Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS

Mengapa Orang Baik Kurang Dihargai dan Cenderung Diremehkan oleh Orang Lain? Ini Alasan serta Penyebab Orang Baik justru Dipandang Sebelah Mata

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra

Di Mata Anda, Anda adalah Orang Baik yang Suka Berbuat Baik. Namun, di Mata Orang Lain, Anda adalah Orang Bodoh yang hanya untuk Dimangsa dan Dijadikan Sasaran Empuk.

Tidak Pandai Menjaga Diri dari Manusia-Manusia PREDATOR, memang Layak Disebut Orang Bodoh, “si Bodoh yang Baik Hati” alias “si Baik Hati yang Bodoh”

Question: Apa yang dapat membuat seseorang kurang dihargai oleh orang lain, meski sudah banyak buat baik?

Brief Answer: Terdapat dua kemungkinan latar-belakang, mengapa seseorang dapat kurang mendapat penghargaan atau bahkan sama sekali tidak dihargai oleh orang lain, tanpa terlepas dari fakta bahwa ia atau mereka telah dikenal sebagai orang baik yang kerap berbuat kebaikan—dimana justru karena telah dikenal sebagai orang baik itulah, ia seakan menggoda “tangan-tangan jahil” maupun “tangan-tangan usil” milik orang lain untuk mengganggu, mengambil keuntungan, dan merampas sesuatu dari orang-orang baik tersebut. Tiada orang jahat yang menjadi objek “bullying”, perundungan hanya terjadi pada orang-orang lemah dimana salah satunya ialah orang-orang baik. Itulah ketika orang baik dan kebaikan hati, dipandang sebagai kelemahan atau sifat lemah di mata orang lain.

Penyebab yang pertama, ialah faktor irasionalitas umat manusia, manusia dilahirkan tidak dalam kondisi putih polos sebagaimana asumsi kelewat utopis kebanyakan kaum antropolog “buta”, namun dalam keadaan irasional, sehingga pendisiplinan dan disiplin diri menjadi nilai penting bagi setiap individu, serta untuk diadakan pendidikan dalam rangka mengikis sifat irasional seseorang, setidaknya tidak terlampau irasional, disamping kemampuan untuk secara swadaya mendidik diri kita sendiri sepanjang hayat masih dikandung badan. Sebagai contoh, rata-rata orang baik justru tidak dihargai oleh orang-orang yang selama ini diperlakukan secara baik oleh sang orang baik—fenomena mana bukanlah anomali sosial, karena terjadi secara masif, selalu terulang sejak dahulu kala hingga saat kini, dan pola serupa dapat kita jumpai di tengah masyarakat manapun tanpa membedakan gender, umur, suku bangsa, maupun warna kulit.

Alasan atau kemungkinan kedua, ialah faktor sikap orang-orang yang kurang dihargai itu sendiri—lebih tepatnya ialah ia kerap bersikap seolah-olah tidak memiliki opsi lain untuk dipilih, sehingga seakan tidak memiliki daya tawar. Alam bawah sadar banyak manusia diluar sana, membajak paradigma berpikir mereka, si “makhluk irasional”, bahwa orang-orang dengan daya tawar yang rendah adalah orang-orang yang kurang atau tidak berharga sama sekali, karenanya mereka akan cenderung tidak dihargai oleh orang lain.

Orang yang kuat, akan melakukan perlawanan ketika diperlakukan secara tidak patut oleh orang lain. Namun, respons orang baik biasanya adalah selalu tampil manis dan menyenangkan, tidak berani berinisiasi mengambil konfrontasi verbal, karenanya dinilai sebagai orang dengan kepribadian yang lemah. Karenanya pula, berbuat baik disama-artikan sebagai sedang menunjukkan kelemahan diri sehingga mengundang niat-niat jahat milik orang-orang lainnya untuk mendekat dan merapat padanya. Berbuat baik, mengundang kebaikan, sebagaimana dikumandangkan oleh “the law of attraction”, sekalipun bertentangan dengan fakta bahwasannya kutub positif menarik kutub negatif untuk mendekat.

Orang baik, seakan telah terbelenggu untuk selalu “act as a good boy”, senantiasa menyenangkan hati setiap orang, menyetujui semua keinginan orang lain sekalipun itu merugikan diri mereka, sekalipun di mata orang lain dirinya adalah “objek pemuas nafsu”. Tidak lagi disebut sebagai orang baik, bahkan dinilai sebagai “bukan lagi orang baik”, seakan merupakan “vonis mati” bagi diri dan jiwa orang-orang baik hati namun naif tersebut. Mereka, “gampang diterka”, semata karena orang-orang baik tersebut merasa takut ketika identitasnya (yang berdiri diatas fondasi rapuh) sebagai “orang baik” terancam runtuh seketika akibat komentar orang lain yang menilainya sebagai “bukan orang baik”, karenanya orang-orang baik tersebut seakan tidak memiliki pilihan bebas, kehendak bebas (free will), ataupun opsi lain untuk dipilih—dan disaat bersamaan pintu masuk manipulasi pun terbuka lebar oleh pihak-pihak eksternal yang hanya bermaksud untuk memanfaatkan, memperalat, serta memperdaya.

Disebut “identitas dengan fondasi yang rapuh” milik orang baik, semata karena mereka amat bergantung pada penilaian dan komentar orang lain atas diri mereka, seakan-akan identitas diri mereka ditentukan oleh orang baik, sebagai “orang baik” atau tidaknya. Orang baik, rata-rata kurang independen, kurang mandiri, serta kurang soliter dalam bertindak dan berpikir. Mereka terlampau dicekam ketakutan bahwa orang lain tidak lagi menilainya sebagai orang baik, bahkan terobsesi untuk selalu dinilai sebagai “orang baik”—sekalipun itu artinya menjadi rentan dimanipulasi, dan mereka tahu betul resiko dibaliknya namun tetap saja “be a good person as usual”. Si baik hati yang bodoh ini, akan terkejut ketika pertama-kalinya mereka membaca pepatah Inggris yang menohok tepat sasaran ke jantung masalah, dengan kutipan berikut : “Be a good person, but don’t waste time to prove it!” Mereka, para orang baik, terlampau banyak membuang-buang waktu produktif mereka untuk terus dan senantiasa membuktikan pada dunia bahwa mereka adalah “orang baik”.

Jangan pernah “jual murah”, sehingga hidup memang butuh seni “jual mahal” atau setidaknya “jual diharga menengah” bila memang kualitas diri kita kurang memadai—namun yang terpenting sebagai tips untuk tidak diremehkan dan tidak dihargai oleh orang lain ialah, jangan pernah “jual murah” sekalipun dorongan hati Anda melimpah-ruah mendesak mendorong tangan Anda untuk berbuat baik kepada orang lain. Kendalikan diri Anda, termasuk kendalikan niat baik Anda, demi kebaikan diri Anda sendiri.

Perhatikan, nilai, serta pertimbangkan “bibit, bebet, dan bobot” orang-orang yang hendak kita berikan kebaikan hati. Jadilah selektif, dimana bila tiada orang yang patut menerima kebaikan hati kita, maka kita cukup menaruh welas asih kepada diri kita sendiri, dan mulai membiasakan diri untuk lebih memerhatikan kondisi serta kebutuhan diri kita sendiri dengan tidak lagi mengabaikan kebutuhan serta kepentingan diri kita sendiri. Di mata diri orang-orang baik, ia memandang bahwa dirinya adalah orang baik, semata karena memang senang dan sering berbuat kebaikan terhadap orang lain. Namun, Anda jangan salah, di mata orang lain, orang-orang baik tersebut dipandang serta dinilai sebagai orang bodoh, alias “si bodoh yang baik hati” ataupun “si baik hati yang bodoh”.

Para pembaca mungkin tidak percaya terhadap pembabaran tersebut, atau menduga itu sekadar asumsi pribadi penulis yang penuh asumsi. Akan tetapi hipotesis penulis dibangun berdasarkan pengamatan dan observasi antropologi yang cermat dan mendalam terhadap berbagai fenomena sosial yang penulis hadapi dan alami langsung setiap kali terjun di tengah-tengah masyarakat kita di Indonesia, dimana bukti konkret afirmasinya sudah tidak lagi terhitung jumlahnya yang juga dapat para pembaca buktikan sendiri kebenarannya.

Lantas, terhadap fenomena sosial (bukan sekadar anomali) “orang baik tidak dihargai”, terjadi akibat paradigma dalam otak para orang baik itu sendiri, yakni cara berpikir “masih untung ada yang mau menerima kebaikan hati saya sehingga saya dapat menjadi orang baik”, dan itulah yang kemudian dijadikan objek manipulasi serta dibajak untuk dieksploitasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab yang menyalah-gunakan kebaikan serta sifat murah hati orang-orang yang mereka jumpai dan berhubungan.

Jadilah orang baik yang kreatif dan bertanggung-jawab terhadap diri kita sendiri, atau secara lebih singkatnya, jadilah orang baik yang profesional. Mungkin, kelak, akan terbuka peluang profesi baru yang penulis namakan sebagai “manager kebaikan”, dimana sang manajer akan memandu dan menjadi asisten pribadi Anda, si orang baik, yang senantiasa mendampingi dan memberi nasehat kapan harus menyimpan kebaikan hati Anda dan kapan Anda dapat menyalurkan kemurahan hati serta kepada siapa dan bagaimana caranya yang baik dan benar tepat pada sasaran.

Sekadar informasi, penulis pernah mengenal sebuah perusahaan yang secara profesional fokus bergerak khusus dibidang “manager CSR”, dimana korporasi-korporasi yang hendak menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dapat menyerahkan alokasi dana maupun cara menggunakannya kepada perusahaan “manager CSR” tersebut agar tepat guna dan tepat sasaran untuk disalurkan untuk memberdayakan kesejahteraan hidup maupun ekonomi masyarakat yang membutuhkan, dimana dana CSR lebih banyak dianggarkan oleh perusahaan “manager CSR” untuk membuat proyek-proyek sosial seperti perbaikan sanitasi maupun membangun fasilitas dan sarana umum, alih-alih menggelontorkan donasi “uang tunai” kepada masyarakat kelas bawah.

PEMBAHASAN:

Contoh simplistik berupa pengalaman berikut mungkin cukup sarkastik, namun realita memang berkata demikian. Suatu hari, seorang wanita kenalan penulis yang masih membujang, dapat kita katakan sebagai memiliki wajah jauh dibawah “standar”—bila tidak dapat kita sebut sebagai “buruk rupa”, diledek oleh teman kantor wanitanya yang seumuran dan masih muda namun telah menikah, dengan perkataan candaan namun menohok sebagai berikut : “Ah, kalau kamu sih, tidak perlu pilih-pilih pria untuk kamu jadikan pacar. Kalau ada pria yang mau dengan kamu saja, (kamu semestinya) sudah syukur!

Alhasil, ketika ia kelak mendapatkan pria untuk ia jadikan kekasih, bahkan menkahinya sebagai suami, ia yang kelak akan menderita karena diperlakukan tanpa sikap penghargaan sama sekali oleh pasangan hidupnya. Mengapa demikian? Semata karena paradigma yang dilontarkan oleh kawannya yang berkata seperti kalimat pada paragraf sebelumnya di atas, “mengena” dan tanpa ia sadari memasuki relung alam bawah sadarnya, bahwa bila ada pria yang “mau” dengan ia pun, sudah harus patut bersyukur. Kemudian, kata-kata dalam hatinya ini membajak pikiran dan jiwanya, “Daripada tidak punya pacar ataupun pasangan hidup sama sekali, daripada tidak sama sekali, maka tidak mengapalah jika aku disiksa dan tidak dihargai oleh suami. Setidaknya aku punya seorang suami!

Anda kini dapat melihat bahaya dibalik paradigma demikian, sikap kurang menghargai diri sendiri mengakibatkan orang lain juga tidak menaruh penghormatan serta penghargaan terhadap dirinya, dimana efek berantainya ialah ia sendiri pun kemudian menambah derajat keparahan sikap kurangnya penghargaan terhadap dirinya sendiri, seperti yang sudah dapat kita duga. Contoh lain, sebelum kita mengharap orang lain menghargai waktu kita, maka kita sendiri yang perlu menghargai waktu kita sendiri. Sebagai ilustrasi nyata yang kerap penulis alami sendiri, ketika seseorang petugas teller di bank, menyatakan kepada kita “tunggu sebentar ya Pak, agak lama ini print-nya” saat penulis menyerahkan buku tabungan untuk di-print, dan penulis jawab dengan penuh kebaikan hati (yang kemudian ternyata disalah-gunakan oleh pihak yang diberikan kemurahan hati), “Ya, silahkan, pelan-pelan saja.

Kita memiliki paradigma polos dan naif, bahwasannya kebaikan hati akan dibalas kebaikan hati serupa oleh orang lainnya. Sayangnya, hukum sosial semacam itu hanya berlaku di negara “utopis”, namun ini adalah Indonesia, negeri dimana pamer “balas air susu dan budi baik dengan air tuba” terjadi secara berjemaah tanpa rasa malu, dimana orang-orang baik dijadikan sasaran sekaligus “mangsa empuk”, negeri dimana orang-orang baik tidak dihargai dan kemurahan hati akan senantiasa disalah-gunakan bahkan menjadi bumerang bagi yang bermurah hati, dimana balasan oleh sang petugas teller terhadap penulis selaku nasabah ialah : secara tanpa izin ia diam-diam mempelajari profil keuangan penulis dengan membaca isi buku tabungan penulis selama bermenit-menit dibalik meja kerjanya sembari mengajukan pertanyaan yang tidak relevan seperti “Apakah Bapak sudah punya istri? Berapa banyak saudara kandung Bapak?...”, sebelum kemudian memaksa penulis untuk mengikuti atau menjadi anggota dari program keuangan yang ditawarkan oleh perbankan tempatnya bekerja bersangkutan.

Sekalipun penulis sudah menjawab, “Tidak, tidak, dan tidak”, namun petugas teller yang bersangkutan tetap memaksa, sembari berkata, “Kan, selama ini Bapak sudah saya layani sebagai nasabah prioritas, ayolah bantu saya jualan!” Penulis nyatakan, agar keluarga dirinya saja yang membeli program bank bersangkutan, dijawab oleh sang petugas teller bahwa karyawan dan keluarganya dilarang membeli produk perbankan tempatnya bekerja—namun disaat bersamaan ia ber-“standar ganda” dengan melanggar ketentuan hukum perbankan perihal “rahasia nasabah” dengan diam-diam membaca dan mempelajari buku tabungan penulis. Memangnya mengakses tanpa izin “rahasia nasabah”, tidak dilarang?

Luar biasa, nasabah diancam tidak akan lagi dilayani bila tidak mengikuti kemauan sang petugas teller. Berlanjut pada sikap-sikap “kurang hajar” disamping sikap tidak etis lain dari sang petugas teller, seolah belum cukup lancang dan belum banyak membalas dengan air tuba, sehingga pada akhirnya penulis mengadukan kejadian demikian kepada atasan sang petugas teller, dengan menyatakan “JIka terjadi sekali lagi, maka saya tarik seluruh dana saya dari bank ini. Terlagi pula masih banyak bank lain di luar sana.”—dimana secara implisit bermakna, bahwa penulis masih punya opsi lain untuk dipilih, yakni pindah bank dan juga masih ada bank lain sebagai opsi pilihan. Yang bersangkutan patut mendapat “punishment”, karena telah menyalah-gunakan kebaikan hati penulis. “No more Good Boy!

Pengamatan dan observasi mendalam dalam kajian antropologi yang penulis amati langsung di lapangan, memperlihatkan bahwa orang-orang akan memiliki persepsi berikut ini ketika berjumpa dengan orang baik : “Oh, orang baik, MANGSA EMPUK (untuk dimakan)!” Cerminan senada penulis jumpai ketika penulis membeli makanan di rumah makan atau warung makan langganan, ketika pemilik warung makan berkata, “Tunggu sebentar ya, Pak!”, dimana bila kita jawab, “Ya, tidak apa-apa, pelan-pelan saja”, dan kita dengan sabar menunggu, dengan harapan (semu) mereka akan membalas kebaikan hati kita dengan kebaikan hati serupa ataupun dalam bentuk apresiasi lainnya, namun yang terjadi ialah sang pemilik warung mencoba menipu dan mengecoh kita, dengan memberikan masakan diluar yang kita pesan, memberi menu yang lain dari yang kita pesan, me-“mark-up” harga tanpa kita sadari, bahkan pernah pula terjadi menukar air kelapa butiran yang penulis beli dengan air tawar yang diberi bahan-bahan menyerupai air kelapa.

Kebaikan hati kita, diterjemahkan sebagai “godaan” ataupun seruan panggilan untuk menjadikan diri kita sebagai “mangsa empuk” bagi para “manusia predator” yang “mind set” berpikirnya masih diliputi serta dikuasai oleh hegemoni dan dominasi “otak reptil” di kepala mereka mengenai “MEMAKAN atau DIMAKAN”. Kejadian semacam demikian dengan ragam rupanya selalu terjadi dalam setiap eksperimen pribadi penulis pada berbagai rumah makan ataupun warung hingga sekelas penjaja kuliner gerobakan langganan, dalam kurun waktu observasi selama sepuluh tahun terakhir dengan objek pengamatan yang tidak terhitung lagi jumlahnya, dimana kebaikan hati justru berbuntut di-“MAKAN” serta di-“MANGSA” oleh mereka yang kita beri kebaikan hati. Karenanya, penulis menarik sebuah konklusi radikal pentingnya reformasi diri terutama bagi orang-orang dengan “nature” baik hati, penting bagi kita untuk TIDAK LAGI tampil bak “malaikat” ataupun “sinterklas”.

Sesekali kita perlu bersikap sebaliknya, “Ayo cepat, jangan lama-lama!”, atau setidaknya kita cukup diam tanpa menjawab ketika seseorang yang kita hadapi berkata, “Tunggu sebentar ya, Pak!” Kebaikan hati kita, di mata para “manusia predator”, ialah kesempatan sekaligus “GODAAN”. Seperti kata “Bang Napi”, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat jahat pelakunya, namun juga ada kesempatan (yang bisa jadi dibuka ruang celahnya oleh pihak korban itu sendiri—karenanya, kita perlu secara aktif dan sadar menutup “godaan” ataupun “kesempatan” itu, dalam rangka melindungi diri dan kepentingan diri kita dari tangan-tangan “manusia-manusia predator”. Sang Buddha dalam Kitab Jataka, yang kemudian diafirmasi oleh seorang bhikkhu bernama Ajahn Brahm, menyatakan sebagai berikut : “Orang suci sekalipun sesekali perlu menampilkan gigi taringnya, semata agar tidak di-bully oleh tangan-tangan jahil milik orang lain.”—Anda lihat, bahkan Sang Buddha tidak menyampanyekan gerakan “menjadi orang baik yang bodoh”, namun mempromosikan gerakan “orang baik yang cerdas”.

Begitupula pengalaman pribadi penulis ketika masih sebagai seorang pegawai para perusahaan saat baru menjadi seorang “fresh graduate”, menjadi bumerang ketika kita bersikap dan berparadigma seolah-olah “masih untung ada perusahaan yang bersedia menerima kita bekerja”, sekalipun hak-hak dan kepala kita selaku karyawan diinjak-injak dalam artian yang harfiah, dimana Undang-Undang Ketenagakerjaan benar-benar dilanggar, dilencengkan, dan dilecehkan (bahkan dikangkangi), secara vulgar, masif, terang-terangan, dan masif berjemaah. Alhasil, daya tawar kita sebagai pekerja akan tertekan hingga titik nadir. Terlebih membicarakan dengan mereka : “saya punya syarat”, kita telah memaku diri untuk “menerima tanpa syarat” atau “pasrah tanpa syarat”, diperlakukan seburuk dan setidak-patut seperti apapun oleh pihak pemberi kerja, karenanya “terpaku di tempat”.

Penulis juga memiliki pengalaman buruk lama sebelum ini, saat seseorang Sarjana Hukum lainnya menawarkan diri untuk bergabung sebagai “Partners” dalam usaha dibidang jasa hukum yang penulis kelola dan bangun. Kesalahan utama penulis saat itu ialah, memakai paradigma “Masih untung ada yang mau menawarkan diri sebagai Partner”—dengan sama sekali tidak bertanya, “Keuntungan atau faedah apa yang bisa kamu berikan kepada saya, bila kamu saya restui untuk bergabung dengan saya sebagai Partner?”, alias menerima “tanpa syarat” apapun. Itikad baik kita, tidaklah menjamin bahwa orang lain akan beritikad baik serupa terhadap kita.

Yang terjadi kemudian, dapat kita duga, sang “Partner” baru memperbudak penulis dalam segi biaya, tenaga, usaha, dan seluruh lingkup kerja seolah-olah dirinya adalah atasan yang sekadar mem-supervisi pekerjaan penulis, sampai akhirnya penulis menyadari bukanlah ini esensi “partnership”, dimana tidak terbangun kerja-sama dalam gotong-royong membangun entitas bisnis bersama dalam arti yang harfiah, tiada “simbiosis mutualisme”, sehingga dengan tegas kemudian penulis keluarkan diri yang bersangkutan dari usaha dan bisnis industri jasa hukum yang penulis bangun dan kelola dengan susah-payah ini.

Tipikal orang-orang yang tidak “tahu budi”, membalas budi baik dengan air tuba, ataupun orang-orang yang menjadikan orang baik sebagai “mangsa empuk”, merupakan tipikal orang-orang yang “tidak tahu malu” alias “tidak punya malu”. Karenanya, bila orang yang “tahu malu” adalah langka adanya, maka orang yang “tahu budi” adalah orang yang langka adanya dimana besar kemungkinan orang-orang yang kita jumpai, kita hadapi, ataupun yang hidup satu atap kediaman maupun satu atap kantor dengan kita selama ini dikeseharian, bisa jadi dan besar kemungkinan ialah bertipe orang-orang yang “tidak tahu budi” sehingga kita tidak perlu membuang waktu untuk menjadi orang baik bagi mereka—sebagaimana merujuk kembali pepatah dalam Bahasa Inggris : “Be a good person, but don’t waste time to prove it!” Karenanya pula, semakin hari kita menemukan kebenaran relevansinya sebagaimana telah lama disabdakan oleh Sang Buddha, dengan kutipan syair sebagai berikut:

DHAMMAPADA

143. Hanya ada beberapa saja di dunia, orang yang dengan rasa malu dapat menyingkirkan pemikiran buruk. Hanya ada beberapa saja, orang yang dengan mengusir nidera dapat terjaga, bagaikan kuda tangkas mengelak cambuk.

174. Makhluk dunia ini buta. Di dunia ini sedikit makhluk melihat jelas. Ibarat burung dapat lolos dari jaring pengurung, sedikit makhluk tiba ke alam bahagia.

206. Adalah hal baik, bertemu dengan para suciwan. Berdiam bersama mereka mendatangkan kebahagiaan sepanjang masa. Seseorang tentu senantiasa berbahagia tidak bertemu dengan para dungu.

207. Sebab, berdiam bersama orang-orang dungu mendatangkan kesedihan dalam lama waktu. Berkumpul dengan mereka senantiasa membawa derita, tak ubahnya berkumpul dengan seteru. Sebaliknya, bijaksanawan memiliki kediaman bersama yang menyenangkan, layaknya himpunan sanak keluarga.

208. Karenanya, bergaullah dengan orang demikian itu, yang cendekia, bijaksana, berpengetahuan luas, mengemban kewajiban, bertata tertib, berbatin bersih, budiman, arif, laksana candra berada pada orbit purnamanya!

244. Hidup adalah mudah bagi ia yang tidak tahu malu, berani laksana gagak, biasa ingkar budi orang, suka mencari muka, lepas kendali, dan penuh kekotoran.

245. Sebaliknya, hidup adalah sulit bagi ia yang tahu malu, senantiasa berupaya pada laku suci, tidak melekat, terkendali, berpenghidupan bersih, dan menyadari (hakekat penghidupan bersih).

258. Bukan sekadar karena bicara banyak seseorang disebut bijaksanawan, melainkan ia yang tenteram, tidak bermusuh, dan tidak berpenakut itulah disebut ‘bijaksanawan’.

259. Bukan sekadar karena bicara banyak seseorang disebut penyandang dhamma, melainkan ia yang, meskipun sedikit pengetahuan, dapat melihat dhamma secara batiniah dan tidak melalaikannya itulah sesungguhnya disebut ‘penyandang dhamma’.

260. Bukan karena berkepala beruban seseorang disebut sesepuh. Ia yang berusia lanjut itu disebut ‘si tua hampa’.

316. Barangsiapa malu terhadap hal tak memalukan, tidak malu terhadap hal memalukan; mereka yang memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.

317. Juga, barangsiapa takut terhadap hal tak menakutkan, tidak takut terhadap hal menakutkan; mereka yang memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.

318. Barangsiapa menganggap tercela terhadap hal tak tercela, menganggap tak tercela terhadap hal tercela; mereka yang memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.

319. Sebaliknya, barangsiapa menyadari hal tercela sebagai yang tercela, menyadari hal tak tercela sebagai yang tak tercela; mereka yang memegang pandangan benar itu akan menuju ke alam bahagia.

328. Andaikata seseorang mendapatkan orang yang cermat, bercara hidup baik, dan cendekia sebagai kawan berjalan, ia layak mengatasi segala rintangan; dapat berlega hati dan menegakkan perhatian – berjalan dengannya.

329. Andaikata seseorang tidak mendapatkan orang yang cermat, bercara hidup baik, dan cendekia sebagai kawan berjalan, ia layak berjalan sendirian, laksana seorang raja pergi meninggalkan wilayah taklukkan, laksana gajah besar Mâtanga berjalan sendirian di hutan.

330. Berjalan sendirian adalah lebih baik karena nilai persahabatan tidak ada pada si dungu. Ia patut berjalan sendirian, seperti gajah besar Mâtaõga yang bersahaja berjalan di hutan, dan tak semestinya berbuat buruk.

Jika dengan berbuat baik dan murah hati kepada orang lain dapat membuat posisi kita menjadi rentan serta riskan dijadikan “mangsa empuk”, kebaikan hati mana menjadi bumerang bagi kepentingan kita sendiri, welas asih mana justru mengundang niat-niat jahat dan tangan-tangan jahil milik orang lain, maka bagaimana caranya kita bisa tetap rutin dan rajin menanam benih Karma Baik secara produktif? Telah ternyata, berbuat baik tidak dipersyaratkan dan tidak identik dengan adanya keberadaan orang lain untuk kita berikan sesuatu kemurahan hati diri kita.

Untuk menjawab dan menjelaskannya, Sang Buddha dalam Sutta Pitaka, “Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha, Dīgha Nikāya” (salah satu sutta dalam Tripitaka, versi terjemahan dari Bahasa Pali), diterbikan oleh DhammaCitta Press, 2009, telah memberi solusi yang produktif dalam menanam benih-benih Karma Baik, berbuat baik tanpa membuka resiko atau potensi diri kita disakiti oleh pihak lain, yakni “fang shen diri” lewat praktik moralitas dan meditasi dalam rangka mencapai pencerahan sudah cukup merupakan “pengorbanan yang lebih bermanfaat”:

~ Kåñadanta Sutta ~

PENGORBANAN TANPA DARAH

[127] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Suatu ketika, Sang Bhagavà sedang melakukan perjalanan melewati Magadha bersama lima ratus bhikkhu, dan Beliau tiba di sebuah desa Brahmana bernama Khànumata. Dan di sana Beliau menetap di taman Ambalaññhikà. Pada saat itu, Brahmana Kåñadanta sedang menetap di Khànumata, tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air, dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Seniya Bimbisàra dari Magadha sebagai anugerah kerajaan lengkap dengan kekuasaan kerajaan.

Dan Kåñadanta merencanakan upacara pengorbanan besar: tujuh ratus ekor sapi, tujuh ratus ekor kerbau, tujuh ratus ekor anak sapi, tujuh ratus ekor kambing jantan, dan tujuh ratus ekor domba yang semuanya diikat di tiang pengorbanan.

2. Dan para Brahmana dan perumah tangga Khànumata mendengar berita: ‘Petapa Gotama … sedang menetap di Ambalaññhikà. Dan sehubungan dengan Gotama, Bhagavà Yang Terberkahi, telah beredar berita: “Yang Terberkahi adalah seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, telah menempuh Sang Jalan dengan sempurna, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Bhagavà Yang Terberkahi.” Beliau menyatakan kepada dunia ini dengan para dewa, màra dan Brahmà, para petapa dan Brahmana bersama dengan para raja dan umat manusia, setelah mengetahui dengan pengetahuan-Nya sendiri. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dalam makna dan kata, dan Beliau memperlihatkan kehidupan suci yang sempurna, murni sepenuhnya. Dan sesungguhnya adalah baik sekali menemui Arahat demikian.’ Dan mendengar berita itu, para Brahmana dan perumah tangga, berduyun-duyun meninggalkan Khànumata, berjumlah sangat besar, pergi menuju Ambalaññhikà.

3. Kebetulan saat itu, Kåñadanta baru saja naik ke teras rumahnya untuk istirahat siang. Melihat para Brahmana dan perumah tangga berjalan menuju Ambalaññhikà, ia menanyakan alasannya kepada pelayannya. Si pelayan menjawab: ‘Tuan, ini karena Petapa Gotama, sehubungan dengan berita baik yang beredar: “Sang Bhagavà Yang Terberkahi adalah seorang Arahat, … seorang Buddha, Sang Bhagavà Yang Terberkahi”. Itulah sebabnya, mereka pergi menemui-Nya.’

4. Kemudian Kåñadanta berpikir: ‘Aku telah mendengar bahwa Petapa Gotama memahami tentang bagaimana menyelenggarakan dengan baik upacara pengorbanan tiga tingkat dengan enam belas persyaratannya. Sekarang aku tidak memahami seluruhnya, namun aku ingin melakukan upacara pengorbanan besar. Bagaimana jika aku menemui Petapa Gotama dan bertanya kepada-Nya mengenai persoalan ini.’ Maka ia mengutus pelayannya untuk menemui para Brahmana dan perumah tangga Khànumata dan memohon agar mereka menunggunya.

5. Pada saat itu, beberapa ratus Brahmana sedang berada di Khànumata bermaksud mengambil bagian dalam upacara pengorbanan Kåñadanta. Mendengar niatnya untuk mengunjungi Petapa Gotama, mereka datang dan bertanya apakah hal itu benar. ‘Demikianlah, Tuan-tuan, aku akan mengunjungi Petapa Gotama.’

6. ‘Tuan, jangan mengunjungi Petapa Gotama … (argumentasi yang persis sama dengan Sutta 4, paragraf 5). Oleh karena itu, adalah tidak pantas bagi Yang Mulia Kåñadanta untuk mengunjungi Petapa Gotama, melainkan sebaliknya, Petapa Gotama yang seharusnya mengunjungimu.’

7. Kemudian Kåñadanta berkata kepada para Brahmana: ‘Sekarang dengarkan, Tuan-tuan, mengapa kita pantas mengunjungi Yang Mulia Gotama, dan mengapa Beliau tidak pantas mengunjungi kita … (persis sama dengan Sutta 4, paragraf 6). Petapa Gotama telah tiba di Khànumata dan sedang menetap di Ambalaññhikà. Dan petapa atau Brahmana mana pun yang datang ke wilayah kita adalah tamu kita … Beliau melampaui segala pujian.’

8. Mendengar hal ini, para Brahmana berkata: ‘Tuan, karena engkau begitu memuji Petapa Gotama, maka bahkan jika Beliau berada seratus yojana jauhnya dari sini, adalah pantas bagi mereka yang berkeyakinan untuk pergi dengan membawa tas bahu untuk mengunjungi Beliau, marilah kita semua pergi mengunjungi Petapa Gotama.’ Dan demikianlah Kåñadanta pergi bersama sejumlah besar Brahmana menuju Ambalaññhika. Ia mendekati Sang Bhagavà, saling bertukar sapa dengan Beliau, dan duduk di satu sisi. Beberapa Brahmana dan perumah tangga Khànumata bersujud kepada Sang Bhagavà, beberapa memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangannya, beberapa menyebutkan nama dan suku mereka, dan beberapa duduk di satu sisi dan berdiam diri.

9. Duduk di satu sisi, Kåñadanta berkata kepada Sang Bhagavà: ‘Yang Mulia Gotama, aku telah mendengar bahwa engkau memahami bagaimana menyelenggarakan dengan baik upacara pengorbanan tiga tingkat dengan enam belas persyaratannya. Sekarang aku tidak memahami seluruhnya, namun aku ingin melakukan upacara pengorbanan besar. Baik sekali jika Petapa Gotama sudi menjelaskannya kepadaku.’ ‘Dengarkanlah, Brahmana, perhatikanlah dengan saksama dan Aku akan menjelaskan.’ ‘Ya, Yang Mulia,’ Kåñadanta berkata, dan Sang Bhagavà berkata:

10. ‘Brahmana, pada suatu masa, ada seorang raja yang bernama Mahàvijita. Ia kaya, memiliki banyak harta kekayaan, dengan emas dan perak yang berlimpah, harta benda dan barang-barang kebutuhan, dan uang, dengan gudang harta dan lumbung yang penuh. Dan ketika Raja Mahàvijita sedang bersenang-senang sendirian, ia berpikir: “Aku memiliki sangat banyak kekayaan, aku memiliki tanah yang sangat luas yang kutaklukkan. Seandainya sekarang aku menyelenggarakan upacara pengorbanan besar, apakah itu akan memberikan manfaat dan kebahagiaan untuk waktu yang lama?” dan ia memanggil Brahmana-kerajaan, dan menceritakan pemikirannya. “Aku ingin menyelenggarakan upacara pengorbanan besar. Instruksikan aku, Yang Mulia, bagaimana langkahnya demi manfaat dan kebahagiaan bagiku untuk waktu yang lama.”’

11. ‘Si Brahmana-kerajaan menjawab: “Negeri Baginda diserang oleh para pencuri, dirusak, desa-desa dan kota-kota sedang dihancurkan, perbatasan dikuasai oleh perampok. Jika Baginda mengutip pajak atas wilayah itu, itu adalah suatu kesalahan. Jika Baginda berpikir: ‘Aku akan melenyapkan gangguan para perampok ini dengan mengeksekusi dan hukuman penjara, atau dengan menyita, mengancam, dan mengusir’, gangguan ini tidak akan berakhir. Mereka yang selamat kelak akan mengganggu negeri Baginda. Namun dengan rencana ini, engkau dapat secara total melenyapkan gangguan ini. Kepada mereka yang hidup di dalam kerajaan ini, yang bermata pencaharian bertani dan beternak sapi, Baginda akan membagikan benih dan makanan ternak; kepada mereka yang berdagang, akan diberikan modal; yang bekerja melayani pemerintahan akan menerima upah yang sesuai. Maka orang-orang itu, karena tekun pada pekerjaan mereka, tidak akan mengganggu kerajaan ini. Penghasilan Baginda akan bertambah, negeri ini menjadi tenang dan tidak diserang oleh para pencuri, dan masyarakat dengan hati yang gembira, akan bermain dengan anak-anak mereka, dan akan menetap di dalam rumah yang terbuka.”’

‘Dan dengan mengatakan: “Jadilah demikian!” raja menerima nasihat si Brahmana-kerajaan: ia memberikan benih dan makanan ternak, memberikan modal kepada yang berdagang … upah yang sesuai … dan masyarakat dengan hati gembira … menetap di dalam rumah yang terbuka.’

12. ‘Kemudian Raja Mahàvijita memanggil si Brahmana dan berkata: “Aku telah melenyapkan gangguan para perampok; menuruti rencanamu, pendapatanku bertambah, negeri ini tenang dan tidak diserang oleh para pencuri, dan masyarakat dengan hati yang gembira bermain dengan anak-anak mereka dan menetap di dalam rumah yang terbuka. Sekarang aku ingin menyelenggarakan upacara pengorbanan besar. Instruksikan aku bagaimana cara menyelenggarakannya agar memberikan manfaat dan kebahagiaan kepadaku untuk waktu yang lama.” “Untuk hal ini, Baginda, engkau harus memanggil para Khattiya dari kota-kota dan desa-desa, para penasihatmu, para Brahmana yang paling berpengaruh, dan para perumah tangga kaya di negerimu ini, dan katakan pada mereka: ‘Aku ingin menyelenggarakan upacara pengorbanan besar. Bantu aku, Tuan-tuan, agar ini memberikan manfaat dan kebahagiaan kepadaku untuk waktu yang lama.’”’

‘Raja menyetujui, dan melakukan instruksi tersebut. “Baginda, pengorbanan dapat dimulai, sekarang adalah waktunya. Empat kelompok penerima ini akan menjadi pelengkap dalam pengorbanan ini.’

13. ‘“Raja Mahàvijita memiliki delapan hal. Ia terlahir mulia dari kedua belah pihak, … (seperti Sutta 4, paragraf 5), kelahiran yang tanpa cela. Ia tampan … tidak ada bagian yang berpenampilan rendah. Ia kuat, memiliki empat kesatuan bala tentara yang setia, dapat diandalkan, meningkatkan reputasinya di antara musuh-musuhnya. Ia adalah seorang pemberi dan tuan rumah yang bertanggung jawab, tidak menutup pintu terhadap para petapa, Brahmana dan pengembara, para pengemis dan mereka yang membutuhkan – sebuah mata air kebajikan. Ia sangat terpelajar dalam hal apa yang harus dipelajari. Ia memahami makna dari apa pun yang dikatakan, dengan mengatakan: ‘Ini adalah apa yang dimaksudkan.’ Ia terpelajar, sempurna, bijaksana, kompeten untuk menikmati manfaat-manfaat di masa lampau, masa depan, dan masa sekarang. Raja Mahàvijita memiliki delapan hal ini. Ini merupakan perlengkapan untuk upacara pengorbanan.’

[138] 14. ‘“Brahmana kerajaan memiliki empat hal. Ia terlahir mulia …. Ia terpelajar, ahli dalam mantra-mantra …. Ia berbudi, moralitasnya meningkat, memiliki moralitas yang meningkat. Ia terpelajar, sempurna dan bijaksana, dan merupakan yang pertama atau ke dua dalam memegang sendok pengorbanan. Ia memiliki empat hal ini. Ini merupakan perlengkapan untuk upacara pengorbanan.’

15. ‘Kemudian, sebelum pengorbanan, si Brahmana mengajarkan tiga syarat kepada Sang Raja. “Mungkin Baginda merasa menyesal akan upacara pengorbanan ini: ‘Aku akan kehilangan banyak kekayaan’, atau selama upacara: ‘Aku sedang kehilangan banyak kekayaan’, atau setelah upacara: ‘aku telah kehilangan banyak kekayaan.’ Jika demikian, maka Baginda tidak boleh merasa menyesal.”’

16. ‘Kemudian, sebelum pengorbanan, si Brahmana melenyapkan kecemasan Sang Raja dalam sepuluh kondisi untuk si penerima: “Yang Mulia, akan tiba dalam upacara pengorbanan ini, mereka yang melakukan pembunuhan dan mereka yang menghindari pembunuhan. Kepada mereka yang melakukan pembunuhan, biarkanlah mereka; tetapi kepada mereka yang menghindari pembunuhan akan mendapatkan pengorbanan yang berhasil dan akan bergembira dalam pengorbanan ini, dan hati mereka akan tenang. Akan tiba dalam upacara pengorbanan ini, mereka yang mengambil apa yang tidak diberikan dan mereka yang menghindari …, mereka yang menikmati hubungan seksual yang salah dan mereka yang menghindari …, mereka yang mengucapkan kebohongan … , mengucapkan kata-kata fitnah, kasar dan kata yang tidak berguna … , mereka yang serakah dan yang tidak, mereka yang menyimpan rasa benci dan yang tidak, mereka yang berpandangan salah dan yang tidak. Kepada mereka yang berpandangan salah, maka biarkanlah mereka; tetapi kepada mereka yang berpandangan benar akan mendapatkan pengorbanan yang berhasil dan akan bergembira dalam pengorbanan ini, dan hati mereka akan tenang.” Demikianlah sang Brahmana melenyapkan keraguan Raja dalam sepuluh kondisi.’

17. ‘Demikianlah sang Brahmana menginstruksikan Raja yang menyelenggarakan upacara pengorbanan besar dengan enam belas alasan, mendesaknya, menginspirasinya, dan menggembirakan hatinya. “Orang-orang akan berkata: ‘Raja Mahàvijita sedang menyelenggarakan upacara pengorbanan besar, tetapi ia tidak mengundang para Khattiya-nya …, para penasihatnya, para Brahmana yang paling berpengaruh, dan para perumah tangga kaya ….’ Tetapi kata-kata tersebut tidak sesuai dengan yang sebenarnya, karena Raja telah mengundang mereka. Dengan demikian, Raja akan mengetahui bahwa ia akan mendapatkan upacara pengorbanan yang berhasil dan bergembira karenanya, dan hatinya menjadi tenang. Atau seseorang akan berkata: ‘Raja Mahàvijita sedang menyelenggarakan upacara pengorbanan besar, tetapi ia tidak terlahir mulia dari kedua pihak .…’ Tetapi kata-kata tersebut tidak sesuai dengan yang sebenarnya …. Atau seseorang akan berkata: ‘Sang Brahmana Kerajaan tidak terlahir mulia .…’ Tetapi kata-kata tersebut tidak sesuai dengan yang sebenarnya.” Demikianlah sang Brahmana menginstruksikan Sang Raja dalam enam belas alasan ….’

18. ‘Dalam upacara pengorbanan ini, Brahmana, tidak ada kerbau yang disembelih, tidak ada kambing atau domba, tidak ada ayam dan babi, tidak juga berbagai makhluk hidup yang dibunuh, juga tidak ada pohon yang ditebang sebagai tiang pengorbanan, juga tidak ada rumput yang dipotong sebagai rumput pengorbanan, dan mereka yang disebut budak atau pelayan atau pekerja tidak bekerja karena takut akan pukulan atau ancaman, mereka tidak menangis atau bersedih. Tetapi mereka yang ingin melakukan sesuatu akan melakukannya, dan mereka yang tidak ingin melakukan tidak melakukannya; mereka melakukan apa yang mereka inginkan; dan tidak melakukan apa yang tidak mereka inginkan. Pengorbanan itu diselenggarakan dengan ghee, minyak, mentega, dadih, madu, dan sirup.’

19. ‘Kemudian, Brahmana, para Khattiya …, para menteri dan penasihat, para Brahmana berpengaruh, para perumah tangga dari desa dan kota, setelah menerima cukup penghasilan, mendatangi Raja Mahàvijita dan berkata: “Kami membawa cukup banyak harta kekayaan, Baginda, terimalah.” “Tetapi, Tuan-tuan, aku telah mengumpulkan cukup banyak kekayaan. Apa pun yang tersisa boleh kalian ambil.”’

‘Atas penolakan raja itu, mereka pergi ke satu sisi dan berdiskusi: “Tidaklah pantas bagi kita untuk membawa pulang harta ini ke rumah kita. Raja sedang menyelenggarakan upacara pengorbanan besar. Marilah kita mengikuti teladannya.”’

20. ‘Kemudian para Khattiya meletakkan persembahan mereka di sebelah timur dari ceruk pengorbanan, para penasihat meletakkan di sebelah selatan, para Brahmana di sebelah barat dan para perumah tangga kaya di sebelah utara. Dalam pengorbanan ini, tidak ada kerbau yang disembelih, … juga tidak ada makhluk hidup apa pun yang dibunuh … mereka yang ingin melakukan sesuatu akan melakukannya, dan mereka yang tidak ingin melakukan tidak melakukannya .... Pengorbanan itu diselenggarakan dengan ghee, minyak, mentega, dadih, madu, dan sirup. Demikianlah ada empat kelompok penerima, dan Raja Mahàvijita memiliki delapan hal, dan Brahmana Kerajaan memiliki empat hal dalam tiga syarat. Ini, Brahmana, disebut pengorbanan besar yang berhasil dalam enam belas tingkat dan tiga syarat.’

21. Mendengar kata-kata ini, para Brahmana berteriak keras dan berisik: ‘Sungguh suatu pengorbanan yang megah! Sungguh suatu cara yang megah dalam melakukan pengorbanan!’ tetapi Kåñadanta tetap duduk diam. Dan para Brahmana menanyakan kepadanya mengapa ia tidak bersorak mendengar kata-kata indah dari Petapa Gotama. Ia menjawab: ‘Bukannya aku tidak gembira mendengarnya. Kepalaku akan pecah menjadi tujuh keping jika aku tidak gembira mendengarnya. Tetapi aku heran bahwa Petapa Gotama tidak mengatakan: “Aku mendengar bahwa”, atau “Ini pasti seperti ini”, tetapi Beliau mengatakan: “Kejadiannya seperti ini atau seperti itu pada waktu itu.” Dan karena itu, aku merasa bahwa Petapa Gotama pada waktu itu adalah mungkin Raja Mahàvijita, yang menyelenggarakan pengorbanan, atau si Brahmana Kerajaan yang memimpin upacara pengorbanan itu untuknya. Apakah Yang Mulia Gotama mengakui bahwa Beliau menyelenggarakan, atau memimpin upacara pengorbanan besar itu, dan sebagai akibatnya, setelah kematiannya, setelah hancurnya jasmani, Beliau terlahir di alam yang baik, alam surgawi?’ ‘Aku mengakuinya, Brahmana. Aku adalah Brahmana kerajaan yang memimpin upacara pengorbanan.’

22. ‘Dan, Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan yang lain yang lebih sederhana, yang lebih mudah, lebih berbuah dan lebih bermanfaat daripada tiga tingkat pengorbanan dengan enam belas syarat tersebut?’ ‘Ada, Brahmana.’

‘Apakah itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Di mana pun pemberian rutin dari suatu keluarga yang diberikan kepada para petapa yang berbudi, ini merupakan pengorbanan yang lebih berbuah dan lebih bermanfaat daripada itu.’

23. ‘Mengapa, Yang Mulia Gotama, dan karena alasan apakah itu lebih baik?’

‘Brahmana, Tidak ada Arahat atau mereka yang telah mencapai Jalan Arahat akan menerima pengorbanan ini. Mengapa? Karena melihat penganiayaan dan pembunuhan, maka mereka tidak menerima. Tetapi mereka akan menerima pengorbanan berupa pemberian rutin dari suatu keluarga yang diberikan kepada para petapa yang berbudi, karena tidak ada penganiayaan dan pembunuhan. Itulah sebabnya, jenis pengorbanan ini lebih berbuah dan lebih bermanfaat.’

24. ‘Tetapi, Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada yang sebelumnya itu?’ ‘Ada, Brahmana.’

‘Apakah itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, jika siapa saja yang menyediakan tempat tinggal bagi Sangha yang datang dari empat penjuru, itu merupakan pengorbanan yang lebih bermanfaat.’

25. ‘Tetapi, Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada tiga ini?’ ‘Ada, Brahmana.’

‘Apakah itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, jika siapa saja dengan hati yang tulus berlindung pada Buddha, Dhamma, dan Sangha, itu merupakan pengorbanan yang lebih bermanfaat daripada tiga yang sebelumnya.’

26. ‘Tetapi, Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada empat ini?’ ‘Ada, Brahmana.’

‘Apakah itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, jika siapa saja dengan hati yang tulus melaksanakan sila – menghindari membunuh makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, hubungan seksual yang salah, kebohongan, dan meminum minuman keras dan obat-obatan yang mengakibatkan lemahnya kesadaran - itu merupakan pengorbanan yang lebih bermanfaat daripada empat yang sebelumnya.’

27. ‘Tetapi, Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada lima ini?’ ‘Ada, Brahmana.’

‘Apakah itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, seorang Tathàgata telah muncul di dunia ini, seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang Sempurna, telah sempurna menempuh Sang Jalan, Pengenal seluruh alam, penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Tercerahkan dan Terberkahi. Beliau, setelah mencapainya dengan pengetahuan-Nya sendiri, menyatakan kepada dunia bersama para dewa, màra dan Brahma, para raja dan umat manusia. Beliau membabarkan Dhamma, yang indah di awal, indah di pertengahan, indah di akhir, dalam makna dan kata, dan menunjukkan kehidupan suci yang sempurna dan murni sepenuhnya. Seorang siswa pergi meninggalkan keduniawian dan mempraktikkan moralitas, dan seterusnya (Sutta 2, paragraf 41-74). Demikianlah seorang bhikkhu sempurna dalam moralitas. Ia mencapai empat jhàna (Sutta 2, paragraf 75-82). Itu, Brahmana, adalah suatu pengorbanan … lebih bermanfaat. Ia mencapai berbagai pandangan terang (Sutta 2, paragraf 97). Ia mengetahui: “Tidak ada lagi yang lebih jauh di dunia ini.” Itu, Brahmana, adalah suatu pengorbanan yang lebih sederhana, lebih mudah, lebih berbuah, dan lebih bermanfaat dari semua lainnya. Dan lebih dari ini, tidak ada lagi pengorbanan yang lebih mulia dan lebih sempurna.’

28. ‘Sungguh indah, Yang Mulia Gotama, sungguh menakjubkan! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terjatuh, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Yang Mulia Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara. Semoga Yang Mulia Gotama menerimaku sebagai siswa awam sejak hari ini hingga akhir hidupku! Dan, Yang Mulia Gotama, aku membebaskan tujuh ratus sapi, tujuh ratus kerbau, tujuh ratus anak sapi, tujuh ratus kambing jantan, dan tujuh ratus domba. Aku memberikan kehidupan kepada mereka, memberi mereka makanan berupa rumput hijau dan air sejuk untuk diminum, dan biarlah mereka bermain di angin yang sejuk.’

29. Kemudian Sang Bhagavà membabarkan ceramah bertingkat kepada Kåñadanta, tentang kedermawanan, tentang moralitas, dan tentang alam surga, menunjukkan bahaya, penurunan dan kekotoran dari kenikmatan-indria, dan manfaat dari meninggalkan keduniawian. Dan ketika Sang Bhagavà mengetahui bahwa batin Kåñadanta telah siap, lunak, bebas dari rintangan, gembira dan tenang, maka ia membabarkan ceramah Dhamma secara singkat: tentang penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan sang jalan. Dan bagaikan sehelai kain bersih yang noda-nodanya telah dihilangkan dapat diwarnai dengan sempurna, demikian pula Brahmana Kåñadanta, selagi ia duduk di sana, muncul Mata-Dhamma yang murni dan tanpa noda, dan ia mengetahui: ‘Segala sesuatu memiliki sebab dan pasti lenyap.’

30. Kemudian Kåñadanta, setelah melihat, mencapai, mengalami, dan menembus Dhamma, setelah melampaui keragu-raguan, melampaui ketidakpastian, setelah mencapai keyakinan sempurna dalam Ajaran Sang Guru tanpa bergantung pada yang lainnya, berkata: ‘Sudilah Yang Mulia Gotama dan para bhikkhu menerima makanan dariku besok!’

Sang Bhagavà menerimanya dengan berdiam diri. Kemudian Kåñadanta, mengetahui penerimaan Beliau, bangkit, memberi hormat kepada Sang Bhagavà, berjalan dengan sisi kanannya menghadap Sang Bhagavà dan pergi. Pagi harinya, ia mempersiapkan makanan keras dan lunak di tempat pengorbanan, dan ketika persiapan selesai, ia mengumumkan: ‘Yang Mulia Gotama, sudah waktunya, makanan telah siap.’

Dan Sang Bhagavà, setelah bangun pagi, pergi dengan membawa jubah dan mangkuk-Nya dan disertai oleh para bhikkhu menuju tempat pengorbanan Kåñadanta, dan duduk di tempat yang telah disediakan. Dan Kåñadanta melayani Sang Buddha dan para bhikkhu dengan makanan-makanan terbaik dengan tangannya sendiri hingga mereka puas. Dan ketika Sang Bhagavà telah selesai makan dan menarik tangan-Nya dari mangkuk, Kåñadanta mengambil bangku kecil dan duduk di satu sisi.

Kemudian Sang Bhagavà, setelah memberikan instruksi kepada Kåñadanta dalam suatu ceramah Dhamma, menginspirasinya, memicu semangatnya, dan menggembirakannya, bangkit dari duduk-Nya dan pergi.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.