Aparatur Penegak Hukum Bukanlah “Petugas Pencuci Piring” Kegagalan para Tenaga Pendidik maupun Pemuka Agama
Question: Apakah ilmu kuantitatif lebih tinggi derajatnya daripada ilmu kualitatif? Begitupula ilmu eksakta, apakah lebih tinggi hierarkhinya daripada ilmu sosial?
Brief Answer: Pernah terdapat sebuah penelitian sederhana, yang menakar
jumlah berat kandungan gula pada cairan sebotol, sekaleng, ataupun segelas
minuman berpemanis yang banyak beredar di masyarakat. Yang melakukan penelitian
mendapatkan angka-angka sekian gram gula dalam sebotol, segelas, maupun
sekaleng minuman berpemanis. Lalu, masyarakat yang menyimak hasil penelitian
tersebut, membuat kritik klise khas ilmuan, bahwa seharusnya sang peneliti
mengukur berapa gram gula dalam setiap liternya, bukan per satu satuan gelas,
kaleng, maupun sebotol minuman berpemanis.
Namun, sebagai seorang sosiolog-hukum, penulis memiliki pandangan
berbeda, bahwa hasil pengukuran yang paling akurat ialah memang mengukur berat
gram kandungan gula dalam satu satuan gelas, botol, maupun kaleng, sekalipun
masing-masing produk memiliki volume cairan yang saling beragam. Atas alasan
apakah? Jawabannya sangat sederhana, konsumen cenderung meminum habis satu
satuan kemasan baik itu gelas, botol, maupun kaleng, sekalipun masing-masing
produk dan masing-masing kemasan minuman berpemanis memiliki kuantitas /
kapasitas volume cairan yang saling berbeda di dalam kemasan, ada yang 330
mililiter, 500 mililiter, 200 mililiter, dan sebagainya. Itulah sebabnya, ilmu
eksakta bukanlah ilmu terapan ketika berhadapan dengan psikologi
sosial-kemasyarakatan, karena perspektifnya cenderung sempit dan penuh reduksi.
Objek, adalah objektif adanya. Sementara berurusan dengan subjek, bisa sangat
subjektif sifatnya.
Adalah keliru sepenuhnya ketika norma hukum yang ditunjuk sebagai
“kambing hitam” over-kapasitasnya narapidana penghuni lembaga pemasyarakatan
(penjara), lalu norma-norma hukum di-bongkar-pasang, dipreteli dan direka
ulang. Masalahnya bukan terletak pada norma hukum, sehingga negeri ini
produktif mencetak angka kriminalitas. Akar masalahnya, terletak pada bidang
disiplin ilmu non-hukum. Dalam kesempatan ini, perlu penulis tegaskan bahwa
penuh sesaknya sel-sel penjara oleh narapidana penghuninya, bukanlah cerminan
kegagalan norma hukum, namun “monumen kegagalan” para profesi guru dan pemuka
agama di Tanah Air.
PEMBAHASAN:
Sama halnya, memelajari disiplin moralitas dan Hukum
Karma bisa lebih efektif daripada memelajari aturan hukum negara yang melarang
suatu perbuatan-perbuatan tertentu. Atas dasar alasan apakah? Karena dengan
memahami “hukum sebab-akibat” dan moralitas, aturan hukum negara sesedikit
apapun tidak akan melahirkan kejahatan di masyarakat. Sebaliknya, fondasi
moralitas yang lemah, mengakibatkan sebanyak apapun hukum negara diatur,
diterbitkan, dan diberlakukan, maka tetap saja pelanggaran akan terjadi secara
masif, mengingat yang ditangani bukanlah “akar masalah”-nya, akan tetapi
sekadar mengatasi gejalanya.
Terdapat mata kuliah “hukum tentang Hak Asasi
Manusia (HAM)”. Warga dengan moralitas yang mumpuni, tidak perlu membuang waktu
memelajari “hukum tentang HAM”, ia sudah piawai dalam menghargai eksistensi
orang lain. Norma hukum yang “gemuk”, adalah cerminan bangsa yang sedang
“sakit”, sehingga apa yang sudah disebutkan oleh moralitas, masih juga perlu
dituangkan ke dalam bentuk aturan tertulis bernama “norma hukum”. Semua
penduduk yang berakal sehat menyadari dan mengetahui, menipu adalah tercela dan
dilarang oleh hukum, lengkap dengan aturan sanksinya bagi yang melanggar. Akan
tetapi, mengapa juga masih terjadi pelanggaran serupa dan akan kembali
terulang?
Membangun
moralitas adalah “investasi bangsa” yang lebih efektif dalam menciptakan
“tertib sosial”, sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya
& Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA 41
Sāleyyaka Sutta: Brahmana Sālā
[285] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu
ketika Sang Bhagavā sedang mengembara secara bertahap di Negeri Kosala bersama
banyak Sangha para bhikkhu, dan akhirnya Beliau tiba di desa brahmana Kosala
bernama Sālā.
2. Para brahmana perumah-tangga dari Sālā mendengar:
“Petapa Gotama, putra Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya,
telah mengunjungi negeri Kosala bersama banyak Sangha para bhikkhu dan telah
tiba di Sālā. Sekarang berita baik sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar
sebagai berikut: ‘Bahwa Sang Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna,
sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam,
pemimpin yang tanpa bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru
para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi. Beliau menyatakan dunia ini
bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini dengan para petapa dan
brahmana, para pangeran dan rakyatnya, yang telah Beliau tembus oleh diriNya
sendiri dengan pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di
awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan kata-kata dan makna
yang benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan sempurna sepenuhnya.’
Sekarang adalah baik sekali jika dapat menemui para Arahant demikian.”
3. Kemudian para brahmana perumah-tangga dari Sālā mendatangi
Sang Bhagavā. Beberapa bersujud kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi;
beberapa lainnya saling bertukar sapa dengan Beliau, dan ketika ramah-tamah ini
berakhir, duduk di satu sisi; beberapa lainnya merangkapkan tangan sebagai penghormatan
kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya menyebutkan nama
dan suku mereka di hadapan Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa
lainnya hanya berdiam diri dan duduk di satu sisi.
4. Ketika mereka telah duduk, mereka berkata kepada
Sang Bhagavā: “Guru Gotama, apakah penyebab dan kondisi mengapa beberapa
makhluk di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali
dalam kondisi sengsara, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan
dalam neraka? Dan apakah penyebab dan kondisi mengapa beberapa makhluk di sini,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia,
bahkan di alam surga?”
5. “Para perumah-tangga, adalah dengan alasan
perilaku yang tidak sesuai dengan Dhamma, dengan alasan perilaku tidak baik maka
beberapa makhluk di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul
kembali dalam kondisi menderita, di alam yang tidak bahagia, dalam
kesengsaraan, bahkan dalam neraka. Adalah dengan alasan perilaku yang sesuai
dengan Dhamma, dengan alasan perilaku yang baik maka beberapa makhluk di sini, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, bahkan di
alam surga.” [286]
6. “Kami tidak memahami makna secara terperinci dari
ucapan Guru Gotama, yang telah Beliau ucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan
maknanya secara terperinci. Baik sekali jika Guru Gotama sudi mengajarkan
Dhamma kepada kami sehingga kami dapat memahami makna terperinci dari ucapan
Beliau.”
“Maka, para perumah-tangga, dengarkan dan
perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”
“Baik, Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā
berkata sebagai berikut:
7. “Para perumah-tangga, terdapat tiga jenis
perilaku jasmani yang tidak sesuai dengan Dhamma, perilaku yang tidak baik. Terdapat
empat jenis perilaku ucapan yang tidak sesuai dengan Dhamma, perilaku yang
tidak baik. Terdapat tiga jenis perilaku pikiran yang tidak sesuai dengan
Dhamma, perilaku yang tidak baik.
8. “Dan bagaimanakah, para perumah-tangga, tiga
jenis perilaku jasmani yang tidak sesuai dengan Dhamma, perilaku tidak baik? Di
sini seseorang membunuh makhluk-makhluk hidup; ia adalah pembunuh, bertangan
darah, terbiasa memukul dan bertindak dengan kekerasan, tanpa belas kasih pada
makhluk-makhluk hidup. Ia mengambil apa yang tidak diberikan; ia mengambil
harta dan kekayaan orang lain di desa atau hutan dengan cara mencuri. Ia
melakukan perbuatan salah dalam kenikmatan indria; ia melakukan hubungan
seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu, ayah, ibu dan ayah,
saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sanak saudara mereka, yang memiliki
suami, yang dilindungi oleh hukum, dan bahkan dengan mereka yang mengenakan
kalung bunga sebagai tanda pertunangan. Itu adalah tiga jenis perilaku jasmani
yang tidak sesuai dengan Dhamma, perilaku tidak baik.
