IQ Bukanlah Sumber Kejahatan, justru Kurangnya IQ yang Selama Ini menjadi Sumber Akar Kejahatan dan Penyakit Sosial

SENI PIKIR & TULIS

PERMISI, PAKET! Cerminan Etika Komunikasi yang Buruk sekaligus IQ dan EQ yang Dangkal Khas Orang Indonesia

Bila ada yang menyebutkan, bahkan tidak sedikit diantara kita, bahwa “IQ adalah sumber kejahatan”, maka itulah sebabnya banyak diantara anggota masyarakat kita yang selama ini hidup berbangsa dan bernegara dengan modal “dengkul” alias “tidak ber-otak”. Mereka pun mendalilkan secara apatis yang tanpa dasar serta kelewat asumtif penuh spekulasi, bahwa IQ tidak sepenting EQ maupun SQ—semata karena faktanya IQ mereka memang “pas-pas-an” adanya, sehingga memaksa diri mereka membuat penghiburan diri lewat asumsi yang “menghakimi” demikian. Realita menyebutkan, antara IQ dan EQ maupun SQ, tidak dapat saling dibenturkan ataupun dihadap-hadapkan secara konfrontatif, semata karena antara IQ dan dua jenis kecerdasan lainnya tersebut (EQ dan SQ), adalah saling linear adanya.

Tiada pernah dan tidak akan pernah ada orang-orang yang ber-IQ rendah namun tinggi prestasinya dari segi EQ terlebih SQ. Hipotesis demikian selalu teruji afirmasinya dalam setiap komunitas masyarakat mana pun. Sehingga, tingkat intelijensi mendasar seperti IQ yang memadai, menjadi “backbone” atau tulang-punggung dari berbagai variasi kecerdasan turunan lainnya, tidak terkecuali EQ maupun SQ yang bergantung pada IQ. SQ yang sehat, bertopang pada IQ yang sehat. Karenanya, para pelaku aksi teror!sme tidak pernah tergolong ber-SQ tinggi—justru sebaliknya, SQ yang “tiarap”, semata karena otak mereka lebih “tiarap” lagi atau telah digadaikan demi iman yang sedemikian tebal, bahkan lebih tebal daripada tembok sekeras dan setebal beton. Dengan demikian, orang-orang dengan tingkat IQ yang dibawah rata-rata, akan memiliki cenderung pola EQ maupun SQ yang juga dibawah rata-rata. Sebaliknya, orang-orang dengan tingkat IQ diatas rata-rata, akan cenderung memiliki pola EQ dan SQ diatas rata-rata.

Kita tidak mungkin mendapati fenomena sosial lain daripada itu, sebagai contoh, hanyalah orang “dungu” serta “tidak berpendidikan” yang dengan bangga “menggali lubang kubur-nya sendiri” dengan menanam benih perbuatan buruk dan jahat seperti menyakiti, melukai, maupun merugikan orang lain. Orang-orang yang pandai membuat modus penipuan ataupun perampokan secara canggih, bukanlah orang cerdik secara intelektual (IQ), namun “dungu”. Kecerdasan mereka, sifatnya ialah “tanggung-tanggung” alias tidak lengkap dan tidak utuh secara sempurna, karenanya mengandalkan cara-cara hina dan tercela demikian untuk bertahan hidup—merendahkan martabatnya sendiri sebagai seorang manusia menjadi menyerupai “manusia hewan” yang tidak berakal-budi.

Orang-orang yang disebut cerdas secara IQ, sejatinya adalah orang-orang yang logis, rasional, kreatif, disamping memiliki “akal sehat milik orang sehat” alih-alih “akal sakit milik orang sakit”. Mereka, para pengemban IQ, mampu mencari makan, hiburan, serta kegiatan dan kesenangan secara kreatif lewat kreativitas mereka yang kreatif hampir tiada batas, karenanya tidak pernah merasa butuh untuk merugikan terlebih menyakiti dan melukai kepentingan maupun merampas hak-hak pihak lain. Orang-orang yang hidup dari merampas hak orang lain, sudah merupakan cerminan IQ yang rendah, serta tidak terpelajar meski memiliki gelar akademik secara formil. Sudah banyak “sampah masyarakat” kita yang bergelar sarjana, dan dunia ini tidak pernah kekurangan “manusia sampah”.

Untuk melihat tingkat IQ bangsa Indonesia yang dikenal super “agamais” dimana semua serba “halal lifestyle”, dapat kita simak lewat mata-kepala kita sendiri dimana bahkan kita tidak perlu jauh-jauh keluar rumah kediaman kita untuk menemukan fakta dibalik wajah setiap perilaku irasional bangsa kita yang tidak sehat akalnya. Terutama, ketika era pemesanan paket secara daring lewat perangkat digital kian marak dewasa ini, dimana hilir-mudik kurir pengantar paket hingga pengantar makanan, yang lewat di depan rumah kita, mampu mencapai puluhan hingga ratusan kurir setiap harinya, yang ditandai dengan teriakan keras (bahkan menggunakan klakson kendaraan yang mereka kemudikan) : “PERMISI, PAKET! PAKET, PERMISI! PERMISI, PAKET!!!...

Dengan IQ yang paling mendasar sekalipun, tanpa perlu IQ luar biasa tinggi cemerlang semacam mereka yang tergolong “jenius”, kita menyadari bahwa hidup di kota-kota besar seperti Jakarta, pemukiman penduduk sangat padat saling bertetangga yang berjarak kurang dari sekian meter kediaman antar tetangga, dimana teriakan dari satu orang kurir dapat didengar serta berpotensi mengganggu tetangga sekitarnya mencapai radius seratus meter jarak gelombang suaranya.

Alhasil, ketika seorang kurir pengantar paket berteriak lantang, “PERMISI, PAKET!”, maka keluarga kita yang pada hari dan disaat itu bisa jadi kebetulan juga sedang menunggu paket pesanan, akan turut menyimak keberadaan suara tersebut dengan memasang telinga lebar-lebar, menjadi terganggu aktivitasnya dan cepat-cepat beranjak dari kursi menuju halaman depan rumah untuk melihat gerangan sumber suara teriakan kurir dimaksud. Dengan “harap-harap cemas”, kita menyambut paket yang telah kita pesan, namun berujung kecewa dan merasa dipermainkan disamping “gerah” dan “geram” karena telah terganggu aktivitas kita, yang mana ternyata adalah kurir paket yang dipesan oleh tetangga yang berbatasan dengan kediaman kita atau tetangga di seberang kediaman keluarga kita.

Satu kali kejadian pada satu momen, masih bisa kita kompromikan serta tolerir. Namun, apa jadinya dan sebagaimana telah terjadi saat kini, kejadian serupa demikian berlangsung sepanjang hari saban pagi hingga malam hari, setiap tahunnya selama bertahun-tahun dan kian masif belakangan ini, yang mana sungguh meresahkan dan hingga taraf mengganggu ketenangan hidup serta membuat tegang “urat saraf”, menjelma “traumatik” tersendiri bagi beban mental, bahkan menyusup masuk dalam kehidupan privat personal seperti kediaman pemukiman penduduk yang semestinya bebas dari segala jenis gangguan serta polusi apapun, tidak terkecuali “polusi suara” dan “polusi sosial”, maka hal kecil yang tampak “sepele” sekalipun akan menjelma beban berat yang membebani mentalitas.

Seumpama, uang receh yang tidak disepelekan, ditabung akan menjelma bukit uang. Segelas air, tampak ringan ketika kita angkat, namun cobalah untuk terus-menerus mengangkatnya selama satu jam, dua jam, tiga jam, sampai seharian atau bertahun-tahun Anda terus mengangkat benda “ringan” yang “sepele” tersebut, boleh dijamin, Anda akan menjadi “gila”. Sama seperti perumpamaan demikian, Anda akan menjadi “tidak waras” ketika gangguan silih-berganti menghampiri lingkungan pemukiman Anda berupa “polusi suara serta sosial” semacam teriakan “PERMISI, PAKET! TIT TIT TIT!!! PERMISI, PAKET!...” Hanya pelakunya itu sendiri, yang tidak merasa terganggu, namun jangan pernah menyepelekan perasaan terganggu yang dirasakan oleh korban, karena korban yang mengalami kerugian dari segi emosional maupun psikis lainnya.

