, yang mana kita akan turut terluka dan menderita bilamana terjadi kerusakan atau bahkan kehilangan kendaraan dimaksud. Itu sama artinya, kepemilikan membuat kita lebih rentan serta lebih berpotensi “mencicipi” apa itu “dukkha” secara lebih meluas lagi, bukan hanya sekadar anggota tubuh kita berupa kaki dan tangan, namun bisa berupa rekening, kendaraan, properti, aset, saham, logam mulia, deposit box, saham, istri yang cantik, suami yang rupawan, anak yang manis, pangkat dan kedudukan, dan lain sebagainya.

Betul bahwa segalanya membutuhkan uang, namun uang bukanlah segalanya. Kita pun butuh makan untuk memberi nutrisi pada tubuh dan pikiran, namun makanan pun bukanlah segalanya. Kita yang selama ini mempekerjakan pekerjaan, ataupun sebaliknya, pekerjaan yang mempekerjakan kita? Kita yang selama ini menguasai barang madat, atau sebaliknya, barang madat tersebutlah yang selama ini telah melemahkan kesadaran kita dalam rangka memperbudak dan menguasai diri kita?

Faktanya, hanyalah ketakutan yang kurang realistis ketika kita menemukan keberadaan “dukkha” yang inheren serta alamiah sifatnya sebagai bagian dalam diri dan hidup kita, serta merupakan “harapan semu” ketika kita masih ber-delusi bahwa hidup ini ialah indah seindah pelangi yang penuh warna-warna cerah, layak dilahirkan dan tercipta ke dunia ini seolah menunggu rencana besar dari sang pencipta bagi diri kita, berharga, worthed, ibarat tamasya ataupun hiburan yang memuaskan dan menggembirakan, sehingga seolah-olah adalah “ada yang salah bila kita merasakan adanya duri dalam daging bernama derita dan ketidak-puasan”.

Karenanya, meditasi Vipassana dapat dimaknai sebagai aktivitas aktif untuk mengamati “dukkha” dari jarak yang paling dekat tanpa melakukan penghakiman. Kita akan mendapati, bila memang ada “AKU”, maka mengapa “AKU” merasakan kesepian serta kejenuhan bila hanya hidup seorang diri? Jika memang ada “AKU”, mengapa “AKU” dapat melakukan perbuatan yang justru menyakiti dan merugikan diri sendiri? Jika memang ada “AKU”, maka mengapa “tubuh AKU” ataupun “batin AKU” dapat merasakan sakit serta terluka meski tidak “AKU” inginkan? Jika memang ada “AKU”, mengapa “AKU” dapat dan senantiasa berubah-ubah? Jika memang ada “AKU”, mengapa “AKU” dapat diliputi oleh ketidak-puasan dan derita? Jika memang ada “AKU”, mengapa “AKU” tidak dapat mengendalikan serta memerintahkan diri “AKU” sendiri? Jika memang ada “AKU”, maka mengapa “AKU” tidak terpuaskan serta belum penuh adanya?

Karenanya, candu dan pecandu sejatinya adalah seorang “pengecut” yang memilih untuk melarikan diri dari kenyataan hidup perihal “dukkha”, bersikap curang terhadap orang lain yang bersikap berani menanggung segala beban derita dan ketidak-puasan dalam hidupnya, bersikap jahat karena tidak jarang merampas kebahagiaan serta hak-hak orang lain, serta disaat bersamaan bersikap egois terhadap dirinya sendiri dengan cara menyakiti diri sendiri. Kenikmatan bagi banyak orang, bisa jadi adalah pintu masuk atau sumber derita dan mengandung bahaya racun, di mata seorang Buddha. Sebaliknya, ketidak-melekatan seorang Buddha, bisa jadi adalah derita bagi orang kebanyakan. Karena itu jugalah, Buddhisme bukanlah jalan yang mampu ditempuh oleh semua orang yang masih tebal kekotoran batin yang menutupi mata mereka.

Menarik menyimak apa yang dituturkan oleh David Sheff, dalam bukunya yang berjudul “BEAUTIFUL BOY—Perjalanan seorang Ayah Mengatasi Kecanduan Putranya”, dengan uraian yang relevan sebagai berikut:

Banyak yang merasa pada akhirnya ada seseorang yang memahami apa yang sedang mereka alami. Begitulah maksudnya bahwa kesedihan membutuhkan teman: Orang dibebaskan untuk mengetahui bahwa mereka tidak sendirian dalam penderitaan mereka, bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, dalam hal ini sebuah penyakit masyarakat—penyakit bagi anak-anak, penyakit bagi keluarga. untuk alasan yang mana pun, kisah seorang anak tak dikenal kelihatannya memberi mereka isyarat untuk menceitakan kisah mereka. Mereka merasa aku bisa mengerti, dan aku memang mengerti.

“‘Kau terlalu bagus sebagai manusia untuk berbuat begini terhadap dirimu sendiri,’ seorang dokter memberitahu seorang pecandu alkohol dalam kisah Fitzgerald. Pecandu hidup dalam penyangkalan dan keluarga mereka termasuk didalamnya karena kebenaran seringkali sungguh tidak dapat dipahami, terlalu menyakitkan, dan terlalu menakutkan. Tetapi penyangkalan, bagaimana pun sederhananya, berbahaya.”

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.