Mengapa yang Ditegur justru Lebih Galak daripada yang Menegur? Mengapa yang Bersalah justru Lebih Galak daripada Korbannya yang Menegur?

Membungkam Korban agar Tidak Bersuara, apakah Artinya sang Pelaku Kejahatan Tidak Pernah Berbuat Kejahatan? Itulah Pemikiran Picik dan Dangkal Seseorang yang KEKANAK-KANAKAN, Menyangkal Lewat Pembungkaman terhadap Korban

Sebenarnya apakah yang terjadi, dibalik fenomena sesalah apapun orang yang kita tegur, dimana yang menegur sejatinya adalah korban yang hak-haknya dirampas oleh pihak yang kemudian ia tegur, justru yang terjadi ialah selalu fenomena berikut : lebih galak yang yang ditegur daripada yang ditegur, lebih galak yang bersalah daripada yang menegur secara benar, lebih galak pelaku kejahatan daripada korbannya yang menegur, serta tendensi “menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik”, bila perlu membungkam korban agar tidak banyak bersuara?

Telah ternyata jawabannya telah sejak lama dijelaskan sebagaimana dapat kita temukan lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:

167 (7) Menegur

Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Teman-teman, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain pertama-tama harus menegakkan lima hal dalam dirinya. Apakah lima ini? (1) [Ia harus mempertimbangkan:] ‘Aku akan berbicara pada waktu yang tepat, bukan pada waktu yang tidak tepat; (2) aku akan berbicara dengan jujur, bukan dengan berbohong; (3) aku akan berbicara secara halus, bukan secara kasar; (4) aku akan berbicara dalam cara yang bermanfaat, bukan dalam cara yang berbahaya; (5) aku akan berbicara dengan pikiran cinta-kasih, bukan selagi memendam kebencian.’ Seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain pertama-tama harus menegakkan kelima hal ini dalam dirinya.

“Di sini, teman-teman, aku melihat beberapa orang ditegur pada waktu yang tidak tepat, bukan diganggu pada waktu yang tepat; ditegur secara bohong, bukan diganggu secara jujur; ditegur secara kasar, bukan diganggu secara halus; ditegur dalam cara yang berbahaya, bukan diganggu dalam cara yang bermanfaat; ditegur oleh seseorang yang memendam kebencian, bukan diganggu oleh seseorang dengan pikiran cinta kasih.

“Teman-teman, ketika seorang bhikkhu ditegur dalam cara yang bertentangan dengan Dhamma, maka ketidak-menyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam lima cara: (1) ‘Teman, engkau ditegur pada waktu yang tidak tepat, bukan [197] pada waktu yang tepat; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal. (2) Engkau ditegur secara bohong, bukan secara jujur; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal. (3) Engkau ditegur secara kasar, bukan secara halus; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal. (4) Engkau ditegur dalam cara yang berbahaya, bukan dalam cara yang bermanfaat; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal. (5) Engkau ditegur oleh seseorang yang memendam kebencian, bukan oleh seseorang dengan pikiran cinta-kasih; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal.’ Ketika seorang bhikkhu ditegur dalam cara yang bertentangan dengan Dhamma, maka ketidak-menyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam kelima cara ini.

“Teman-teman, ketika seorang bhikkhu menegur dalam cara yang bertentangan dengan Dhamma, maka penyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam lima cara: (1) ‘Teman, engkau menegurnya pada waktu yang tidak tepat, bukan pada waktu yang tepat; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (2) Engkau menegurnya secara bohong, bukan secara jujur; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (3) Engkau menegurnya secara kasar, bukan secara halus; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (4) Engkau menegurnya dalam cara yang berbahaya, bukan dalam cara yang bermanfaat; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (5) Engkau menegurnya selagi memendam kebencian, bukan dengan pikiran cinta-kasih; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal.’ Ketika seorang bhikkhu menegur dalam cara yang bertentangan dengan Dhamma, maka penyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam kelima cara ini. Karena alasan apakah? Agar bhikkhu lain tidak berpikir untuk menegur secara keliru.

“Di sini, teman-teman, aku melihat beberapa orang ditegur pada waktu yang tepat, bukan diganggu pada waktu yang tidak tepat; ditegur secara jujur, bukan diganggu secara bohong; ditegur secara halus, bukan diganggu secara kasar; ditegur dalam cara yang bermanfaat, bukan diganggu dalam cara yang berbahaya; ditegur oleh seseorang dengan pikiran cinta kasih, bukan diganggu oleh seseorang yang memendam kebencian.

“Teman-teman, ketika seorang bhikkhu ditegur dalam cara yang sesuai dengan Dhamma, maka penyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam lima cara: (1) ‘Teman, engkau ditegur pada waktu yang tepat, bukan pada waktu yang tidak tepat; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (2) Engkau ditegur secara jujur, bukan secara bohong; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (3) Engkau ditegur secara halus, bukan secara kasar; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (4) Engkau ditegur dalam cara yang bermanfaat, bukan dalam cara yang berbahaya; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (5) Engkau ditegur oleh seseorang dengan pikiran cinta-kasih, bukan oleh seseorang yang memendam kebencian; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal.’ [198] Ketika seorang bhikkhu ditegur dalam cara yang sesuai dengan Dhamma, maka penyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam kelima cara ini.

“Teman-teman, ketika seorang bhikkhu menegur dalam cara yang sesuai dengan Dhamma, maka ketidak-menyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam lima cara: (1) ‘Teman, engkau menegurnya pada waktu yang tepat, bukan pada waktu yang tidak tepat; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal. (2) Engkau menegurnya secara jujur, bukan secara bohong; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal. (3) Engkau menegurnya secara halus, bukan secara kasar; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal. (4) Engkau menegurnya dalam cara yang bermanfaat, bukan dalam cara yang berbahaya; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal. (5) Engkau menegurnya dengan pikiran cinta kasih, bukan selagi memendam kebencian; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal.’ Ketika seorang bhikkhu menegur dalam cara yang sesuai dengan Dhamma, maka ketidak-menyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam kelima cara ini. Karena alasan apakah? Agar bhikkhu lain berpikir untuk menegur secara benar.

“Teman-teman, seseorang yang ditegur harus kokoh dalam dua hal: dalam kebenaran dan ketidak-marahan. Jika orang lain menegurku – apakah pada waktu yang tepat atau pun pada waktu yang tidak tepat; apakah tentang apa yang benar atau pun tentang apa yang tidak benar; apakah secara halus atau pun secara kasar; apakah dalam cara yang bermanfaat atau pun dalam cara yang berbahaya; apakah dengan pikiran cinta-kasih atau pun selagi memendam kebencian – aku harus tetap kokoh dalam dua hal: dalam kebenaran dan ketidak-marahan.

Jika aku mengetahui: ‘Ada kualitas demikian padaku,’ maka aku memberitahunya: ‘Hal ini ada. Kualitas ini ada padaku.’ Jika aku mengetahui: ‘Tidak ada kualitas demikian padaku,’ maka aku memberitahunya: ‘Hal ini tidak ada. Kualitas ini tidak ada padaku.’

[Sang Bhagavā berkata:] “Sāriputta, bahkan ketika engkau sedang berbicara kepada mereka seperti demikian, beberapa orang dungu di sini tidak dengan hormat menerima apa yang engkau katakan.”

“Ada, Bhante, orang-orang yang hampa dari keyakinan yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, bukan [199] karena keyakinan melainkan menghendaki pencarian penghidupan; mereka licik, munafik, penipu, gelisah, pongah, tinggi hati, banyak berbicara, mengoceh tanpa arah dalam pembicaraan mereka, tidak menjaga pintu-pintu indria mereka, makan berlebihan, tidak menekuni keawasan, tidak mempedulikan kehidupan pertapaan, tidak menghormati latihan, hidup mewah dan mengendur, para pelopor dalam kemerosotan, mengabaikan tugas keterasingan, malas, hampa dari kegigihan, berpikiran kacau, tidak memiliki pemahaman jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara, tidak bijaksana, bodoh. Ketika aku berbicara kepada mereka seperti demikian, mereka tidak dengan hormat menerima apa yang aku katakan.

“Tetapi, Bhante, ada orang-orang yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah dengan penuh keyakinan, yang tidak licik, tidak munafik, bukan penipu, tidak gelisah, tidak pongah, tidak tinggi hati, tidak banyak berbicara, dan tidak mengoceh tanpa arah dalam pembicaraan mereka; yang menjaga pintu-pintu indria mereka; yang makan secukupnya, menekuni keawasan, menekuni kehidupan pertapaan, sangat menghormati latihan; tidak hidup mewah dan tidak mengendur; yang membuang kebiasaan-kebiasaan lama dan menjadi pelopor dalam keterasingan; yang bersemangat, teguh, penuh perhatian, memahami dengan jernih, terkonsentrasi, dengan pikiran terpusat, bijaksana, cerdas. Ketika aku berbicara kepada mereka seperti demikian, mereka dengan hormat menerima apa yang aku katakan.”

“Sāriputta, biarkan saja orang-orang itu yang hampa dari keyakinan dan yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, bukan karena keyakinan melainkan menghendaki pencarian penghidupan; yang licik … tidak bijaksana, bodoh. Tetapi, Sāriputta, engkau harus berbicara kepada anggota-anggota keluarga itu yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah dengan penuh keyakinan yang tidak licik … yang bijaksana, cerdas. [200] Nasihatilah teman-temanmu para bhikkhu, Sāriputta! Ajarilah teman-temanmu para bhikkhu, Sāriputta, [dengan berpikir:] ‘Aku akan membuat teman-temanku para bhikkhu keluar dari apa yang bertentangan dengan Dhamma sejati dan akan mengokohkan mereka dalam Dhamma sejati.’ Demikianlah, Sāriputta, engkau harus berlatih.”

Selalu terjadi, pengendara motor roda dua maupun pengendara sepeda roda dua ataupun pedagang keliling gerobakan yang bergerak melawan arus dengan merampas hak pejalan kaki yang sudah tepat berjalan di sisi kiri, justru tidak mau “mengalah” sekalipun bersalah, sehingga pejalan kaki yang punya hak berjalan di sisi kiri terpaksa harus mengalah dengan bergerak ke badan jalan yang beresiko tertabrak kendaraan yang melaju dari arah belakang. Ketika sang korban (pejalan kaki) bersikukuh mempertahankan haknya, sang pelaku yang merampas hak dengan berkendara melawan arus, justru bersikap lebih galak dan intimidatif daripada korbannya—sekalipun masyarakat di Indonesia dikenal Ketimuran dan “agamais” (rajib beribadah, mengaku ber-Tuhan, dan meyakini adanya “alam neraka”).

Fenomena “sosial” demikian, penulis alami di banyak ruas jalan, sejak dahulu kala dan hingga kini. Karena telah memahami “budaya” atau watak masyarakat di Indonesia, penulis tidak pernah lagi menegur perilaku keliru masyarakat di Indonesia. Karena sudah jelas apa hasil atau reaksinya. Pernah terjadi kejadian yang lebih ekstrem. Suatu pagi, seorang warga di lingkungan pemukiman yang berjalan kaki, ditabrak oleh seorang ibu penjual sayur yang mengendarai kendaraan bermotor doa dua. Korban sekadar meminta tanggung-jawab berupa biaya berobat. Apa yang kemudian terjadi?

Tanpa mengakui kesalahannya, juga gagal menyadari bahwa sekalipun dibiayai sepenuhnya biaya berobat, korban tetap merugi karena tidak dapat pulih sempurna seperti sebelumnya disamping rugi waktu, energi, pikiran, serta kejiwaan, suami dari sang pelaku kemudian memarahi korban lewat intimidasi verbal, sehingga sang korban mundur dan tidak lagi menuntut pertanggung-jawaban apapun dari sang pelaku. Sang pelaku, memiliki apa yang penulis sebut sabagai “mental yang KEKANAK-KANAKAN”, seolah dengan menyangkal dan mengingkari perbuatannya, maka perbuatan tersebut tidak pernah ada. Menurut Anda, siapakah yang sejatinya telah “merugi”?

Pernah pula terjadi sebagaimana pengalaman pribadi penulis saat masih duduk di bangku sekolah, ketika kawan sekelas yang cara bermainnya kasar mengakibatkan kacamata yang penulis kenakan menjadi jatuh atau rusak terhantam tangan mereka, yang pelakunya yang selama ini kerap bermulut besar perihal agama, kitab suci, Tuhan, nabi, ayat, wahyu, dogma, surga dan neraka, namun telah ternyata nihil dan miskin perihal tanggung-jawab. Bukan satu atau dua kali kejadian demikian penulis alami, sejak kecil hingga dewasa. Mereka adalah para pengecut dan pecundang kehidupan, yang begitu begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri yang telah menyakiti, merugikan, maupun melukai pihak lainnya.

Apakah para pelakunya dengan mencandu ideologi KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENEBUSAN / PENGHAPUSAN DOSA”—seolah-olah Tuhan lebih PRO terhadap PENDOSA (penjahat)—maka kacamata penulis akan kembali seperti kondisi sebelum mereka rusak, luka penulis akan kembali pulih, trauma psikis yang penulis alami akan sirna, waktu penulis yang hilang akan kembali ke titik semula, ongkos untuk membuat kacamata baru dikembalikan, tidak dapat melihat dengan jelas apa yang ditulis oleh guru di papan tulis akan dapat kembali ke masa tersebut, dan tidak ada pihak-pihak yang menjadi korban mereka? Jelas mereka berupaya menghindari konsekuensi atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, alih-alih menjelma “kembali ke fitri”, mereka justru berupaya meng-korupsi dosa-dosa (kejahatan kali-kedua) sehingga lebih menyerupai “KORUPTOR DOSA”.

Hanya PENDOSA, yang butuh “abolition of sins” serta mencandu dogma adiktif-beracun demikian. Dalam Buddhisme, bertanggung-jawan adalah demi kepentingan diri sang pelaku itu sendiri, agar tidak ada “hutang Karma”. Ada dua postulat dalam Buddhisme : Pertama, penjahat yang selalu gagal dalam melaksanakan niat jahatnya, adalah penjahat yang paling beruntung. Kedua, penjahat yang selalu berhasil melancarkan rencana jahatnya, sejatinya ialah penjahat yang paling malang. Lebih malang lagi, penjahat yang tidak bersikap ksatria dengan tidak berani mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Bila ibadahnya umat agama samawi ialah berupa ritual sembah-sujud dan puja-puji, maka ibadah dalam Buddhisme ialah:

Ovada Patimokkha

Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,

senantiasa mengembangkan kebajikan

dan membersihkan batin;

inilah Ajaran Para Buddha.

Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi.

“Nibbana adalah tertinggi”, begitulah sabda Para Buddha.

Dia yang masih menyakiti orang lain

sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).

Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri sesuai peraturan,

memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi

serta giat mengembangkan batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.

[Sumber: Dhammapada 183-184-185, Syair Gatha.]

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS