Orang Jahat yang “Licik namun Cerdas”, akan Memilih untuk “Cuci Dosa” dengan Dihukum dan Divonis Hukuman oleh Hakim Manusia di Pengadilan Manusia, karena rata-rata Hukumannya Ringan
Orang Jahat yang Dungu, Berupaya agar dapat Berkelit
dari Vonis Hukuman Hakim Manusia di Pengadilan Manusia, meski rata-rata Vonis
Hukumannya Terbilang sangat Ringan dan Sebentar Lama Penjaranya
Question: Apakah semua kejahatan, layak untuk dilaporkan oleh korban, sekalipun akan benar-benar diproses oleh pihak polisi hingga tuntutan oleh jaksa penuntut umum serta terbit vonis putusan hakim? Kita dapat merujuk kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan yang saat itu bertugas sebagai penyidik pada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), akan tetapi meski luka penglihatan maupun trauma yang diderita sang korban bersifat permanen dan korbannya memiliki karakter atau tingkat moralitas yang diatas rata-rata, telah ternyata pelakunya hanya divonis hukuman penjara satu sampai dua tahun saja. Bukankah itu contoh sempurna, melapor atau mengadu ke polisi, bisa menjelma kontraproduktif terhadap kepentingan keadilan pihak korban itu sendiri?
Brief Answer: Dalam hukum buatan manusia di dunia manusia, “korban
yang jahat” dan “korban yang baik” diberi penilaian yang sama dan setara,
sehingga hukuman bagi sang pelaku kejahatan bersifat “pukul rata”
(menggeneralisir) tanpa “pandang bulu kualitas korban”. Satu orang, satu suara
(one man, one vote). Satu korban, satu nyawa. Terlagipula, dalam
berbagai aspek dan kasus, adalah merugikan korban bila korban melaporkan
perbuatan pelaku yang menyakiti, melukai, maupun merugikan dirinya ke aparatur
penegak hukum seperti polisi, mengingat ancaman hukuman serta vonis hukumannya
di pengadilan hakim manusia kerap jauh dari keadilan versi apabila sang korban
membiarkan Hukum Karma mengambil-alih sebagai pengadil dan menjadi
eksekutornya.
Karenanya, juga dalam banyak kasus, korban tidak perlu mengemis-ngemis kepada
aparatur penegak hukum agar sang aparatur penegak hukum menjalankan
kewajibannya menegakkan hukum dengan menindak-lanjuti laporan / aduan sang
korban. Ketika aduan / laporan tidak ditindak-lanjuti oleh aparatur penegak
hukum (justice denied), maka biarkan saja Hukum Karma mengambil-alih menjadi
pengadil serta eksekutornya. Aparatur penegak hukum bisa jadi memonopoli akses
keadilan hukum pidana, namun tidak akses kepada Hukum Karma.
PEMBAHASAN:
Bagi masyarakat pencari keadilan yang betul-betul
mencari keadilan, perlu memahami selama apakah vonis hukuman oleh Hukum Karma
serta membandingkannya dengan lama vonis pidana penjara di pengadilan manusia
yang sangat berdisparitas, sebagaimana dapat kita rujuk khotbah Sang Buddha
dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta
Press, dengan kutipan sebagai berikut:
89 (9) Kokālika
Bhikkhu Kokālika mendatangi Sang Bhagavā, bersujud
kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata: “Bhante, Sāriputta dan Moggallāna
memiliki keinginan jahat dan dikuasai oleh keinginan jahat.”
[Sang Bhagavā menjawab:] “Jangan berkata begitu,
Kokālika! Jangan berkata begitu, Kokālika! Yakinlah pada Sāriputta dan Moggallāna,
Kokālika. Sāriputta dan Moggallāna berperilaku baik.”
Untuk ke dua kalinya Bhikkhu Kokālika berkata kepada
Sang Bhagavā: “Bhante, walaupun aku menganggap bahwa Sang Bhagavā layak
diyakini dan dipercayai, [namun aku tetap mengatakan bahwa] Sāriputta dan
Moggallāna memiliki keinginan jahat dan dikuasai oleh keinginan jahat.”
“Jangan berkata begitu, Kokālika! … Sāriputta dan
Moggallāna berperilaku baik.”
Untuk ke tiga kalinya Bhikkhu Kokālika berkata
kepada Sang Bhagavā: “Bhante, walaupun aku menganggap bahwa Sang Bhagavā layak
diyakini dan dipercayai, [namun aku tetap mengatakan bahwa] Sāriputta dan
Moggallāna memiliki keinginan jahat dan dikuasai oleh keinginan jahat.”
