Ketika Koruptor Hendak Memakai Seragam Aparat Penegak Hukum, Menyerupai ORANG BUTA yang Hendak Menuntun para BUTAWAN Lainnya
Question : Sembari menyelam, minum air. Mungkin itulah motivasi dibalik aparatur penegak hukum pemberantas korupsi yang telah ternyata justru korupsi. Kita selaku masyarakat, patut meragukan motivasi yang bersangkutan selama ini dikenal rajin memberantas korupsi untuk men-sejahterakan rakyat, karena faktanya para “oknum” tersebut justru memperkaya dirinya sendiri lewat aktivitas “memberantas korupsi” atau berkedok “penegak hukum”. Sebenarnya itu fenomena sosial semacam apa, dan apakah yang sebetulnya sedang terjadi dengan manusia-manusia yang tidak puas telah begitu beruntung menjadi Aparatur Sipil Negara yang terjamin gajinya serta memiliki jabatan yang tidak semua orang bisa memilikinya?
Brief Answer : Tanyakanlah apa motivasi dibalik perbuatan para
aparatur tersebut, apakah murni demi belas-kasihnya kepada rakyat yang selama
ini menjadi korban kejahatan korupsi para koruptor, ataukah untuk mengambil keuntungan
dengan “memancing di air keruh”? Tidak terkecuali orang yang dari permukaan
tampak suka berderma, namun apakah betul demikian motif yang bersarang di
kepalanya, tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri. Sang Buddha pernah bersabda
dengan kutipan dialog sebagai berikut:
“Dari kelima hal itu, murid,
yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk
menyempurnakan yang bermanfaat, yang manakah dari kelima itu yang mereka
tetapkan sebagai yang Pāling berbuah bagi pelaksanaan kebajikan, untuk
menyempurnakan yang bermanfaat?”
“Dari kelima hal itu, Guru Gotama, yang ditetapkan oleh para brahmana
bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, mereka
menetapkan kedermawanan sebagai yang Pāling berbuah bagi pelaksanaan kebajikan,
untuk menyempurnakan yang bermanfaat.”
“Bagaimana menurutmu, murid? Di
sini seorang brahmana mungkin sedang mengadakan upacara pengorbanan besar, dan
dua brahmana lainnya pergi ke sana dengan pikiran untuk berpartisipasi dalam
upacara besar tersebut. Salah satu brahmana itu berpikir: ‘Oh, semoga hanya aku
yang mendapatkan tempat duduk terbaik, air terbaik, dan makanan terbaik di
ruang makan; semoga tidak ada brahmana lain yang mendapatkan tempat duduk
terbaik, air terbaik, dan makanan terbaik di ruang makan!’ Dan adalah mungkin
bahwa brahmana lainnya, bukan brahmana itu, mendapatkan tempat duduk terbaik,
air terbaik, dan makanan terbaik di ruang makan. Karena memikirkan hal ini, brahmana
pertama menjadi marah dan tidak senang. Jenis akibat apakah yang dijelaskan
oleh para brahmana untuk hal ini?”
“Guru Gotama, para brahmana tidak memberikan persembahan dengan cara itu,
dengan berpikir: ‘Semoga orang lain menjadi marah dan tidak senang karena hal
ini.’ Sebaliknya, para brahmana memberikan persembahan karena didorong oleh
belas kasih.”
“Oleh karena itu, murid,
tidakkah ini menjadi landasan ke enam para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan,
yaitu, dorongan belas kasih?”
“Oleh karena itu, Guru Gotama,
itu adalah landasan ke enam para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, yaitu,
dorongan belas kasih.”
“Kelima hal itu, murid, yang
ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan
yang bermanfaat – di manakah engkau lebih sering melihat kelima hal tersebut,
pada para perumah-tangga atau pada mereka yang meninggalkan keduniawian?”
“Kelima hal itu, Guru Gotama,
yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk
menyempurnakan yang bermanfaat, aku lebih sering melihatnya pada mereka yang
meninggalkan keduniawian, jarang terlihat pada para perumah-tangga. Karena perumah-tangga
memiliki banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak keterlibatan, dan banyak
pelaksanaan: ia tidak secara konstan dan senantiasa mengucapkan kebenaran,
mempraktikkan pertapaan, menjalani kehidupan selibat, menekuni pelajaran, atau
menekuni kedermawanan. Tetapi seseorang yang meninggalkan keduniawian memiliki
sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit keterlibatan, dan sedikit
pelaksanaan: ia secara konstan dan senantiasa mengucapkan kebenaran,
mempraktikkan pertapaan, menjalani kehidupan selibat, menekuni pelajaran, dan
menekuni kedermawanan. Demikianlah kelima hal itu, yang ditetapkan oleh para
brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, aku
lebih sering melihatnya pada mereka yang meninggalkan keduniawian, jarang terlihat
pada para perumah-tangga.”
Idealnya, setiap aparatur penegak hukum tidak terkecuali aparatur
pemberantasan korupsi, memahami bahwa mereka tidak perlu dan tidak seyogianya
bersekutu dengan kesenangan konvensional berupa pengumumpulan harta materi sebagai
sesuatu yang mereka kejar dan koleksi sepanjang hidupnya—suatu gaya berpikir
yang bersarang dalam pikiran para koruptor—akan tetapi kebahagiaan altruistik
yang menjadi motivasinya. Alangkah baiknya setiap aparatur penegak hukum dibekali
pemahaman, agar para aparatur tersebut menjadi aparatur penegak hukum yang bersih
di awal, bersih di tengah, dan bersih saat pensiun, sabda Sang Buddha berupa kutipan
sebagai berikut:
“Adalah tidak mungkin, murid, tidak dapat terjadi
api menyala tanpa bergantung pada bahan bakar seperti rumput dan kayu kecuali
dengan [pengerahan] kekuatan batin. Yang seperti api yang menyala dengan
bergantung pada bahan bakar seperti rumput dan kayu, Aku katakan, adalah
sukacita yang bergantung pada kelima utas kenikmatan indria. Yang
seperti api yang menyala tanpa bergantung pada bahan bakar seperti rumput dan
kayu, Aku katakan, adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria,
terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Dan apakah, murid, sukacita
yang terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat? Di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing
dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna
pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan
sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ini
adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari
kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan
kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua,
yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan
kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari
konsentrasi. Ini juga adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan
indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat.
“Apakah, murid, jalan menuju alam-Brahmā? Di sini
seorang bhikkhu berdiam dengan meliputi satu arah dengan
pikiran penuh cinta kasih, demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke
tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke
sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri,
ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran penuh cinta
kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Ketika kebebasan pikiran
melalui cinta kasih dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang
membatasi yang menetap di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Bagaikan
seorang peniup trompet yang kuat dapat membuat tiupannya terdengar di empat penjuru
tanpa kesulitan, demikian pula, ketika kebebasan pikiran melalui cinta kasih
dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap
di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Ini adalah jalan menuju alam-Brahmā.
“Kemudian, seorang bhikkhu berdiam dengan meliputi
satu arah dengan pikiran penuh belas kasih ... dengan
pikiran penuh kegembiraan altruistik ... dengan pikiran penuh keseimbangan, demikian pula arah ke dua,
demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas,
demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua
makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh
penjuru dunia dengan pikiran penuh keseimbangan, berlimpah, luhur, tanpa batas,
tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Ketika kebebasan pikiran melalui
keseimbangan dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi
yang menetap di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Bagaikan seorang peniup
trompet yang kuat dapat membuat tiupannya terdengar di empat penjuru tanpa
kesulitan, demikian pula, ketika kebebasan pikiran melalui keseimbangan
dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap
di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Ini juga adalah jalan menuju
alam-Brahmā.”
PEMBAHASAN:
Selengkapnya, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~ SUTTA 99 ~
Subha Sutta : Kepada Subha
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Pada saat itu murid brahmana Subha, putera Todeyya, sedang menetap di
rumah seorang perumah-tangga di Sāvatthī untuk suatu urusan. Kemudian murid
brahmana Subha, putera Todeyya, bertanya kepada si perumah-tangga yang menjadi
tuan rumahnya: “Perumah-tangga, aku mendengar bahwa Sāvatthī tidak kosong dari
para Arahant. Petapa atau brahmana manakah yang dapat kami kunjungi hari ini
untuk memberikan penghormatan?”
[Kitab Komentar : Todeyya adalah seorang brahmana
kaya, penguasa Tudigāma, sebuah desa di dekat Sāvatthī. Majjhima Nikāya 135
juga dibabarkan kepada Subha yang sama ini.]
“Tuan, Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman
Anāthapiṇḍika. Engkau boleh memberikan penghormatan kepada
Sang Bhagavā itu, Tuan.” [197]
3. Kemudian, setelah menyetujui saran si perumah-tangga, murid brahmana
Subha, putera Todeyya, mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan
Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan bertanya
kepada Sang Bhagavā:
4. “Guru Gotama, para brahmana mengatakan sebagai berikut:
‘Perumah-tangga menyempurnakan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.
Seorang yang meninggalkan keduniawian [menuju kehidupan tanpa rumah] tidak menyempurnakan
jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.’ Apakah yang Guru Gotama katakan
sehubungan dengan hal ini?”
“Murid,
Aku mengatakan hal ini setelah menganalisis; aku tidak mengatakan ini secara
sepihak. Aku tidak memuji jalan praktik yang salah baik di pihak perumah-tangga
maupun seorang yang meninggalkan keduniawian; karena apakah seorang
perumah-tangga ataupun seorang yang meninggalkan keduniawian, ia yang memasuki
jalan praktik yang salah, karena jalan praktiknya yang salah, maka ia tidak
menyempurnakan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat. Aku memuji jalan
praktek yang benar baik di pihak perumah-tangga maupun seorang yang
meninggalkan keduniawian; karena baik seorang perumah-tangga ataupun seorang
yang meninggalkan keduniawian, ia yang memasuki jalan praktik yang benar,
karena jalan praktiknya yang benar, maka ia menyempurnakan jalan yang benar,
Dhamma yang bermanfaat.”
[Kitab Komentar : Vibhajjavādo kho aham ettha,
“Aku mengatakan hal ini setelah menganalisis”. Pernyataan ini menjelaskan
sebutan belakangan dari Buddhisme sebagai vibhajjavāda, “doktrin analisis.” Seperti yang dijelaskan dalam konteks ini, Sang
Buddha menyebut dirinya sebagai seorang vibbhajjavādin, bukan karena
Beliau menganalisis segala sesuatu ke dalam unsur-unsurnya (seperti yang
dipercayai secara umum), tetapi karena Beliau membedakan implikasi yang
berbeda dari suatu pertanyaan tanpa menjawabnya secara sepihak.]
5. “Guru Gotama, para brahmana mengatakan sebagai berikut: ‘Karena
pekerjaan dalam kehidupan rumah tangga melibatkan banyak aktivitas, banyak
fungsi, banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan, maka berbuah besar. Karena
pekerjaan dari mereka yang meninggalkan keduniawian melibatkan sedikit aktivitas,
sedikit fungsi, sedikit keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan, maka berbuah
kecil.’ Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”
“Sekali
lagi, murid, Aku mengatakan hal ini setelah menganalisis; aku tidak mengatakan
ini secara sepihak. Ada pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas, banyak
fungsi, banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan, yang, jika gagal, maka
berbuah kecil. Ada pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas, banyak fungsi,
banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan, yang, jika berhasil, maka berbuah
besar. Ada pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit
keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan, yang, jika gagal, maka berbuah kecil.
Ada pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit
keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan, yang, jika berhasil, maka berbuah besar.
6. “Apakah,
[198] murid, pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas … yang, jika gagal,
maka berbuah kecil? Pertanian adalah pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas
… yang jika gagal, maka berbuah kecil. Dan apakah, murid, pekerjaan yang
melibatkan banyak aktivitas … yang, jika berhasil, maka berbuah besar?
Pertanian juga adalah pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas … yang jika
berhasil, maka berbuah besar. Dan apakah, murid, pekerjaan yang melibatkan
sedikit aktivitas … yang, jika gagal, maka berbuah kecil? Perdagangan adalah
pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … yang jika gagal, maka berbuah
kecil. Dan apakah, murid, pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … yang,
jika berhasil, maka berbuah besar? Perdagangan juga adalah pekerjaan yang
melibatkan sedikit aktivitas … yang jika berhasil, maka berbuah besar.
[Kitab Komentar : Jelas pada masa itu perdagangan
masih dalam tahap awal perkembangan. Pernyataan yang sama sulit untuk
diberlakukan pada konteks masa kini, ketika perdagangan telah melibatkan “padat
modal” maupun “padat karya”. Akan tetapi bila kita bandingkan secara
proporsional, pertanian tradisional hanya dapat diperbandingkan dengan
perdagangan tradisional yang konvensional.]
7. “Seperti
halnya pertanian, murid, yang merupakan pekerjaan yang melibatkan banyak
aktivitas … tetapi berbuah kecil jika gagal, demikian pula pekerjaan dalam
kehidupan rumah tangga melibatkan banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak
keterlibatan, dan banyak pelaksanaan, tetapi berbuah kecil jika gagal. Seperti
halnya pertanian yang merupakan pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas …
dan berbuah besar jika berhasil, demikian pula pekerjaan dalam kehidupan rumah
tangga melibatkan banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak keterlibatan, dan
banyak pelaksanaan dan berbuah besar jika berhasil. Seperti halnya perdagangan,
murid, yang merupakan pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … dan berbuah
kecil jika gagal, demikian pula pekerjaan dari mereka yang meninggalkan
keduniawian melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit keterlibatan,
dan sedikit pelaksanaan, dan berbuah kecil jika gagal. Seperti halnya
perdagangan yang merupakan pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … tetapi
berbuah besar jika berhasil, demikian pula [199] pekerjaan dari mereka yang
meninggalkan keduniawian melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit
keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan, tetapi berbuah besar jika berhasil.”
8. “Guru Gotama, para brahmana menetapkan lima hal bagi pelaksanaan
kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat.”
“Jika tidak merepotkan engkau, murid, silahkan sebutkan pada kumpulan ini
kelima hal yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk
menyempurnakan yang bermanfaat.”
“Tidak merepotkan bagiku, Guru Gotama, ketika Yang Mulia seperti Engkau
dan yang lainnya sedang duduk [dalam kumpulan ini].”
“Maka sebutkanlah, murid.”
9. “Guru Gotama, kebenaran adalah hal pertama yang ditetapkan oleh para
brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat. Pertapaan adalah hal ke dua … Kehidupan selibat adalah hal ke tiga … Belajar adalah hal ke empat … Kedermawanan adalah hal ke lima yang ditetapkan oleh para
brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat. Ini
adalah lima hal yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk
menyempurnakan yang bermanfaat. Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan
dengan hal ini?”
“Bagaimanakah, murid, di antara para brahmana adakah bahkan seorang
brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima
hal ini setelah mencapainya oleh diriku sendiri dengan pengetahuan langsung’?”
– “Tidak, Guru Gotama.”
[Kitab Komentar : Seperti pada Majjhima Nikāya 95.13,
Cankī Sutta, suatu diskusi antara Bhāradvāja dan Sang Buddha, dengan kutipan
sebagai berikut:
“Bagaimanakah, Bhāradvāja, di antara para brahmana
adakah bahkan seorang brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku
melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Bagaimanakah, Bhāradvāja, di antara para
brahmana adakah bahkan seorang guru atau guru dari para guru sampai tujuh
generasi para guru sebelumnya yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku
melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Bagaimanakah, Bhāradvāja, para petapa brahmana masa
lampau, para pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair-syair pujian,
yang syair-syair pujiannya dulu dibacakan, diucapkan, dan dihimpun, yang oleh
para brahmana sekarang masih dibacakan dan diulangi – yaitu, Aṭṭhaka, Vāmaka, Vāmadeva, Vessāmitta, Yamataggi, Angirasa, Bhāradvāja, Vāseṭṭha, Kassapa, dan Bhagu - apakah bahkan para petapa brahmana masa
lampau ini mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah’?”
– [170] “Tidak, Guru Gotama.”
“Jadi,
Bhāradvāja, sepertinya di antara para brahmana tidak ada bahkan seorang
brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini:
hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Dan di antara para brahmana
tidak ada bahkan seorang guru atau guru dari para guru sampai tujuh generasi
para guru sebelumnya yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku
melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Dan para petapa
brahmana masa lampau, para pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair
syair pujian … bahkan para petapa brahmana masa lampau ini tidak mengatakan
sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar,
yang lainnya adalah salah.’ Misalkan terdapat sebaris orang buta yang masing-masing bersentuhan
dengan yang berikutnya: orang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak
melihat, dan yang terakhir tidak melihat. Demikian pula, Bhāradvāja,
sehubungan dengan pernyataan mereka, para brahmana itu tampak seperti sebaris
orang buta itu: orang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, dan
yang terakhir tidak melihat. Bagaimana menurutmu, Bhāradvāja, oleh karena itu,
apakah keyakinan para brahmana itu terbukti tidak berdasar?”]
“Bagaimanakah,
murid, di antara para brahmana adakah bahkan seorang guru atau guru dari para
guru sampai tujuh generasi para guru sebelumnya yang mengatakan sebagai
berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh
diriku sendiri dengan pengetahuan langsung’?” – “Tidak, Guru Gotama.” [200]
“Bagaimanakah,
murid, para petapa brahmana masa lampau, para pencipta syair-syair pujian, para
penggubah syair-syair pujian, yang syair-syair pujiannya dulu dibacakan,
diucapkan, dan dihimpun, yang oleh para brahmana sekarang masih dibacakan dan
diulangi – yaitu, Aṭṭhaka, Vāmaka, Vāmadeva,
Vessāmitta, Yamataggi, Angirasa, Bhāradvāja, Vāseṭṭha, Kassapa, dan Bhagu
- apakah bahkan para petapa brahmana masa lampau ini mengatakan sebagai
berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh
diriku sendiri dengan pengetahuan langsung’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Jadi, murid, sepertinya di antara para brahmana tidak ada bahkan
seorang brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari
kelima hal ini setelah mencapainya oleh diriku sendiri dengan pengetahuan
langsung.’ Dan di antara para brahmana tidak ada bahkan seorang guru
atau guru dari para guru sampai tujuh generasi para guru sebelumnya yang mengatakan
sebagai berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya
oleh diriku sendiri dengan pengetahuan langsung.’ Dan para petapa brahmana masa
lampau, para pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair-syair pujian …
bahkan para petapa brahmana masa lampau ini tidak mengatakan sebagai
berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh
diriku sendiri dengan pengetahuan langsung.’ Misalkan terdapat sebaris orang buta
yang masing-masing bersentuhan dengan yang berikutnya: orang pertama tidak
melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat.
Demikian pula, murid, sehubungan dengan pernyataan mereka, para brahmana itu
tampak seperti sebaris orang buta itu: orang pertama tidak melihat, yang di
tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat.”
10. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Subha, putera Todeyya,
menjadi marah dan tidak senang dengan perumpamaan sebaris orang buta itu, dan
ia mencaci, menghina, dan mencela Sang Bhagavā, dengan mengatakan: “Petapa
Gotama akan dikalahkan.” Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama,
Brahmana Pokkharasāti dari suku Upamaññā, penguasa Hutan Subhaga, berkata
sebagai berikut: ‘Beberapa petapa dan brahmana di sini mengaku telah mencapai
kondisi melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya
para mulia. Tetapi apa yang mereka katakan [201] terbukti menggelikan; terbukti
hanya sekadar kata-kata, kosong dan hampa. Karena bagaimana mungkin seorang
manusia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi yang melampaui manusia,
keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia? Itu adalah
tidak mungkin.’”
[Kitab Komentar : Pernyataan tersebut pasti terjadi sebelum
Pokkharasāti menjadi seorang pengikut Sang Buddha, seperti disebutkan pada
Majjhima Nikāya 95.9.]
11. “Bagaimanakah,
murid, apakah Brahmana Pokkharasāti memahami pikiran semua petapa dan brahmana,
setelah melingkupi pikiran mereka dengan pikirannya sendiri?”
“Guru Gotama, Brahmana
Pokkharasāti bahkan tidak memahami pikiran budak perempuannya Puṇṇikā, setelah
melingkupinya dengan pikirannya sendiri, jadi bagaimana mungkin ia memahami
pikiran semua petapa dan brahmana itu?”
12. “Murid,
misalkan ada seorang yang buta sejak lahir yang tidak dapat melihat
bentuk-bentuk yang gelap dan terang, yang tidak dapat melihat bentuk-bentuk
berwarna biru, kuning, merah, atau merah muda, yang tidak dapat melihat apa
yang rata dan tidak rata, yang tidak dapat melihat bintang-bintang atau
matahari dan bulan. Ia mungkin berkata sebagai berikut: ‘Tidak ada bentuk-bentuk
yang gelap dan terang, tidak ada seorangpun yang melihat bentuk-bentuk yang
gelap dan terang; tidak ada bentuk-bentuk yang berwarna biru, kuning, merah,
atau merah muda, dan tidak ada seorangpun yang melihat bentuk-bentuk yang
berwarna biru, kuning, merah, atau merah muda tidak ada yang rata dan tidak
rata, dan tidak ada seorangpun yang melihat apa yang rata dan tidak rata; tidak
ada bintang-bintang dan tidak ada matahari dan bulan, dan tidak ada seorangpun
yang melihat bintang-bintang atau matahari dan bulan. Aku tidak mengetahui
hal-hal ini, aku tidak melihat hal-hal ini, oleh karena itu hal-hal ini tidak
ada.’ Dengan berkata demikian, murid, apakah ia mengatakan yang sebenarnya?”
“Tidak, Guru Gotama. Ada bentuk-bentuk yang gelap dan terang, dan ada orang-orang yang melihat bentuk-bentuk yang gelap
dan terang … ada bintang-bintang dan ada matahari dan bulan, dan ada orang-orang yang dapat melihat bintang-bintang atau
matahari dan bulan. [202] Dengan mengatakan, ‘Aku tidak mengetahui hal-hal
ini, aku tidak melihat hal-hal ini, oleh karena itu hal-hal ini tidak ada,’
maka ia tidak mengatakan yang sebenarnya.”
13. “Demikian
pula, murid, Brahmana Pokkharasāti adalah buta dan tidak berpenglihatan. Bahwa
ia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi yang melampaui manusia,
keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia – ini adalah
tidak mungkin. Bagaimana menurutmu, murid? Apakah yang lebih baik bagi para brahmana
kaya dari Kosala seperti Brahmana Cankī, Brahmana Tārukkha, Brahmana Pokkharasāti,
Brahmana Jāṇussoṇi, atau ayahmu, Brahmana Todeyya – bahwa pernyataan mereka
selaras dengan konvensi duniawi atau melawan konvensi duniawi?” – “Bahwa pernyataan mereka selaras dengan konvensi
duniawi, Guru Gotama.”
“Apakah yang lebih baik bagi mereka, bahwa pernyataan mereka adalah penuh
pertimbangan atau tanpa pertimbangan?” – “Penuh pertimbangan, Guru Gotama.” – “Apakah yang lebih baik
bagi mereka, bahwa mereka membuat pernyataan setelah merenungkan atau tanpa
perenungan?” – “Setelah
merenungkan, Guru Gotama.” – “Apakah
yang lebih baik bagi mereka, bahwa pernyataan yang mereka buat adalah
bermanfaat atau tidak bermanfaat?” – “Bermanfaat, Guru Gotama.”
14. “Bagaimana
menurutmu, murid? Kalau begitu, apakah pernyataan yang dibuat oleh Brahmana
Pokkharasāti selaras dengan konvensi duniawi atau melawan konvensi duniawi?” – “Pernyataannya
melawan konvensi duniawi, Guru Gotama.” – “Apakah
pernyataan itu dibuat dengan penuh pertimbangan atau tanpa pertimbangan?” – “Tanpa
pertimbangan, Guru Gotama.” – “Apakah
pernyataan itu dibuat setelah direnungkan atau tanpa perenungan?” – “Tanpa
perenungan, Guru Gotama.” – “Apakah pernyataan yang dibuat itu bermanfaat atau
tidak bermanfaat?” – “Tidak
bermanfaat, Guru Gotama.” [203]
15. “Sekarang
ada lima rintangan ini, murid. Apakah lima ini? Rintangan keinginan indria,
rintangan permusuhan, rintangan kelambanan dan ketumpulan, rintangan
kegelisahan dan penyesalan, dan rintangan keragu-raguan. Ini adalah lima
rintangan. Brahmana Pokkharasāti terhalangi, terintangi, terganjal, dan
terselubung oleh kelima rintangan ini. Bahwa ia dapat mengetahui atau melihat
atau mencapai kondisi melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan
penglihatan selayaknya para mulia – ini adalah tidak mungkin.
16. “Sekarang
ada lima utas kenikmatan indria ini, murid. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang
dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang
dikenali oleh telinga yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Bau-bauan yang
dikenali oleh hidung yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Rasa kecapan yang
dikenali oleh lidah yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Objek-objek sentuhan
yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas
kenikmatan indria. Brahmana Pokkharasāti terikat pada kelima utas kenikmatan
indria ini, tergila-gila padanya dan sepenuhnya menjalaninya; ia menikmatinya
tanpa melihat bahaya di dalamnya atau memahami jalan membebaskan diri darinya.
Bahwa ia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi melampaui manusia,
keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia – ini adalah
tidak mungkin.
17. “Bagaimana
menurutmu, murid? Yang manakah dari kedua api ini yang memiliki kobaran, warna,
dan cahaya [yang lebih baik] – api yang menyala dengan bergantung pada bahan
bakar, seperti rumput dan kayu, atau api yang menyala tanpa bergantung pada
bahan bakar, seperti rumput dan kayu?”
“Jika
memungkinkan, Guru Gotama, bagi api untuk menyala tanpa bergantung pada bahan
bakar seperti rumput dan kayu, maka api itu akan memiliki kobaran, warna, dan
cahaya [yang lebih baik].”
“Adalah
tidak mungkin, murid, tidak dapat terjadi api menyala tanpa bergantung pada
bahan bakar seperti rumput dan kayu kecuali dengan [pengerahan] kekuatan batin.
Yang seperti api yang menyala dengan bergantung pada bahan bakar seperti rumput
dan kayu, Aku katakan, adalah sukacita [204] yang bergantung pada kelima utas
kenikmatan indria. Yang seperti api yang menyala tanpa bergantung pada bahan
bakar seperti rumput dan kayu, Aku katakan, adalah sukacita yang terpisah dari
kenikmatan indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Dan apakah,
murid, sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari
kondisi-kondisi tidak bermanfaat? Di sini, dengan cukup terasing dari
kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang
bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari keterasingan. Ini adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria,
terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Kemudian, dengan menenangkan
awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam
jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari konsentrasi. Ini juga adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan
indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat.
18. “Dari
kelima hal itu, murid, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan
kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, yang manakah dari kelima itu
yang mereka tetapkan sebagai yang Pāling berbuah bagi pelaksanaan kebajikan,
untuk menyempurnakan yang bermanfaat?”
“Dari kelima hal itu, Guru Gotama, yang ditetapkan oleh para brahmana
bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, mereka
menetapkan kedermawanan sebagai yang Pāling berbuah bagi pelaksanaan kebajikan,
untuk menyempurnakan yang bermanfaat.”
19. “Bagaimana
menurutmu, murid? Di sini seorang brahmana mungkin sedang mengadakan upacara
pengorbanan besar, dan dua brahmana lainnya pergi ke sana dengan pikiran untuk
berpartisipasi dalam upacara besar tersebut. Salah satu brahmana itu berpikir:
‘Oh, semoga hanya aku yang mendapatkan tempat duduk terbaik, air terbaik, dan
makanan terbaik di ruang makan; semoga tidak ada brahmana lain yang mendapatkan
tempat duduk terbaik, air terbaik, dan makanan terbaik di ruang makan!’ Dan
adalah mungkin bahwa brahmana lainnya, bukan brahmana itu, mendapatkan tempat
duduk terbaik, air terbaik, dan makanan terbaik di ruang makan. Karena
memikirkan hal ini, [205] brahmana pertama menjadi marah dan tidak senang.
Jenis akibat apakah yang dijelaskan oleh para brahmana untuk hal ini?”
“Guru Gotama, para brahmana tidak memberikan persembahan dengan cara itu,
dengan berpikir: ‘Semoga orang lain menjadi marah dan tidak senang karena hal
ini.’ Sebaliknya, para brahmana memberikan persembahan karena didorong oleh
belas kasih.”
“Oleh
karena itu, murid, tidakkah ini menjadi landasan ke enam para brahmana bagi
pelaksanaan kebajikan, yaitu, dorongan belas kasih?”
[Komentar : Berderma ialah perbuatan lahiriah, akan
tetapi faktor kualitasnya penentunya terletak pada niat batin sang pelaku,
apakah murni demi belas kasih ataukah untuk kemasyuran.]
“Oleh
karena itu, Guru Gotama, itu adalah landasan ke enam para brahmana bagi
pelaksanaan kebajikan, yaitu, dorongan belas kasih.”
20. “Kelima
hal itu, murid, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan,
untuk menyempurnakan yang bermanfaat – di manakah engkau lebih sering melihat
kelima hal tersebut, pada para perumah-tangga atau pada mereka yang
meninggalkan keduniawian?”
“Kelima
hal itu, Guru Gotama, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan
kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, aku lebih sering melihatnya
pada mereka yang meninggalkan keduniawian, jarang terlihat pada para
perumah-tangga. Karena perumah-tangga memiliki banyak aktivitas, banyak fungsi,
banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan: ia tidak secara konstan dan
senantiasa mengucapkan kebenaran, mempraktikkan pertapaan, menjalani kehidupan
selibat, menekuni pelajaran, atau menekuni kedermawanan. Tetapi seseorang yang
meninggalkan keduniawian memiliki sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit
keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan: ia secara konstan dan senantiasa
mengucapkan kebenaran, mempraktikkan pertapaan, menjalani kehidupan selibat,
menekuni pelajaran, dan menekuni kedermawanan. Demikianlah kelima hal itu, yang
ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan
yang bermanfaat, aku lebih sering melihatnya pada mereka yang meninggalkan
keduniawian, jarang terlihat pada para perumah-tangga.”
21. “Kelima hal itu, murid, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi
pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, [206] Aku
menyebutnya sebagai perlengkapan pikiran, yaitu, untuk mengembangkan pikiran
yang tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Di sini, murid, seorang bhikkhu
adalah seorang yang mengatakan kebenaran. Dengan berpikir, ‘Aku adalah seorang
yang mengatakan kebenaran,’ ia mendapatkan inspirasi dalam makna, mendapatkan
inspirasi dalam Dhamma, mendapatkan kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma.
Adalah
kegembiraan yang berhubungan dengan yang bermanfaat itu yang Kusebut sebagai
perlengkapan pikiran. Di sini, murid, seorang bhikkhu adalah seorang petapa … seorang yang
menjalani kehidupan selibat … seorang yang menekuni pelajaran … seorang yang
menekuni kedermawanan. Dengan berpikir, ‘Aku adalah seorang yang menekuni kedermawanan,’
ia mendapatkan inspirasi dalam makna, mendapatkan inspirasi dalam Dhamma,
mendapatkan kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Adalah kegembiraan yang
berhubungan dengan yang bermanfaat itu yang Kusebut sebagai perlengkapan
pikiran.
Demikianlah Kelima hal itu yang ditetapkan oleh para brahmana bagi
pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, Aku
menyebutnya sebagai perlengkapan pikiran, yaitu, untuk mengembangkan pikiran
yang tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.”
22. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Subha, putera Todeyya,
berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, aku telah mendengar bahwa Petapa
Gotama mengetahui jalan menuju alam-Brahma.”
“Bagaimana menurutmu, murid? Apakah desa Naḷakāra dekat dari sini, tidak jauh dari sini?”
“Ya, Tuan, desa Naḷakāra dekat dari sini, tidak jauh dari sini.”
“Bagaimana
menurutmu, murid? Misalkan ada seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di desa
Naḷakāra, dan segera
setelah ia meninggalkan Naḷakāra mereka menanyakan
kepadanya tentang jalan menuju desa itu. Apakah orang itu akan lambat atau
ragu-ragu dalam menjawabnya?”
“Tidak,
Guru Gotama. Mengapakah? Karena orang itu dilahirkan dan dibesarkan di Naḷakāra, dan mengenal
dengan baik semua jalan menuju desa itu.”
“Bagaimanapun
juga, seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di desa Naḷakāra [207] mungkin
saja lambat atau ragu-ragu dalam menjawab ketika ditanya tentang jalan menuju desa
itu, tetapi seorang Tathāgata, ketika ditanya tentang alam-Brahma atau jalan
menuju alam-Brahma, tidak akan pernah lambat atau ragu-ragu dalam menjawab. Aku
memahami Brahmā, murid, dan Aku memahami alam-Brahma, dan Aku memahami jalan
menuju alam-Brahma, dan Aku memahami bagaimana seseorang berlatih agar muncul
kembali di alam-Brahma.”
[Kitab Komentar : Pengetahuan ini berhubungan dengan
kekuatan Sang Tathāgata yang ke tiga, mengetahui jalan-jalan menuju segala alam
tujuan kelahiran. Baca Majjhima Nikāya 12.12.]
23. “Guru Gotama, aku telah mendengar bahwa Petapa Gotama mengajarkan
jalan menuju alam Brahma. Baik
sekali jika Guru Gotama sudi mengajarkan kepadaku jalan menuju alam-Brahmā.”
“Maka, murid, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”
“Baik, Tuan,” ia menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
24. “Apakah,
murid, jalan menuju alam-Brahmā? Di sini seorang bhikkhu berdiam dengan
meliputi satu arah dengan pikiran penuh cinta kasih, demikian pula arah ke dua,
demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas,
demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua
makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh
penjuru dunia dengan pikiran penuh cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas,
tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Ketika kebebasan pikiran melalui cinta
kasih dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang
menetap di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Bagaikan seorang peniup
trompet yang kuat dapat membuat tiupannya terdengar di empat penjuru tanpa
kesulitan, demikian pula, ketika kebebasan pikiran melalui cinta kasih
dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap
di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Ini adalah jalan menuju alam-Brahmā.
[Kitab Komentar menjelaskan perbuatan yang membatasi
(pamāṇakataṁ kammaṁ) sebagai kamma yang berhubungan dengan alam
indria (kāmāvacara). Ini berlawanan dengan perbuatan tanpa batas atau
perbuatan tidak terukur, yaitu, jhāna-jhāna yang berhubungan dengan alam
bermateri-halus atau alam tanpa-materi. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah brahmavihāra
yang dikembangkan hingga tingkat-tingkat jhāna.
Ketika jhāna yang berhubungan dengan alam
bermateri-halus atau alam tanpa-materi dicapai dan dikuasai, kamma yang
berhubungan dengan alam indria tidak dapat mengalahkannya dan tidak dapat
memperoleh kesempatan untuk menghasilkan akibatnya. Sebaliknya, kamma
yang berhubungan dengan alam bermateri-halus atau alam tanpa-materi mengalahkan
kamma alam-indria dan menghasilkan akibatnya. Dengan menghalangi akibat
dari kamma alam-indria, brahmavihāra yang telah dikuasai menuntun
menuju kelahiran kembali di alam Brahmā.]
25-27. “Kemudian,
seorang bhikkhu berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh belas
kasih ... dengan pikiran penuh kegembiraan altruistik ... dengan pikiran penuh
keseimbangan, demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian
pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan
ke segala arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia
berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran penuh
keseimbangan, berlimpah, luhur, [208] tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa
permusuhan. Ketika kebebasan pikiran melalui keseimbangan dikembangkan dengan
cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap di sana, tidak ada
yang bertahan di sana. Bagaikan seorang peniup trompet yang kuat dapat membuat
tiupannya terdengar di empat penjuru tanpa kesulitan, demikian pula, ketika
kebebasan pikiran melalui keseimbangan dikembangkan dengan cara ini, tidak ada
perbuatan yang membatasi yang menetap di sana, tidak ada yang bertahan di sana.
Ini juga adalah jalan menuju alam-Brahmā.”
28. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Subha, putera Todeyya,
berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru
Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah
Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi,
menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan
agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku
berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Saṅgha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang
umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.
29. “Dan sekarang, Guru Gotama, kami pergi. Kami sibuk dan banyak yang
harus dilakukan.”
“Silahkan engkau pergi, murid.”
Kemudian murid brahmana Subha, putera Todeyya, setelah merasa senang dan
gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, dan setelah
bersujud kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau tetap di sisi kanannya, ia pergi.
30. Pada saat itu Brahmana Jāṇussoṇi sedang berkendara keluar dari Sāvatthī di siang
hari dengan mengendarai kereta yang seluruhnya berwarna putih yang ditarik oleh
kuda-kuda betina putih. Dari kejauhan ia melihat kedatangan si murid brahmana Subha,
putera Todeyya dan bertanya kepadanya: “Dari manakah Guru Bhāradvāja datang di
siang hari ini?”
[Kitab Komentar : Kisah Brahmana Jāṇussoṇi sedang berkendara keluar dari Sāvatthī, selengkapnya
dapat ditemukan dalam Majjhima Nikāya 27.2, Cūḷahatthipadopama Sutta.]
“Tuan, aku datang dari hadapan Petapa Gotama.”
“Bagaimanakah
menurut Guru Bhāradvāja sehubungan dengan kecemerlangan kebijaksanaan Petapa
Gotama? Apakah Beliau bijaksana atau tidak?” [209]
“Tuan, Siapakah aku yang dapat mengetahui kecemerlangan kebijaksanaan
Petapa Gotama? Hanya
seorang yang setara dengan Beliau yang dapat mengetahui kecemerlangan
kebijaksanaan Petapa Gotama.”
[Komentar : Hanya mereka yang moralitas / tingkat
kesuciannya lebih tinggi atau setara, yang dapat membuat penilaian atas
moralitas orang lain yang juga setara atau lebih rendah, namun tidak pernah
dapat terjadi sebaliknya.]
“Guru Bhāradvāja memuji Petapa Gotama dengan sangat tinggi.”
“Tuan,
siapakah aku yang dapat memuji Petapa Gotama? Petapa Gotama dipuji oleh pujian
sebagai yang terbaik di antara para dewa dan manusia. Tuan, kelima hal itu yang ditetapkan oleh para
brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat,
Petapa Gotama menyebutnya sebagai perlengkapan pikiran, yaitu, untuk
mengembangkan pikiran yang tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.”
31. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Jāṇussoṇi turun dari kereta putihnya yang ditarik oleh
kuda-kuda betina putih, dan merapikan jubah atasnya di salah satu bahunya, ia
merangkapkan tangannya sebagai penghormatan ke arah Sang Bhagavā dan mengucapkan
seruan ini: “Suatu
keuntungan bagi Raja Pasenadi dari Kosala, sungguh suatu keuntungan besar bagi
Raja Pasenadi dari Kosala bahwa Sang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna, menetap di kerajaannya.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR
dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.