Asap bakaran tembakau, tampak sepele, namun untuk bertahun-tahun, mematikan, dimana penghisap aktif tidak merasa terganggu (bahkan menikmati “mati perlahan-lahan”), yang karenanya menyepelekan perasaan terganggu yang dihadapi para korban mereka, penghisap pasif, mengingat polusi udaranya bersifat melewati batas sekat ruang mencapai ratusan meter jaraknya. Bila hendak “mati konyol”, silahkan, namun jangan pernah menyeret serta orang-orang tidak bersalah. Tingkat penghisap aktif bakaran produk tembakau, karenanya juga dapat menjadi cerminan atau indikator tingkat IQ suatu bangsa.

Bagi orang-orang yang secara apatis meremehkan peran penting IQ dalam hidup berdampingan di tengah masyarakat, bahkan menegaskan (seolah-olah) bahwa IQ adalah bertolak-belakang serta musuh dari EQ dan SQ sehingga perlu dimatikan (bayangkan, IQ dimusuhi serta dijadikan musuh?), maka itulah sebabnya, banyak diantara masyarakat kita yang menjadi pelaku “oknum berjemaah” semacam “PERMISI, PAKET! PERMISI, PAKET! TIT TIT TIT!!!...” Orang-orang dari bangsa modern dan beradab apapun dewasa ini, bukan hanya hidup, bekerja, serta bermasyarakat secara “keras”—sekuat tenaga—namun bekerja secara “cerdas”, bersosialiasi secara “cerdas”, serta hidup secara “cerdas”.

Apakah para kurir pengantar barang tersebut, tidak bekerja secara “keras”? Sayangnya, otak mereka tidak bekerja secara se-“keras” otot mereka, meski siapapun mengetahui, bahwa “otot tidak memiliki otak”. Sebagai manusia yang baik, kita perlu memahami “rancang bangun” anatomi tubuh kita sendiri, dengan membedakan mana yang “otot” serta mana yang “otak”. Sama halnya, banyak orang dari anggota masyarakat kita di Indonesia, yang mana “agamais”, namun disaat bersamaan menjadikan “kekerasan fisik” (alias “otot” itu sendiri) sebagai cara untuk menyelesaikan setiap masalah—semata karena “otot” mereka demikian lemah, “impoten”, kerdil, tiarap, hingga bahkan “tanpa otak” (tidak ber-otak) sama sekali, karena selama ini hidup bak manusia zaman purbakala, yakni semata mengandalkan kekuatan “otot” untuk hidup. Memang sungguh mengherankan disamping ironis tersendiri, era dunia global dan lokal telah demikian canggih oleh serbuan teknologi modern, namun dari segi daya berpikir, bangsa Indonesia masih sangat terbelakang jika tidak dapat kita sebut sebagai “masih purbakala”, alias belum beradab.

Terjadi disrupsi teknologi yang demikian canggih, sementara itu dari segi mentalitas bangsa kita yang selama ini hanya mengandalkan “otot”, belum siap secara mental maupun secara moril untuk menjadi pengguna teknologi canggih yang mana tingkat paparannya kian deras dewasa ini, sehingga menciptakan budaya “jet lag” semacam “gegar teknologi” berupa kesenjangan antara penggunaan yang arif dan bijaksana terhadap kecanggihan hidup yang ditawarkan teknologi modern yang sangat maju demikian pesat seperti dewasa ini.

Alhasil, bangsa kita di Indonesia sungguh menyerupai manusia purbakala yang sedang asyik bermain-main dengan barang canggih namun tidak bekali modal sifat bertanggung-jawab atas kecanggihan teknologi yang mereka gunakan serta salah-gunakan (mis-used) secara tidak bertanggung-jawab—hanya manusia beradab yang mampu menyadari serta bertanggung-jawab atas sikap hidupnya, sementara itu manusia purbakala ditandai oleh ciri khas berupa selalu mengabaikan sikap penuh tanggung-jawab terhadap lingkungannya berada.

Alhasil, fenomena negatif yang tumbuh kian marak dewasa ini, mendampingi kejahatan-kejahatan klasik konvensional, ialah diperkeruh serta diperparah oleh berbagai kenakalan hingga kejahatan canggih (sophisticated crimes) yang jauh lebih beragam serta lebih meresahkan masyarakat. Selalu ada “harga” berupa “dampak sosial” dibalik kecanggihan yang ditawarkan oleh teknologi maju, dimana masyarakat kita yang serba “otot” sungguh belum siap untuk menyambut teknologi maju demikian, yang akibatnya mereka menjadi pengguna tanpa disertai sikap tanggung-jawab—bahkan lebih cenderung menyalah-gunakannya. Fenomena sosial demikian sangatlah masif di negeri ini, sebagaimana dapat para pembaca amati sendiri secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam lingkup kehidupan privat seperti komunitas pemukiman tempat Anda bermukim sehari-harinya.

Seperti yang penulis alami sendiri sebagai salah satu korbannya, berbagai warga sekitar pemukiman penulis memesan kurir “online” secara daring, namun justru memakai alamat kediaman rumah penulis—artinya, penyalah-gunaan teknologi. Alhasil, betapa terganggunya penulis dan anggota keluarga penulis oleh berbagai kurir yang silih-berganti mengetuk pintu kediaman rumah keluarga penulis, ternyata dipesan oleh tetangga yang tidak bertanggung-jawab (baca : gadget-nya canggih, namun otaknya masih terbelakang serta primitif, menyerupai “manusia purbakala” yang tidak mengetahui apa itu budi pekerti dan kemanusiaan yang beradab, terbukti dari salah satu dari anggota keluarga pelakunya yang menderita “down syndrome”, sehingga pelakunya sedikit banyak mewarisi pula genetik purba yang sama.

Minim serta miskinnya empati yang merupakan simbol EQ, diakibatkan minim serta miskinnya tingkat IQ. Seseorang tidak mungkin mengenal apa itu “empati”, bila tidak memiliki modal IQ yang memadai. Kelicikan atau sifat licik, bukanlah IQ (meski kerap disalah-artikan sebagai IQ oleh sebagian masyarakat kita), karena orang ber-IQ tinggi memiliki daya kreativitas yang dapat mereka andalkan untuk bertahan hidup, dimana kreativitas bermakna dapat produktif tanpa merampas hak orang lain, yang karenanya tidak pernah terpikirkan untuk menjadi seorang yang “licik”, terlebih menjelma kriminil. Tiada ada “manusia purba” yang beradab, namanya juga “purba”. Tiada rasa bersalah dari sang pelaku, bahkan masih pula “lebih galak yang ditegur ketimbang yang menjadi korban gangguan mereka”—salah satu indikator budaya lainnya untuk mengukur dangkalnya tingkat IQ suatu bangsa.

Disrupsi negatif kedua dibalik kemajuan teknologi, yang mungkin juga para pembaca alami sebagai warga pemukim sekaligus korban, dimana fungsi pemukiman pada hakekatnya ialah sebagai tempat berlindung serta beristirahat, bebas dari segala jenis gangguan maupun polusi suara, polusi udara, polusi air, polusi sosial, maupun berbagai polusi lainnya. Namun, tren dewasa ini menjadikan berbagai pemukiman berubah atau beralih fungsi menjadi perkantoran “bisnis jual-beli online” yang jauh melampaui skala “home industri”, dimana ratusan kurir kendaraan roda dua hingga mobil kontainer dan truk, silih-berganti berdatangan dan parkir liar di rumah penduduk setempat, menjadikan wilayah pemukiman menjadi terganggu oleh aktivitas kegiatan usaha yang dilegalkan oleh industri “marketplace” (yang juga tidak bertanggung-jawab, karena menjadikan dirinya wadah bagi pelaku usaha ilegal hingga medium transaksi hingga penyebaran obat-obatan terlarang, yang tumbuh subur serta meresahkan masyarakat demikian). Itulah, “harga” atau dampak negatif dibalik kecanggihan teknologi, yakni berbagai kegiatan ilegal menjadi marak dan mendapatkan aksesnya tanpa batasan maupun hambatan yang berarti. Pengelola “marketplace”, dengan demikian, menjadi “pelaku penyerta” dari para kriminil tersebut.

Rezim perizinan kita mengenal hal semacam “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Lalu-Lintas”, atau dikenal dengan singkatan “AMDAL-Lalin”, semisal kendaraan kurir yang berlalu-lalang dari dan ke kantor pengusaha jual-beli barang secara “online”, apakah sanggup ditopang oleh kondisi jalan yang berpotensi rusak (terutama jalan permukiman penduduk), polusi udara yang ditimbulkan oleh asap kendaraan hingga muatan yang berceceran di jalan, kondisi sosial seperti parkir liar, sampah, perilaku para pengemudi yang singgah, dampak kemacetan jalan, dan lain sebagainya, menjadi tidak dapat lagi diawasi secara terkontrol sejak era disrupsi digital merusak tatanan fungsi pemukiman dan menjadi ancaman berarti bagi peradaban bangsa ketika para penduduknya belum siap dari segi mental dan moralitas dalam penggunaan kecanggihan yang ditawarkan oleh teknologi digital demikian—terlebih kondisi sosiologis para aparatur pemerintahan kita yang cenderung melegalkan setiap bentuk pelanggaran tata ruang wilayah, dengan menutup mata serta mematikan nurani, semata karena adanya “uang suap” dari para pengusaha ilegal demikian.

Jadilah, pemukiman tidak benar-benar bebas dari segala gangguan untuk beristirahat bagi warganya dengan tenang, bahkan warga yang telah bermukim hampir separuh abad lamanya, bisa jadi menjadi korban tindak kejahatan dan kriminalitas pelaku usaha ilegal demikian yang notabene para pendatang yang tidak bertanggung-jawab seperti masih “primitif” ala “manusia purba” yang bermain-main dengan kecanggihan teknologi. Dalam konteks demikian, negara benar-benar tidak pernah hadir di tengah-tengah masyarakat, justru yang hadir ialah para penyalah-guna kecanggihan teknologi yang tidak mampu membendung libido-birahi keserakahan dan mentalitas purbakalanya—manusia purba yang bermodal besar, ditambah penggunaan teknologi canggih, sungguh berbahaya dan menjadi ancaman sosial tersendiri, dimana Hukum Karma yang menjadi tumpuan terakhir satu-satunya untuk menamatkan riwayat sang pengusaha ilegal.

Kembali pada kisah para kurir penganter paket, “PERMISI, PAKET!”, ketika kita selaku warga pemukim menjadi “kapok” dan bosan mendengarnya dan tidak memilih untuk tidak lagi menanggapi, bahkan alam bawah sadar telinga kita menjadi “terblokir” oleh suara-suara semacam itu akibat blokir yang kita tanamkan sendiri ke dalam pikiran kita dalam rangka tidak memecah konsentrasi aktivitas “work from home” ataupun ketenangan hidup kita selaku pemukim, akibat kesal ataupun jemu dan letih menghadapi gangguan demikian yang sangat kontraproduktif, sehingga kita memilih untuk tidak menghiraukannya sama sekali ketika terdengar suara teriakan “PERMISI, PAKET!”, telah ternyata pada suatu ketika paket yang diantar oleh sang kurir tersebut ialah ditujukan untuk alamat kediaman rumah kita. Itulah jebakan mental yang menyerupai “buah simalakama”, mundur kena, namun maju pun kena, sungguh meresahkan disamping meletihan dari segi mental.

Jika kita menghargai daya berpikir secara lebih intelektual, lebih mengedepankan IQ ketimbang “otot dan dengkul”, maka sang kurir pengantar paket akan berteriak, “Nomor 10, Bapak / Ibu Denny, ada PAKET!”, dengan demikian tetangga yang berbatasan langsung seperti kediaman nomor 11, 12, 8, 9, atau yang lainnya atau penghuni kediaman yang bukan bernama Denny, dapat seketika tidak menanggapi juga tidak menghiraukan sumber suara tersebut. Akibatnya, tiada warga yang merasa terganggu ketenangan hidup maupun aktivitasnya di kediaman mereka masing-masing. Itulah bukti, bahwa tingkat intelijensi dibalik IQ, berkorelasi linear terhadap EQ maupun SQ.

Sikap tidak bertanggung-jawab juga dikontribusikan oleh para warga yang memanggil / memesan para kurir tersebut—memanggil namun secara tidak bertanggung-jawab—dimana membuktikan para warga setempat yang menjadi pemesan sang kurir pun telah ternyata memiliki IQ (yang karenanya juga EQ dan SQ) yang sama dangkal hingga tiarap-nya menyerupai tingkat IQ yang dimiliki oleh sang kurir pengantar paket. Kerap terjadi, kurir yang datang ke dalam area pemukiman ialah orang-orang yang itu-itu saja, seperti pemilik toko yang barang dagangannya semisal makanan, dipesan secara daring oleh sang warga penghuni rumah, yang karenanya sang pemesan dalam satu ketika dapat saja secara singkat memberi edukasi serta pemahaman, agar kali berikutnya cukup memanggil dengan menyebut terlebih dahulu nomor rumah atau nama pemilik rumah, bukan “PERMISI! PERMISI! PERMISI!!!...”, suatu ajang kebiadaban yang dipertontongkan, bahkan di tengah malam.

Sikap tanggung-jawab, saling pengertian, dan saling memahami antar sesama tetangga menjadi sangat penting dalam korelasinya hidup berdampingan antar tetangga dan antar sesama penghuni “global vilage”, karena kita tidak hanya hidup berdasarkan ego kemauan sendiri atau menyerupai “hukum rimba” dimana yang kuat akan memakan warga yang lemah, namun setiap individu merupakan pribadi yang tunduk pada Hukum Karma (all living being is subject to the law of karmic). Hidup, bukan hanya persoalan pilihan, namun juga persoalan konsekuensi dibalik setiap sikap dan pilihan hidup kita untuk berbuat dan untuk tidak berbuat, untuk sikap disengaja maupun atas sikap pengabaian kita, teruntuk perbuatan baik kita maupun bagi setiap perbuatan buruk kita, besar atau pun kecil, kesemua itu akan diwarisi oleh diri kita sendiri. Tidak ada yang betul-betul dapat kita curangi dalam hidup ini.

Mengganggu, akan diganggu. Tidak bertanggung-jawab, akan diperlakukan secara tidak patut. Merusak, akan dirusak. Mengecewakan, akan dikecewakan. Menyalah-gunakan, akan disalah-gunakan. Merugikan, akan dirugikan. Merampas, akan dirampas. Melecehkan, akan dilecehkan. Pengusaha yang cerdas, ataupun kurir dan warga yang cerdas, dengan tingkat IQ yang memadai, menyadari betul bahwa kutukan dari seorang warga yang terganggu, sudah terlampau banyak. Merugikan dan menyakiti warga yang tidak bersalah, sama artinya menggali lubang kubur sendiri, hanya menjadi opsi pilihan bagi orang-orang yang “dungu” yang masih juga mengandalkan otot purbakala mereka.

Fakta berikut dapat cukup menggugah kesadaran para pembaca. Bahwasannya, otak manusia modern adalah berbeda dengan kapasitas otak manusia purba, namun otot manusia modern tidak jauh berbeda dengan kapasitas otot manusia purba. Bila seseorang masih juga bersikeras hidup dengan mengandalkan semata otot mereka, maka mereka sejatinya telah memilih untuk tetap menjadi manusia purba. Satu-satunya perbedaan, hanya terletak pada otak antara keduanya. Tanyakanlah, apakah ada atau pernah eksis dalam sejarah, manusia purba yang dikenal memiliki tingkat EQ dan SQ yang memadai? Bagi yang masih merasa rancu atas hipotesis penulis perihal korelasi EQ dan SQ terhadap tingkat intelijensi otak seorang manusia, jawablah dahulu pertanyaan tersebut.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.