“Jangan berkata begitu, Kokālika! Jangan berkata
begitu, Kokālika! Yakinlah pada Sāriputta dan Moggallāna, Kokālika. Sāriputta
dan Moggallāna berperilaku baik.”
Kemudian Bhikkhu Kokālika bangkit dari duduknya,
bersujud kepada Sang Bhagavā, mengelilingi Beliau dengan sisi kanannya menghadap
Beliau, dan pergi. Tidak lama setelah Bhikkhu Kokālika pergi, seluruh tubuhnya
menjadi dipenuhi oleh bisul-bisul sebesar biji moster. Bisul-bisul ini kemudian
membesar seukuran kacang hijau; kemudian seukuran biji kacang buncis; kemudian
seukuran biji buah jujube; kemudian seukuran buah jujube; kemudian seukuran
buah myrobalan; kemudian seukuran buah maja yang belum matang; kemudian
seukuran buah maja yang sudah matang.
[Kitab Komentar : Buah maja
yang belum matang kurang lebih sebesar buah peach, buah yang telah matang
berukuran kurang lebih sebesar buah delima.]
Ketika bisul-bisul itu telah membesar seukuran buah
maja yang sudah matang, bisul-bisul itu pecah, [171] memancarkan nanah dan
darah. Kemudian ia hanya berbaring di atas daun pisang seperti seekor ikan yang
telah menelan racun. Kemudian Brahmā mandiri Tudu mendatangi Bhikkhu Kokālika,
berdiri di angkasa, dan berkata kepadanya:
[Kitab Komentar : Sutta ini
merujuk Tudu sebagai paccekabrahmā. Kitab komentar menjelaskannya sebagai brahmā
yang bepergian sendirian, bukan sebagai anggota dari suatu kumpulan. Disebutkan
bahwa dalam kehidupan lampaunya ia adalah penahbis Kokālika. Ia meninggal dunia
sebagai seorang yang-tidak-kembali dan terlahir kembali di alam brahmā. Ketika
ia mendengar bahwa Kokālika sedang memfitnah Sāriputta dan Moggallāna, ia
datang untuk meminta agar Kokālika berkeyakinan pada mereka.]
“Yakinlah pada Sāriputta dan Moggallāna, Kokālika.
Sāriputta dan Moggallāna berperilaku baik.”
“Siapakah engkau, teman?”
“Aku adalah Brahmā mandiri Tudu.”
“Tidakkah Sang Bhagavā menyatakan engkau sebagai
seorang yang-tidak-kembali, teman? Mengapa engkau kembali ke sini? Lihatlah
betapa besarnya kekeliruan yang telah engkau lakukan.”
[Kitab Komentar : Karena Sang
Buddha telah menyatakan bahwa Tudu adalah seorang yang-tidak-kembali, maka
Kokālika menegurnya karena muncul di alam manusia. Sebagai seorang
yang-tidak-kembali tentu saja ia tidak terlahir kembali di alam manusia, tetapi
ia dapat menampakkan dirinya di hadapan manusia.]
Kemudian Brahmā mandiri Tudu berkata kepada Bhikkhu Kokālika
dalam syair:
“Ketika seseorang telah terlahir sebuah kapak muncul
di dalam mulutnya yang dengannya si dungu memotong dirinya sendiri dengan
mengucapkan ucapan salah.
“Ia yang memuji seorang yang layak dicela atau
mencela seorang yang layak dipuji melakukan lemparan yang tidak beruntung
melalui mulutnya yang karenanya ia tidak menemukan kebahagiaan.
“Lemparan dadu yang tidak beruntung adalah kecil yang
mengakibatkan hilangnya kekayaan seseorang, [kehilangan] segalanya, termasuk
dirinya sendiri; lemparan yang jauh lebih tidak beruntung adalah memendam
kebencian terhadap orang-orang suci.
“Selama seratus ribu tiga puluh enam nirabbuda,
ditambah lima abbuda, pemfitnah para mulia pergi ke neraka, setelah mencemarkan
reputasi mereka dengan ucapan dan pikiran jahat.” [172]
[Kitab Komentar : Dalam sistem
penomoran India satu koṭi = sepuluh juta; satu koṭi koṭi = satu pakoṭi; satu koṭi pakoṭi = satu koṭipakoṭi; satu koṭi koṭipakoṭi = satu nahuta; satu koṭi nahuta = satu ninnahuta; satu koṭi ninnahuta = satu abbuda; dua puluh abbuda =
satu nirabbuda.]
Kemudian Bhikkhu Kokālika meninggal dunia karena
penyakit itu, dan karena kekesalannya pada Sāriputta dan Moggallāna, setelah
kematian ia terlahir kembali di neraka seroja-merah.
{Kitab Komentar : neraka
seroja-merah (paduma) bukanlah alam neraka terpisah melainkan sebuah
tempat khusus di neraka avīci di mana durasi siksaan diukur dengan unit paduma.
Hal yang sama berlaku untuk neraka abbuda, dan seterusnya yang
disebutkan di bawah.]
Kemudian, ketika malam telah larut, Brahmā
Sahampati, dengan keindahan mempesona, menerangi seluruh Hutan Jeta, mendatangi Sang
Bhagavā, bersujud kepada Beliau, berdiri di satu sisi, dan berkata
kepada Beliau:
“Bhante, Bhikkhu Kokālika telah meninggal dunia, dan
karena kekesalannya pada Sāriputta dan Moggallāna, setelah kematian ia terlahir
kembali di neraka seroja-merah.” Ini adalah apa yang dikatakan oleh Brahmā
Sahampati. Kemudian ia bersujud kepada Sang Bhagavā, mengelilingi Beliau dengan
sisi kanannya menghadap Beliau, dan lenyap dari sana.
Kemudian, ketika malam telah berlalu, Sang Bhagavā
berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, tadi malam, ketika malam telah
larut, Brahmā Sahampati mendatangiKu dan berkata kepadaKu … [seperti di atas] …
Kemudian ia bersujud kepadaKu, mengelilingiKu dengan sisi kanannya menghadapKu,
dan lenyap dari sana.”
Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu tertentu
berkata kepada Sang Bhagavā: “Berapa lamakah, Bhante, umur kehidupan di neraka
seroja-merah itu?”
“Umur kehidupan di neraka seroja-merah sangat
panjang, bhikkhu. Tidaklah mudah untuk menghitungnya sebagai sekian [173]
tahun, atau sekian ratus tahun, atau sekian ribu tahun, atau sekian ratus ribu
tahun.”
“Kalau begitu mungkinkah, Bhante, untuk memberikan perumpamaan?”
“Mungkin saja, bhikkhu.” Sang Bhagavā berkata:
“Misalkan terdapat sebuah gerobak Kosala berisi biji wijen sebanyak 20 takaran.
Pada akhir setiap seratus tahun seseorang akan mengambil sebutir biji dari
gerobak itu. Dengan cara ini gerobak Kosala berisi biji wijen sebanyak 20
takaran itu akan habis dan kosong lebih cepat daripada (1) berlalunya satu
kehidupan di neraka abbuda.
(2) Satu kehidupan di neraka nirabbuda adalah setara dengan dua puluh
kehidupan di neraka abbuda;
(3) satu kehidupan di neraka ababa adalah setara dengan dua puluh
kehidupan di neraka nirabbuda;
(4) satu kehidupan di neraka ahaha adalah setara dengan dua puluh
kehidupan di neraka ababa;
(5) satu kehidupan di neraka aṭaṭa adalah setara dengan dua puluh
kehidupan di neraka ahaha;
(6) satu kehidupan di neraka teratai adalah setara dengan dua puluh
kehidupan di neraka aṭaṭa;
(7) satu kehidupan di neraka beraroma-harum adalah setara dengan dua puluh
kehidupan di neraka teratai;
(8) satu kehidupan di neraka seroja-biru adalah setara dengan dua puluh
kehidupan di neraka beraroma-harum;
(9) satu kehidupan di neraka seroja-putih adalah setara dengan dua puluh
kehidupan di neraka seroja-biru; dan
(10) satu kehidupan di neraka seroja-merah adalah setara dengan dua puluh
kehidupan di neraka seroja-putih. Sekarang, karena ia memendam kekesalan
terhadap Sāriputta dan Moggallāna, Bhikkhu Kokālika telah terlahir kembali di
neraka seroja-merah.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Setelah mengatakan ini, Yang Berbahagia, Sang Guru, lebih lanjut berkata sebagai
berikut: [174]
[Empat baik syair yang identik dengan syair yang
persis di atas.]
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR
dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.
