Mereka yang Menghendaki Penderitaannya Sendiri, akan Cenderung Menghendaki Penderitaan Makhluk Lain atau Menghendaki Penderitaan Keduanya
Seorang Manusia Sejati Tidak Menghendaki Penderitaannya Sendiri, Tidak
Menghendaki Penderitaan Makhluk Lain, dan Tidak Menghendaki Penderitaan
Keduanya
Apakah ada di antara para pembaca, yang pernah mengalami suatu kondisi yang menyudutkan posisi kita? Ilustrasi sederhananya sebagai berikut. Kita memiliki dugaan, ada orang jahat yang memiliki rencana hendak melakukan kejahatan. Kita telah lama mengamati dan dugaan kita makin kuat. Namun, akibat kelicikan sang penjahat ataupun karena kesalahan kecil dalam melakukan kalkulasi waktu, observasi, maupun hal lainnya, laporan yang Anda sampaikan kepada pihak otoritas, kemudian ditindak-lanjuti oleh pihak otoritas, telah ternyata hasilnya diluar dugaan kita, bahwa tiada indikasi terjadinya ataupun akan terjadinya kejahatan. Dibalik itu semuanya, sebenarnya rencana jahat, persiapan kejahatan, alat-alat kejahatan, sang penjahat, atau bahkan kejahatan yang serba terselubung dan tersembunyi tersebut adalah benar adanya.
Hanya saja, akibat kesalahan kecil, salah perhitungan, ataupun seperti
faktor kelicikan sang penjahat, aduan / laporan kita menjadi “mentah”, tidak
dapat dibuktikan kebenarannya oleh pihak otoritas yang kita laporkan.
Akibatnya, seluruh dugaan dan laporan kita, akan dianggap sebagai “KEBOHONGAN’,
untuk semuanya, dan untuk seluruhnya. Siapapun yang menerima laporan,
lalu tidak menemukan hasil, akan cenderung jatuh dalam “logika ‘ALL or NOTHING’” seperti contoh demikian.
Atau kita ambil contoh sebaliknya, karena kebetulan kita melakukan satu
kesalahan kecil, seseorang dengan niat buruk membuat aduan tentang kesalahan
kita, namun dengan banyak penambahan disana-sini, bumbu-bumbu, hiperbola,
tambal-sulam kisah penuh rajutan, campur-aduk antara fakta dan fiksi, dan pihak
yang menerima aduan mendapati bahwa kesalahan kecil kita tersebut adalah benar
adanya terjadi, maka kecenderungannya ialah pihak yang menerima aduan akan
memandang aduan pihak pengadu adalah benar dan terbukti untuk keseluruhannya
dan seutuhnya, meski tidak
benar adanya.
Sama halnya, ada orang baik, bahkan orang suci yang menurut Buddhisme
terdiri dari empat tingkatan kesucian dari kesucian tingkat pertama sampai
dengan yang tertinggi—Arahant sebagai puncaknya—sekalipun orang-orang baik
maupun seorang dengan tingkat kesucian “pemasuk-arus” masih dapat berbuat
keliru serta masih menggenggam segelintir keinginan indria, namun yang
bersangkutan bukanlah orang jahat dan juga bukanlah “bukan orang suci”. Sebagai
contoh, orang berjiwa ksatria adalah mungkin masih dapat berbuat keliru, namun
ia senantiasa siap-berani tampil untuk bertanggung-jawab, sehingga para
korbannya tidak perlu mengemis-ngemis pertanggung-jawaban apapun atas luka,
sakit, maupun kerugian yang mereka alami.
Begitupula sebaliknya, ada orang-orang jahat atau bahkan iblis, akibat
modus selubung tipu-muslihatnya, membuat kesan “by design” bahwa diri
nya adalah orang baik atau orang suci, lewat turut-kata maupun perilaku
artifisial seolah-olah “suciwan”. Sekalipun kejatannya nyata-nyata jelas dan
kasat-mata adanya, namun akibat satu atau dua “kebaikan-kebaikan artificial”
yang dipertontonkan, maka sang penjahat atau sang iblis cenderung dinilai sebagai
oleh orang baik atau bahwa suciwan. Fenomena sosialnya dapat kita jumpai pada
para narapidana kasus korupsi, telah ternyata dinilai oleh masyarakat sebagai
warga yang baik karena kerap menyumbang ke tempat ibadah.