9. “Dan bagaimanakah, para perumah-tangga, empat
jenis perilaku ucapan yang tidak sesuai dengan Dhamma, perilaku tidak baik? Di
sini seseorang mengucapkan kebohongan; ketika dipanggil oleh pengadilan,
atau dalam suatu pertemuan, atau di depan sanak saudaranya, atau oleh
perkumpulannya, atau di depan anggota keluarga kerajaan, dan ditanya sebagai
seorang saksi sebagai berikut: ‘Baiklah, tuan, katakanlah apa yang engkau ketahui,’
tidak mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu,’ atau mengetahui, ia mengatakan,
‘aku tidak tahu,’; tidak melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat,’ atau melihat,
ia mengatakan, ‘aku tidak melihat’; dengan penuh kesadaran ia mengatakan kebohongan
demi keselamatan dirinya sendiri, atau demi keselamatan orang lain, atau demi
hal-hal remeh yang bersifat duniawi. Ia mengucapkan fitnah; ia mengulangi
di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan untuk
memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, atau ia mengulangi kepada
orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain dengan tujuan untuk
memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia adalah
seorang yang memecah-belah mereka yang rukun, seorang pembuat perpecahan, yang
menikmati perselisihan, bergembira dalam perselisihan, senang dalam perselisihan,
pengucap kata-kata yang menciptakan perselisihan. Ia berkata kasar; ia
mengucapkan kata-kata yang kasar, keras, menyakiti orang lain, menghina orang
lain, berbatasan dengan kemarahan, tidak menunjang konsentrasi. [287] Ia
adalah seorang penggosip; ia berbicara di waktu yang salah, mengatakan apa yang
bukan fakta, mengatakan hal yang tidak berguna, mengatakan yang berlawanan
dengan Dhamma dan Disiplin; pada waktu yang salah ia mengucapkan kata-kata
yang tidak berguna, tidak masuk akal, melampaui batas, dan tidak bermanfaat.
Ini adalah empat jenis perilaku ucapan yang tidak sesuai dengan Dhamma,
perilaku tidak baik.
10. “Dan bagaimanakah, para perumah-tangga, tiga
jenis perilaku pikiran yang tidak sesuai dengan Dhamma, perilaku tidak baik? Di
sini seseorang bersifat tamak; ia tamak pada kekayaan dan kemakmuran orang lain sebagai berikut: ‘oh, semoga
apa yang menjadi milik orang lain menjadi milikku!’ Atau ia memiliki pikiran
permusuhan dan niat membenci sebagai berikut: ‘Semoga makhluk-makhluk ini
dibunuh dan disembelih, semoga mereka dipotong, musnah, atau dibasmi!’ Atau ia memiliki
pandangan salah, penglihatan menyimpang, sebagai berikut: ‘Tidak ada yang diberikan,
tidak ada yang dipersembahkan, tidak ada yang dikorbankan; tidak ada buah
atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; tidak ada dunia ini, tidak ada
dunia lain; tidak ada ibu, tidak ada ayah; tidak ada makhluk-makhluk yang
terlahir kembali secara spontan; tidak ada para petapa dan brahmana yang baik dan
mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan
pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain.’ Ini adalah tiga
jenis perilaku pikiran yang tidak sesuai dengan Dhamma, perilaku tidak baik.
Jadi, para perumah-tangga, adalah dengan alasan perilaku yang tidak sesuai
dengan Dhamma demikian, dengan alasan perilaku tidak baik demikian maka
beberapa makhluk di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul
kembali dalam kondisi menderita, di alam yang tidak bahagia, dalam
kesengsaraan, bahkan dalam neraka.
[Kitab Komentar : “tidak ada
buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk “ adalah pandangan nihilis
materialis secara moral yang menyangkal adanya kehidupan setelah kematian dan
pembalasan kamma. “Tidak ada yang diberikan” berarti tidak ada buah dari
pemberian; “tidak ada dunia ini, tidak ada dunia lain” bahwa tidak ada
kelahiran kembali ke dunia ini atau dunia setelahnya; “tidak ada ibu, tidak ada
ayah” bahwa tidak ada buah perbuatan baik dan perbuatan buruk pada ibu dan
ayah. Pernyataan tentang para petapa dan brahmana menyangkal keberadaan para
Buddha dan Arahant.]
11. “Para perumah-tangga, terdapat tiga jenis
perilaku jasmani yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik. Terdapat empat
jenis perilaku ucapan yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik. Terdapat
tiga jenis perilaku pikiran yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik.
