Kita dapat
mengetahui watak seseorang,
Dengan mengamati ciri-ciri
khas semacam pola.
Hanya seorang pengecut,
Yang beraninya
terhadap orang baik.
Hanya orang jahat,
Yang mengambil keuntungan dengan cara merugikan orang baik.
Bila engkau ingin
menjadi orang baik,
Jadilah orang baik
yang profesional,
Bukan orang baik
yang bisa diperalat,
Dimana orang lain yang
tidak bertanggung-jawab akan mengambil keuntungan darimu,
Tanpa memberikanmu
keuntungan apapun.
Pertukaran,
Harus setara,
Equal trade.
Ketika engkau jatuh
cinta kepada seseorang,
Maka ketika berkata
kepada orang tersebut,
“I love YOU”,
Katakan juga dengan
sama kerasnya,
“I love MYSELF!”
Ketika engkau ingin
berbuat kebaikan,
Selain berbuat baik
kepada orang lain,
Juga berbuatlah
baik kepada diri kita sendiri.
Kita perlu belajar
menghormati dan menghargai orang lain,
Namun kita juga
perlu mulai belajar untuk menghormati dan menghargai diri sendiri,
Tidak kurang dari
sikap hormat kita kepada siapapun diluar diri kita.
Ketika kita ingin
menolong dan melindungi orang lain,
Jaga dan lindungi
terlebih dahulu diri kita sendiri dengan baik-baik.
Menghibur orang
lain adalah baik,
Namun jangan lupa
untuk menghibur dan menghadiahi diri kita sendiri.
Bersabar terhadap
sikap irasional orang lain,
Disaat bersamaan
kita pun perlu menghemat waktu kita sendiri.
Memahami dan
mengerti kesulitan orang lain adalah hal yang baik,
Akan tetapi
memahami dan mengerti diri kita sendiri tidak kalah pentingnya.
Bertanggung-jawab terhadap
orang lain adalah sebuah keharusan,
Keharusan bertanggung-jawab
yang sama kita peruntukkan kepada diri kita sendiri,
Dengan cara menuntut
apa yang menjadi hak kita terhadap kewajiban orang lain.
Tidak melukai orang
lain adalah bagus,
Tidak melukai diri
sendiri tidak kurang bagusnya.
Orang baik,
Memiliki ciri-ciri,
Ia tidak akan
memakan orang baik,
Cenderung untuk
melestarikan sesama orang baik.
Orang jahat,
Juga memiliki ciri-ciri,
Ia akan memakan
orang baik,
Dan cenderung
membuat punah orang-orang baik.
Bila Anda adalah
orang baik yang asli,
Ketika ada orang
yang menyatakan rasa cintanya kepada Anda,
Sarankan pula agar ia
mencintai, merawat, serta membahagiakan dirinya sendiri pula.
Ketika ada orang
yang berbuat baik kepada Anda,
Orang baik akan
cenderung membalas kebaikan hati orang lain,
Dan memberikan
penghargaan terhadap sifat baiknya,
Agar mereka tidak trauma
menjadi orang baik,
Dan senang tetap menjadi
orang baik.
Apresiasi kebaikan
hati orang lain,
Apresiasi kebaikan
hati diri sendiri.
Jangan boroskan
kebaikan orang lain,
Juga jangan
boroskan kebaikan hati diri kita.
Balas kebaikan,
Dengan kebaikan.
Dengan cara begitulah,
Kebaikan hati mereka
akan lestari,
Kebaikan hati yang
tidak bertepuk sebelah tangan.
Cinta seseorang yang
bertepuk sebelah tangan,
Bukan karena perasaan
mereka ditolak dan tidak berbalas oleh orang lain,
Namun karena mereka
gagal untuk mencintai diri mereka sendiri.
Kebaikan hati yang
bertepuk sebelah tangan,
Terjadi bukan
karena tidak mendapatkan balasan kebaikan hati yang sama dari mereka,
Namun ketika kita
gagal untuk bersikap baik kepada diri kita sendiri.
Sifat bertanggung-jawab
yang bertepuk sebelah tangan,
Terjadi bukan karena
orang lain tidak memiliki sikap bertanggung-jawab seperti kita,
Namun ketika kita
lupa untuk bertanggung-jawab terhadap diri kita sendiri.
Ketika kita melaksanakan
kewajiban,
Kita pun perlu
belajar untuk meminta dan menuntut,
Ketika kita bersikap
baik dan penyabar,
Setidaknya kita menghargap
agar mereka tidak “membalas air susu dengan air tuba”.
Dengan cara
begitulah,
Kita menghindarkan diri
kita dari manipulasi dan eksploitasi,
Oleh orang lain
yang belum tentu memiliki niat baik yang sama dengan kita.
Memberi kepada
mereka,
Ketika Anda diberikan
oleh mereka.
Diberikan oleh
mereka,
Maka Anda perlu
memberi mereka.
Relasi yang sehat selalu
berbentuk dua dimensi atau arah,
Yakni kepada orang
lain,
Juga kepada diri
kita sendiri.
Relasi parasit,
Tidak pernah setara
sifatnya,
Hanya tahu
mengambil dari Anda.
Relasi perampok,
Juga mengambil dari
Anda.
Relasi penipu,
Mengambil dari Anda.
Relasi menipulator,
Mengambil dari Anda.
Bila Anda memiliki
jiwa altruistik yang ekstrem,
Anda perlu belajar
untuk mulai egois sebagai penyeimbangnya,
Maka Anda akan
menapaki jalan yang lebih moderat dan rasional.
Bila terjadi
ketimpangan,
Berat sebelah,
Mereka hanya mau diuntungkan,
Sementara Anda
hanya dirugikan,
Itulah pertanda
relasi yang tidak sehat,
Segera putus dan
tinggalkan,
Sedini mungkin,
Jauhi sebisa
mungkin untuk seterusnya,
Karena manusia
bergerak berdasarkan pola,
Pola yang sama
selalu berulang dan berpotensi menguat intensitasnya.
Diberi jari,
Minta sedepa.
Diberikan kebaikan
hati,
Minta jantung Anda.
Tetapkan batasan
atau ambang batas,
Agar potensi
merusak demikian tidak terus berlanjut.
Ketika mereka “hit
our bottom line”,
Segera putus dan akhiri.
Tetapkan “bottom
line” kita.
Bila Anda hanya
tahu memberi,
Tanpa tahu cara
meminta,
Maka Anda sedang
menjalin relasi yang tidak sehat,
Selain terhadap
orang lain,
Juga relasi yang
tidak sehat terhadap diri Anda sendiri.
Ketika Anda tidak
menghargai diri Anda sendiri,
Atas dasar delusi
apakah,
Anda mengharap
orang lain akan mau belajar untuk menghargai Anda?
Sang Buddha
mengajarkan,
Perbuatan baik artinya,
Tidak merugikan
orang lain,
JUGA TIDAK
MERUGIKAN DIRI KITA SENDIRI.
Ketika orang lain
mencoba memanipulasi kita,
Dengan mengatakan
bahwa kita adalah orang “jahat”,
Semata karena tidak
bersedia dirugikan, diperdaya, ataupun dimanipulasi oleh mereka,
Maka jawablah
secara tegas,
“MEMANG!”
Jadilah orang baik,
Namun bukan orang
baik yang naif,
Namun orang baik
yang profesional.
Profesional artinya,
Selektif dan
memiliki syarat,
Bukan tanpa syarat.
Orang baik yang
profesional artinya,
Bersikap baik namun
disertai sebuah atau lebih syarat.
Pepatah bijak
mengajarkan,
“Be a good
person,
BUT DON’T WASTE
TIME TO PROVE IT.”
Mereka yang merampas
hak orang lain,
Lebih hina daripada
pengemis.
Seorang pengemis
sekalipun,
Tidak mencari makan
dengan cara merampas nasi dari atas piring milik orang lain.
Untuk menjadi orang
baik,
Kita perlu mempelajarinya.
Untuk menjadi orang
yang tidak baik,
Kita tidak perlu
belajar ataupun diajari untuk menjadi orang semacam itu.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