Kita dapat menjumpai berbagai keyakinan keagamaan, sekalipun dogma-dogma
internal ajaran agamanya banyak mengajarkan kejahatan secara eksplisit, namun
akibat ayat-ayat dalam kitabnya disisipi tampak seolah-olah mengajarkan
kebaikan, ataupun karena pada sampul kitab agamanya dibubuhi kata “SUCI”, maka
seketika itu pula masyarakat menilainya sebagai “Agama SUCI dari Kitab SUCI”.
Sebaliknya, orang-orang yang mencoba menyerang Agama Buddha, namun gagal
menemukan satu pun cacat-cela dari ajaran maupun teladan hidup Sang Buddha
dalam Tipitaka—sumber otentik dari Agama Buddha—lalu mengalihkan isu
kasus-kasus dimana terjadi konflik komunal dikotomi antara warga umat Buddhist
melawan / menghadapi warga umat beragama lain. Lantas, mereka yang mencoba
menyerang Agama Buddha, memakai berita demikian untuk mendiskreditkan Agama
Buddha.
Ada satu kalimat dalam banyak sabda Sang Buddha, yang relevan dalam
bahasan dalam kesempatan ini, yakni “melihat dan mengetahui sebagaimana
adanya”. Ibarat penambang emas, ia akan membersihkan bongkasan emas dari
kotoran-kotoran yang menyelubunginya. Sekalipun bongkahan emas tersebut
diselubungi kotoran, emas tetaplah emas. Pandai emas yang baik dan terampil,
akan mampu mengenalinya, lalu dengan telaten menyisihkan kekotoran-kekotoran tersebut,
sehingga akan menghasilkan produk emas yang murni. Kotoran dibuang, dan yang
berharga / bernilai menjadi tampak bersinar. Akan tetapi ada juga kasus yang
sebaliknya, semisal kita tahu mengenai Monumen Nasional (Monas) yang pada
puncak tugunya terdapat lambang api obor bewarna emas. Emas tersebut, ialah
hanya pada bagian lapisan luar dari tugu Monas, dimana bila kita singkirkan
lapisan emas tersebut, yang dapatkan hanyalah konstruksi terbuat dari beton.
Kita telah terkecoh oleh kemilau Monas, yang sejatinya hanya lapisan luarnya
agar tampak menarik dari pemandangan luar.
Ada logika “mayoritas adalah kebenaran”, semisal agama yang paling banyak
dipeluk penduduk dunia ialah pasti agama yang paling benar, calon presiden yang
terpilih dengan suara mayoritas penduduk maka pastilah akan menjadi presiden
yang terbaik, putusan yang dijatuhkan oleh suara mayoritas atas dasar voting
Majelis Hakim ataupun sistem Juri akan melahirkan putusan yang demokratis dan
tidak tercela, mayoritas manusia menikah maka yang hidup selibat adalah
abnormal, kebanyakan manusia bersifat ekstrovert sehingga yang introvert ialah
antisosial.
Perhatikan betapa rancunya logika demikian, bagai berstandar-ganda. Kita
tahu bahwa planet hidup seperti Bumi, adalah sedikit ketimbang planet mati di
Tata Surya, di Galaksi Bimasakti, bahkan di alam semesta yang dipenuhi
matahari, lubang hitam, maupun planet-planet mati. Mengapa kini, Anda berbalik
bahwa yang minoritas-lah yang paling istimewa? Itulah bukti, bahwa rata-rata
manusia tidak konsisten terhadap logika yang mereka anut sendiri. Mereka tidaklah
benar-benar objektif, mereka akan memilah segala-sesuatunya dalam rangka “justifikasi”
(cherry-picking). Mereka melakukan fabrikasi terhadap “kebenaran”, bukan
kebenaran-sejati itu sendiri.
Kini, kita masuk pada logika yang bersifat parsial. Sekalipun seseorang
bertubuh manusia, namun perilakunya lebih menyerupai hewan, atau bahkan lebih
menyerupai setan-iblis, tetap saja ketika bersangkutan divonis hukuman mati
oleh pengadilan, muncul segelintir pihak yang mengaku-ngaku sebagai aktivis hak
asasi manusia (HAM), menyerukan penentangan terhadap eksekusi hukuman mati.
Pertanyaannya, apakah sang terpidana tersebut, adalah lebih layak disebut
sebagai “hewan”, “setan-iblis”, atakah “manusia”? Sebaliknya, negara lewat
aparatur penegak hukum maupun algojonya, hendak menyelamatkan warga dan
rakyatnya agar tidak menjadi korban berikutnya dari sang terpidana, namun
keputusan untuk mengeksekusi mati membuat posisi negara di-“reframing”
seolah-olah sebagai “penjahat HAM” karena hendak mengeksekusi mati sang
terpidana.
Dalam kesempatan ini, kita akan menutup bahasan ini
dengan uraian mengenai “manusia sejati”, sebagaimana dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
110
Cūḷapuṇṇama Sutta : Khotbah
Pendek di Malam Purnama
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Taman Timur, di Istana Ibunya Migāra.
2. Pada saat itu – hari Uposatha tanggal lima belas, pada malam purnama –
[21] Sang Bhagavā duduk di ruang terbuka dengan dikelilingi oleh Saṅgha para bhikkhu. Kemudian, sambil mengamati keheningan Saṅgha para bhikkhu, Beliau berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:
3. “Para bhikkhu, mungkinkah
seorang bukan manusia sejati mengenali seorang bukan manusia sejati: ‘Orang ini
adalah bukan manusia sejati’?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Bagus, para bhikkhu. Adalah mustahil, tidak
mungkin, bahwa seorang bukan manusia sejati dapat mengenali seorang bukan
manusia sejati: ‘Orang ini adalah bukan manusia sejati.’ Tetapi
mungkinkah seorang bukan manusia sejati mengenali seorang manusia sejati: ‘Orang
ini adalah manusia sejati’?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Bagus, para bhikkhu. Adalah mustahil, tidak
mungkin, bahwa seorang bukan manusia sejati dapat mengenali seorang manusia sejati:
‘Orang ini adalah manusia sejati.’
[Asappurisa, “seorang bukan manusia sejati”. Kitab
Komentar mengemasnya dengan pāpapurisa, seorang jahat.]
4. “Para bhikkhu, seorang
bukan manusia sejati memiliki kualitas-kualitas buruk; ia bergaul seperti
seorang bukan manusia sejati, ia berkehendak seperti seorang bukan manusia
sejati, ia memberikan nasihat seperti seorang bukan manusia sejati, ia berbicara
seperti seorang bukan manusia sejati, ia bertindak seperti seorang bukan
manusia sejati, ia menganut pandangan-pandangan seperti seorang bukan manusia
sejati, dan ia memberikan persembahan seperti seorang bukan manusia sejati.
5. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati memiliki kualitas-kualitas
buruk? Di sini seorang
bukan manusia sejati tidak memiliki keyakinan, tidak memiliki rasa malu, tidak
memiliki rasa takut akan perbuatan-salah; ia tidak terpelajar, malas, lengah,
dan tidak bijaksana. Itu adalah bagaimana seorang bukan manusia sejati memiliki
kualitas-kualitas buruk.
6. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati bergaul seperti seorang
bukan manusia sejati? Di sini seorang
bukan manusia sejati berteman dengan para petapa dan brahmana yang tidak
memiliki keyakinan, tidak memiliki rasa malu, tidak memiliki rasa takut akan
perbuatan-salah; yang tidak terpelajar, malas, lengah, dan tidak bijaksana. Itu
adalah bagaimana seorang bukan manusia sejati bergaul seperti seorang bukan
manusia sejati.
7. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati berkehendak seperti
seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang
bukan manusia sejati menghendaki penderitaannya sendiri, menghendaki
penderitaan makhluk lain, atau menghendaki penderitaan keduanya. Itu adalah
bagaimana seorang bukan manusia sejati berkehendak seperti seorang bukan
manusia sejati.
8. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati memberikan nasihat
seperti seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang
bukan manusia sejati memberikan nasihat demi penderitaannya sendiri, demi
penderitaan makhluk lain, atau demi penderitaan keduanya. [22] Itu adalah
bagaimana seorang bukan manusia sejati memberikan nasihat seperti seorang bukan
manusia sejati.
9. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati berbicara seperti
seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang
bukan manusia sejati mengucapkan kebohongan, mengucapkan fitnah, mengucapkan
kata-kata kasar, dan bergosip. Itu adalah bagaimana seorang bukan manusia
sejati berbicara seperti seorang bukan manusia sejati.
10. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati bertindak seperti
seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang
bukan manusia sejati membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak
diberikan, dan berperilaku salah dalam kenikmatan indria. Itu adalah bagaimana
seorang bukan manusia sejati bertindak seperti seorang bukan manusia sejati.
11. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati menganut
pandangan-pandangan seperti seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang bukan manusia
sejati menganut pandangan sebagai berikut: ‘Tidak ada yang diberikan, tidak ada
yang dipersembahkan, tidak ada yang dikorbankan; tidak ada buah atau akibat
dari perbuatan baik dan buruk; tidak ada dunia ini, tidak ada dunia lain; tidak
ada ibu, tidak ada ayah; tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara
spontan; tidak ada para petapa dan brahmana yang baik dan mulia di dunia ini
yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung dan
menyatakan dunia ini dan dunia lain.’ Itu adalah bagaimana seorang bukan
manusia sejati menganut pandangan-pandangan seperti seorang bukan manusia
sejati.
12. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati memberikan persembahan
seperti seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang
bukan manusia sejati memberikan persembahan secara ceroboh, memberikan bukan
dengan tangannya sendiri, memberikan tanpa menunjukkan penghormatan, memberikan
apa yang seharusnya dibuang, memberikan dengan pandangan bahwa tidak ada yang
dihasilkan dari pemberian itu. Itu adalah bagaimana seorang bukan manusia
sejati memberikan persembahan seperti seorang bukan manusia sejati.
13. “Seorang bukan manusia sejati itu – yang memiliki kualitas-kualitas buruk
demikian, yang bergaul seperti seorang bukan manusia sejati, berbicara seperti
seorang bukan manusia sejati, bertindak seperti seorang bukan manusia sejati,
menganut pandangan-pandangan seperti seorang bukan manusia sejati, dan
memberikan persembahan seperti seorang bukan manusia sejati demikian – ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali di alam tujuan kelahiran seorang
bukan manusia sejati. Dan apakah alam tujuan kelahiran seorang bukan manusia
sejati? Adalah neraka atau alam binatang.
14. “Para bhikkhu, mungkinkah
seorang manusia sejati mengenali seorang manusia sejati: ‘Orang ini adalah
manusia sejati’?” [23] –
“Mungkin, Yang Mulia.” – “Bagus, para bhikkhu. Adalah mungkin, bahwa
seorang manusia sejati dapat mengenali seorang manusia sejati: ‘Orang ini
adalah manusia sejati.’ Tetapi mungkinkah seorang manusia sejati mengenali
seorang bukan manusia sejati: ‘Orang ini adalah bukan manusia sejati’?” – “Mungkin, Yang Mulia.” – “Bagus, para bhikkhu. Adalah mungkin, bahwa
seorang manusia sejati dapat mengenali seorang bukan manusia sejati: ‘Orang ini
adalah bukan manusia sejati.’
15. “Para bhikkhu, seorang
manusia sejati memiliki kualitas-kualitas baik; ia bergaul seperti seorang
manusia sejati, ia berkehendak seperti seorang manusia sejati, ia memberikan nasihat
seperti seorang manusia sejati, ia berbicara seperti seorang manusia sejati, ia
bertindak seperti seorang manusia sejati, ia menganut pandangan-pandangan
seperti seorang manusia sejati, dan ia memberikan persembahan seperti seorang manusia
sejati.
16. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati memiliki kualitas-kualitas
baik? Di sini seorang
manusia sejati memiliki keyakinan, memiliki rasa malu, memiliki rasa takut akan
perbuatan-salah; ia terpelajar, bersemangat, penuh perhatian, dan bijaksana.
Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati memiliki kualitas-kualitas baik.
17. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati bergaul seperti seorang
manusia sejati? Di sini seorang
manusia sejati berteman dengan para petapa dan brahmana yang memiliki keyakinan,
memiliki rasa malu, memiliki rasa takut akan perbuatan-salah; yang terpelajar,
bersemangat, penuh perhatian, dan bijaksana. Itu adalah bagaimana seorang
manusia sejati bergaul seperti seorang manusia sejati.
18. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati berkehendak seperti seorang
manusia sejati? Di sini seorang
manusia sejati tidak menghendaki penderitaannya sendiri, tidak menghendaki penderitaan
makhluk lain, dan tidak menghendaki penderitaan keduanya. Itu adalah bagaimana
seorang manusia sejati berkehendak seperti seorang manusia sejati.
19. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati memberikan nasihat seperti
seorang manusia sejati? Di sini seorang
manusia sejati tidak memberikan nasihat demi penderitaannya sendiri, tidak demi
penderitaan makhluk lain, dan tidak demi penderitaan keduanya. Itu adalah
bagaimana seorang manusia sejati memberikan nasihat seperti seorang manusia
sejati.
20. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati berbicara seperti seorang
manusia sejati? Di sini seorang
manusia sejati menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan
fitnah, menghindari mengucapkan kata-kata kasar, dan menghindari bergosip. Itu
adalah bagaimana seorang manusia sejati berbicara seperti seorang manusia
sejati.
21. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati bertindak seperti seorang
manusia sejati? Di sini seorang
manusia sejati menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil
apa yang tidak diberikan, [24] dan menghindari berperilaku salah dalam
kenikmatan indria. Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati bertindak
seperti seorang manusia sejati.
22. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati menganut pandangan-pandangan
seperti seorang manusia sejati? Di sini seorang
manusia sejati menganut pandangan seperti berikut: ‘Ada yang diberikan dan ada
yang dipersembahkan dan ada yang dikorbankan; ada buah atau akibat dari
perbuatan baik dan buruk; ada dunia ini, ada dunia lain; ada ibu dan ayah; ada makhluk-makhluk
yang terlahir kembali secara spontan; ada para petapa dan brahmana yang baik
dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan
pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain.’ Itu adalah bagaimana
seorang manusia sejati menganut pandangan-pandangan seperti seorang manusia
sejati.
23. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati memberikan persembahan
seperti seorang manusia sejati? Di sini seorang
manusia sejati memberikan persembahan secara saksama, memberikan dengan
tangannya sendiri, memberikan dengan menunjukkan penghormatan, memberikan
persembahan yang berharga, memberikan dengan pandangan bahwa ada yang dihasilkan
dari pemberian itu. Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati memberikan
persembahan seperti seorang manusia sejati.
24. “Seorang manusia sejati itu – yang memiliki kualitas-kualitas baik
demikian, yang bergaul seperti seorang manusia sejati, berbicara seperti
seorang manusia sejati, bertindak seperti seorang manusia sejati, menganut
pandangan-pandangan seperti seorang manusia sejati, dan memberikan persembahan
seperti seorang manusia sejati demikian – ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali di alam tujuan
kelahiran seorang manusia sejati. Dan apakah alam tujuan kelahiran seorang
manusia sejati? Kemuliaan di antara para dewa atau kemuliaan di antara manusia.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Bila Anda adalah seorang guru, maka jadilah seorang guru yang sejati. Bila
Anda adalah seorang “civil servant”, maka jadilah seorang Aparatur Sipil
Negara yang sejati. Bila Anda adalah seorang ayah / ibu, maka jadilah orangtua
yang sejati. Bila Anda adalah seorang aparatur penegak hukum, maka jadilah
polisi, jaksa, maupun hakim yang sejati. Bila Anda adalah seorang dokter, maka
jadilah seorang dokter yang sejati. Bila Anda adalah seorang pejabat negara
ataupun wakil rakyat, maka jadilah pemimpin yang sejati. Bila rambut Anda telah
memutih, maka jadilah seorang sepuh-senior yang sejati. Bila Anda adalah
seorang manusia, jadilah seorang manusia yang sejati. Seperti yang kerap
penulis tuliskan, bahwa “ciri-ciri
seseorang menentukan nasib hidupnya”.
©
Hak
Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril,
dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku
Penulis.
