Idealnya, Kepala Negara / Pemerintahan Tidak Berlatar-Belakang Militer, agar Supremasi Sipil Tidak Terancam
Sipil Kian Inferior di Hadapan Militer yang Kembali
Mendominasi Domain Sipil alih-alih Kembali ke Barak
Baru-baru ini, diberitakan anggota lembaga sipil berkedok “koperasi” yang tewas akibat latihan disiplin bercorak kemiliteran oleh lembaga militer. Koperasi, diurus oleh militer, seakan Kementerian Koperasi kita hanya pajangan. Itu merupakan cerminan tujuan latihan yang salah-sasaran disamping salah-alamat. Pejuang ekonomi, perlu dilatih manajerial, bukan kemiliteran. Terlagipula negara seperti China dan USA mulai menggantikan personel militer mereka dengan drone dan robot. Tiada hubungan ataupun korelasi nyata antara disiplin militer dan moralitas, terbuktinya dari banyaknya kasus-kasus korupsi yang menjerat perwira militer maupun perwira kepolisian. Fisik mereka disiplin, namun tidak batin mereka.
Mencermati watak orang “Made in Indonesia”,
yang paling urgen untuk dilatih atau dibina dan ditatar, ialah “disiplin moral”-nya—agar tidak korupsi—bukan
fisiknya. Kita masih ingat anggota kabinet maupun para Kepala Daerah
di-gembleng di lokasi kawasan pelatihan militer, lengkap dengan seragam lorengnya,
ternyata masih juga didapati korupsi. Tengok peristiwa militer menyiram air
keras ke tubuh seorang aktivis-sipil, itu cerminan jiwa pengecut alih-alih jiwa
ksatria—keroyokan dan memakai senjata berupa “air keras” terhadap sipil yang
tidak bersenjata dan “harmless”. Itu sudah merupakan bukti tidak
terbantahkan bahwa disiplin kemiliteran di Indonesia masih sangat “jauh api
dari panggang” terhadap disiplin mental.
Tiada yang istimewa dari “disiplin milter”,
tengok saja perut buncit para purnawiran militer maupun aparatur kepolisian. Militer yang
berkembang dalam jasmani, menantang militer asing, bukan justru hanya beraninya
beraksi ala premanisme terhadap sipil—tengok peristiwa di Halim—Jakarta Timur maupun di Rumpin—Bogor.
Perihal berkembang atau tidaknya jasmani dan batin, simak relevansinya lewat kutipan
sabda Sang Buddha berikut:
5. “Tetapi, Aggivessana, apakah yang telah engkau
pelajari tentang pengembangan jasmani?”
“Ada, misalnya, Nanda Vaccha, Kisa Sankicca,
Makkhali Gosāla. Mereka bepergian dengan telanjang, melanggar kebiasaan,
menjilat tangan mereka, tidak datang ketika diminta, tidak berhenti ketika
diminta; mereka tidak menerima makanan yang diserahkan atau makanan yang secara
khusus dipersiapkan dan tidak menerima undangan makan; mereka tidak menerima
dari kendi, dari mangkuk, melintasi ambang pintu, melintasi tongkat kayu,
melintasi alat penumbuk, dari dua orang yang sedang makan bersama, dari
perempuan hamil, dari perempuan yang sedang menyusui, dari seorang perempuan
yang sedang berada di tengah-tengah para laki-laki, dari mana terdapat
pengumuman pembagian makanan, dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari
mana lalat beterbangan; mereka tidak menerima ikan atau daging, mereka tidak
meminum minuman keras, anggur, atau minuman fermentasi. Mereka mendatangi satu
rumah, satu suap; mereka mendatangi dua rumah, dua suap; … mereka mendatangi
tujuh rumah, tujuh suap. Mereka makan satu mangkuk sehari, dua mangkuk sehari …
tujuh mangkuk sehari. Mereka makan sekali dalam sehari, sekali dalam dua hari …
sekali dalam tujuh hari, dan seterusnya hingga sekali setiap dua minggu; mereka
berdiam dengan menjalani praktek makan pada interval waktu yang telah
ditentukan.”
6. “Tetapi apakah mereka bertahan hidup dengan
sedemikian sedikit, Aggivessana?”
“Tidak, Guru Gotama, kadang-kadang mereka memakan
makanan padat yang baik, memakan makanan lunak yang baik, mengecap
makanan-makanan lezat, meminum minuman-minuman yang baik. Karenanya mereka
memperoleh kembali kesehatan mereka, memperkuat mereka, dan menjadi
gemuk.”
7. Kemudian Sang Bhagavā memberitahunya: “Apa
yang baru saja engkau katakan sebagai pengembangan jasmani, Aggivessana,
bukanlah pengembangan jasmani menurut Dhamma dalam Disiplin Yang-Mulia. Karena
engkau tidak mengetahui apakah pengembangan jasmani itu, bagaimana mungkin
engkau mengetahui apakah pengembangan batin itu?”
8. "Bagaimanakah, Aggivessana, seorang
yang tidak terkembang dalam jasmani dan tidak terkembang dalam batin? Di sini, Aggivessana,
perasaan menyenangkan muncul dalam diri seorang biasa yang tidak terpelajar.
Tersentuh oleh perasaan menyenangkan itu, ia menginginkan kesenangan itu dan
terus-menerus menginginkan kesenangan itu. Tersentuh oleh perasaan menyenangkan
itu, ia menginginkan kesenangan itu dan terus-menerus menginginkan kesenangan
itu. Perasaan menyenangkan itu lenyap. Dengan lenyapnya perasaan menyenangkan
itu, perasaan menyakitkan muncul. Tersentuh oleh perasaan menyakitkan itu, ia
berdukacita, bersedih, dan meratap, ia menangis sambil memukul dadanya dan
menjadi kebingungan. Ketika perasaan menyenangkan itu muncul, perasaan itu
menyerbu pikirannya dan menetap di sana karena jasmaninya tidak terkembang. Dan
ketika perasaan menyakitkan itu muncul, perasaan itu menyerbu pikirannya dan
menetap di sana karena batinnya tidak terkembang. Siapapun yang dalam dirinya,
dalam kedua kasus ini, perasaan menyenangkan yang muncul menyerbu pikirannya
dan menetap di sana karena jasmaninya tidak terkembang, dan perasaan
menyakitkan yang muncul menyerbu pikirannya dan menetap di sana karena batinnya
tidak terkembang, demikianlah yang disebut tidak terkembang dalam jasmani dan
tidak terkembang dalam batin.
9. “Dan bagaimanakah, Aggivessana, seorang
yang terkembang dalam jasmani dan terkembang dalam batin? Di sini, Aggivessana,
perasaan menyenangkan muncul dalam diri seorang siswa mulia yang terpelajar.
Tersentuh oleh perasaan menyenangkan itu, ia tidak menginginkan kesenangan itu
atau tidak terus-menerus menginginkan kesenangan itu. Perasaan menyenangkan itu
lenyap. Dengan lenyapnya perasaan menyenangkan itu, perasaan menyakitkan
muncul. Tersentuh oleh perasaan menyakitkan itu, ia tidak berdukacita, tidak
bersedih, dan tidak meratap, ia tidak menangis sambil memukul dadanya dan tidak
menjadi kebingungan. Ketika perasaan menyenangkan itu muncul, perasaan itu
tidak menyerbu pikirannya dan tidak menetap di sana karena jasmaninya
terkembang. Dan ketika perasaan menyakitkan itu muncul, perasaan itu tidak
menyerbu pikirannya dan tidak menetap di sana karena batinnya terkembang. Siapapun yang dalam dirinya,
dalam kedua kasus ini, perasaan menyenangkan yang muncul [240] tidak menyerbu
pikirannya dan tidak menetap di sana karena jasmaninya terkembang, dan perasaan
menyakitkan yang muncul tidak menyerbu pikirannya dan tidak menetap di sana
karena batinnya terkembang, demikianlah yang disebut terkembang dalam jasmani
dan terkembang dalam batin.”
17. “Sekarang ketiga perumpamaan ini muncul padaKu
secara spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan terdapat
sebatang kayu basah terletak di dalam air, dan seseorang datang dengan membawa
sebatang kayu-api, dengan berpikir: ‘Aku akan menyalakan api, aku akan
menghasilkan panas.’ Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Dapatkah orang itu
menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan kayu api dengan kayu
basah yang terletak di dalam air?”
“Tidak, Guru Gotama. Mengapa tidak? Karena kayu itu
adalah kayu basah, [241] dan terletak di dalam air. Akhirnya orang itu hanya
akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan.”
“Demikian pula, Aggivessana, sehubungan dengan para
petapa dan brahmana itu yang masih belum
hidup dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan indria, dan yang keinginan
indrianya, cintanya, ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya akan
kenikmatan indria belum sepenuhnya ditinggalkan dan ditekan secara internal,
bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka tidak akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi; dan bahkan jika para
petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka tidak akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi. Ini adalah perumpamaan
pertama yang muncul padaku secara spontan yang belum pernah terdengar
sebelumnya.
18. “Kemudian, Aggivessana, perumpamaan ke dua
muncul padaKu secara spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan
terdapat sebatang kayu basah terletak di atas tanah kering yang jauh dari air,
dan seseorang datang dengan sebatang kayu-api, dengan berpikir: ‘Aku akan
menyalakan api, aku akan menghasilkan panas.’ Bagaimana menurutmu, Aggivessana?
Dapatkah orang itu menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan
kayu api dengan kayu basah yang terletak di atas tanah kering yang jauh dari air?”
“Tidak, Guru Gotama. Mengapa tidak? Karena kayu itu
adalah kayu basah, bahkan walaupun kayu itu terletak di atas tanah kering yang
jauh dari air. Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan
kekecewaan.”
“Demikian pula, Aggivessana, sehubungan dengan para
petapa dan brahmana itu yang hidup dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan
indria, tetapi keinginan indrianya, cintanya, ketergila-gilaannya,
dahaganya, dan demamnya akan kenikmatan indria belum sepenuhnya ditinggalkan
dan ditekan secara internal, bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu
merasakan perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha,
mereka tidak akan mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan
tertinggi; dan bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan
perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka
tidak akan mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi.
Ini adalah perumpamaan ke dua yang muncul padaku secara spontan, yang belum
pernah terdengar sebelumnya.
19. “Kemudian, Aggivessana, perumpamaan ke tiga
muncul padaKu [242] secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya.
Misalkan terdapat sebatang kayu kering terletak di atas tanah kering yang jauh
dari air, dan seseorang datang dengan sebatang kayu-api, dengan berpikir: ‘Aku
akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas.’ Bagaimana menurutmu,
Aggivessana? Dapatkah orang itu menyalakan api dan menghasilkan panas dengan
menggosokkan kayu api dengan kayu kering yang terletak di atas tanah kering
yang jauh dari air?”
“Dapat, Guru Gotama. Mengapa? Karena kayu itu adalah
kayu kering, dan kayu itu terletak di atas tanah kering yang jauh dari air.”
“Demikian pula, Aggivessana, sehubungan dengan para petapa
dan brahmana itu yang hidup dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan
indria, dan yang keinginan indrianya, cintanya, ketergila-gilaannya, dahaganya,
dan demamnya akan kenikmatan indria telah sepenuhnya ditinggalkan dan ditekan
secara internal, bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu merasakan
perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka akan
mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi; dan bahkan
jika para petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi. Ini adalah perumpamaan ke
tiga yang muncul padaKu secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya. Ini adalah tiga perumpamaan
yang muncul padaKu secara spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya.”
Tanpa disiplin-militer sekalipun, seseorang dapat didisiplinkan.
Selengkapnya perihal pengembangan jasmani dan batin, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995);
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara,
penerbit DhammaCitta Press (2013):
~ SUTTA 36 ~
Mahāsaccaka Sutta : Khotbah Panjang
kepada Saccaka
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Vesālī di Hutan Besar di Aula Beratap Lancip.
2. Pada saat itu, di pagi hari, Sang Bhagavā telah merapikan jubah dan
telah mengambil mangkuk dan jubah luarNya, hendak memasuki Vesālī untuk
menerima dana makanan.
3. Kemudian, ketika Saccaka putra Nigaṇṭha sedang berjalan sambil berolah-raga, ia tiba di Aula Beratap Lancip di
Hutan Besar. Dari jauh Yang Mulia Ānanda melihat kedatangannya dan berkata
kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, Saccaka putra Nigaṇṭha, seorang pendebat dan pembicara yang cerdas yang dianggap oleh banyak
orang sebagai orang suci, sedang datang ke sini. Ia ingin mendiskreditkan Sang
Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Baik sekali jika Bhagavā sudi duduk sebentar
demi belas kasih.” Sang Bhagavā duduk di tempat yang telah dipersiapkan.
Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa
dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan
berkata kepada Sang Bhagavā:
[Kitab Komentar : Saccaka mendekat dengan niat untuk
mendebat doktrin Sang Buddha, yang mana ia gagal melakukannya pada pertemuan
pertamanya dengan Sang Buddha (dalam Majjhima Nikāya 35). Tetapi kali ini ia
datang sendirian, dengan pikiran jika ia menderita kekalahan maka tidak ada
seorangpun yang mengetahuinya. Ia bermaksud untuk membantah Sang Buddha dengan
pertanyaannya tentang tidur di siang hari, yang tidak ia tanyakan hingga
menjelang akhir sutta (paragraf nomor ke-45).
Ānanda mengatakan “Baik sekali jika Bhagavā sudi
duduk sebentar demi belas kasih”, adalah demi belas kasihnya kepada
Saccaka, dengan pikiran jika ia bertemu dengan Sang Buddha dan mendengar
Dhamma, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaannya untuk
waktu yang lama.]
4. “Guru Gotama, terdapat beberapa petapa dan brahmana yang berdiam
dengan menjalani
pengembangan jasmani, tetapi bukan pengembangan batin. Mereka tersentuh oleh perasaan sakit jasmani.
Di masa lalu, jika seseorang tersentuh oleh perasaan sakit jasmani, maka
pahanya menjadi kaku, jantungnya pecah, darah panas menyembur dari mulutnya,
dan ia akan menjadi gila, kehilangan akal sehatnya. Karenanya batin tunduk pada
jasmani, jasmani menguasai batin. Mengapakah? [238] Karena batin tidak
dikembangkan. Tetapi terdapat beberapa petapa dan brahmana yang berdiam dengan menjalani pengembangan
batin, tetapi bukan pengembangan jasmani. Mereka tersentuh oleh perasaan sakit batin. Di
masa lalu, jika seseorang tersentuh oleh perasaan sakit batin, maka
pahanya menjadi kaku, jantungnya pecah, darah panas menyembur dari mulutnya,
dan ia akan menjadi gila, kehilangan akal sehatnya. Karenanya jasmani tunduk
pada batin, batin menguasai jasmani. Mengapakah? Karena jasmani tidak
dikembangkan. Guru Gotama, aku berpikir: ‘Para siswa Guru Gotama pasti berdiam dengan
menjalani pengembangan batin, tetapi bukan pengembangan jasmani.’”
[Kitab Komentar : Dari paragraf nomor ke-5 jelas
bahwa Saccaka mengidentifikasikan “pengembangan jasmani” (kāyabhāvanā)
sebagai praktik penyiksaan-diri. Karena ia tidak melihat para bhikkhu Buddhis
yang melakukan penyiksaan-diri, ia berpendapat bahwa mereka tidak melatih
pengembangan jasmani. Tetapi Sang Buddha (menurut Kitab Komentar) memahami
“pengembangan jasmani” sebagai meditasi pandangan-terang, “pengembangan batin”
(cittabhāvanā) sebagai meditasi ketenangan.]
5. “Tetapi, Aggivessana, apakah yang telah engkau pelajari tentang
pengembangan jasmani?”
“Ada, misalnya, Nanda Vaccha, Kisa Sankicca, Makkhali Gosāla. Mereka
bepergian dengan telanjang, melanggar kebiasaan, menjilat tangan mereka, tidak
datang ketika diminta, tidak berhenti ketika diminta; mereka tidak menerima
makanan yang diserahkan atau makanan yang secara khusus dipersiapkan dan tidak
menerima undangan makan; mereka tidak menerima dari kendi, dari mangkuk,
melintasi ambang pintu, melintasi tongkat kayu, melintasi alat penumbuk, dari
dua orang yang sedang makan bersama, dari perempuan hamil, dari perempuan yang
sedang menyusui, dari seorang perempuan yang sedang berada di tengah-tengah
para laki-laki, dari mana terdapat pengumuman pembagian makanan, dari mana
seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat beterbangan; mereka tidak menerima
ikan atau daging, mereka tidak meminum minuman keras, anggur, atau minuman
fermentasi. Mereka mendatangi satu rumah, satu suap; mereka mendatangi dua
rumah, dua suap; … mereka mendatangi tujuh rumah, tujuh suap. Mereka makan satu
mangkuk sehari, dua mangkuk sehari … tujuh mangkuk sehari. Mereka makan sekali
dalam sehari, sekali dalam dua hari … sekali dalam tujuh hari, dan seterusnya
hingga sekali setiap dua minggu; mereka berdiam dengan menjalani praktek makan
pada interval waktu yang telah ditentukan.”
[Kitab Komentar : Nanda Vaccha, Kisa Sankicca, dan Makkhali
Gosāla adalah tiga guru Ājivaka; yang terakhir sezaman dengan Sang Buddha, dua
yang pertama hampir merupakan tokoh legenda yang identitasnya masih kabur. Sang
Bodhisatta telah menjalankan praktik mereka selama masa pertapaannya – baca
Majjhima Nikāya 12.45 – tetapi akhirnya menolak praktik itu karena tidak
mendukung pencerahan.]
6. “Tetapi apakah mereka bertahan hidup dengan sedemikian sedikit,
Aggivessana?”
“Tidak, Guru Gotama, kadang-kadang mereka memakan makanan padat yang
baik, memakan makanan lunak yang baik, mengecap makanan-makanan lezat, meminum
minuman-minuman yang baik. Karenanya mereka memperoleh kembali kesehatan
mereka, memperkuat mereka, dan menjadi gemuk.”
“Apa
yang mereka tinggalkan sebelumnya, Aggivessana, belakangan mereka kumpulkan
lagi. Itu adalah bagaimana terdapat peningkatan dan penurunan dalam jasmani ini. Tetapi apakah yang telah engkau mempelajari
tentang pengembangan batin?” [239]
Ketika Saccaka putra Nigaṇṭha ditanya oleh Sang Bhagavā tentang pengembangan
batin, ia tidak mampu menjawab.
7. Kemudian Sang Bhagavā memberitahunya: “Apa yang baru saja engkau katakan
sebagai pengembangan jasmani, Aggivessana, bukanlah pengembangan jasmani
menurut Dhamma dalam Disiplin Yang-Mulia. Karena engkau tidak mengetahui apakah
pengembangan jasmani itu, bagaimana mungkin engkau mengetahui apakah
pengembangan batin itu? Meskipun demikian, sehubungan dengan bagaimana seseorang tidak yang
terkembang dalam jasmani dan tidak terkembang dalam batin, dengarkan dan
perhatikanlah pada apa yang akan Aku katakan.” – “Baik, Yang Mulia,” Saccaka
putra Nigaṇṭha menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
8. “Bagaimanakah,
Aggivessana, seorang yang tidak terkembang dalam jasmani dan tidak terkembang
dalam batin? Di sini, Aggivessana, perasaan menyenangkan muncul dalam diri seorang
biasa yang tidak terpelajar. Tersentuh oleh perasaan menyenangkan itu, ia
menginginkan kesenangan itu dan terus-menerus menginginkan kesenangan itu.
Perasaan menyenangkan itu lenyap. Dengan lenyapnya perasaan menyenangkan itu,
perasaan menyakitkan muncul. Tersentuh oleh perasaan menyakitkan itu, ia
berdukacita, bersedih, dan meratap, ia menangis sambil memukul dadanya dan
menjadi kebingungan. Ketika perasaan menyenangkan itu muncul, perasaan itu
menyerbu pikirannya dan menetap di sana karena jasmaninya tidak terkembang. Dan
ketika perasaan menyakitkan itu muncul, perasaan itu menyerbu pikirannya dan
menetap di sana karena batinnya tidak terkembang. Siapapun yang dalam dirinya,
dalam kedua kasus ini, perasaan menyenangkan yang muncul menyerbu pikirannya
dan menetap di sana karena jasmaninya tidak terkembang, dan perasaan
menyakitkan yang muncul menyerbu pikirannya dan menetap di sana karena batinnya
tidak terkembang, demikianlah yang disebut tidak terkembang dalam jasmani dan
tidak terkembang dalam batin.
9. “Dan bagaimanakah, Aggivessana, seorang yang terkembang dalam jasmani
dan terkembang dalam batin? Di sini, Aggivessana, perasaan menyenangkan muncul
dalam diri seorang siswa mulia yang terpelajar. Tersentuh oleh perasaan menyenangkan
itu, ia tidak menginginkan kesenangan itu atau tidak terus-menerus menginginkan
kesenangan itu. Perasaan menyenangkan itu lenyap. Dengan lenyapnya perasaan menyenangkan
itu, perasaan menyakitkan muncul. Tersentuh oleh perasaan menyakitkan itu, ia
tidak berdukacita, tidak bersedih, dan tidak meratap, ia tidak menangis sambil
memukul dadanya dan tidak menjadi kebingungan. Ketika perasaan menyenangkan itu
muncul, perasaan itu tidak menyerbu pikirannya dan tidak menetap di sana karena
jasmaninya terkembang. Dan ketika perasaan menyakitkan itu muncul, perasaan itu
tidak menyerbu pikirannya dan tidak menetap di sana karena batinnya terkembang.
Siapapun yang dalam dirinya, dalam kedua kasus ini, perasaan menyenangkan yang
muncul [240] tidak menyerbu pikirannya dan tidak menetap di sana karena
jasmaninya terkembang, dan perasaan menyakitkan yang muncul tidak menyerbu
pikirannya dan tidak menetap di sana karena batinnya terkembang, demikianlah
yang disebut terkembang dalam jasmani dan terkembang dalam batin.”
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa “pengembangan
jasmani” di sini adalah pandangan-terang, dan “pengembangan batin” adalah
konsentrasi. Ketika siswa mulia mengalami perasaan menyenangkan, ia tidak
dikuasai oleh perasaan itu karena, melalui pengembangan pandangan-terang, ia
memahami perasaan itu tidak kekal, tidak memuaskan, dan bukan diri; dan ketika
ia mengalami perasaan menyakitkan, ia tidak dikuasai oleh perasaan itu karena,
melalui pengembangan konsentrasi, ia mempu membebaskan diri dari perasaan itu
dengan memasuki absorpsi meditatif.]
10. “Aku berkeyakinan pada Guru Gotama sebagai berikut: ‘Guru Gotama
terkembang dalam jasmani dan terkembang dalam batin.’”
“Aggivessana, kata-katamu menyindir dan kasar, namun Aku akan tetap
menjawabnya. Sejak Aku mencukur rambut dan janggutKu, mengenakan jubah kuning,
dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah, tidaklah mungkin perasaan menyenangkan yang muncul dapat menyerbu
pikiranKu dan menetap di sana atau perasaan menyakitkan yang muncul dapat
menyerbu pikiranKu dan menetap di sana.”
11. “Tidak
pernahkah muncul pada Guru Gotama suatu perasaan yang begitu menyenangkan
sehingga dapat menyerbu pikiran Beliau dan menetap di sana? Tidak pernahkah
muncul pada Guru Gotama suatu perasaan yang begitu menyakitkan sehingga dapat
menyerbu pikiran Beliau dan menetap di sana?”
12. “Mengapa
tidak, Aggivessana? Di sini, Aggivessana, sebelum pencerahanKu, ketika Aku masih menjadi
seorang Bodhisatta yang tidak tercerahkan, Aku berpikir: ‘Kehidupan rumah
tangga ramai dan berdebu; kehidupan meninggalkan keduniawian terbuka lebar. Tidaklah
mudah, selagi menjalani kehidupan rumah tangga, juga menjalankan kehidupan suci
yang sempurna dan murni bagaikan kulit kerang yang digosok. Bagaimana jika
Aku mencukur rambut dan janggutKu, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’
[Kitab Komentar : Sekarang Sang Buddha akan menjawab
pertanyaan Saccaka dengan pertama-tama menunjukkan perasaan yang sangat
menyakitkan yang Beliau alami selama perjalanan praktek pertapaanNya, dan
setelah itu menunjukkan perasaan yang sangat menyenangkan yang Beliau alami
selama dalam pencapaian meditatifNya menjelang pencerahan.]
13-16. “Kemudian, selagi masih muda, seorang pemuda berambut hitam
yang memiliki berkah kemudaan, dalam tahap utama kehidupan, walaupun ibu dan
ayahku menginginkan sebaliknya dan menangis dengan wajah basah oleh air mata,
Aku mencukur rambut dan janggutKu, mengenakan jubah kuning, dan pergi
meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.
“Setelah meninggalkan keduniawian, para bhikkhu, dalam mencari apa
yang bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku
mendatangi Āḷāra Kālāma dan berkata kepadanya: ‘Teman Kālāma, Aku
ingin menjalani kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’ Āḷāra Kālāma menjawab: ‘Yang Mulia boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah
sedemikian sehingga seorang bijaksana dapat segera memasuki dan berdiam di
dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri untuk dirinya sendiri melalui
pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya
mengulangi dan melafalkan ajarannya melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan
pengetahuan dan kepastian, dan Aku mengakui, ‘Aku mengetahui dan melihat’ – dan
ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian.
“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Āḷāra Kālāma menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan
pengetahuan langsung, Aku masuk dan berdiam dalam Dhamma ini.” Āḷāra Kālāma pasti berdiam dengan mengetahui dan melihat Dhamma ini.’
Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, dalam cara
bagaimanakah engkau menyatakan bahwa dengan menembusnya untuk dirimu sendiri
dengan pengetahuan langsung engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini?’ Sebagai
jawaban ia menyatakan landasan
kekosongan.
[Kitab Komentar : Āḷāra Kālāma mengajarkan Sang Bodhisatta Gotama tujuh pencapaian (meditasi
ketenangan) yang berakhir pada landasan kekosongan, ke-tiga dari empat
pencapaian tanpa-materi. Walaupun pencapaian-pencapaian ini adalah luhur secara
spiritual, namun masih dalam lingkup lokiya dan tidak secara
langsung mengarah pada Nibbāna.]
“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Āḷāra Kālāma yang memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi,
dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian,
konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku berjuang untuk menembus
Dhamma yang dinyatakan oleh Āḷāra Kālāma bahwa ia telah masuk dan berdiam di
dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’
“Aku dengan cepat memasuki dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya
untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, apakah dengan cara ini engkau
menyatakan bahwa engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya
untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung?’ – ‘Demikianlah, teman.’ –
‘Adalah dengan cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma
ini dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’ –
‘Suatu keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita
memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci.
Jadi Dhamma yang kunyatakan telah kumasuki dan berdiam di dalamnya dengan
menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung adalah juga Dhamma
yang Engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriMu
sendiri dengan pengetahuan langsung. Dan Dhamma yang Engkau masuki dan
berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriMu sendiri dengan pengetahuan
langsung adalah Dhamma yang kunyatakan telah aku masuki dan berdiam di dalamnya
dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi Engkau
mengetahui Dhamma yang kuketahui dan aku mengetahui Dhamma yang Engkau ketahui.
Sebagaimana aku, demikian pula Engkau; sebagaimana Engkau, demikian pula aku.
Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas ini bersama-sama.’
“Demikianlah Āḷāra Kālāma, guruKu, menempatkan Aku, muridnya,
setara dengan dirinya dan menganugerahi diriku dengan penghormatan tertinggi.
Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, tidak menuntun menuju kebosanan, tidak menuntun menuju lenyapnya, tidak menuntun menuju kedamaian, tidak menuntun menuju
pengetahuan langsung, tidak menuntun menuju Nibbāna, tetapi hanya menuntun
menuju kemunculan kembali dalam landasan kekosongan.’ Karena tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi
dan meninggalkan tempat itu.
