“Demikian pula, Rāhula, jika seseorang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja, maka tidak ada kejahatan, Aku katakan, yang tidak akan ia lakukan. Oleh karena itu, Rāhula, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan mengucapkan kebohongan bahkan sebagai suatu gurauan.’” [SANG BUDDHA]
Ada kemungkinan selama ini ada diantara para pembaca yang bertanya-tanya, bahwa seseorang pekerja kantoran swasta maupun pekerja informal dengan upah sebatas “upah minimum” telah ternyata mampu untuk bertahan hidup dan menjalani hidup dengan bahagia sekalipun “minimalis” ataupun “simple life” (bersahaja). Menjadi pertanyaan, kalangan pegawai negeri sipil yang tingkat penghasilannya di atas rata pekerja swasta, terlebih seorang pejabat pemerintahan dengan tingkat gaji resminya jauh diatas rata-rata penghasilan warganya, mengapa masih juga melakukan korupsi? Bila tiada orangtua maupun guru yang mengajarkan Anda cara “hidup sederhana”, maka Anda tidak akan mengenal kata “bahagia dalam hidup berkecukupan”, akan tetapi selalu merasa “tidak pernah cukup”, sekalipun itu sekaliber pejabat di pemerintahan maupun pejabat di badan usaha milik negara yang tingkat gajinya sudah tergolong sangat tinggi.
Bila setiap individu memiliki
keterampilan, pengetahuan, maupun kebiasaan untuk hidup sederhana, maka
pastilah akan sukar menemukan peristiwa korup semacam korupsi uang,
menggelapkan dana milik orang lain, penipuan, perampokan, dan kejahatan lain
sebagainya. Begitu sedikit orang-orang yang beruntung dapat memiliki jabatan di
pemerintahan, namun ketika menjabat, yang menjabat kemudian dikuasai oleh “ketidak-puasan”,
sehingga melakukan aksi korupsi. Orang-orang yang “puas hidup sederhana”, tidak
akan korupsi dengan mengatas-namakan apapun, sekalipun ia hanya memiliki
penghasilan bahkan dibawah “upah minimum”, terlebih bila penghasilan resmi sang
pejabat ialah jauh di atas “upah minimum”.
Apakah para aparatur maupun
pejabat negara yang masih juga melakukan korupsi tanpa menyadari betapa telah
sangat beruntungnya nasib hidup mereka, tidak merasa malu terhadap pekerja swasta
yang bekerja dibawah tekanan dalam kesehariannya “9 to 17” namun hanya memeroleh
sebatas “upah minimum” untuk setiap bulannya ia bekerja? Apakah warga sipil
kita yang meng-korup (merampas) hak-hak sesama sipil, demi keuntungan
pribadinya, tidak merasa malu kepada Pangeran Siddhatta Gotama yang melepaskan
takhta dan singgasana kerajaan lengkap dengan segala kekayaannya, dengan
menjadi seorang petapa di hutan?
Akar dari segala sikap korup,
termasuk korupsi, ialah KEBOHONGAN. Selengkapnya dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu
Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh
Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA 61
Ambalaṭṭhikārāhulovāda Sutta : Nasihat kepada Rāhula di Ambalaṭṭhika
[414] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu
ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka
Tupai.
2. Pada saat itu Yang Mulia Rāhula sedang menetap di
Ambalaṭṭhika. Kemudian pada suatu
malam, Sang Bhagavā bangkit dari meditasiNya dan mendatangi Yang Mulia Rāhula
di Ambalaṭṭhikā. Dari jauh Yang Mulia
Rāhula melihat kedatangan Sang Bhagavā dan mempersiapkan tempat duduk dan menyediakan
air untuk mencuci kaki. Sang Bhagavā duduk di tempat yang telah dipersiapkan
dan mencuci kakiNya. Yang Mulia Rāhula bersujud kepada Beliau dan duduk di satu
sisi.
[Kitab Komentar : Rāhula adalah
putera tunggal Pangeran Siddhatta Gotama, dilahirkan pada hari yang sama ketika
ayahnya meninggalkan istana untuk mencari pencerahan. Pada usia tujuh tahun ia
ditahbiskam menjadi seorang samaṇera oleh Yang Mulia Sāriputta
pada peristiwa kunjungan pertama Sang Buddha Gotama ke Kapilavatthu setelah
pencerahanNya. Sang Buddha menyatakannya sebagai siswa terunggul di antara para
siswa yang menyukai latihan.
Peng-kurban-an Sang Buddha,
ialah peng-kurban-an “tanpa pertumpahan dasar”. Sang Buddha membimbing Rāhula, sehingga melepaskan
keduniawian maupun takhta kerajaan, setelah sang ayah terlebih dahulu meng-kurban-kan
dirinya sendiri dengan melepaskan takhta kerajaan. Kontras dengan ajaran agama samawi-abrahamik,
dimana Ibrahim mengatas-namakan peng-kurban-an, memiliki niat batin untuk
menyembelih dan “menumpahkan darah” putera kandungnya sendiri, tanpa sang ayah
sendiri bersedia untuk disembelih sebelum maupun sesudahnya.
Menurut Kitab Komentar, khotbah
ini diajarkan kepada Rāhula ketika ia berumur tujuh tahun, dengan demikian
tidak lama setelah penahbisannya. Pada Majjhima Nikāya 147, ia mencapai
Kearahantaan setelah mendengarkan khotbah dari Sang Buddha tentang pengembangan
pandangan terang.]
3. Kemudian Sang Bhagavā menyisakan sedikit air di
dalam wadah air dan bertanya kepada Yang Mulia Rāhula: “Rāhula, apakah engkau
melihat sedikit air ini dalam wadah air ini?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Demikian
pula, Rāhula, hanya sedikit pertapaan dari mereka yang tidak malu mengucapkan
kebohongan yang disengaja.”
4. Kemudian Sang Bhagavā membuang sedikit air yang
tersisa itu dan bertanya kepada Yang Mulia Rāhula: “Rāhula, apakah engkau
melihat air yang dibuang itu?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Demikian
pula, Rāhula, mereka yang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja
telah membuang pertapaan mereka.”
5. Kemudian Sang Bhagavā membalikkan wadah air itu
dan bertanya kepada Yang Mulia Rāhula: “Rāhula, apakah engkau melihat wadah air
yang dibalikkan ini?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Demikian pula, Rāhula, mereka yang tidak malu mengucapkan
kebohongan yang disengaja telah membalikkan pertapaan mereka.”
6. Kemudian Sang Bhagavā menegakkan kembali wadah
air itu dan bertanya kepada Yang Mulia Rāhula: “Rāhula, apakah engkau melihat
wadah air yang cekung ini, wadah air yang kosong ini?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Demikian
pula, Rāhula, cekung dan kosong pertapaan mereka yang tidak malu mengucapkan
kebohongan yang disengaja .”
7. “Misalkan, Rāhula, ada seekor gajah besar dengan
gading sepanjang tiang kereta, dewasa dalam posturnya, dari keturunan yang
baik, dan terbiasa dalam pertempuran. Dalam pertempuran ia akan melakukan
tugasnya dengan kaki depan dan kaki belakangnya, dengan bagian tubuh depan dan
bagian tubuh belakangnya, dengan kepala dan kupingnya, dengan gading dan ekornya,
[415] namun ia akan menyembunyikan belalainya. Kemudian penunggangnya
akan berpikir: ‘Gajah besar ini dengan gading sepanjang tiang kereta ...
melakukan tugasnya dengan kaki depan dan kaki belakangnya ... namun ia
menyembunyikan belalainya. Ia belum mempertaruhkan nyawanya.’ Tetapi ketika
gajah besar itu ... melakukan tugasnya dengan kaki depan dan kaki belakangnya,
dengan bagian tubuh depan dan bagian tubuh belakangnya, dengan kepala dan
kupingnya, dengan gading dan ekornya, dan juga dengan belalainya, maka
penunggangnya akan berpikir: ‘Gajah besar ini dengan gading sepanjang tiang
kereta ... melakukan tugasnya dengan kaki depan dan kaki belakangnya ... dan
juga dengan belalainya. Ia telah mempertaruhkan nyawanya. Sekarang
tidak ada apapun yang tidak akan dilakukan oleh gajah besar ini.’ Demikian pula, Rāhula, jika
seseorang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja, maka tidak ada kejahatan,
Aku katakan, yang tidak akan ia lakukan. Oleh karena itu, Rāhula, engkau
harus berlatih sebagai berikut: ‘Aku tidak akan mengucapkan kebohongan bahkan sebagai
suatu gurauan.’
8. “Bagaimana menurutmu, Rāhula? Apakah
gunanya cermin?”
“Untuk merefleksikan, Yang Mulia.”
“Demikian pula, Rāhula, suatu perbuatan melalui jasmani
harus dilakukan setelah direfleksikan berulang-ulang; suatu perbuatan melalui
ucapan harus dilakukan setelah direfleksikan berulang-ulang; suatu perbuatan
melalui pikiran harus dilakukan setelah direfleksikan berulang-ulang.
9. “Rāhula, ketika engkau ingin melakukan suatu perbuatan melalui
jasmani, engkau harus merefleksikan perbuatan jasmani yang sama itu sebagai
berikut: ‘Apakah perbuatan yang ingin kulakukan melalui jasmani ini mengarah
pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan keduanya?
Apakah ini adalah perbuatan jasmani dengan akibat yang menyakitkan, dengan
hasil yang menyakitkan?’ Ketika engkau merefleksikan, jika engkau mengetahui:
‘Perbuatan yang ingin kulakukan melalui jasmani ini akan mengarah pada penderitaanku,
atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan keduanya; ini adalah
perbuatan jasmani tidak bermanfaat dengan akibat yang menyakitkan, dengan hasil
yang menyakitkan,’ maka engkau tidak boleh melakukan perbuatan melalui jasmani
itu. [416] Tetapi ketika engkau merefleksikan, jika engkau mengetahui:
‘Perbuatan yang ingin kulakukan melalui jasmani ini tidak akan mengarah pada
penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan
keduanya; ini adalah perbuatan jasmani bermanfaat dengan akibat yang menyenangkan,
dengan hasil yang menyenangkan,’ maka engkau boleh melakukan perbuatan melalui
jasmani itu.
[Komentar : Perbedaan antara
paragraf di atas dan paragraf di bawah, paragraf di atas konteksnya ialah refleksi
untuk masa kedepan berupa “akan mengarah”, sehingga bila mengarah pada yang tidak bermanfaat dengan
akibat yang menyakitkan, maka “tidak boleh dilakukan”. Adapun paragraf di bawah, penekanan konteksnya
ialah “perbuatan yang sedang dilakukan”, yang bilamana perbuatan mana adalah tidak
bermanfaat dengan akibat yang menyakitkan, maka “harus dihentikan”.]
10. “Juga, Rāhula, ketika engkau sedang melakukan
suatu perbuatan melalui jasmani, engkau harus merefleksikan perbuatan jasmani
yang sama itu sebagai berikut: ‘Apakah perbuatan yang sedang kulakukan melalui
jasmani ini mengarah pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain,
atau pada penderitaan keduanya? Apakah ini adalah perbuatan jasmani dengan
akibat yang menyakitkan, dengan hasil yang menyakitkan?’ Ketika engkau
merefleksikan, jika engkau mengetahui: ‘Perbuatan yang sedang kulakukan
melalui jasmani ini mengarah pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk
lain, atau pada penderitaan keduanya; ini adalah perbuatan jasmani tidak
bermanfaat dengan akibat yang menyakitkan, dengan hasil yang menyakitkan,’ maka
engkau harus menghentikan perbuatan melalui jasmani itu. Tetapi ketika engkau
merefleksikan, jika engkau mengetahui: ‘Perbuatan yang sedang kulakukan
melalui jasmani ini tidak mengarah pada penderitaanku, atau pada penderitaan
makhluk lain, atau pada penderitaan keduanya; ini adalah perbuatan jasmani
bermanfaat dengan akibat yang menyenangkan, dengan hasil yang menyenangkan,’
maka engkau boleh melanjutkan perbuatan melalui jasmani itu.
11. “Juga, Rāhula, setelah engkau melakukan suatu
perbuatan melalui jasmani, engkau harus merefleksikan perbuatan jasmani yang
sama itu sebagai berikut: ‘Apakah perbuatan yang telah kulakukan melalui jasmani ini mengarah pada
penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan keduanya?
Apakah ini adalah perbuatan jasmani dengan akibat yang menyakitkan, dengan
hasil yang menyakitkan?’ Ketika engkau merefleksikan, jika engkau mengetahui:
‘Perbuatan yang telah kulakukan melalui jasmani ini mengarah pada penderitaanku,
atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan keduanya; ini adalah
perbuatan jasmani tidak bermanfaat dengan akibat yang menyakitkan, dengan hasil
yang menyakitkan,’ maka engkau harus mengakui perbuatan melalui jasmani itu,
mengungkapkannya, dan menceritakannya kepada guru atau temanmu yang bijaksana
dalam kehidupan suci. Setelah mengakuinya, mengungkapkannya, dan menceritakannya,
[417] engkau harus menjalani pengendalian di masa depan. Tetapi ketika engkau
merefleksikan, jika engkau mengetahui: ‘Perbuatan yang
telah kulakukan melalui jasmani ini tidak mengarah pada penderitaanku, atau pada
penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan keduanya; ini adalah perbuatan
jasmani bermanfaat dengan akibat yang menyenangkan, dengan hasil yang
menyenangkan,’ maka engkau dapat berdiam dengan bahagia dan gembira, berlatih siang
dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
[Kitab Komentar : Mengakui
perbuatan salah dan menjalankan pengendalian di masa depan, mengarah pada
perkembangan dalam disiplin Para Mulia. Baca Majjhima Nikāya 65.13
12. “Rāhula, ketika engkau ingin melakukan suatu
perbuatan melalui ucapan ... (lengkap seperti pada paragraf nomor ke-9, dengan menggantikan
“jasmani” menjadi “ucapan”) ... maka engkau boleh melakukan perbuatan
melalui ucapan itu.
13. “Juga, Rāhula, ketika engkau sedang melakukan
suatu perbuatan melalui ucapan ... (lengkap seperti pada paragraf nomor ke-10, dengan menggantikan
“jasmani” menjadi “ucapan”) [418] ... maka engkau boleh melanjutkan
perbuatan melalui ucapan itu.
14. “Juga, Rāhula, setelah engkau melakukan suatu
perbuatan melalui ucapan ... (lengkap seperti pada paragraf nomor ke-11, dengan menggantikan
“jasmani” menjadi “ucapan”) ... maka engkau dapat berdiam dengan bahagia
dan gembira, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
15. “Rāhula, ketika engkau ingin melakukan suatu
perbuatan melalui pikiran ... (lengkap seperti pada paragraf nomor ke-9, dengan
menggantikan “jasmani” menjadi “pikiran”) [419] ... maka engkau boleh melakukan
perbuatan melalui pikiran itu.
16. “Juga, Rāhula, ketika engkau sedang melakukan
suatu perbuatan melalui pikiran ... (lengkap seperti pada paragraf nomor ke-10,
dengan menggantikan “jasmani” menjadi “pikiran”) ... maka engkau boleh melanjutkan perbuatan
melalui pikiran itu.
17. “Juga, Rāhula, setelah engkau melakukan suatu
perbuatan melalui pikiran, engkau harus merefleksikan perbuatan pikiran yang
sama itu sebagai berikut: ‘Apakah perbuatan yang telah kulakukan melalui pikiran
ini mengarah pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada
penderitaan keduanya? Apakah ini adalah perbuatan pikiran dengan akibat yang
menyakitkan, dengan hasil yang menyakitkan?’ Ketika engkau merefleksikan, jika
engkau mengetahui: ‘Perbuatan yang telah kulakukan melalui pikiran ini mengarah
pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan
keduanya; ini adalah perbuatan pikiran tidak bermanfaat dengan akibat yang
menyakitkan, dengan hasil yang menyakitkan,’ maka engkau harus merasa
terpukul, malu, dan jijik oleh perbuatan pikiran itu. Setelah menjadi
terpukul, malu, dan jijik oleh perbuatan pikiran itu, engkau harus menjalani
pengendalian di masa depan. Tetapi ketika engkau merefleksikan, jika engkau
mengetahui: ‘Perbuatan yang telah kulakukan melalui pikiran ini tidak mengarah
pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan
keduanya; ini adalah perbuatan pikiran bermanfaat dengan akibat yang
menyenangkan, dengan hasil yang menyenangkan,’ maka engkau dapat berdiam dengan
bahagia dan gembira, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
[420]
[Kitab Komentar : Untuk konteks
perbuatan jasmani dan perbuatan ucapan yang buruk, “maka engkau harus
mengakui perbuatan melalui jasmani itu ... dan menceritakannya”; sementara
dalam konteks perbuatan pikiran yang buruk : “maka engkau harus merasa
terpukul, malu, dan jijik oleh perbuatan pikiran itu. Setelah menjadi terpukul,
malu, dan jijik oleh perbuatan pikiran itu”. Penggantian ini dibuat karena
pikiran-pikiran tidak bermanfaat, tidak seperti pelanggaran jasmani dan ucapan,
tidak memerlukan pengakuan sebagai cara untuk terbebas dari kesalahan. Baik
Horner maupun Bhikkhu Ñāṇamoli, tidak memasukkan variasi
ini.]
18. “Rāhula, petapa dan brahmana manapun di masa lampau yang telah
memurnikan perbuatan jasmani, perbuatan ucapan, dan perbuatan pikiran mereka,
semuanya melakukannya dengan merefleksikan berulang-ulang seperti demikian. Petapa dan brahmana manapun di
masa depan yang akan memurnikan perbuatan jasmani, perbuatan ucapan, dan
perbuatan pikiran mereka, semuanya akan melakukannya dengan merefleksikan berulang-ulang
seperti demikian. Petapa dan brahmana manapun di masa sekarang yang
memurnikan perbuatan jasmani, perbuatan ucapan, dan perbuatan pikiran mereka,
semuanya melakukannya dengan merefleksikan berulang-ulang seperti demikian. Oleh
karena itu, Rāhula, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan
memurnikan perbuatan jasmani kami, perbuatan ucapan kami, dan perbuatan pikiran
kami dengan merefleksikannya berulang-ulang.’”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Yang Mulia Rāhula merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.
