Aku Telah Berhenti Melakukan Kejahatan, untuk Selamanya.
Kamu Kapan?
Aku Telah Menjinakkan Diri. Kamu Kapan?
Pernahkah Anda mengamati, betapa manusia bisa sangat “egois terhadap dirinya sendiri”, karenanya mereka tidak jarang dapat bersikap “egois terhadap orang lain”? Kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri, seperti mengonsumsi zat-zat perusak kesehatan, gaya hidup beresiko dan tidak sehat, hingga aktivitas yang membahayakan dirinya sendiri, merupakan ilustrasi sederhana betapa seseorang bisa sangat “egois terhadap dirinya sendiri”. Bila seseorang bisa sangat “egois terhadap dirinya sendiri”, maka tidaklah mengejutkan betapa mereka bisa sangat “egois terhadap orang maupun makhluk hidup lainnya”.
Kini, bayangkan diri Anda dari masa depan bertemu
dengan Anda, atau Anda bertemu dengan diri Anda dari masa lampau. Ajukan
pertanyaan berikut kepada diri Anda sendiri, apakah “Anda”—entah diri Anda yang
dari masa depan, Anda yang masa kini, ataupun Anda yang dari masa lampau—akan
benar-benar mengasihi Anda ataukah juga akan merampas hak-hak dan kebahagiaan
dari Anda? Jangan katakan itu tidak mungkin, karena ketika Anda bersikap atau
berperilaku tidak sehat, yang membawa resiko bagi kesehatan maupun keselamatan
Anda, maka itu sudah merupakan bukti bahwa Anda bersikap “egois terhadap diri
Anda di masa depan”. Bermalas-malasan, juga merupakan wujud lain keegoisan
demikian, dengan berbagai gradasinya. Adapun menghambur-hamburkan kekayaan
Anda, atau merusak reputasi Anda demi “nafsu temporer”, itu merupakan bentuk
lain dari “egois terhadap diri Anda dari masa lampau”.
Bila Anda bahkan tega merampas dari diri Anda
sendiri, maka janganlah merasa terkejut bila Anda bisa terjerumus merampas
hak-hak maupun kebahagiaan pihak-pihak lainnya. Itulah sebabnya, kita harus
sangat waspada terhadap perilaku dan pikiran kita sendiri. Jangan sampai kita
dicelakai oleh diri kita sendiri, karena menyesal pun sudah terlambat, waktu
tidak dapat diputar balik. Hindari istilah “berdamai dengan diri sendiri”
ataupun seperti “sudah selesai dengan diri sendiri”, diri Anda di masa depan
maupun di masa lampau belum tentu sepakat dengan Anda. Jargon “berdamai dengan
diri sendiri” lebih seperti menyerupai berupaya “menipu diri Anda sendiri”;
sementara “sudah selesai dengan diri sendiri”, Anda yang manakah yang Anda
maksudkan?
Sering disebutkan, bahwa hanya mereka yang “telah
selesai dengan dirinya sendiri” yang dapat menduduki jabatan tertinggi di
lembaga antirasuah. Fakta realitanya, “polisinya-polisi” sekalipun seperti
dalam kasus “Kepala Propam POLRI Sambo-Rambo” maupun seseorang sekaliber Ketua
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bernama Firli-Barakuda, tidak terkecuali
jabatan seprestis Ketua Mahkamah Konstitusi bernama Akil-Dekil, telah ternyata diri
mereka sendiri yang menamatkan prestasi, profesi, serta riwayat mereka sendiri
di masa depan. Jangan pernah meremehkan kekotoran-batin yang bersarang dalam
diri kita masing-masing, dan jangan pernah menantangnya, itulah nasehat terbijak
yang bisa diberikan; karena bila tidak, Anda pastilah kalah-telak dan
babak-belur sebelum kemudian bertekuk-lutut—karena selama ini Anda tidaklah
terlatih dalam disiplin-diri yang ketat bernama “self-control”. Membuat
diri Anda sendiri “under-control”, butuh keberanian Anda terhadap diri
Anda sendiri. Jangan remehkan kekotoran-batin diri Anda, juga jangan
merendahkan potensi diri Anda sendiri untuk melawan kekotoran-batin tersebut.
Kita perlu terbiasa dan rutin menjinakkan diri
Anda sendiri, agar tidak menjelma “liar” dan tidak terkontrol. Syukurlah bila
Anda mampu menjinakkan diri Anda sendiri, diri Anda di masa kini maupun diri
Anda di masa depan. Bersyukurlah bila Anda menemukan seseorang yang sanggup menjinakkan
Anda tanpa menggunakan kekerasan, sebelum vonis pengadilan “menundukkan”
kesombongan maupun ego Anda dan akan kembali menjalani persidangan sebagai
residivis bila Anda masih juga belum mampu menjinakkan diri Anda sendiri.
Kisah sang “Guru bagi para manusia dan dewa”
dalam menjinakkan manusia yang belum dijinakkan—karena telah lebih dahulu
menjinakkan diriNya sendiri—dapat kita simak
dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu
Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh
Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA 86
Angulimāla Sutta : Tentang Angulimāla
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang
Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Pada saat itu terdapat seorang penjahat di
wilayah kerajaan Raja Pasenadi dari Kosala bernama Angulimāla, yang adalah seorang
pembunuh, bertangan darah, kejam, tanpa belas kasih terhadap makhluk-makhluk
hidup. Desa-desa, kota-kota, [98] dan wilayah-wilayah dihancurkan olehnya. Ia
terus-menerus membunuh orang dan ia menggunakan jari korbannya sebagai kalung.
[NOTE : Nama “Angulimāla”
adalah julukan yang berarti “si kalung (mālā) jari (anguli).” Ia
adalah putera Brahmana Bhaggava, seorang penasehat Raja Pasenadi Kosala. Nama
aslinya adalah Ahiṁsaka, yang berarti “yang tidak
berbahaya.” Ia belajar di Takkasila, di mana ia menjadi murid kesayangan
gurunya. Teman-teman murid lainnya, karena iri padanya, melaporkan kepada sang
guru bahwa Ahiṁsaka telah berselingkuh dengan
istrinya. Sang guru, berniat untuk menghancurkan Ahiṁsaka, memerintahkannya untuk membawakan seribu
jari tangan kanan manusia sebagai upah.
Ahiṁsaka menetap di hutan Jālini, menyerang para
pejalan kaki, memotong satu jari mereka, dan mengalungkannya di lehernya. Pada
saat dimulainya Sutta, ia kekurangan satu dari seribu dan ia bertekad untuk
membunuh orang berikutnya yang datang.
Sang Buddha melihat bahwa ibu
Angulimāla sedang dalam perjalanan untuk mengunjunginya, dan mengetahui bahwa
Angulimāla memiliki kondisi pendukung untuk mencapai kesucian Arahant, Beliau
mencegatnya sesaat sebelum ibunya tiba.
Membunuh ibu adalah satu dari
lima kejahatan berat yang mengakibatkan kelahiran di alam neraka. Demikianlah
Sang Buddha menyela untuk mencegah Angulimāla melakukan kejahatan ini.]
3. Kemudian, pada suatu pagi hari, Sang Bhagavā
merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarNya, pergi ke
Sāvatthī untuk menerima dana makanan. Setelah berkeliling menerima dana makanan
di Sāvatthī dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau
merapikan tempat tinggalNya, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, berjalan
ke arah Angulimāla.
Para penggembala sapi, penggembala kambing, para
pekerja bajak, dan para pejalan kaki melihat Sang Bhagavā berjalan di jalan
yang menuju Angulimāla dan memberitahu Beliau: “Jangan melewati jalan ini,
Petapa. Di jalan ini, ada penjahat bernama Angulimāla, yang adalah seorang pembunuh,
bertangan darah, kejam, tanpa belas kasih terhadap makhluk-makhluk hidup.
Desa-desa, kota-kota, dan wilayah-wilayah dihancurkan olehnya. Ia terus-menerus
membunuh orang dan ia menggunakan jari korbannya sebagai kalung. Orang-orang melewati
jalan ini dalam rombongan berjumlah sepuluh, dua puluh, tiga puluh, dan bahkan
empat puluh, tetapi mereka masih jatuh ke tangan Angulimāla.” Ketika ini
diucapkan, Sang Bhagavā berlalu sambil berdiam diri.
Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya para penggembala
sapi, penggembala kambing, para pekerja bajak, dan para pejalan kaki
memberitahu hal ini kepada Sang Bhagavā, namun Sang Bhagavā tetap berlalu
sambil berdiam diri.
4. Dari jauh penjahat Angulimāla melihat Sang
Bhagavā datang. Ketika ia melihat Beliau, ia berpikir: “Sungguh menakjubkan,
sungguh mengagumkan! Orang-orang melewati jalan ini dalam rombongan berjumlah
sepuluh, dua puluh, [99] tiga puluh, dan bahkan empat puluh, tetapi mereka
masih jatuh ke tanganku. Tetapi sekarang petapa ini datang sendirian, tanpa teman,
seolah-olah memaksakan diri. Mengapa aku tidak mengambil nyawa petapa ini?”
Angulimāla kemudian mengambil pedang dan tamengnya, mengikat busur dan sarung
anak panah, dan mengikuti persis di belakang Sang Bhagavā.
5. Kemudian Sang Bhagavā mengerahkan kekuatan
batinNya sehingga penjahat Angulimāla, walaupun berlari secepat yang ia mampu,
namun tidak dapat mengejar Sang Bhagavā, yang berjalan dengan kecepatan biasa.
Kemudian penjahat Angulimāla berpikir: “Sungguh menakjubkan, sungguh
mengagumkan! Sebelumnya aku bahkan mampu mengejar gajah yang tercepat dan
menangkapnya; aku bahkan mampu mengejar kuda yang tercepat dan menangkapnya;
aku bahkan mampu mengejar kereta yang tercepat dan menangkapnya; aku bahkan
mampu mengejar rusa yang tercepat dan menangkapnya; tetapi sekarang, walaupun
aku berlari secepat yang aku mampu, namun tidak dapat mengejar Petapa ini, yang
berjalan dengan kecepatan biasa!” Ia berhenti dan berteriak kepada Sang Bhagavā:
“Berhenti, Petapa! Berhenti, Petapa!”
“Aku telah berhenti, Angulimāla, Engkau juga berhentilah.”
Kemudian Penjahat Angulimāla berpikir: “Para Petapa
ini, putera-putera suku Sakya, mengatakan yang sebenarnya, menegaskan
kebenaran; tetapi walaupun petapa ini masih berjalan, ia mengatakan: ‘Aku
telah berhenti, Angulimāla, Engkau juga berhentilah.’ Aku akan menanyai
petapa ini.”
6. Kemudian Penjahat Angulimāla berkata kepada Sang Bhagavā
dalam syair sebagai berikut:
“Selagi engkau berjalan, petapa, engkau berkata
bahwa
engkau telah berhenti;
Tetapi sekarang, ketika aku telah berhenti, engkau
berkata
bahwa aku belum berhenti.
Aku bertanya kepadamu, O Petapa, mengenai maknanya:
Bagaimanakah bahwa Engkau telah berhenti dan aku belum?”
“Angulimāla, Aku telah berhenti untuk selamanya,
Aku menghindari kekerasan terhadap makhluk-makhluk hidup;
Tetapi engkau tidak memiliki pengendalian terhadap segala
sesuatu yang hidup:
Itulah mengapa Aku telah berhenti dan engkau belum.” [100]
“Oh, setelah sekian lama Petapa ini, seorang
bijaksana terhormat,
Telah datang ke hutan ini demi kesejahteraanku.
[NOTE : Angulimāla baru menyadari bahwa bhikkhu
di hadapannya adalah Sang Buddha sendiri, dan bahwa Beliau datang ke hutan itu
untuk menyadarkannya.]
Setelah mendengar syairMu mengajarkan aku Dhamma,
Aku akan meninggalkan kejahatan selamanya.”
Setelah mengatakan hal itu, penjahat itu mengambil
pedang dan senjata-senjatanya
Dan melemparkannya ke dalam celah dalam;
Sang penjahat menyembah kaki Yang Tertinggi,
Dan pada saat itu dan di tempat itu juga memohon penahbisan.
Yang Tercerahkan, Sang Bijaksana yang penuh belas
kasih,
Sang Guru dunia bersama dengan [semua] dewa,
Berkata kepadanya, “Datanglah, bhikkhu.”
Dan demikianlah ia menjadi seorang bhikkhu.
7. Kemudian Sang Bhagavā berjalan kembali ke
Sāvatthī bersama dengan Angulimāla sebagai pelayanNya. Berjalan setahap demi setahap,
akhirnya Beliau tiba di Sāvatthī, dan di sana Beliau menetap di Sāvatthī di
Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
8. Pada saat itu banyak orang berkumpul di gerbang
istana dalam Raja Pasenadi, gaduh dan berisik, meneriakkan: “Baginda, Penjahat
Angulimāla berada di wilayahmu; ia adalah seorang pembunuh, bertangan darah,
kejam, tanpa belas kasih terhadap makhluk-makhluk hidup. Desa-desa, kota-kota,
dan wilayah-wilayah dihancurkan olehnya. Ia terus-menerus membunuh orang dan ia
menggunakan jari korbannya sebagai kalung. Raja harus menangkapnya!”
9. Kemudian pada tengah hari itu Raja Pasenadi dari
Kosala keluar dari Sāvatthī bersama dengan lima ratus orang prajurit dan pergi
menuju taman. Ia berkendara sejauh yang bisa dilalui keretanya, dan kemudian
turun dari kereta dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju Sang Bhagavā.
[101] setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, ia duduk di satu sisi, dan Sang Bhagavā
berkata kepadanya: “Ada apa, Baginda? Apakah Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha
menyerangmu, atau para Licchavi dari Vesālī, atau raja-raja lainnya yang
bermusuhan?”
10. ”Yang Mulia, Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha
tidak menyerangku, juga tidak para Licchavi dari Vesālī, juga tidak raja-raja lainnya
yang bermusuhan. Tetapi ada seorang penjahat di wilayahku bernama Angulimāla,
yang adalah seorang pembunuh, bertangan darah, kejam, tanpa belas kasih
terhadap makhluk-makhluk hidup. Desa-desa, kota-kota, dan wilayah-wilayah dihancurkan
olehnya. Ia terus-menerus membunuh orang dan ia menggunakan jari korbannya
sebagai kalung. Aku tidak akan bisa menangkapnya, Yang Mulia.”
11. “Baginda, seandainya engkau melihat Angulimāla mencukur
rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan
duniawi menuju kehidupan tanpa rumah; bahwa ia menghindari pembunuhan
makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan dan menghindari
ucapan salah; makan sekali sehari, dan hidup selibat, bermoral, bersikap baik.
Jika engkau melihatnya demikian, bagaimanakah engkau memperlakukannya?”
“Yang Mulia, kami akan memberi hormat kepadanya,
atau bangkit untuknya atau mengundangnya untuk duduk; atau kami akan
mengundangnya untuk menerima jubah, makanan, tempat peristirahatan, atau
obat-obatan; atau kami akan menyediakan penjagaan, pertahanan, dan
perlindungan. Tetapi, Yang Mulia, bagaimana mungkin seorang yang tidak
bermoral demikian, seorang yang bersifat jahat, mungkin memiliki moralitas dan pengendalian
seperti itu?”
12. Pada saat itu Yang Mulia Angulimāla duduk tidak
jauh dari Sang Bhagavā. Kemudian Sang Bhagavā merentangkan lengan kanannya dan
berkata kepada Raja Pasenadi dari Kosala: “Baginda, inilah Angulimāla.”
Kemudian Raja Pasenadi ketakutan, gelisah dan
was-was. Mengetahui ini, Sang Bhagavā memberitahunya: “Jangan takut, Baginda,
jangan takut. Tidak ada yang perlu engkau takutkan darinya.”
Kemudian rasa takut, [102] gelisah dan was-was
lenyap. Ia mendekati Yang Mulia Angulimāla dan berkata: “Yang Mulia, benarkah
Yang Mulia adalah Angulimāla?”
“Benar, Baginda.”
“Yang Mulia, dari keluarga apakah ayah dari Yang
Mulia? Dari keluarga apakah ibunya?”
“Ayahku adalah seorang Gagga, Baginda; ibuku adalah seorang
Mantāṇi.”
“Semoga Yang Mulia Gagga Mantāṇiputta berdiam dengan nyaman.
Aku akan menyediakan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan untuk Yang
Mulia Gagga Mantāṇiputta.”
13. Pada saat itu Yang Mulia Angulimāla adalah
seorang penghuni hutan, pemakan dana makanan, pemakai jubah dari kain terbuang,
dan membatasi dirinya dengan tiga jubah. Ia menjawab: “Cukup, Baginda, tiga
jubahku sudah lengkap.”
Raja Pasenadi kemudian kembali ke Sang Bhagavā, dan setelah
memberi hormat kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata: “Sungguh
menakjubkan, Yang Mulia, sungguh mengagumkan bagaimana Sang Bhagavā menjinakkan
yang belum jinak, membawa kedamaian bagi yang tidak damai, dan menuntun ke
Nibbāna bagi mereka yang belum mencapai Nibbāna. Yang Mulia, kami sendiri
tidak mampu menjinakkannya dengan kekerasan dan senjata, namun
Sang Bhagavā menjinakkannya tanpa menggunakan kekerasan dan senjata. Dan sekarang, Yang Mulia,
kami pamit. Kami sibuk dan banyak yang harus dikerjakan.”
“Silakan engkau pergi, Baginda.”
Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala bangkit dari
duduknya, dan setelah memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan dengan Beliau
tetap di sisi kanannya, ia pergi.
14. Kemudian, pagi harinya, Yang Mulia Angulimāla
merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, pergi ke
Sāvatthī untuk menerima dana makanan. Ketika ia sedang berjalan untuk menerima
dana makanan dari rumah ke rumah di Sāvatthī, ia menyaksikan seorang perempuan
yang sedang kesulitan dan kesakitan melahirkan anaknya. [103] Ketika ia melihat
hal itu, ia berpikir: “Betapa makhluk-makhluk menderita! Sungguh, betapa
makhluk-makhluk menderita!”
[NOTE : Ungkapan mūḷhagabbha untuk menggambarkan bahwa
janin itu terbalik dan hanya sebagian berada di dalam rahim dan keluar secara
horizontal, sehingga jalan keluarnya terhalang. Walaupun Angulimāla telah
membunuh hampir seribu orang, ia tidak pernah memunculkan pikiran belas kasih.
Tetapi sekarang, melalui kekuatan penahbisan, belas kasih muncul dalam dirinya
segera setelah ia melihat perempuan yang melahirkan dengan penuh kesakitan itu.]
Ketika ia telah berkeliling untuk menerima dana
makanan di Sāvatthī dan telah kembali dari menerima dana makanan, setelah makan
ia menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu
sisi dan berkata: “Yang Mulia, pagi hari ini aku merapikan jubah, dan dengan
membawa mangkuk dan jubah luarku, pergi ke Sāvatthī untuk menerima dana
makanan. Ketika aku sedang berjalan untuk menerima dana makanan dari rumah ke
rumah di Sāvatthī, aku menyaksikan seorang perempuan yang sedang kesulitan dan
kesakitan melahirkan anaknya. Ketika aku melihat hal itu, aku berpikir: ‘Betapa
makhluk-makhluk menderita! Sungguh, betapa makhluk-makhluk menderita!’”
15. “Kalau begitu, Angulimāla, pergilah ke Sāvatthī
dan katakan kepada perempuan itu: ‘Saudari, sejak aku dilahirkan, aku tidak
ingat bahwa aku pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran
ini, semoga engkau sejahtera dan semoga bayimu sejahtera!’”
“Yang Mulia, bukankah dengan demikian aku mengatakan
kebohongan dengan sengaja, karena aku telah dengan sengaja membunuh banyak
makhluk hidup?”
“Kalau begitu, pergilah ke Sāvatthī dan katakan
kepada perempuan itu: ‘Saudari, sejak aku terlahir mulia, aku tidak ingat bahwa aku
pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga
engkau sejahtera dan semoga bayimu sejahtera!’”
[NOTE : Bahkan hingga hari ini,
kalimat ini sering diucapkan oleh para bhikkhu sebagai paritta perlindungan
bagi perempuan hamil menjelang melahirkan.]
“Baik, Yang Mulia,” Yang Mulia Angulimāla menjawab,
dan setelah pergi ke Sāvatthī, ia berkata kepada perempuan itu: “Saudari, sejak
aku terlahir mulia, aku tidak ingat bahwa aku pernah dengan sengaja membunuh
makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga engkau sejahtera dan semoga
bayimu sejahtera!” Kemudian perempuan itu dan bayinya selamat.
16. Tidak lama, dengan berdiam sendirian,
mengasingkan diri, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, Yang mulia Angulimāla,
dengan mengalami oleh dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, di
sini dan saat ini memasuki dan berdiam dalam tujuan tertinggi dari kehidupan
suci yang dicari oleh anggota-anggota keluarga yang meninggalkan keduniawian
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ia mengetahui secara langsung:
“Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus
dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi
makhluk apapun.” [104] Dan Yang Mulia Angulimāla menjadi salah satu dari para Arahant.
17. Kemudian, pagi harinya, Yang Mulia Angulimāla
merapikan jubah dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, pergi ke Sāvatthī
untuk menerima dana makanan. Pada saat itu seseorang melemparkan segumpal tanah
dan mengenai tubuh Yang Mulia Angulimāla, seorang lainnya melemparkan tongkat dan
mengenai tubuhnya, dan seorang lainnya melemparkan pecahan tembikar dan
mengenai tubuhnya. Kemudian, dengan darah mengucur dari kepalanya yang terluka,
dengan mangkuk pecah, dan dengan jubah luar robek, Yang Mulia Angulimāla mendatangi
Sang Bhagavā. Dari jauh Sang Bhagavā melihatnya datang dan berkata kepadanya: “Tahankanlah,
Brahmana! Tahankanlah, Brahmana! Engkau sedang mengalami di sini dan saat ini
akibat dari perbuatanmu yang karenanya engkau .”
[NOTE menjelaskan bahwa setiap
perbuatan kehendak (kamma) adalah mampu menghasilkan tiga jenis akibat:
akibat yang dialami di sini dan saat ini, yaitu, dalam kehidupan yang sama
dengan perbuatan yang dilakukan; akibat yang dialami dalam kehidupan berikut;
dan akibat yang dialami dalam kehidupan manapun setelah kehidupan berikutnya,
selama seseorang masih mengembara dalam saṁsāra. Karena ia telah mencapai
kesucian Arahant, Angulimāla telah melepaskan diri dari dua jenis akibat yang
terakhir tetapi tidak jenis yang pertama, karena bahkan para Arahant masih
dapat mengalami akibat dalam kehidupan sekarang dari perbuatan-perbuatan yang
telah dilakukan sebelum mencapai kesucian Arahant.]
18. Kemudian, selagi Yang Mulia Angulimāla sedang
sendirian dalam keheningan mengalami kebahagiaan kebebasan, ia mengucapkan
seruan berikut ini:
[NOTE : Beberapa syair berikut
juga muncul dalam Dhammapada. Syair Angulimāla juga ditemukan secara lengkap
dalam Theragāthā 866-91.]
“Siapapun yang dulu hidup dalam kelengahan
Dan kemudian menjadi tidak lengah lagi,
Ia menerangi dunia ini
Bagaikan bulan yang bebas dari awan.
Yang melawan perbuatan jahat yang ia lakukan
Dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik,
Ia menerangi dunia ini
Bagaikan bulan yang bebas dari awan.
Bhikkhu muda yang mengabdikan
Usahanya pada Ajaran Sang Buddha
Ia menerangi dunia ini
Bagaikan bulan yang bebas dari awan.
Semoga musuh-musuhku mendengarkan Khotbah Dhamma
Semoga mereka mengabdi pada Ajaran Buddha
Semoga musuh-musuhku melayani orang-orang baik
Yang menuntun orang lain untuk menerima Dhamma
[105] Semoga musuh-musuhku menyimak dari waktu ke waktu
Untuk mendengarkan Dhamma dari mereka yang membabarkan
kesabaran,
Dan mereka yang membicarakan serta memuji kebajikan,
Dan semoga mereka melanjutkan perbuatan baik.
Karena pasti mereka tidak akan ingin mencelakaiku,
Juga mereka tidak berpikir untuk mencelakai makhluk lain,
Demikianlah mereka yang melindungi semua makhluk, lemah
atau kuat,
Semoga mereka mencapai kedamaian yang tanpa banding.
Pembuat saluran mengarahkan air,
Pembuat anak panah meluruskan batang anak panah,
Tukang kayu meluruskan kayu,
Tetapi orang bijaksana menjinakkan dirinya sendiri.
Ada beberapa yang jinak dengan pukulan,
Beberapa dengan tongkat kendali dan beberapa dengan cambukan;
Tetapi aku dijinakkan oleh Orang
Yang tidak memiliki tongkat pemukul atau senjata apapun.
‘Tanpa-bahaya’ adalah nama yang kubawa,
Walaupun aku berbahaya di masa lalu.
Nama yang kubawa sekarang adalah benar:
Aku tidak menyakiti makhluk hidup sama sekali.
Dan walaupun aku pernah hidup sebagai penjahat
Yang dikenal sebagai si ‘Kalung-jari,’
Seorang yang terhanyutkan oleh banjir besar,
Aku berlindung pada Sang Buddha.
Dan walaupun aku pernah bertangan-darah
Dengan nama si ‘Kalung-jari’
Bertemu dengan perlindungan yang kutemukan:
Belenggu penjelmaan telah terpotong.
Walaupun aku melakukan banyak perbuatan yang mengarah
pada kelahiran kembali di alam rendah,
namun akibatnya telah mendatangiku sekarang,
dan karenanya aku makan dengan bebas dari hutang.
[NOTE : Sementara para bhikkhu
bermoral yang masih belum Arahant dikatakan memakan dana makanan sebagai
warisan dari Sang Buddha, para Arahant dikatakan memakan makanan yang “bebas
dari hutang” karena ia telah membuat dirinya sepenuhnya layak menerima
persembahan. Baca Visuddhimagga I, 125-27.]
Mereka adalah orang-orang dungu dan tidak berakal sehat
Yang menyerah pada kelengahan,
Tetapi mereka yang bijaksana menjaga ketekunan
Dan memperlakukannya sebagai kebaikan yang terbesar.
Jangan menyerah pada kelengahan
Juga jangan mencari kesenangan dalam kenikmatan indria,
Tetapi bermeditasilah dengan tekun
Agar dapat mencapai kebahagiaan sempurna.
Selamat datang pada apa yang kupilih
Dan semoga tegak berdiri, tidak cacat
Dari semua ajaran yang dipelajari
Aku telah mendapatkan yang terbaik.
Selamat datang pada apa yang kupilih
Dan semoga tegak berdiri, tidak cacat
Aku telah mencapai tiga pengetahuan
Dan telah menyelesaikan semua yang diajarkan oleh Sang Buddha.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.
