Mengapa Aktivis maupun Akademisi Bisa Menjelma menjadi Koruptor yang Melakukan Korupsi?

Ketika Seseorang Tidak Terlatih dalam Menjaga Pikirannya dari Noda-Noda yang Mengeruhkan Pikiran, Tidak Menjaganya agar Tidak Tumbuh-Liar, dan Tidak Terampil dalam Mengawasi Pikirannya Sendiri, maka “Māra si Jahat” akan Berkuasa Atas Dirinya

Manusia Dewasa Bisa Lebih Dungu daripada seorang Bayi yang Lembut yang Berbaring Telungkup

Sudah sejak lama, alias bukanlah sebentuk fenomena sosial baru, kalangan akademisi ketika diberi kedudukan, jabatan, dan kekuasaan, dari semula idealis, menjelma korup. Begitupula kalangan aktivis, semula idealis dan tampak (seakan) “siap mati membela rakyat-jelata” dari penguasa yang zolim, akan tetapi ketika menjelma elit-politik dengan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan di pemerintahan yang dahulu mereka kritik dan demo, idealisme mereka luntur menjelma kaum pragmatis sebelum kemudian berakhir tragis : ditangkap aparatur penegak hukum karena kasus korupsi.

Sebenarnya itu bukanalah “kutukan”, meski polanya selalu berulang dari era zaman Orde Lama, Orde Baru, maupun era Reformasi yang sudah berlangsung selama beberapa jilid lamanya. Masalahnya ialah ketika seseorang meremehkan kekotoran-batin yang bersarang dalam diri kita masing-masing, bahkan menantang kekotoran-batin tersebut sekalipun belum terlatih dalam disiplin-diri yang ketat bernama “self-control”, hampir selalu dapat dipastikan kita akan kalah dan bertekuk-lutut di hadapan kekotoran-batin kita sendiri. Terbukti, mereka tidak / belum “terampil dalam apa yang bermanfaat”, serta tidaklah “sempurna dalam apa yang bermanfaat”.

Mungkin, saat masih dalam tahap kampanye, seorang calon Kepala Daerah betul idealis adanya, dengan lantang mengumandangkan kepada calon pemilihnya : “Siap divonis mati hukuman gantung, bila saya terbukti korupsi kelak saat menjabat!”, namun ia tidak realistis, karena faktanya ia tidak terlatih dalam “self-control”—overestimated dirinya sendiri—alhasil ia akan berakhir tragis akibat meremehkan kekotoran-batinnya sendiri dengan menantang kekotoran-batin yang masih bersarang-erat dalam diri yang bersangkutan.

Sepanjang belum ada kesempatan untuk “aji mumpung”, wajar bila kejahatan ataupun niat jahat tidak muncul. Ketika hadir kesempatan di hadapannya ketika telah berkuasa dan memegang kekuasaan, maka “tends to corrupt”. Pertama-pertama, ia akan mengalami “gegar keadaan” (culture shock), bahwa ia kini bisa meraup banyak uang dengan menyalah-gunakan kekuasaannya. Dari semual warga-sipil biasa, menjelma penguasa. Pikirannya pun mulai liar, tidak “under-control”, sementara itu “pikiran adalah pelopor”. Tanpa ia sadari, ia telah takluk persis di hadapan kekotoran-batinnya sendiri, akibat ia remehkan dan abaikan. Ia takluk, bukan menaklukkannya, akan tetapi ditaklukkan oleh kekotoran-batinnya sendiri. Sang Buddha pernah bersabda dengan kutipan sebagai berikut:

Kalau begitu, Tukang kayu, maka seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup adalah terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, menurut pernyataan Pengembara Uggāhamāna. Karena seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘jasmani,’ jadi bagaimana ia melakukan perbuatan buruk jasmani yang lebih dari sekadar menggeliat? Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘ucapan,’ jadi bagaimana ia mengucapkan ucapan buruk yang lebih dari sekedar rengekan? Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘kehendak,’ jadi bagaimana ia memiliki kehendak buruk yang lebih dari sekedar merajuk? Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘penghidupan,’ jadi bagaimana [25] ia bagaimana melakukan penghidupan buruk yang lebih dari sekedar menyusu pada dada ibunya? Kalau begitu, Tukang kayu, maka seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup adalah terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, menurut pernyataan Pengembara Uggāhamāna.

“Ketika seseorang memiliki empat kualitas, Kugambarkan ia bukan sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, bukan sempurna dalam apa yang bermanfaat, dan bukan seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, tetapi sebagai seseorang yang berada dalam kelompok yang sama dengan bayi lembut yang berbaring telungkup itu. Apakah empat ini? Di sini ia tidak melakukan perbuatan buruk jasmani, ia tidak mengucapkan ucapan buruk, ia tidak memiliki kehendak yang buruk, dan ia tidak mencari penghidupan melalui jenis penghidupan yang buruk yang manapun. Ketika seseorang memiliki empat kualitas, Kugambarkan ia bukan sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, bukan sempurna dalam apa yang bermanfaat, dan bukan seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, tetapi sebagai seseorang yang berada dalam kelompok yang sama dengan bayi lembut yang berbaring telungkup itu.”

Untuk selengkapnya, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 78

Samaamaṇḍikā Sutta : Samaamaṇḍikāputta

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Pengembara Uggāhamāna Samaamaṇḍikāputta sedang menetap di Taman Mallikā, di aula tunggal kebun Tinduka untuk perdebatan filosofis, [23] bersama dengan sejumlah besar para pengembara, berjumlah tiga ratus pengembara.

[Kitab Komentar : Taman itu dibangun oleh Ratu Mallikā, istri Raja Pasenadi dari Kosala, dan diperindah dengan pohon bunga-bungaan dan buah-buahan. Pada awalnya, hanya satu aula dibangun, yang menjelaskan asal namanya, tetapi setelah itu banyak aula dibangun. Banyak para brahmana dan pengembara berkumpul di sini untuk menjelaskan dan mendiskusikan ajaran-ajaran mereka.]

2. Tukang kayu Pañcakanga keluar dari Sāvatthī pada suatu siang hari untuk menemui Sang Bhagavā. Kemudian ia berpikir: “Bukan waktu yang tepat untuk menemui Sang Bhagavā; Beliau masih bermeditasi. Dan bukan waktu yang tepat untuk menemui para bhikkhu yang layak dihormati; mereka masih bermeditasi. Bagaimana jika aku pergi ke Taman Mallikā, mengunjungi Pengembara Uggāhamāna Samaamaṇḍikāputta?” Dan ia pergi ke Taman Mallikā.

3. Pada saat itu Pengembara Uggāhamāna sedang duduk bersama dengan sejumlah besar para pengembara yang sangat gaduh, ribut dan berisik membicarakan berbagai jenis pembicaraan tanpa arah. Seperti pembicaraan tentang raja-raja, para perampok, para menteri, bala tentara, bahaya, peperangan, makanan, minuman, pakaian, tempat tidur, kalung bunga, wangi-wangian, sanak saudara, kendaraan, desa-desa, pemukiman-pemukiman, kota-kota, negeri-negeri, para perempuan, para pahlawan, jalan-jalan, sumur, orang mati, hal-hal remeh, asal-mula dunia, asal-mula lautan, apakah hal-hal adalah seperti ini atau tidak seperti ini.

[Kitab Komentar : Tiracchānakathā, pembicaraan tanpa arah. Banyak penerjemah menerjemahkan kata ini sebagai “percakapan binatang.” Akan tetapi, tiracchāna secara literal berarti “berjalan secara horizontal,” dan walaupun kata ini digunakan sebagai sebutan bagi binatang, namun Kitab Komentar menjelaskan bahwa dalam konteks sekarang ini berarti percakapan yang berjalan “secara horizontal” atau “tegak lurus” terhadap jalan menuju alam surga atau kebebasan.]

Kemudian Pengembara Uggāhamāna Samaamaṇḍikāputta dari jauh melihat kedatangan si tukang kayu Pañcakanga. Melihatnya, ia menenangkan kelompoknya sebagai berikut:

“Tuan-tuan, diamlah, jangan berisik. Telah datang si tukang kayu Pañcakanga, seorang siswa Petapa Gotama, salah satu umat awam berpakaian putih dari Petapa Gotama yang menetap di Sāvatthī. Para Mulia ini menyukai ketenangan dan menghargai ketenangan. Mungkin jika ia melihat kelompok kita yang tenang, ia akan berpikir untuk bergabung dengan kita.” Kemudian para pengembara itu menjadi diam.

4. Si tukang kayu Pañcakanga mendatangi Pengembara Uggāhamāna dan saling bertukar sapa dengannya. [24] Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi. Kemudian Pengembara Uggāhamāna berkata kepadanya:

5. “Tukang kayu, ketika seseorang memiliki empat kualitas, kugambarkan ia sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi. Apakah empat ini? Di sini ia tidak melakukan perbuatan buruk jasmani, ia tidak mengucapkan ucapan buruk, ia tidak memiliki kehendak yang buruk, dan ia tidak mencari penghidupan melalui jenis penghidupan yang buruk yang manapun. Ketika seseorang memiliki empat kualitas, kugambarkan ia sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi.”

6. Kemudian si tukang kayu Pañcakanga tidak menyetujui juga tidak membantah kata-kata Pengembara Uggāhamāna. Dengan tidak melakukan salah satunya ia bangkit dari duduknya dan pergi, dengan berpikir: “aku akan mempelajari makna dari pernyataan ini di hadapan Sang Bhagavā.”

7. Kemudian ia mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan melaporkan kepada Sang Bhagavā seluruh pembicaraannya dengan Pengembara Uggāhamāna. Kemudian Sang Bhagavā berkata:

8. “Kalau begitu, Tukang kayu, maka seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup adalah terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, menurut pernyataan Pengembara Uggāhamāna. Karena seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘jasmani,’ jadi bagaimana ia melakukan perbuatan buruk jasmani yang lebih dari sekadar menggeliat? Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘ucapan,’ jadi bagaimana ia mengucapkan ucapan buruk yang lebih dari sekedar rengekan? Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘kehendak,’ jadi bagaimana ia memiliki kehendak buruk yang lebih dari sekedar merajuk? Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘penghidupan,’ jadi bagaimana [25] ia bagaimana melakukan penghidupan buruk yang lebih dari sekedar menyusu pada dada ibunya? Kalau begitu, Tukang kayu, maka seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup adalah terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, menurut pernyataan Pengembara Uggāhamāna.

Ketika seseorang memiliki empat kualitas, Kugambarkan ia bukan sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, bukan sempurna dalam apa yang bermanfaat, dan bukan seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, tetapi sebagai seseorang yang berada dalam kelompok yang sama dengan bayi lembut yang berbaring telungkup itu. Apakah empat ini? Di sini ia tidak melakukan perbuatan buruk jasmani, ia tidak mengucapkan ucapan buruk, ia tidak memiliki kehendak yang buruk, dan ia tidak mencari penghidupan melalui jenis penghidupan yang buruk yang manapun. Ketika seseorang memiliki empat kualitas, Kugambarkan ia bukan sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, bukan sempurna dalam apa yang bermanfaat, dan bukan seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, tetapi sebagai seseorang yang berada dalam kelompok yang sama dengan bayi lembut yang berbaring telungkup itu.

9. “Ketika seseorang memiliki sepuluh kualitas, Tukang kayu, Kugambarkan ia sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi. [Tetapi pertama-tama] Aku katakan, harus dipahami bahwa: ‘Ini adalah kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat,’ dan bahwa: ‘Kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat berasal-mula dari ini,’ dan bahwa: ‘Kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa di sini,’ dan bahwa: ‘Seorang yang mempraktikkan jalan ini berarti mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat.’ Dan Aku katakan, harus dipahami bahwa: ‘Ini adalah kebiasaan-kebiasaan bermanfaat,’ dan bahwa: ‘Kebiasaan-kebiasaan bermanfaat berasal-mula dari ini,’ dan bahwa: ‘Kebiasaan-kebiasaan bermanfaat lenyap tanpa sisa di sini,’ dan bahwa: ‘Seorang yang mempraktikkan jalan ini berarti mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan bermanfaat.’ Dan Aku katakan, harus dipahami bahwa: ‘Ini adalah kehendak-kehendak tidak bermanfaat,’ dan bahwa: ‘Kehendak-kehendak tidak bermanfaat berasal-mula dari ini,’ [26] dan bahwa: ‘Kehendak-kehendak tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa di sini,’ dan bahwa: ‘Seorang yang mempraktikkan jalan ini berarti mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak tidak bermanfaat.’ Dan Aku katakan, harus dipahami bahwa: ‘Ini adalah kehendak-kehendak bermanfaat,’ dan bahwa: ‘Kehendak-kehendak bermanfaat berasal-mula dari ini,’ dan bahwa: ‘Kehendak-kehendak bermanfaat lenyap tanpa sisa di sini,’ dan bahwa: ‘Seorang yang mempraktikkan jalan ini berarti mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak bermanfaat.’

[Kitab Komentar : Pertama-tama Sang Buddha menunjukkan bidang Arahant, seorang yang melampaui latihan (yaitu, dengan menyebutkan sepuluh kualitas), kemudian Beliau menjelaskan garis besar yang berlaku untuk sekha, siswa dalam latihan yang lebih tinggi. Kata yang diterjemahkan sebagai “kebiasaan-kebiasaan” adalah sīla, yang dalam beberapa konteks dapat bermakna lebih luas daripada “moralitas.”]

10. “Apakah kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat ini? Yaitu perbuatan jasmani yang tidak bermanfaat, perbuatan ucapan yang tidak bermanfaat, dan penghidupan yang buruk. Ini disebut kebiasaan-kebiasaan yang tidak bermanfaat.

Dan dari manakah kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat ini berasal-mula? Asal-mulanya disebutkan: kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat ini harus dikatakan berasal-mula dari pikiran. Pikiran apakah? Walaupun pikiran ada banyak, bervariasi, dan terdiri dari banyak aspek, namun ada pikiran yang terpengaruh oleh nafsu, oleh kebencian, dan oleh delusi. Kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat berasal-mula dari ini.

Dan di manakah kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat ini lenyap tanpa sisa? Lenyapnya disebutkan: di sini seorang bhikkhu meninggalkan perbuatan salah jasmani dan mengembangkan perbuatan baik jasmani, ia meninggalkan perbuatan salah ucapan dan mengembangkan perbuatan baik ucapan; ia meninggalkan perbuatan salah pikiran dan mengembangkan perbuatan baik pikiran; ia meninggalkan penghidupan salah dan mencari nafkah melalui penghidupan benar. Adalah di sini kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat itu lenyap tanpa sisa.

[Kitab Komentar menjelaskan bahwa ini merujuk pada buah “memasuki-arus”, karena pada titik ini moralitas pengendalian melalui Pātimokkha terpenuhi (dan, bagi seorang umat awam Buddhis, pelaksanaan Lima Sīla). Kitab Komentar juga menjelaskan paragraf berikutnya dengan merujuk pada jalan dan buah lokuttara lainnya. Walaupun teks sutta tidak secara langsung menyebutkan pencapaian-pencapaian ini, namun interpretasi komentar sepertinya dapat dibenarkan dengan frasa “lenyap tanpa sisa” (aparisesā nirujjhanti), karena hanya dengan pencapaian jalan dan buah itu berturut-turut maka lenyapnya kekotoran tertentu sepenuhnya dapat terjadi. Pandangan komentar lebih jauh lagi didukung oleh puncak keseluruhan khotbah ini dalam sosok seorang Arahant.]

Dan bagaimanakah ia mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat? Di sini seorang bhikkhu membangkitkan kemauan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan kemauan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan kemauan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan kemauan untuk mempertahankan kelangsungan, ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan, dan memenuhi dengan pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. [27] Seorang yang berlatih demikian mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat.

[Kitab Komentar : Sejauh jalan “memasuki-arus”, ia dikatakan mempraktikkan pelenyapannya; ketika ia telah mencapai buah “memasuki-arus”, kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat itu dikatakan telah lenyap.]

11. “Apakah kebiasaan-kebiasaan bermanfaat ini? Yaitu perbuatan jasmani yang bermanfaat, perbuatan ucapan yang bermanfaat, dan pemurnian penghidupan. Ini disebut kebiasaan-kebiasaan yang bermanfaat.

Dan dari manakah kebisaaan-kebiasaan bermanfaat ini berasal-mula? Asal-mulanya disebutkan: kebiasaan-kebiasaan bermanfaat ini harus dikatakan berasal-mula dari pikiran. Pikiran apakah? Walaupun pikiran ada banyak, bervariasi, dan terdiri dari banyak aspek, namun ada pikiran yang tidak terpengaruh oleh nafsu, oleh kebencian, dan oleh delusi. Kebiasaan-kebiasaan bermanfaat berasal-mula dari ini.

Dan di manakah kebiasaan-kebiasaan bermanfaat ini lenyap tanpa sisa? Lenyapnya disebutkan: di sini seorang bhikkhu bermoral, tetapi ia tidak mengidentifikasikan diri dengan moralitasnya, dan ia memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan itu di mana kebiasaan-kebiasaan bermanfaat itu lenyap tanpa sisa.

[Kitab Komentar : Paragraf di atas menunjukkan Arahant, yang mempertahankan perilaku bermoral tetapi tidak mengidentifikasikan diri dengan moralitasnya dengan menganggapnya sebagai “aku” dan “milikku.” Karena kebiasaan-kebiasaan bermoral seorang Arahant tidak lagi menghasilkan kamma, maka kebiasaan-kebiasaan itu tidak dapat digambarkan sebagai “bermanfaat.”]

Dan bagaimanakah ia mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan bermanfaat? Di sini seorang bhikkhu membangkitkan kemauan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul … untuk mempertahankan kelangsungan, ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan, dan memenuhi dengan pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Seorang yang berlatih demikian mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan bermanfaat.

[Kitab Komentar : Sejauh jalan Kearahantaan, ia dikatakan mempraktikkan pelenyapannya; ketika ia telah mencapai buah Kearahantaan, kebiasaan-kebiasaan bermanfaat itu dikatakan telah lenyap, termasuk lenyapnya penjelmaan-baru dengan tidak lagi terlahir-kembali di alam manapun.]

12. “Dan apakah kehendak-kehendak tidak bermanfaat? Yaitu kehendak keinginan indria, kehendak permusuhan, dan kehendak kekejaman. Ini disebut kehendak-kehendak tidak bermanfaat.

Dan dari manakah kehendak-kehendak tidak bermanfaat ini berasal-mula? Asal-mulanya disebutkan: kehendak-kehendak tidak bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi. Persepsi apakah? Walaupun persepsi ada banyak, bervariasi, dan terdiri dari banyak aspek, namun ada persepsi keinginan indria, persepsi permusuhan, dan persepsi kekejaman. Kehendak-kehendak tidak bermanfaat berasal-mula dari ini.

[Kitab Komentar : Perihal “persepsi”, Bhikkhu Ñāamoli menerjemahkan papañca sebagai “keberagaman” . Akan tetapi, sepertinya persoalan utama yang ditunjukkan dengan kata papañca bukanlah “keberagaman,” yang mungkin cukup sesuai jika bidang indria itu sendiri memperlihatkan keragaman akibat faktor subjektivitas seseorang yang melihat, mendengar, ataupun merasakan, tetapi kecenderungan imajinasi kaum duniawi untuk meledak dalam pencurahan komentar pikiran yang menghalangi pengenalan data.

Bhiikhu Ñāananda menjelaskan papañca sebagai “proliferasi konseptual,” dan penerjemah mengikutinya dengan menggantikan “keberagaman” dari Bhikkhu Ñāamoli menjadi “proliferasi.” Kitab Komentar mengidentifikasikan timbulnya proliferasi ini sebagai tiga faktor – ketagihan, keangkuhan, dan pandangan – yang karenanya pikiran menjadi “membubuhi” pengalaman dengan menginterpretasikannya dengan sebutan “milikku,” “aku,” dan “diriku.” Karenanya, pengalaman seseorang dapat begitu personal akibat subjektivitas.

Papañca dengan demikian adalah berhubungan dekat dengan maññanā, “menganggap”. Kata Pali “menganggap” (maññati), yang berasal dari akar kata man, “berpikir”, sering digunakan dalam sutta-sutta Pali untuk mengartikan pemikiran-pemikiran yang menyimpang – pikiran yang berasal dari karakteristik objek dan suatu pemahaman yang diturunkan bukan dari objek itu sendiri, melainkan dari imajinasi subjektif seseorang yang melihat, mendengar, ataupun merasakan.

Penyimpangan kognitif yang diusulkan oleh “menganggap” terdiri dari, secara singkat, pemaksaan dari perspektif egosentris ke dalam pengalaman yang telah sedikit menyimpang oleh persepsi spontan. Menurut Kitab Komentar, aktivitas “menganggap” diatur oleh tiga kekotoran, yang muncul dalam berbagai cara manifestasinya – keinginan (taha), keangkuhan (māna), dan pandangan (diṭṭhi).

Penerjemah lain menuliskan contoh ilustrasi demikian, sebagai berikut : “Setelah melihat tanah dengan persepsi menyimpang, orang biasa kemudian menganggapnya – menafsirkan atau menilainya – melalui kecenderungan-kecenderungan berproliferasi yang kasar (papañca) dari ketagihan, keangkuhan, dan pandangan, yang disebut ‘anggapan’ … Ia memahaminya dalam beragam cara yang bertolak-belakang [dengan kenyataan].”

Empat cara menganggap (maññanā). Sang Buddha menunjukkan bahwa “anggapan” atas objek apapun dapat terjadi dalam salah satu dari empat cara, diungkapkan oleh teks sebagai empat pola linguistik: akusatif, lokatif, ablatif, dan peruntukan. Makna utama dari pola ini – yang juga tersamar dalam Pali – sepertinya filosofis.

Penerjemah menganggap pola itu menunjukkan beragam cara yang mana seorang biasa mencoba memberikan makna positif pada makna keegoan yang ia bayangkan dengan memposisikan, di bawah ambang bayangan, suatu hubungan antara dirinya sebagai subjek kognisi dan fenomena yang dilihat sebagai objek. Menurut empat pola yang diberikan, hubungan ini dapat berupa salah satu dari identifikasi langsung (“ia melihat X”), atau yang mendasari (“ia membayangkan di dalam X”), atau perbedaan atau turunan (“ia membayangkan dari X”), atau hanya sekadar peruntukan (“ia menganggap X sebagai ‘milikku’”).

Tetapi hati-hati dalam menginterpretasikan frasa-frasa ini. Pali tidak menyediakan objek langsung bagi cara ke dua dan ke tiga, dan ini menyiratkan bahwa proses “penganggapan” berlangsung dari tingkat yang lebih dalam dan lebih umum daripada yang terlibat dalam pembentukan pandangan diri secara eksplisit, seperti yang dijelaskan misalnya pada Majjhima Nikāya 2.8 atau Majjhima Nikāya 44.7.

Dengan demikian aktivitas “penganggapan” sepertinya terdiri dari keseluruhan wilayah kognisi yang diwarnai secara subjektif, dari impuls dan pikiran yang mana makna identitas pribadi masih belum lengkap untuk menjelaskan struktur intelektual yang telah dijelaskan secara lengkap.

Akan tetapi penerjemah lain, memahami objek “anggapan” implisit sebagai persepsi itu sendiri, dan karena itu menerjemahkan: “setelah mempersepsikan tanah dari tanah, ia menganggap [itu sebagai] tanah, ia menganggap [itu sebagai] di dalam tanah, ia menganggap [itu terpisah] dari tanah,” dan seterusnya. Frasa ke lima, “ia bersenang di dalam X,” secara eksplisit menghubungkan “penganggapan” dengan keinginan, yang mana di tempat lain dikatakan “bergembira di sana-sini.” Hal ini, lebih jauh lagi, menyiratkan bahaya dalam proses pemikiran kaum duniawi, karena ketagihan dikatakan oleh Sang Buddha sebagai asal-mula penderitaan.

Terdapat banyak contoh kasus yang mengilustrasikan segala jenis “penganggapan” yang berbeda, dan ini jelas menegaskan bahwa objek “penganggapan” yang dimaksudkan adalah makna egoistis yang keliru.

Kata majemuk papañca-saññā-sankhā lebih rumit. YM Ñāananda menginterpretasikannya sebagai “konsep-konsep yang dikarakteristikkan oleh pikiran yang cenderung berkembang,” tetapi penjelasan ini masih belum memasukkan kata saññā.

Penerjemah lain mengemas sankhā dengan koṭṭhāsa, “bagian,” dan mengatakan bahwa saññā adalah persepsi yang berhubungan dengan papañca ataupun papañca itu sendiri. Penerjemah sependapat dengan Ñāananda dalam menganggap sankhā lebih sebagai berarti konsep atau gagasan (“Perhitungan” dari Bhikkhu Ñāamoli adalah terlalu literal) daripada bagian.

Keputusan penerjemah memperlakukan saññā-sankhā sebagai kata majemuk dvanda, “persepsi dan gagasan,” mungkin akan dipertanyakan, tetapi karena ungkapan saññā-sankhā jarang muncul dalam Kanon dan tidak pernah dianalisa secara verbal, maka tidak ada terjemahan yang benar-benar tanpa keraguan. Pada Interpretasi alternatif dari komponennya, ungkapan itu mungkin dapat diterjemahkan “gagasan-gagasan [yang muncul dari] proliferasi persepsi” atau “gagagasan-gagasan persepsi [yang muncul dari] proliferasi.”

Lanjutannya akan menjelaskan bahwa proses kognisi itu sendiri adalah “sumber yang melaluinya persepsi dan gagasan [yang timbul dari] proliferasi pikiran menyerang seseorang.” Jika dalam proses kognisi tersebut tidak ada yang disenangi, disambut, atau digenggam, maka kecenderungan tersembunyi pada kekotoran-kekotoran akan berakhir.]

Dan di manakah kehendak-kehendak tidak bermanfaat ini lenyap tanpa sisa? Lenyapnya disebutkan: di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari [28] kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Adalah di sini kehendak-kehendak tidak bermanfaat itu lenyap tanpa sisa.

[Kitab Komentar : Paragraf di atas merujuk pada jhāna pertama yang berhubungan dengan buah “yang-tidak-kembali”, jalan “yang-tidak-kembali” melenyapkan keinginan indria dan permusuhan, dan dengan demikian mencegah munculnya ketiga kehendak tidak bermanfaat di masa depan – yaitu kehendak keinginan indria, permusuhan, dan kekejaman.]

Dan bagaimanakah ia mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak tidak bermanfaat? Di sini seorang bhikkhu membangkitkan kemauan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul … untuk mempertahankan kelangsungan, ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan, dan memenuhi dengan pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Seorang yang berlatih demikian mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak tidak bermanfaat.

[Kitab Komentar : Sejauh jalan “yang-tidak-kembali” ia dikatakan mempraktikkan pelenyapannya; ketika ia telah mencapai buah “yang-tidak-kembali”, kehendak-kehendak bermanfaat itu dikatakan telah lenyap.]

13. “Dan apakah kehendak-kehendak bermanfaat? Yaitu kehendak pelepasan keduniawian, kehendak tanpa-permusuhan, dan kehendak tanpa-kekejaman. Ini disebut kehendak-kehendak bermanfaat.

Dan dari manakah kehendak-kehendak bermanfaat ini berasal-mula? Asal-mulanya disebutkan: kehendak-kehendak bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi. Persepsi apakah? Walaupun persepsi ada banyak, bervariasi, dan terdiri dari banyak aspek, namun ada persepsi pelepasan keduniawian, persepsi tanpa-permusuhan, dan persepsi tanpa-kekejaman. Kehendak-kehendak bermanfaat berasal-mula dari ini.

Dan di manakah kehendak-kehendak bermanfaat ini lenyap tanpa sisa? Lenyapnya disebutkan: di sini, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Adalah di sini kehendak-kehendak bermanfaat itu lenyap tanpa sisa.

[Kitab Komentar : Ini merujuk pada jhāna ke dua yang berhubungan dengan buah Kearahantaan.]

Dan bagaimanakah ia mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak bermanfaat? Di sini seorang bhikkhu membangkitkan kemauan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul … untuk mempertahankan kelangsungan, ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan, dan memenuhi dengan pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Seorang yang berlatih demikian mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak bermanfaat.

[Kitab Komentar : Sejauh jalan Kearahantaan, ia dikatakan mempraktikkan pelenyapannya; ketika ia telah mencapai buah Kearahantaan, kehendak-kehendak bermanfaat itu dikatakan telah lenyap. Kehendak-kehendak bermoral dari Arahant tidak digambarkan sebagai “bermanfaat”, mengingat tiada lagi penjelmaan-baru bagi seorang Arahant—alias tiada lagi tumimbal-lahir.]

14. “Sekarang, Tukang kayu, ketika seseorang yang memiliki sepuluh kualitas apakah [29] Aku menggambarkannya sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi? Di sini, seorang bhikkhu memiliki pandangan benar dari seorang yang melampaui latihan, kehendak benar dari seorang yang melampaui latihan, ucapan benar dari seorang yang melampaui latihan, perbuatan benar dari seorang yang melampaui latihan, penghidupan benar dari seorang yang melampaui latihan, usaha benar dari seorang yang melampaui latihan, perhatian benar dari seorang yang melampaui latihan, konsentrasi benar dari seorang yang melampaui latihan, pengetahuan benar dari seorang yang melampaui latihan, dan kebebasan benar dari seorang yang melampaui latihan. Ketika seseorang memiliki sepuluh kualitas ini, Aku gambarkan ia sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi.

[Kitab Komentar : Perihal “seorang yang melampaui latihan”, lihat Majjhima Nikāya 65.34.]

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Tukang kayu Pañcakanga merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS