Jadilah orang kaya,
Namun tetap
melestarikan gaya hidup yang sederhana,
Itulah resep hidup
bahagia dan berkelanjutan.
Survival of the
fittest,
Bukan perihal tetap
hidup,
Namun menyisakan
ruang untuk tetap bisa bernafas dan menjalani kehidupan,
mengantisipasi kondisi yang dapat berubah sewaktu-waktu dikemudian hari.
Ada orang kaya,
Menjalani gaya
hidup orang kaya.
Ada juga orang
miskin,
Namun memaksakan
diri bergaya hidup orang kaya.
Keduanya,
Sama-sama
menderita.
Tidak memiliki apa
yang disebut sebagai “keseimbangan batin”,
Yang kurvanya
cenderung datar di garis tengah.
Orang kaya dengan
gaya hidup orang kaya,
Takut jatuh miskin,
Takut meninggalkan
usahanya untuk diurus oleh orang lain,
Takut kehilangan
hartanya,
Takut hartanya
dirampas oleh orang lain,
Takut berpisah
dengan harta yang telah ia kumpulkan sepanjang hidupnya,
Takut pada petugas
pajak yang datang memeriksa pembukuan,
Takut laporan
keuangannya dicurangi pegawai,
Takut anak-anaknya
akan bersengketa memperebutkan harta warisan,
Takut adanya
kemunculan kompetitor,
Dan takut melekat
pada hartanya saat meninggal dunia dan terlahir kembali di alam rendah.
Orang miskin,
Yang tidak
menjalani gaya hidup sederhana,
Akan menderita
kemelaratan yang bagaikan lingkaran setan,
Hidup tidak mau,
Mati pun sungkan.
Dengan berupaya
menjadi orang kaya,
Namun tetap
melestarikan gaya hidup sederhana,
Kita memotivasi
diri untuk bekerja keras,
Dan memiliki
persediaan yang cukup ketika dibutuhkan dikemudian hari,
Ataupun terbesas
dari rasa takut memasuki usia pensiun,
Bebas secara
finansial,
Dan disaat
bersamaan tidak dihantui oleh mimpi buruk bernama jatuhnya gaya hidup menuju ke
kesederhanaan.
Banyak orang
miskin,
Tidak sadar bahwa
dirinya selama ini menjalani gaya hidup orang mewah.
Hanya orang kaya
dengan gaya hidup orang kaya,
Yang melakukan
kemewahan seperti pergi ke kasino untuk berjudi.
Ketika orang
miskin,
Terjerat candu
perjudian,
Itu sama artinya
“besar pasak daripada tiang”,
Ia tidak akan dapat
survive,
Karena ia tidak
menyisakan ruang untuk bernafas ketika terjatuh.
Hanya orang kaya,
Yang bisa bergaya
hidup “malas-malasan”.
Ketika orang
miskin,
Bermalas-malasan,
Artinya ia
menjalankan gaya atau pola hidup yang tidak sesuai dengan profil ekonominya.
Pada saat itulah,
Ia telah
menjatuhkan vonis untuk dirinya sendiri,
Yakni terpuruk
dalam selokan,
Dan mati membusuk
di dalam kubangan.
Hanya orang kaya
yang bergaya hidup orang kaya,
Yang “memperbudak”
orang lain.
Ketika orang
miskin,
Berperilaku arogan
seperti “bos” yang memerintahkan orang lain untuk mengerjakan sesuatu,
Itu sama artinya
menenggelamkan dirinya sendiri,
Ibarat bunga yang
melayu sebelum kuncupnya sempat berkembang sempurna.
Hanya orang kaya
bergaya hidup orang kaya,
Yang kejam terhadap
dirinya sendiri,
Semisal meminum
minuman beralkohol dan mencandu obat-obatan terlarang.
Ketika orang
miskin,
Bergaya hidup
kecanduan alkohol maupun obat-obatan terlarang,
Maka ia patut
prihatin atas dirinya sendiri,
Yang gagal bersikap
sismpatik terhadap nasibnya sendiri.
Kita menyebut
orang-orang yang hanya memakan umbi-umbian,
Sebagai orang
miskin.
Namun,
Tahukah engkau,
Dokter yang jujur
mengajarkan bahwa makanan terbaik dan tersehat,
Ialah “WHOLE
FOOD”,
Yakni makanan utuh
yang biasa dimakan oleh nenek-moyang leluhur kita,
Tanpa olahan
berlebihan maupun bahan kimiawi tambahan.
Ketika orang
miskin,
Namun bergaya hidup
seperti orang kaya,
Adiktif terhadap “ULTRA
PROCESS FOOD” yang justru merusak kesehatan,
Muaranya jatuh
sakit,
Gagal membayar
biaya medis,
Berakhir tragis.
Ia sendiri yang
memintanya,
YOU ASKED FOR IT!
Hanya orang kaya
bergaya hidup orang kaya,
Yang tidak perlu
memusingkan untuk membuat prediksi,
Mereka mampu
membeli hukum, hakim, dan membeli putusan pengadilan.
Ketika orang miskin
berspekulasi,
Merasa tidak perlu
membuat prediksi atas konsekuensi dibalik perbuatannya sendiri,
Mereka pun akan
berani bermain api,
Terbakar sendiri.
Tidak ada orang
miskin,
Yang takut menjadi
orang kaya.
Namun,
Tidak semua orang
kaya,
Yang sanggup,
berani, dan siap jatuh miskin.
Pikirkan dan
renungkan itu baik-baik.
Masa depan,
Tidak ada yang
pasti,
Yang pasti ialah
ketidak-pastian itu sendiri.
Hidup bagai roda
yang terus berputar,
Bisa menang,
Bisa kalah.
Bisa untung,
Bisa buntung.
Bisa menjadi
jutawan,
Bisa jatuh pailit,
Bisa berada di
atas,
Lalu terjerembab ke
bawah.
Semua raja di era
kerajaan dan kekaisaran,
Takut digulingkan,
Menjadi rakyat
jelata.
Semua presiden,
Berambisi untuk
tetap berkuasa,
Menjadikan dinasti
politik,
Terobsesi agar
anaknya giliran berkuasa,
Takut tidak lagi
memiliki kekuasaan,
Fenomena “post
power syndrome”.
Bila engkau tidak
berani berspekulasi pada nasib,
Mitigasi terhadap
ketidak-pastian,
Ialah hanya dengan
menerapkan gaya hidup sederhana.
Engkau sanggup
membeli segala JUNK FOOD yang mahal di kafe atau swalayan,
Namun tetap memakan
WHOLE FOOD,
Menghindari
tembakau, alkohol, maupun obat-obatan terlarang.
Engkau menguasai
uang,
Namun uang tidak
memperbudak engkau.
Seni untuk tetap “stay
humble and moderate” ini,
Orang bijak
menyebutnya sebagai,
Seni untuk bertahan
hidup,
Seni untuk tetap “UNDER
CONTROL”,
Kendali tetap berada
di tangan kita sendiri.
Mereka yang bekerja
keras,
Akan kalah
berkompetisi dengan mereka yang bekerja secara cerdas.
Namun,
Mereka yang bekerja
cerdas,
Selalu kalah terhadap
mereka yang BERUNTUNG.
Itulah hukum alam
yang sebenarnya terjadi dan bekerja dibalik kesemua ini.
Pertanyaannya,
Bagaimana cara
menciptakan “the LUCK FACTOR” ini?
Orang yang
beruntung,
Karena ia orang
yang kaya dalam segi tabungan Karma Baik,
Rajin dalam
menabung perbuatan-perbuatan baik sepanjang hidupnya.
Mereka tidak
membutuhkan banyak kalkulasi untuk kembali menimba profit dalam usahanya.
Mereka tidak
memboroskan keberuntungannya untuk hal-hal tidak berfaedah,
Mereka menggunakan
buah manis yang mereka petik untuk menanam benih kebaikan yang baru,
Untuk mereka petik
sendiri buah manisnya dikemudian hari,
Ketika buahnya
matang.
Sebaliknya,
Ketika si miskin
merasa tidak perlu berinvestasi,
Dalam hal kebaikan,
Atau bahkan membuka
usaha tanpa didahului kalkulasi,
Maka buah manis
apakah yang mereka harapkan dapat mereka petik dimasa mendatang?
Memetik dan
menikmati buah manis,
Adalah orang kaya
dengan gaya hidup orang kaya.
Orang kaya yang
hidup secara sederhana,
Menginvestasikan
sebagian buah manis yang mereka petik,
Dengan menanamnya
kembali,
Bukan dengan
memboroskannya.
Orang miskin yang
justru bersikeras menerapkan gaya hidup orang kaya,
Melakukan kejahatan
demi bisa menikmati kenikmatan duniawi,
Sama artinya
menggali lubang kubur sendiri.
Siapakah yang dapat
menyebut bahwa Buddha Siddattha Gotama adalah orang miskin?
Ia adalah seorang
pangeran yang bergaya hidup seperti seorang petapa hutan.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

