Jadilah Orang Kaya, namun Tetap Memelihara Gaya Hidup Orang Sederhana

HERY SHIETRA, Jadilah Orang Kaya, namun Tetap Memelihara Gaya Hidup Orang Sederhana

Jadilah orang kaya,

Namun tetap melestarikan gaya hidup yang sederhana,

Itulah resep hidup bahagia dan berkelanjutan.

Survival of the fittest,

Bukan perihal tetap hidup,

Namun menyisakan ruang untuk tetap bisa bernafas dan menjalani kehidupan,

mengantisipasi kondisi yang dapat berubah sewaktu-waktu dikemudian hari.

Ada orang kaya,

Menjalani gaya hidup orang kaya.

Ada juga orang miskin,

Namun memaksakan diri bergaya hidup orang kaya.

Keduanya,

Sama-sama menderita.

Tidak memiliki apa yang disebut sebagai “keseimbangan batin”,

Yang kurvanya cenderung datar di garis tengah.

Orang kaya dengan gaya hidup orang kaya,

Takut jatuh miskin,

Takut meninggalkan usahanya untuk diurus oleh orang lain,

Takut kehilangan hartanya,

Takut hartanya dirampas oleh orang lain,

Takut berpisah dengan harta yang telah ia kumpulkan sepanjang hidupnya,

Takut pada petugas pajak yang datang memeriksa pembukuan,

Takut laporan keuangannya dicurangi pegawai,

Takut anak-anaknya akan bersengketa memperebutkan harta warisan,

Takut adanya kemunculan kompetitor,

Dan takut melekat pada hartanya saat meninggal dunia dan terlahir kembali di alam rendah.

Orang miskin,

Yang tidak menjalani gaya hidup sederhana,

Akan menderita kemelaratan yang bagaikan lingkaran setan,

Hidup tidak mau,

Mati pun sungkan.

Dengan berupaya menjadi orang kaya,

Namun tetap melestarikan gaya hidup sederhana,

Kita memotivasi diri untuk bekerja keras,

Dan memiliki persediaan yang cukup ketika dibutuhkan dikemudian hari,

Ataupun terbesas dari rasa takut memasuki usia pensiun,

Bebas secara finansial,

Dan disaat bersamaan tidak dihantui oleh mimpi buruk bernama jatuhnya gaya hidup menuju ke kesederhanaan.

Banyak orang miskin,

Tidak sadar bahwa dirinya selama ini menjalani gaya hidup orang mewah.

Hanya orang kaya dengan gaya hidup orang kaya,

Yang melakukan kemewahan seperti pergi ke kasino untuk berjudi.

Ketika orang miskin,

Terjerat candu perjudian,

Itu sama artinya “besar pasak daripada tiang”,

Ia tidak akan dapat survive,

Karena ia tidak menyisakan ruang untuk bernafas ketika terjatuh.

Hanya orang kaya,

Yang bisa bergaya hidup “malas-malasan”.

Ketika orang miskin,

Bermalas-malasan,

Artinya ia menjalankan gaya atau pola hidup yang tidak sesuai dengan profil ekonominya.

Pada saat itulah,

Ia telah menjatuhkan vonis untuk dirinya sendiri,

Yakni terpuruk dalam selokan,

Dan mati membusuk di dalam kubangan.

Hanya orang kaya yang bergaya hidup orang kaya,

Yang “memperbudak” orang lain.

Ketika orang miskin,

Berperilaku arogan seperti “bos” yang memerintahkan orang lain untuk mengerjakan sesuatu,

Itu sama artinya menenggelamkan dirinya sendiri,

Ibarat bunga yang melayu sebelum kuncupnya sempat berkembang sempurna.

Hanya orang kaya bergaya hidup orang kaya,

Yang kejam terhadap dirinya sendiri,

Semisal meminum minuman beralkohol dan mencandu obat-obatan terlarang.

Ketika orang miskin,

Bergaya hidup kecanduan alkohol maupun obat-obatan terlarang,

Maka ia patut prihatin atas dirinya sendiri,

Yang gagal bersikap sismpatik terhadap nasibnya sendiri.

Kita menyebut orang-orang yang hanya memakan umbi-umbian,

Sebagai orang miskin.

Namun,

Tahukah engkau,

Dokter yang jujur mengajarkan bahwa makanan terbaik dan tersehat,

Ialah “WHOLE FOOD”,

Yakni makanan utuh yang biasa dimakan oleh nenek-moyang leluhur kita,

Tanpa olahan berlebihan maupun bahan kimiawi tambahan.

Ketika orang miskin,

Namun bergaya hidup seperti orang kaya,

Adiktif terhadap “ULTRA PROCESS FOOD” yang justru merusak kesehatan,

Muaranya jatuh sakit,

Gagal membayar biaya medis,

Berakhir tragis.

Ia sendiri yang memintanya,

YOU ASKED FOR IT!

Hanya orang kaya bergaya hidup orang kaya,

Yang tidak perlu memusingkan untuk membuat prediksi,

Mereka mampu membeli hukum, hakim, dan membeli putusan pengadilan.

Ketika orang miskin berspekulasi,

Merasa tidak perlu membuat prediksi atas konsekuensi dibalik perbuatannya sendiri,

Mereka pun akan berani bermain api,

Terbakar sendiri.

Tidak ada orang miskin,

Yang takut menjadi orang kaya.

Namun,

Tidak semua orang kaya,

Yang sanggup, berani, dan siap jatuh miskin.

Pikirkan dan renungkan itu baik-baik.

Masa depan,

Tidak ada yang pasti,

Yang pasti ialah ketidak-pastian itu sendiri.

Hidup bagai roda yang terus berputar,

Bisa menang,

Bisa kalah.

Bisa untung,

Bisa buntung.

Bisa menjadi jutawan,

Bisa jatuh pailit,

Bisa berada di atas,

Lalu terjerembab ke bawah.

Semua raja di era kerajaan dan kekaisaran,

Takut digulingkan,

Menjadi rakyat jelata.

Semua presiden,

Berambisi untuk tetap berkuasa,

Menjadikan dinasti politik,

Terobsesi agar anaknya giliran berkuasa,

Takut tidak lagi memiliki kekuasaan,

Fenomena “post power syndrome”.

Bila engkau tidak berani berspekulasi pada nasib,

Mitigasi terhadap ketidak-pastian,

Ialah hanya dengan menerapkan gaya hidup sederhana.

Engkau sanggup membeli segala JUNK FOOD yang mahal di kafe atau swalayan,

Namun tetap memakan WHOLE FOOD,

Menghindari tembakau, alkohol, maupun obat-obatan terlarang.

Engkau menguasai uang,

Namun uang tidak memperbudak engkau.

Seni untuk tetap “stay humble and moderate” ini,

Orang bijak menyebutnya sebagai,

Seni untuk bertahan hidup,

Seni untuk tetap “UNDER CONTROL”,

Kendali tetap berada di tangan kita sendiri.

Mereka yang bekerja keras,

Akan kalah berkompetisi dengan mereka yang bekerja secara cerdas.

Namun,

Mereka yang bekerja cerdas,

Selalu kalah terhadap mereka yang BERUNTUNG.

Itulah hukum alam yang sebenarnya terjadi dan bekerja dibalik kesemua ini.

Pertanyaannya,

Bagaimana cara menciptakan “the LUCK FACTOR” ini?

Orang yang beruntung,

Karena ia orang yang kaya dalam segi tabungan Karma Baik,

Rajin dalam menabung perbuatan-perbuatan baik sepanjang hidupnya.

Mereka tidak membutuhkan banyak kalkulasi untuk kembali menimba profit dalam usahanya.

Mereka tidak memboroskan keberuntungannya untuk hal-hal tidak berfaedah,

Mereka menggunakan buah manis yang mereka petik untuk menanam benih kebaikan yang baru,

Untuk mereka petik sendiri buah manisnya dikemudian hari,

Ketika buahnya matang.

Sebaliknya,

Ketika si miskin merasa tidak perlu berinvestasi,

Dalam hal kebaikan,

Atau bahkan membuka usaha tanpa didahului kalkulasi,

Maka buah manis apakah yang mereka harapkan dapat mereka petik dimasa mendatang?

Memetik dan menikmati buah manis,

Adalah orang kaya dengan gaya hidup orang kaya.

Orang kaya yang hidup secara sederhana,

Menginvestasikan sebagian buah manis yang mereka petik,

Dengan menanamnya kembali,

Bukan dengan memboroskannya.

Orang miskin yang justru bersikeras menerapkan gaya hidup orang kaya,

Melakukan kejahatan demi bisa menikmati kenikmatan duniawi,

Sama artinya menggali lubang kubur sendiri.

Siapakah yang dapat menyebut bahwa Buddha Siddattha Gotama adalah orang miskin?

Ia adalah seorang pangeran yang bergaya hidup seperti seorang petapa hutan.

© Hak Cipta HERY SHIETRA. 

Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS