Seni Hidup menjadi Orang Baik yang Proporsional dan Profesional

HERY SHIETRA, Seni Hidup menjadi Orang Baik yang Perlu Kita Pelajari

Kita dapat mengetahui watak seseorang,

Dengan mengamati ciri-ciri khas semacam pola.

Hanya seorang pengecut,

Yang beraninya terhadap orang baik.

Hanya orang jahat,

Yang mengambil keuntungan dengan cara merugikan orang baik.

Bila engkau ingin menjadi orang baik,

Jadilah orang baik yang profesional,

Bukan orang baik yang bisa diperalat,

Dimana orang lain yang tidak bertanggung-jawab akan mengambil keuntungan darimu,

Tanpa memberikanmu keuntungan apapun.

Pertukaran,

Harus setara,

Equal trade.

Ketika engkau jatuh cinta kepada seseorang,

Maka ketika berkata kepada orang tersebut,

I love YOU”,

Katakan juga dengan sama kerasnya,

I love MYSELF!

Ketika engkau ingin berbuat kebaikan,

Selain berbuat baik kepada orang lain,

Juga berbuatlah baik kepada diri kita sendiri.

Kita perlu belajar menghormati dan menghargai orang lain,

Namun kita juga perlu mulai belajar untuk menghormati dan menghargai diri sendiri,

Tidak kurang dari sikap hormat kita kepada siapapun diluar diri kita.

Ketika kita ingin menolong dan melindungi orang lain,

Jaga dan lindungi terlebih dahulu diri kita sendiri dengan baik-baik.

Menghibur orang lain adalah baik,

Namun jangan lupa untuk menghibur dan menghadiahi diri kita sendiri.

Bersabar terhadap sikap irasional orang lain,

Disaat bersamaan kita pun perlu menghemat waktu kita sendiri.

Memahami dan mengerti kesulitan orang lain adalah hal yang baik,

Akan tetapi memahami dan mengerti diri kita sendiri tidak kalah pentingnya.

Bertanggung-jawab terhadap orang lain adalah sebuah keharusan,

Keharusan bertanggung-jawab yang sama kita peruntukkan kepada diri kita sendiri,

Dengan cara menuntut apa yang menjadi hak kita terhadap kewajiban orang lain.

Tidak melukai orang lain adalah bagus,

Tidak melukai diri sendiri tidak kurang bagusnya.

Orang baik,

Memiliki ciri-ciri,

Ia tidak akan memakan orang baik,

Cenderung untuk melestarikan sesama orang baik.

Orang jahat,

Juga memiliki ciri-ciri,

Ia akan memakan orang baik,

Dan cenderung membuat punah orang-orang baik.

Bila Anda adalah orang baik yang asli,

Ketika ada orang yang menyatakan rasa cintanya kepada Anda,

Sarankan pula agar ia mencintai, merawat, serta membahagiakan dirinya sendiri pula.

Ketika ada orang yang berbuat baik kepada Anda,

Orang baik akan cenderung membalas kebaikan hati orang lain,

Dan memberikan penghargaan terhadap sifat baiknya,

Agar mereka tidak trauma menjadi orang baik,

Dan senang tetap menjadi orang baik.

Apresiasi kebaikan hati orang lain,

Apresiasi kebaikan hati diri sendiri.

Jangan boroskan kebaikan orang lain,

Juga jangan boroskan kebaikan hati diri kita.

Balas kebaikan,

Dengan kebaikan.

Dengan cara begitulah,

Kebaikan hati mereka akan lestari,

Kebaikan hati yang tidak bertepuk sebelah tangan.

Cinta seseorang yang bertepuk sebelah tangan,

Bukan karena perasaan mereka ditolak dan tidak berbalas oleh orang lain,

Namun karena mereka gagal untuk mencintai diri mereka sendiri.

Kebaikan hati yang bertepuk sebelah tangan,

Terjadi bukan karena tidak mendapatkan balasan kebaikan hati yang sama dari mereka,

Namun ketika kita gagal untuk bersikap baik kepada diri kita sendiri.

Sifat bertanggung-jawab yang bertepuk sebelah tangan,

Terjadi bukan karena orang lain tidak memiliki sikap bertanggung-jawab seperti kita,

Namun ketika kita lupa untuk bertanggung-jawab terhadap diri kita sendiri.

Ketika kita melaksanakan kewajiban,

Kita pun perlu belajar untuk meminta dan menuntut,

Ketika kita bersikap baik dan penyabar,

Setidaknya kita menghargap agar mereka tidak “membalas air susu dengan air tuba”.

Dengan cara begitulah,

Kita menghindarkan diri kita dari manipulasi dan eksploitasi,

Oleh orang lain yang belum tentu memiliki niat baik yang sama dengan kita.

Memberi kepada mereka,

Ketika Anda diberikan oleh mereka.

Diberikan oleh mereka,

Maka Anda perlu memberi mereka.

Relasi yang sehat selalu berbentuk dua dimensi atau arah,

Yakni kepada orang lain,

Juga kepada diri kita sendiri.

Relasi parasit,

Tidak pernah setara sifatnya,

Hanya tahu mengambil dari Anda.

Relasi perampok,

Juga mengambil dari Anda.

Relasi penipu,

Mengambil dari Anda.

Relasi menipulator,

Mengambil dari Anda.

Bila Anda memiliki jiwa altruistik yang ekstrem,

Anda perlu belajar untuk mulai egois sebagai penyeimbangnya,

Maka Anda akan menapaki jalan yang lebih moderat dan rasional.

Bila terjadi ketimpangan,

Berat sebelah,

Mereka hanya mau diuntungkan,

Sementara Anda hanya dirugikan,

Itulah pertanda relasi yang tidak sehat,

Segera putus dan tinggalkan,

Sedini mungkin,

Jauhi sebisa mungkin untuk seterusnya,

Karena manusia bergerak berdasarkan pola,

Pola yang sama selalu berulang dan berpotensi menguat intensitasnya.

Diberi jari,

Minta sedepa.

Diberikan kebaikan hati,

Minta jantung Anda.

Tetapkan batasan atau ambang batas,

Agar potensi merusak demikian tidak terus berlanjut.

Ketika mereka “hit our bottom line”,

Segera putus dan akhiri.

Tetapkan “bottom line” kita.

Bila Anda hanya tahu memberi,

Tanpa tahu cara meminta,

Maka Anda sedang menjalin relasi yang tidak sehat,

Selain terhadap orang lain,

Juga relasi yang tidak sehat terhadap diri Anda sendiri.

Ketika Anda tidak menghargai diri Anda sendiri,

Atas dasar delusi apakah,

Anda mengharap orang lain akan mau belajar untuk menghargai Anda?

Sang Buddha mengajarkan,

Perbuatan baik artinya,

Tidak merugikan orang lain,

JUGA TIDAK MERUGIKAN DIRI KITA SENDIRI.

Ketika orang lain mencoba memanipulasi kita,

Dengan mengatakan bahwa kita adalah orang “jahat”,

Semata karena tidak bersedia dirugikan, diperdaya, ataupun dimanipulasi oleh mereka,

Maka jawablah secara tegas,

MEMANG!

Jadilah orang baik,

Namun bukan orang baik yang naif,

Namun orang baik yang profesional.

Profesional artinya,

Selektif dan memiliki syarat,

Bukan tanpa syarat.

Orang baik yang profesional artinya,

Bersikap baik namun disertai sebuah atau lebih syarat.

Pepatah bijak mengajarkan,

Be a good person,

BUT DON’T WASTE TIME TO PROVE IT.

Mereka yang merampas hak orang lain,

Lebih hina daripada pengemis.

Seorang pengemis sekalipun,

Tidak mencari makan dengan cara merampas nasi dari atas piring milik orang lain.

Untuk menjadi orang baik,

Kita perlu mempelajarinya.

Untuk menjadi orang yang tidak baik,

Kita tidak perlu belajar ataupun diajari untuk menjadi orang semacam itu.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS