Seseorang Penjahat / Pelanggar Harus DIhukum, Agar Segera Menyadari Kesalahan, Pelanggaran, ataupun Kejahatannya
Seseorang yang Kejahatannya Telah Melampaui Batas,
Harus Dihukum, Demi Kebaikannya Sendiri
Question : Bagaimana pandangan Buddhisme, mengenai toleransi terhadap kejahatan maupun pelaku kejahatan?
Brief Answer : Perhatikan analogi berikut, seseorang memukul
sebuah tembok beton, maka tangannya sendiri yang akan terasa sakit dan mengalami
kesakitan luar biasa karena tulang tangannya retak. Itulah yang disebut sebagai
konsekuensi dari suatu aksi. Hukum, adalah persoalan “konsekuensi”, bukan persoalan
“selera”. Tembok itu sediri, sifatnya netral, begitupula hukum. Ketika
seseorang secara deliberatif membuat perbuatan yang “tanpa pengendalian diri” sehingga
merugikan pihak lain maupun dirinya sendiri, akan tetapi tidak dihadapkan pada sebentuk
“konsekuensi atas perbuatannya”, maka itulah yang disebut sebagai “korupsi
terhadap konsekuensi”. Yang Mulia Mahā Moggallāna, siswa dari Sang Buddha,
pernah membuat syair berikut ketika menghadapi “Māra si jahat”:
“Tidak pernah ada api
Yang berniat, ‘aku akan membakar si dungu,’
Tetapi si dungu yang menyerang api
Membakar dirinya dengan perbuatannya sendiri
Demikian pula engkau, O Māra:
Dengan menyerang Sang Tathāgata,
Bagaikan si dungu yang bermain api
Engkau hanya akan membakar dirimu sendiri.
Dengan menyerang Sang Tathāgata,
Engkau menghasilkan banyak keburukan.
Yang Jahat, apakah engkau membayangkan
Bahwa kejahatanmu tidak akan matang?
Dengan melakukan demikian, engkau menimbun kejahatan
Yang akan bertahan lama, O Pembuat-Akhir!”
PEMBAHASAN:
Orang baik, bukanlah “mangsa empuk”. Warga yang “harmless”,
juga bukanlah “mangsa empuk”—hanya seorang pengecut, yang menjadikan mereka
sebagai “mangsa empuk”. Kenakalan sekalipun, harus “kenal batas”, tidak
terkecuali sifat jahat. Selengkapnya, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~ SUTTA 50 ~
Māratajjanīya Sutta: Teguran kepada Māra
[332] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Yang Mulia Mahā
Moggallāna sedang menetap di negeri Bhagga di Suṁsumāragira di Hutan Bhesakaḷā, Taman Rusa.
2. Pada saat itu Yang Mulia Mahā Moggallāna sedang berjalan mondar-mandir
di ruang terbuka. Dan pada saat itu Māra si Jahat masuk ke dalam perut Yang
Mulia Mahā Moggallāna dan memasuki ususnya. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna
mempertimbangkan: “Mengapa perutku menjadi sangat berat? Seseorang akan
berpikir bahwa perutku penuh kacang.”
Demikianlah ia meninggalkan jalan setapak itu dan memasuki kediamannya,
di mana ia duduk di tempat yang telah tersedia.
3. Ketika ia telah duduk, ia mengerahkan pengamatan penuh pada dirinya,
dan melihat bahwa Māra si Jahat telah memasuki perutnya dan masuk ke dalam
ususnya. Ketika ia melihat ini, ia berkata: “Keluarlah, Yang Jahat! Jangan
mengganggu Sang Tathāgata, jangan menganggu siswa Sang Tathāgata, atau hal ini akan
membawamu ke dalam bencana dan penderitaan untuk waktu yang lama.”
4. Kemudian Māra si Jahat berpikir: “Petapa ini tidak mengenali aku, ia
tidak melihat aku ketika ia mengatakan itu. Bahkan gurunya tidak akan
mengenaliku begitu cepat, bagaimana mungkin siswa ini mengenaliku?”
5. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna berkata: “Meskipun demikian, aku
mengenalimu, Yang Jahat. Jangan berpikir: ‘Ia tidak mengenaliku.’ Engkau adalah
Māra, si Jahat, engkau berpikir: ‘Petapa ini tidak mengenali aku, ia tidak
melihat aku ketika ia mengatakan itu. Bahkan gurunya tidak akan mengenaliku
begitu cepat, bagaimana mungkin siswa ini mengenaliku?’”
6. Kemudian Māra si Jahat berpikir: “Petapa ini mengenali aku, ia melihat
aku ketika ia mengatakan itu,” kemudian ia [333] keluar dari mulut Yang Mulia
Mahā Moggallāna dan berdiri dengan bersandar pada palang pintu.
7. Yang Mulia Mahā Moggallāna melihatnya berdiri di sana dan berkata:
“Aku melihat engkau di sana juga, Yang Jahat. Jangan berpikir: ‘Ia tidak
melihatku.’ Engkau sedang berdiri bersandar pada palang pintu, Yang Jahat.
8. “Pernah terjadi suatu ketika, Yang Jahat, aku adalah Māra bernama
Dūsi, dan aku memiliki saudara perempuan bernama Kāli. Engkau adalah putranya,
maka engkau adalah keponakanku,
[Kitab Komentar : Nama “Dūsi” berarti
“Penjahat” atau “Yang Jahat.” Dalam konsep semesta Buddhis, posisi Māra,
seperti halnya Mahā Brahmā, adalah posisi yang tetap yang dipegang oleh
individu-individu berbeda sesuai dengan kamma mereka.]
9. “Pada saat itu Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna, telah muncul di dunia. Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan
tercerahkan sempurna, memiliki sepasang siswa utama yang mulia bernama Vidhura
dan Sañjiva. Di antara para siswa Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan
tercerahkan sempurna, tidak ada yang menandingi Yang Mulia Vidhura dalam hal
mengajarkan Dhamma. Itulah sebabnya Yang Mulia Vidhura memperoleh nama ‘Vidhura.’
Tetapi Yang Mulia Sañjiva, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk
kosong, tanpa kesulitan masuk ke dalam lenyapnya persepsi dan perasaan.
[Kitab Komentar : Kakusandha merupakan Buddha
pertama yang muncul dalam siklus kosmis yang sekarang ini, yang disebut “masa
keberuntungan.” Beliau diikuti oleh Buddha Konagamaṇa dan Kassapa, dan setelahnya adalah kemunculan Buddha Gotama yang
sekarang ini.
Nama “Vidhura” berarti “Yang tanpa banding”.]
10. “Pernah terjadi pada suatu ketika, Yang Mulia Sañjiva telah duduk di
bawah sebatang pohon dan memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan. Beberapa
orang penggembala sapi, penggembala kambing, pembajak sawah, dan pengembara melihat
Yang Mulia Sañjiva sedang duduk di bawah pohon setelah memasuki lenyapnya
persepsi dan perasaan, dan mereka berpikir: ‘Sungguh mengagumkan, tuan-tuan,
sungguh menakjubkan! Petapa ini mati sambil duduk. Mari kita mengkremasinya.’
Kemudian para penggembala sapi, penggembala kambing, pembajak sawah, dan
pengembara itu mengumpulkan rumput, kayu, dan kotoran sapi, dan setelah menumpuknya
di atas tubuh Yang Mulia Sañjiva, mereka membakarnya dan pergi.
11. “Sekarang, Yang Jahat, ketika malam telah berlalu, Yang Mulia Sañjiva
keluar dari pencapaian itu. Ia mengibaskan jubahnya, karena hari telah pagi, ia
merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia memasuki desa
untuk menerima dana makanan. Para penggembala sapi, penggembala kambing,
pembajak sawah, dan pengembara melihat Yang Mulia Sañjiva berjalan menerima
dana makanan, dan mereka berpikir: ‘Sungguh mengagumkan, tuan-tuan, sungguh
menakjubkan! Petapa ini yang mati sambil duduk telah hidup kembali!’ [334] Itulah
sebabnya Yang Mulia Sañjiva memperoleh nama ‘Sañjiva.’
[Kitab Komentar : Seorang yang telah memiliki
pencapaian kekuatan batin merealisasi lenyapnya persepsi dan perasaan,
sepertinya, tidak akan mengalami luka atau kematian di dalam pencapaian itu
sendiri. Pada Visuddhimagga XXIII, 37 dikatakan bahwa pencapaian itu melindungi
bahkan benda-benda miliknya seperti jubah dan tempat duduknya dari kehancuran.
Nama “Sañjiva” berarti “Yang selamat”.]
12. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi mempertimbangkan: ‘terdapat para
bhikkhu bermoral dan berkarakter baik ini, tetapi aku tidak mengetahui
kedatangan dan kepergian mereka. Aku akan menguasai para brahmana
perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah, caci, maki, cela,
dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin ketika
mereka dicaci, dimaki, dicela, dan digoda oleh kalian, beberapa perubahan akan
terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.”’
[Kitab Komentar : Māra berupaya “memancing di air
keruh”, berharap agar para bhikkhu yang diperlakukan buruk oleh warga, akan
memperlihatkan “noda-noda kekotoran batin” dalam pikiran mereka, noda-noda mana
akan mencegah mereka membebaskan diri dari saṁsāra. Itu menyerupai
“perang proxy”, dimana pihak yang sebetulnya menjadi “target utama”
godaan Māra ialah para bhikkhu.]
13. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi menguasai para brahmana
perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: ‘Marilah, caci, maki, cela,
dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin ketika
mereka dicaci, dimaki, dicela, dan diganggu oleh kalian, beberapa perubahan
akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.’
Kemudian, ketika Māra Dūsi telah menguasai para brahmana perumah-tangga, mereka
mencaci, memaki, mencela, dan mengganggu para bhikkhu bermoral dan berkarakter
baik sebagai berikut: ‘Para petapa berkepala gundul ini, budak-budak berkulit
gelap keturunan kaki Leluhur, mengaku: “Kami adalah meditator, kami adalah meditator!”
dan dengan bahu membungkuk, kepala menunduk, dan seluruh tubuh lemas, mereka
bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi
secara keliru. Seperti halnya seekor burung hantu yang menghinggapi sebuah
dahan menunggu seekor tikus, bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi
lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor
serigala di tepi sungai menunggu ikan, bermeditasi, mengulangi meditasi,
bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya
seekor kucing, menunggu seekor tikus di lorong atau saluran pembuangan atau
tempat sampah, bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi,
dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor keledai yang tanpa
beban, berdiri di dekat tiang pintu atau tempat sampah atau saluran pembuangan,
bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi
secara keliru, demikian pula, Para petapa berkepala gundul ini, budak-budak
berkulit gelap keturunan kaki Leluhur, mengaku: “Kami adalah meditator, kami adalah
meditator!” dan dengan bahu membungkuk, kepala menunduk, dan seluruh tubuh
lemas, mereka bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi,
dan bermeditasi secara keliru.’ Sekarang,
Yang Jahat, pada masa itu sebagian besar manusia, ketika mati, muncul kembali
setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, dalam kondisi buruk, di alam yang tidak
bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. [335]
[Kitab Komentar bersusah-payah menunjukkan bahwa
Māra tidak mengerahkan kekuatan untuk mengendalikan perbuatan mereka, yang mana
jika demikian maka ia sendiri yang akan bertanggung jawab dan para brahmana
tidak menghasilkan kamma buruk karena perbuatan itu. Sebaliknya, Māra membuat
para brahmana membayangkan gambaran para bhikkhu yang terlibat dalam perilaku
yang tidak selayaknya, dan ini membangkitkan kebencian mereka dan memicu mereka
untuk menggoda para bhikkhu itu. Niat Māra dalam melakukan hal itu adalah untuk
membangkitkan kemarahan dan kekesalan para bhikkhu.
“Leluhur” (bandhu) adalah Brahmā, yang
disebut demikian oleh para brahmana karena mereka menganggapnya sebagai leluhur
pertama. Kitab Komentar menjelaskan bahwa adalah kepercayaan di antara para
brahmana bahwa mereka adalah keturunan mulut Brahmā, khattiya adalah
keturunan dada Brahmā, vessa dari perut, sudda dari kaki, dan samaṇa dari telapak
kaki.
Jhāyanti pajjhāyanti nijjhāyanti apajjhāyanti, “bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi
lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru”. Walaupun kata kerja ini secara
berdiri sendiri tidak memiliki makna negatif, rangkaian ini jelas dimaksudkan
sebagai penurunan. Pada Majjhima Nikāya 108.26 empat kata kerja ini digunakan
untuk menggambarkan meditasi seseorang yang pikirannya dikuasai oleh lima
rintangan.]
14. “Kemudian Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna, berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: ‘Para bhikkhu, Māra
Dūsi telah menguasai para brahmana perumah-tangga dengan mengatakan kepada
mereka: “Marilah, caci, maki, cela, dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan
berkarakter baik; dan mungkin ketika mereka dicaci, dimaki, dicela, dan
diganggu oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di
mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.” Ayo, para bhikkhu, berdiamlah dengan
meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh cinta kasih, demikian pula dengan
arah ke dua, demikian pula dengan arah ke tiga, demikian pula dengan arah ke
empat; ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada
semua makhluk seperti kepada diri kalian sendiri, berdiamlah dengan meliputi seluruh
dunia dengan pikiran penuh cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa
pertentangan dan tanpa permusuhan. Berdiamlah dengan meliputi satu arah dengan
pikiran penuh belas kasih … dengan pikiran penuh dengan kegembiraan altruistik
… dengan pikiran penuh dengan keseimbangan … berlimpah, luhur, tanpa batas,
tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.’
[Kitab Komentar : Empat brahmavihāra adalah
penawar (objek meditasi) yang tepat bagi permusuhan pada orang lain, serta bagi
kecenderungan pada kemarahan dan kekesalan dalam pikiran seseorang.]
15. “Maka, Yang Jahat, ketika para bhikkhu itu telah dinasihati dan
diberi instruksi oleh Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna, kemudian, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong,
mereka berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh dengan cinta
kasih … dengan pikiran yang penuh dengan belas kasih … dengan pikiran yang
penuh dengan kegembiraan altruistik … dengan pikiran yang penuh dengan
keseimbangan … tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.
16. “Kemudian, si Jahat, Māra Dūsi mempertimbangkan sebagai berikut:
‘Walaupun aku melakukan seperti apa yang sedang kulakukan, namun aku masih
tidak mengetahui kedatangan dan kepergian para bhikkhu bermoral dan berkarakter
baik ini. Aku akan menguasai para brahmana perumah-tangga, dengan mengatakan
kepada mereka: “Marilah sekarang, hormati, hargai, sembah, dan muliakanlah para
bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; [336] dan mungkin, ketika mereka dihormati,
dihargai, disembah, dan dimuliakan oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi
dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.”’
[Kitab Komentar : Kali ini Māra berniat untuk
menjatuhkan para bhikkhu dalam kesombongan, kepuasan, dan kelengahan. Namun, Māra
akan mendapati para bhikkhu yang menjadi target utamanya telah ternyata telah
merealisasi “keseimbangan batin”.]
17. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi menguasai para brahmana
perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: ‘Marilah sekarang, hormati,
hargai, sembah, dan muliakanlah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan
mungkin, ketika mereka dihormati, dihargai, disembah, dan dimuliakan oleh
kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi
akan memperoleh kesempatan.’ Kemudian, ketika Māra Dūsi telah menguasai
para brahmana perumah-tangga, mereka menghormati, menghargai, menyembah, dan
memuliakan para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik itu. Sekarang, Yang Jahat,
pada masa itu sebagian besar manusia, ketika mati, muncul kembali setelah hancurnya
jasmani, setelah kematian, dalam kondisi bahagia, bahkan di alam surga.
18. “Kemudian Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna, berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: ‘Para bhikkhu, Māra Dūsi
telah menguasai para brahmana perumah-tangga dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah
sekarang, hormati, hargai, sembah, dan muliakanlah para bhikkhu bermoral dan
berkarakter baik; dan mungkin, ketika mereka dihormati, dihargai, disembah, dan
dimuliakan oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di
mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.” Ayo, para bhikkhu, berdiamlah dengan
merenungkan kejijikan dalam jasmani, melihat kejijikan dalam makanan, merasakan
kekecewaan terhadap segalanya di dunia, merenungkan ketidak-kekalan dalam
segala bentukan.’
[Kitab Komentar mengutip sebuah sutta dari Anguttara
Nikāya 7:46/iv.46-53, yang menyebutkan bahwa objek meditasi berupa empat
perenungan demikian adalah penawar, berturut-turut, bagi keinginan indria,
ketagihan pada rasa kecapan, ketertarikan pada dunia, dan ketergila-gilaan pada
perolehan, kehormatan, dan pujian, termasuk keinginan terhadap penjelmaan-kembali.]
19. “Maka, Yang Jahat, ketika para bhikkhu itu telah dinasihati dan
diberi instruksi oleh Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna, kemudian, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong,
mereka berdiam dengan merenungkan kejijikan dalam jasmani, melihat kejijikan dalam
makanan, merasakan kekecewaan terhadap segalanya di dunia, merenungkan
ketidak-kekalan dalam segala bentukan.
20. “Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna
dan tercerahkan sempurna, merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah
luarNya, ia pergi ke desa untuk menerima dana makanan dengan Yang Mulia Vidhura
sebagai pelayanNya.
21. “Kemudian Māra Dūsi menguasai seorang anak, dan dengan
mengambil sebongkah batu, ia melempari Yang Mulia Vidhura di kepalanya dengan
batu itu dan melukai kepalanya. Dengan darah menetes dari kepalanya yang
terluka, [337] Yang Mulia Vidhura mengikuti persis di belakang Sang Bhagavā Kakusandha
yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Kemudian Sang Bhagavā Kakusandha yang
sempurna dan tercerahkan sempurna, berbalik dan melihatnya dengan tatapan gajah:
‘Māra Dūsi ini tidak mengenal batas.’ Dan dengan tatapan itu, si Jahat, Māra
Dūsi jatuh dari tempat itu dan muncul kembali di Neraka Besar.
[Kitab Komentar : Tatapan gajah (nāgapalokita)
berarti bahwa tanpa menggerakkan leher, ia memutar seluruh tubuhnya untuk
menatap. Māra Dūsi bukan mati karena tatapan gajah Sang Buddha melainkan karena
kamma buruk yang ia hasilkan dalam menyerang seorang siswa utama yang
memotong kehidupannya pada saat itu juga.]
22. “Sekarang,
Yang Jahat, ada tiga sebutan bagi Neraka Besar: neraka enam landasan kontak,
neraka tusukan tombak, dan neraka yang dirasakan untuk diri sendiri. Kemudian,
Yang Jahat, penjaga neraka mendatangiku dan berkata: ‘Tuan, ketika tombak
bertemu tombak di jantungmu, maka engkau akan tahu: “Aku sudah terpanggang di
neraka selama seribu tahun.”’
[Kitab Komentar : Neraka Besar, juga disebut Avīci,
dijelaskan secara lengkap dalam Majjhima Nikāya 130.16-19.]
23. “Selama
bertahun-tahun, Yang Jahat, selama berabad-abad, selama ribuan tahun, aku
terpanggang di Neraka Besar. Selama sepuluh milenium aku terpanggang di Neraka
Besar tambahan, mengalami perasaan yang disebut neraka yang muncul dari
kematangan. Tubuhku berbentuk sama dengan tubuh manusia, Yang Jahat, tetapi
kepalaku menyerupai kepala ikan.
[Kitab Komentar : “Perasaan yang disebut neraka yang
muncul dari kematangan” ini, yang dialami dalam tambahan (ussada) dari
Neraka Besar, dikatakan lebih menyakitkan daripada perasaan yang dialami dalam
Neraka Besar itu sendiri.]
24. “Bagaimanakah neraka dapat diperbandingkan
Di mana Dūsi terpanggang, si penyerang
Vidhura Sang Siswa
Dan Sang Brahmana Kakusandha?
[Kitab Komentar : Buddha Kakusandha disebut Brahmana
dalam makna seperti pada Majjhima Nikāya 39.24.]
Tombak-tombak baja, bahkan berjumlah seratus,
Masing-masing diderita secara terpisah;
Dengan
inilah neraka itu dapat diperbandingkan
Di mana Dūsi terpanggang, si penyerang
Vidhura Sang Siswa
Dan Sang Brahmana Kakusandha.
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita
Dengan menyerang seorang bhikkhu demikian,
Seorang siswa dari Yang Tercerahkan
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
25. “Di tengah samudra
Terdapat istana-istana yang bertahan selama satu kappa,
Bersinar safir, memancarkan api
Dengan kilauan jernih yang tembus pandang,
Di mana bidadari laut warna-warni menari
Dalam irama yang rumit dan sulit diikuti
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita …
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
26. “Aku adalah seorang yang, ketika dinasihati
Oleh Yang Tercerahkan secara pribadi,
Mengguncang Istana Ibunya Migāra
Dengan jari kaki, dengan disaksikan oleh Saṅgha.
[Kitab Komentar : Referensinya adalah pada Saṁyutta Nikāya 51:14/v.269-70.]
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita …
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
27. “Aku adalah seorang yang, secara kokoh
mengerahkan
Kekuatan batin,
Mengguncang seluruh Istana Vejayanta
Dengan jari kaki untuk mendorong para dewa: [338]
[Kitab Komentar : Peristiwa ketika Moggallāna mengunjungi
istana dewa di alam dewata dan memberikan teguran kepada para dewa, dapat
dibaca pada Majjhima Nikāya Sutta 37.11, berupa kutipan ayat berikut dari Cūḷataṇhāsankhaya Sutta:
“Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna
mempertimbangkan sebagai berikut: “Makhluk-makhluk ini hidup dengan sangat
lalai. Bagaimana jika aku membangkitkan dorongan spiritual yang mengesankan
dalam dirinya?” Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna melakukan keajaiban dengan
kekuatan batinnya sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat Istana
Vejayanta bergoyang, berguncang dan bergetar. Sakka dan Raja Dewa Vessavaṇa dan para dewa Tiga Puluh Tiga merasa kagum dan takjub, dan mereka
berkata: “Tuan-tuan, sangat mengagumkan, sangat menakjubkan, sungguh petapa itu
memiliki kekuatan dan kesaktian, sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat
Istana alam surga ini, berguncang dan bergetar!”]
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita …
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
28. “Aku adalah seorang yang, di Istana itu
Mengajukan pertanyaan ini kepada Sakka:
‘Tahukah
engkau, teman, kebebasan
Dalam
hancurnya ketagihan sepenuhnya?’
Yang mana Sakka menjawab dengan benar
Sesuai dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya:
[Kitab Komentar : Merujuk Majjhima Nikāya sutta 37.12,
Cūḷataṇhāsankhaya Sutta, berupa kutipan ayat berikut:
“Ketika Yang Mulia Mahā Moggallāna mengetahui bahwa
Sakka, penguasa para dewa, telah tergerak oleh dorongan spiritual yang
mengesankan, ia bertanya kepadanya: “Kosiya, bagaimanakah Sang Bhagavā
menjelaskan kepadamu secara ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya
ketagihan? Baik sekali jika kami juga mendengarkan pernyataan itu.”
“Tuan Moggallāna yang baik, aku mendatangi Sang
Bhagavā, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, aku berdiri di satu sisi dan
berkata: ‘Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkas seorang bhikkhu terbebaskan
dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi,
keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi,
seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia?” Ketika hal ini
dikatakan, Tuan Moggallāna yang baik, Sang Bhagavā memberitahuku: ‘Di sini,
penguasa para dewa, seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak
dilekati. Ketika seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak
dilekati, ia secara langsung sepenuhnya mengetahui segala sesuatu; setelah
sepenuhnya mengetahui segala sesuatu, ia sepenuhnya memahami segala sesuatu;
setelah sepenuhnya memahami segala sesuatu, apapun perasaan yang ia rasakan,
apakah menyenangkan atau menyakitkan atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia berdiam dengan merenungkan
ketidak-kekalan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan peluruhannya,
merenungkan lenyapnya, merenungkan pelepasannya. Dengan merenungkan demikian,
ia tidak melekat pada apapun di dunia. Ketika ia tidak melekat, ia tidak
terganggu. Ketika ia tidak terganggu, ia secara pribadi mencapai Nibbāna. Ia
memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang
harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi
makhluk apapun.’ Secara ringkas, dengan cara inilah, penguasa para dewa, bahwa
seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah
mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci
tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan
manusia.’ Demikianlah bagaimana Sang Bhagavā menjelaskan kepadaku secara
ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya keinginan, Tuan Moggallāna.”]
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita …
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
29. “Aku adalah seorang yang, terpikir untuk
mengajukan
Pertanyaan ini kepada Brahmā
Di Aula Suddhama di surga:
‘Masih
adakah padamu, teman,
Pandangan
salah yang pernah engkau terima?
Apakah
engkau melihat cahaya
Yang
melampaui cahaya alam Brahmā?’
Kemudian Brahmā menjawab pertanyaanku
Dengan jujur dan sesuai urutan:
‘Tidak
ada lagi padaku,
Tuan,
pandangan salah yang pernah kugenggam;
Sungguh
aku melihat cahaya
Yang
melampaui cahaya alam Brahmā.
Sekarang
bagaimana mungkin aku mempertahankan
Bahwa
aku adalah kekal dan abadi?’:
[Kitab Komentar : Referensi kisah kejadiannya adalah
pada Saṁyutta Nikāya 6:5/i.145.]
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita …
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
30. “Aku adalah seorang yang, dengan kebebasan,
Telah menyentuh puncak Gunung Sineru,
Mengunjungi hutan Pubbavidehi
Dan manusia manapun yang mendiami bumi.
[Kitab Komentar : Syair tersebut merujuk pada
kemampuan Yang Mulia Moggallāna dalam mengerahkan kekuatan batin terbang di
angkasa seperti burung.]
Yang
Gelap, engkau akan sangat menderita
Dengan menyerang seorang bhikkhu demikian,
Seorang siswa dari Yang Tercerahkan
Yang secara langsung mengetahui fakta ini.
31. “Tidak
pernah ada api
Yang
berniat, ‘aku akan membakar si dungu,’
Tetapi
si dungu yang menyerang api
Membakar
dirinya dengan perbuatannya sendiri
Demikian
pula engkau, O Māra:
Dengan
menyerang Sang Tathāgata,
Bagaikan
si dungu yang bermain api
Engkau
hanya akan membakar dirimu sendiri.
Dengan
menyerang Sang Tathāgata,
Engkau
menghasilkan banyak keburukan.
Yang
Jahat, apakah engkau membayangkan
Bahwa
kejahatanmu tidak akan matang?
Dengan
melakukan demikian, engkau menimbun kejahatan
Yang
akan bertahan lama, O Pembuat-Akhir!
Māra,
menjauhlah dari Yang Tercerahkan,
Jangan
lagi memainkan tipuanmu pada para bhikkhu.”
Demikianlah
bhikkhu itu menyadarkan Māra
Dalam
belantara Bhesakaḷā
Kemudian
makhluk gelap itu
Lenyap
di sana pada saat itu juga
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR
dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.