12. “Dan bagaimanakah, para perumah-tangga, tiga
jenis perilaku jasmani yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik? Di sini
seseorang, dengan meninggalkan pembunuhan makhluk hidup, ia menghindari
pembunuhan makhluk hidup, dengan tongkat pemukul dan senjata disingkirkan,
lembut dan baik hati, ia berdiam dengan berbelas kasih kepada semua makhluk hidup. Dengan meninggalkan
perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan, ia menghindari perbuatan
mengambil apa yang tidak diberikan; ia tidak mengambil harta dan kekayaan orang
lain di desa atau hutan dengan cara mencuri. Dengan meninggalkan perbuatan
salah dalam kenikmatan indria, ia menghindari perbuatan salah dalam kenikmatan
indria; ia tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang
dilindungi oleh ibu, ayah, ibu dan ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan,
atau sanak saudara mereka, yang memiliki suami, yang dilindungi oleh hukum,
atau dengan mereka yang mengenakan kalung bunga sebagai tanda pertunangan. Itu adalah
tiga jenis perilaku jasmani yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik.
[288]
13. “Dan bagaimanakah, para perumah-tangga, empat
jenis perilaku ucapan yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik? Di sini
seseorang, dengan meninggalkan kebohongan, menghindari ucapan salah; ketika
dipanggil oleh pengadilan, atau dalam suatu pertemuan, atau di depan sanak
saudaranya, atau oleh perkumpulannya, atau di depan anggota keluarga kerajaan, dan
ditanya sebagai seorang saksi sebagai berikut: ‘Baiklah, tuan, katakanlah apa
yang engkau ketahui,’ tidak mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tidak tahu,’ atau
mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu,’; tidak melihat, ia mengatakan, ‘aku
tidak melihat,’ atau melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat’; ia tidak dengan
penuh kesadaran mengatakan kebohongan demi keselamatan dirinya sendiri, atau
demi keselamatan orang lain, atau demi hal-hal remeh yang bersifat duniawi.
Dengan meninggalkan ucapan fitnah, ia menghindari ucapan fitnah; ia
tidak mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan
untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, juga ia tidak
mengulangi kepada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain
dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu;
demikianlah ia adalah seorang yang merukunkan mereka yang terpecah-belah,
seorang penganjur persahabatan, yang menikmati kerukunan, bergembira dalam
kerukunan, senang dalam kerukunan, pengucap kata-kata yang menciptakan
kerukunan. Dengan meninggalkan ucapan kasar, ia menghindari ucapan kasar; ia
mengucapkan kata-kata yang lembut, menyenangkan di telinga, dan indah, ketika
masuk dalam batin, sopan, disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang.
Dengan meninggalkan gosip, ia menghindari gosip; ia berbicara pada saat yang
tepat, mengatakan apa yang sebenarnya, mengatakan apa yang baik, membicarakan
Dhamma dan Disiplin; pada saat yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang
layak dicatat, yang logis, selayaknya, dan bermanfaat. Ini adalah empat
jenis perilaku ucapan yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik.
14. “Dan bagaimanakah, para perumah-tangga, tiga
jenis perilaku pikiran yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik? Di sini
seseorang tidak bersifat tamak; ia tidak tamak pada kekayaan
dan kemakmuran orang lain sebagai berikut: ‘oh, semoga apa yang menjadi milik
orang lain menjadi milikku!’ Pikirannya tanpa permusuhan dan ia memiliki kehendak yang
bebas dari kebencian sebagai berikut: ‘Semoga makhluk-makhluk ini bebas dari
permusuhan, penderitaan, dan ketakutan! Semoga mereka hidup berbahagia!’ Ia memiliki pandangan benar, penglihatan
yang tidak menyimpang, sebagai berikut: ‘Ada yang diberikan, ada yang
dipersembahkan, ada yang dikorbankan; ada buah atau akibat dari perbuatan baik
dan buruk; ada dunia ini, ada dunia lain; ada ibu, ada ayah; ada
makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan; ada para petapa dan
brahmana yang baik dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka
sendiri dengan pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain.’
Ini adalah tiga jenis perilaku pikiran yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang
baik. Jadi, para perumah-tangga, adalah dengan alasan perilaku yang sesuai
dengan Dhamma demikian, dengan alasan perilaku yang baik demikian maka beberapa
makhluk di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di
alam bahagia, bahkan di alam surga. [289]
15. “Jika, para perumah-tangga, seseorang yang melaksanakan
perilaku yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik, berkehendak: ‘Oh,
semoga ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, aku muncul kembali di
tengah-tengah para mulia yang kaya!’ itu adalah mungkin, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia akan muncul kembali di tengah-tengah para mulia
yang kaya. Mengapakah? Karena ia melaksanakan perilaku yang sesuai dengan
Dhamma, perilaku yang baik.
16-17. “Jika, para perumah-tangga, seseorang yang melaksanakan
perilaku yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik, berkehendak: ‘Oh,
semoga ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, aku muncul kembali di
tengah-tengah para brahmana yang kaya! ... di tengah-tengah para perumah-tangga
kaya!’ Itu adalah mungkin, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan
muncul kembali di tengah-tengah para perumah-tangga kaya. Mengapakah? Karena ia
melaksanakan perilaku yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik.
18-42. “Jika, para perumah-tangga, seseorang yang melaksanakan
perilaku yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik, berkehendak: ‘Oh,
semoga ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, aku muncul kembali di
tengah-tengah para dewa di alam surga Empat Raja Dewa! ... di tengah-tengah
para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga ... para dewa Yāma ... para dewa di
alam surga Tusita ... para dewa yang bergembira dalam penciptaan ... para dewa
yang menguasai ciptaan para dewa lain ... para dewa pengikut Brahmā ... para
dewa bercahaya ... para dewa dengan cahaya terbatas ... para dewa dengan cahaya
tanpa batas ... para dewa dengan cahaya gemerlap ... para dewa Agung ... para
dewa dengan Keagungan terbatas ... para dewa dengan Keagungan tanpa batas ...
para dewa dengan Keagungan gemilang ... para dewa berbuah besar ... para dewa Aviha
... para dewa Atappa ... para dewa Sudassa ... para dewa Sudassī ... para dewa
Akaniṭṭha ... para dewa di alam landasan ruang tanpa batas ...
para dewa di alam landasan kesadaran tanpa batas ... para dewa di alam landasan
kekosongan ... para dewa di alam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi!’
itu adalah mungkin, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan muncul
kembali di tengah-tengah para dewa di alam landasan bukan persepsi juga bukan
bukan-persepsi. Mengapakah? Karena ia melaksanakan perilaku yang sesuai dengan
Dhamma, perilaku yang baik.
[Kitab Komentar : “para dewa
dengan Cahaya” bukanlah para dewa dari kelompok tersendiri melainkan nama
kolektif bagi ketiga kelompok berikutnya; hal yang sama berlaku pada “para dewa
dengan Keagungan.” Tingkatan surga ini dijelaskan dalam Pendahuluan, hal.51.]
43. “Jika, para perumah-tangga, seseorang yang melaksanakan
perilaku yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik, berkehendak: ‘Oh, bahwa
dengan menembus untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung, semoga aku
dapat di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan
kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda!’
Adalah mungkin bahwa, dengan menembus untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan
langsung, ia dapat di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran
dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda.
Mengapakah? Karena ia melaksanakan perilaku yang sesuai dengan Dhamma, perilaku
yang baik.” [290]
[Kitab Komentar : Harus
dipahami bahwa sementara “perilaku yang sesuai dengan Dhamma” digambarkan dalam
sutta sebagai kondisi yang diperlukan untuk kelahiran kembali di alam surga dan
untuk hancurnya noda-noda, namun ini bukan kondisi satu-satunya. Kelahiran
kembali di alam yang dimulai dengan para pengikut kelompok Brahmā menuntut
pencapaian jhāna, kelahiran kembali di Alam Murni (lima alam yang
dimulai dari para dewa Avihā) menuntut pencapaian tingkat kesucian “yang-tidak-kembali”,
kelahiran kembali di alam tanpa materi menuntut pencapaian yang bersesuaian
dengan tingkat pencapaian tanpa materi, dan hancurnya noda-noda menuntut
praktik penuh dari Jalan Mulia Berunsur Delapan hingga jalan Kearahantaan.]
44. Ketika hal ini dikatakan, para brahmana
perumah-tangga dari Sālā berkata kepada Sang Bhagavā: “Menakjubkan, Guru Gotama!
Menakjubkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai
cara, bagaikan menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi,
menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam
kegelapan bagi mereka yang memiliki penglihatan agar dapat melihat
bentuk-bentuk. Kami berlindung pada Guru Gotama dan Dhamma dan Sangha para bhikkhu.
Sejak hari ini sudilah Guru Gotama menerima kami sebagai pengikut awam yang
telah menerima perlindungan seumur hidup.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR
dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.