[Kitab Komentar : “Kemunculan kembali dalam landasan
kekosongan”, yaitu menuntun menuju kelahiran-kembali di alam kehidupan yang
disebut landasan kekosongan, tujuan dari pencapaian meditatif ke-tujuh. Di
sini umur kehidupannya adalah 60.000 kappa, tetapi ketika jangka waktu itu
telah berlalu, seseorang akan meninggal dunia dan kembali ke alam yang lebih
rendah. Dengan
demikian seseorang yang mencapai ini masih belum terbebas dari kelahiran dan
kematian namun terperangkap dalam jebakan Māra. Horner melewatkan hal penting bahwa
kelahiran-kembali adalah intinya dengan menerjemahkan “hanya sejauh mencapai
alam kekosongan” (MLS 1:209).]
“Masih dalam pencarian, para bhikkhu, terhadap apa yang
bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mendatangi
Uddaka Rāmaputta dan berkata kepadanya: ‘Teman, Aku ingin menjalani kehidupan
suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’ Uddaka Rāmaputta menjawab: ‘Yang Mulia
boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga seorang bijaksana
dapat segera memasuki dan berdiam di dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri
untuk dirinya sendiri melalui pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera
mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya mengulangi dan melafalkan ajarannya
melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan pengetahuan dan kepastian, dan Aku
mengakui, ‘Aku
mengetahui dan melihat’ – dan ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian.
[Kitab Komentar : Baik Horner dan Bhikkhu Ñāṇamoli melakukan kesalahan dalam terjemahan mereka mengenai kisah
pertemuan Sang Bodhisatta dengan Uddaka Rāmaputta dengan menganggap Uddaka sama
dengan Rāma. Akan tetapi, seperti ditunjukkan oleh namanya, Uddaka adalah putra
(putta) dari Rāma, yang pasti telah meninggal dunia sebelum kedatangan
Sang Bodhisatta. Perhatikan bahwa semua rujukan pada Rāma dituliskan dalam
bentuk lampau dan sebagai orang ke tiga, dan bahwa Uddaka pada akhirnya
menempatkan Sang Bodhisatta dalam posisi guru. Walaupun teks tidak memberikan
akhir yang pasti, namun ini menyiratkan bahwa ia sendiri belum mencapai
pencapaian ke empat tanpa-bentuk itu.]
“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Rāma
menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan
langsung, Aku masuk dan berdiam dalam Dhamma ini.” Rāma pasti berdiam dengan
mengetahui dan melihat Dhamma ini.’ Kemudian Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta
dan bertanya: ‘Teman, dalam cara bagaimanakah Rāma menyatakan bahwa dengan
menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung ia masuk dan
berdiam dalam Dhamma ini?’ Sebagai jawaban ia menyatakan landasan bukan persepsi
juga bukan bukan-persepsi.
“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Rāma yang memiliki keyakinan, kegigihan,
perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan,
kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku
berjuang untuk menembus Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma bahwa ia telah masuk
dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan
pengetahuan langsung?’
“Aku dengan cepat masuk dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya
untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi
Uddaka Rāmaputta dan bertanya: ‘Teman, apakah dengan cara ini Rāma menyatakan
bahwa ia masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk dirinya
sendiri dengan pengetahuan langsung?’ – ‘Demikianlah, teman.’ – ‘Adalah dengan
cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan
menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’ – ‘Suatu
keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita
memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci.
Jadi Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di dalamnya
dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung adalah
juga Dhamma yang Engkau masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk
dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung. Dan Dhamma yang Engkau masuki dan
diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan
langsung adalah Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di
dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi
Engkau mengetahui Dhamma yang diketahui oleh Rāma dan Rāma mengetahui Dhamma
yang Engkau ketahui. Sebagaimana Rāma, demikian pula Engkau; sebagaimana
Engkau, demikian pula Rāma. Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas
ini bersama-sama.
“Demikianlah Uddaka Rāmaputta, temanKu dalam kehidupan suci, menempatkan
Aku dalam posisi seorang guru dan menganugerahi diriku dengan penghormatan
tertinggi. Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, menuju kebosanan,
menuju lenyapnya, menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju
Nibbāna, tetapi
hanya menuju kemunculan kembali dalam landasan bukan persepsi juga bukan
bukan-persepsi.’ Karena tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi dan meninggalkan tempat
itu.
“Masih dalam pencarian, para bhikkhu, terhadap apa yang
bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mengembara
secara bertahap melewati Negeri Magadha hingga akhirnya Aku sampai di
Senānigama di dekat Uruvelā. Di sana Aku melihat sepetak tanah yang nyaman,
hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan
menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana
makanan. Aku merenungkan: ‘Ini adalah sepetak tanah yang nyaman, ini adalah
hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan
menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana
makanan. Ini akan membantu usaha seseorang yang bersungguh-sungguh untuk
berusaha.’ Dan Aku duduk di sana berpikir: ‘Ini akan membantu usaha.’
[Kitab Komentar : Majjhima Nikāya 36, yang mencantumkan kisah
pertemuan Sang Bodhisatta dengan Āḷāra Kālāma dan Uddaka Rāmaputta, dari sini
dilanjutkan dengan kisah praktik pertapaan keras dan selanjutnya tentang
penemuanNya akan jalan tengah yang menuntunNya menuju pencerahan.]
17. “Sekarang ketiga perumpamaan ini muncul padaKu secara spontan yang
belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan terdapat sebatang kayu basah
terletak di dalam air, dan seseorang datang dengan membawa sebatang kayu-api,
dengan berpikir: ‘Aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas.’
Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Dapatkah orang itu menyalakan api dan
menghasilkan panas dengan menggosokkan kayu api dengan kayu basah yang terletak
di dalam air?”
“Tidak,
Guru Gotama. Mengapa tidak? Karena kayu itu adalah kayu basah, [241] dan
terletak di dalam air. Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan
kekecewaan.”
“Demikian
pula, Aggivessana, sehubungan dengan para petapa dan brahmana itu yang masih belum hidup
dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan indria, dan yang keinginan
indrianya, cintanya, ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya akan
kenikmatan indria belum sepenuhnya ditinggalkan dan ditekan secara internal,
bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka tidak akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi; dan bahkan jika para
petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka tidak akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi. Ini adalah perumpamaan pertama yang muncul padaku
secara spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya.
18. “Kemudian, Aggivessana, perumpamaan ke dua muncul padaKu secara
spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan terdapat sebatang kayu
basah terletak di atas tanah kering yang jauh dari air, dan seseorang datang
dengan sebatang kayu-api, dengan berpikir: ‘Aku akan menyalakan api, aku akan
menghasilkan panas.’ Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Dapatkah orang itu
menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan kayu api dengan kayu
basah yang terletak di atas tanah kering yang jauh dari air?”
“Tidak,
Guru Gotama. Mengapa tidak? Karena kayu itu adalah kayu basah, bahkan walaupun
kayu itu terletak di atas tanah kering yang jauh dari air. Akhirnya orang itu
hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan.”
“Demikian
pula, Aggivessana, sehubungan dengan para petapa dan brahmana itu yang hidup
dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan indria, tetapi keinginan
indrianya, cintanya, ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya akan
kenikmatan indria belum sepenuhnya ditinggalkan dan ditekan secara internal,
bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka tidak akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi; dan bahkan jika para
petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka tidak akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi. Ini adalah perumpamaan ke dua yang muncul padaku
secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya.
[Kitab Komentar : Perihal “yang hidup dengan
jasmani yang terasing dari kenikmatan indria, tetapi keinginan indrianya,
cintanya, ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya akan kenikmatan indria
belum sepenuhnya ditinggalkan dan ditekan secara internal”, sepertinya
sulit untuk memahami bagaimana para petapa ini dapat digambarkan “terasing
secara batin” dari kenikmatan indria jika mereka belum menenangkan keinginan
indria dalam diri mereka.]
19. “Kemudian, Aggivessana, perumpamaan ke tiga muncul padaKu [242]
secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan terdapat
sebatang kayu kering terletak di atas tanah kering yang jauh dari air, dan
seseorang datang dengan sebatang kayu-api, dengan berpikir: ‘Aku akan
menyalakan api, aku akan menghasilkan panas.’ Bagaimana menurutmu, Aggivessana?
Dapatkah
orang itu menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan kayu api
dengan kayu kering yang terletak di atas tanah kering yang jauh dari air?”
“Dapat,
Guru Gotama. Mengapa? Karena kayu itu adalah kayu kering, dan kayu itu terletak
di atas tanah kering yang jauh dari air.”
“Demikian
pula, Aggivessana, sehubungan dengan para petapa dan brahmana itu yang hidup
dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan indria, dan yang keinginan
indrianya, cintanya, ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya akan
kenikmatan indria telah sepenuhnya ditinggalkan dan ditekan secara internal,
bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi; dan bahkan jika para
petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi. Ini adalah perumpamaan ke tiga yang muncul padaKu
secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya. Ini adalah tiga
perumpamaan yang muncul padaKu secara spontan yang belum pernah terdengar
sebelumnya.
[Kitab Komentar : Adalah mengherankan bahwa dalam
paragraf berikutnya Sang Bodhisatta ditunjukkan melakukan penyiksaan-diri
setelah Beliau telah sampai pada kesimpulan bahwa praktik demikian adalah tidak
berguna untuk mencapai Pencerahan. Ketidak-sesuaian gagasan ini menimbulkan
kecurigaan bahwa urutan narasi sutta ini telah tercampur-aduk. Tempat yang
seharusnya bagi perumpamaan kayu api ini adalah di akhir masa percobaan
pertapaan Sang Bodhisatta, ketika Beliau telah memperoleh landasan kuat untuk
menolak penyiksaan-diri.
Namun demikian, Kitab Komentar menerima urutan ini
apa adanya dan memunculkan pertanyaan mengapa Sang Bodhisatta melakukan praktik
keras ini jika Beliau mampu mencapai Kebuddhaan tanpa melakukan demikian.
Jawabannya: Beliau melakukan demikian, pertama, untuk menunjukkan usahaNya kepada
dunia, karena kualitas kegigihan yang tanpa tandingan memberiNya kegembiraan;
dan ke dua, demi belas kasih kepada generasi mendatang, dengan menginspirasi
mereka untuk berjuang dengan tekad yang sama seperti yang Beliau terapkan demi
mencapai pencerahan.]
20. “Aku berpikir: ‘Bagaimana jika, dengan mengertakkan gigiKu dan
menekan lidahKu ke langit-langit mulutKu, Aku menekan, mendesak, dan menggilas
pikiran dengan pikiran.’ Maka dengan gigiKu dikertakkan dan lidahKu menekan
langit-langit mulut, Aku menekan, mendesak, dan menggilas pikiran dengan
pikiran. Sewaktu Aku melakukan demikian, keringat menetes dari ketiakKu.
Bagaikan seorang kuat mampu mencengkeram seorang yang lebih lemah pada kepala
atau bahunya dan menekannya, mendesaknya, dan menggilasnya, demikian pula,
dengan gigiKu dikertakkan dan lidahKu menekan langit-langit mulut, Aku menekan,
mendesak, dan menggilas pikiran dengan pikiran, dan keringat menetes dari
ketiakKu. Tetapi
walaupun kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan
perhatian yang tidak mengendur telah kokoh, namun tubuhKu kelelahan [243] dan
tidak tenang karena Aku terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan. Tetapi
perasaan menyakitkan demikian yang muncul padaKu tidak menyerbu pikiranKu dan
tidak menetap di sana.
[Kitab Komentar : Kalimat ini, yang juga diulangi
pada setiap akhir dari masing-masing bagian berikutnya, menjawab pertanyaan ke
dua dari dua pertanyaan yang diajukan oleh Saccaka pada paragraf nomor ke-11.]
21. “Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih meditasi tanpa bernafas.’
Maka Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut dan hidungKu.
Sewaktu Aku melakukan demikian, terdengar suara angin yang keras menerobos
keluar dari lubang telingaKu. Bagaikan suara keras yang terdengar ketika pipa pengembus
pandai besi ditiup, demikian pula, sewaktu Aku menghentikan nafas masuk dan
nafas keluar melalui hidung dan telingaKu, terdengar suara angin yang keras
menerobos keluar dari lubang telingaKu. Tetapi walaupun kegigihan yang tidak
kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan perhatian yang tidak mengendur
telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang karena Aku terlalu letih oleh
usaha yang menyakitkan. Tetapi perasaan menyakitkan demikian yang muncul padaKu
tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana.
22. “Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih meditasi tanpa bernafas
lebih jauh lagi.’ Maka Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui
mulut, hidung, dan telingaKu. Ketika Aku melakukan demikian, angin kencang
menembus kepalaKu. Seolah-olah seorang kuat menusuk kepalaKu dengan ujung
pedang tajam, demikian pula, sewaktu Aku menghentikan nafas masuk dan nafas
keluar melalui mulut, hidung, dan telingaKu. Angin kencang menembus kepalaKu. Tetapi walaupun
kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan perhatian
yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang karena Aku
terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan. Tetapi perasaan menyakitkan demikian
yang muncul padaKu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana.
23. “Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih meditasi tanpa bernafas
lebih jauh lagi.’ Maka Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui
mulut, hidung, dan telingaKu. Ketika Aku melakukan demikian, Aku merasakan
kesakitan luar biasa di kepalaKu. Seolah-olah seorang kuat [244] mengencangkan
tali kulit di kepalaKu sebagai ikat kepala, demikian pula, ketika Aku
menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut, hidung, dan telingaKu,
Aku merasakan kesakitan luar biasa di kepalaKu. Tetapi walaupun kegigihan yang tidak
kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan perhatian yang tidak mengendur
telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang karena Aku terlalu letih oleh
usaha yang menyakitkan. Tetapi perasaan menyakitkan demikian yang muncul padaKu
tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana.
24. “Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih meditasi tanpa bernafas
lebih jauh lagi.’ Maka Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui
mulut, hidung, dan telingaKu. Ketika Aku melakukan demikian, angin kencang
menerobos keluar melalui perutKu. Bagaikan seorang tukang daging yang terampil
atau muridnya membelah perut seekor sapi dengan pisau daging yang tajam,
demikian pula, sewaktu Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui
mulut, hidung, dan telingaKu, angin kencang menerobos keluar melalui perutKu. Tetapi walaupun
kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan perhatian
yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang karena Aku
terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan. Tetapi perasaan menyakitkan demikian
yang muncul padaKu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana.
25. “Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih meditasi tanpa bernafas
lebih jauh lagi.’ Maka Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui
mulut, hidung, dan telingaKu. Ketika Aku melakukan demikian, Aku merasakan
kebakaran hebat di seluruh tubuhKu. Bagaikan dua orang kuat mencengkeram
seseorang yang lebih lemah pada kedua lengannya dan memanggangnya di atas
lubang membara, demikian pula, sewaktu Aku menghentikan nafas masuk dan nafas
keluar melalui mulut, hidung, dan telingaKu, Aku merasakan kebakaran hebat
di seluruh tubuhKu. Tetapi
walaupun kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan
perhatian yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang
karena Aku terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan. Tetapi perasaan
menyakitkan demikian yang muncul padaKu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak
menetap di sana.
26. “Ketika [245] para dewa melihatKu, beberapa berkata: ‘Petapa Gotama
telah mati.’ Beberapa dewa lain berkata: ‘Petapa Gotama tidak mati, Beliau sekarat.’ Dan para dewa lainnya lagi berkata: ‘Petapa
Gotama tidak mati ataupun sekarat; Beliau adalah seorang Arahant, karena
demikianlah cara para Arahant berdiam.’
27. “Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih sepenuhnya tidak makan.’
Kemudian para dewa mendatangiKu dan berkata: ‘Tuan, jangan berlatih sepenuhnya
tidak makan. Jika Engkau melakukan hal itu, kami akan memasukkan makanan
surgawi ke dalam pori-pori kulitMu dan Engkau akan hidup dengan itu.’ Aku mempertimbangkan:
‘Jika Aku mengaku sepenuhnya tidak makan sementara para dewa ini memasukkan
makan-makanan surgawi ke dalam pori-pori kulitKu dan Aku akan hidup dengan itu,
maka artinya Aku berbohong.’ Maka aku mengusir para dewa itu, dan berkata:
‘Tidak perlu.’
28. “Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku memakan sangat sedikit makanan,
segenggam setiap kalinya, apakah sop kacang atau sop kacang tanah atau sop
kacang hijau atau sop kacang polong.’ Maka Aku memakan sangat sedikit makanan,
segenggam setiap kalinya, apakah sop kacang atau sop kacang tanah atau sop
kacang hijau atau sop kacang polong. Sewaktu Aku melakukan demikian, tubuhKu
menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit anggota-anggota tubuhKu
menjadi seperti tanaman merambat atau batang bambu. Karena makan begitu sedikit
punggungKu menjadi seperti kuku onta. Karena makan begitu sedikit tonjolan
tulang punggungKu menonjol bagaikan untaian tasbih. Karena makan begitu sedikit
tulang rusukKu menonjol karena kurus seperti kasau dari sebuah lumbung tanpa
atap. Karena makan begitu sedikit bola mataKu masuk jauh ke dalam lubang mata,
terlihat seperti kilauan air yang jauh di dalam sumur yang dalam. Karena makan
begitu sedikit kulit kepalaKu mengerut dan layu bagaikan [246] buah labu pahit
yang mengerut dan layu oleh angin dan matahari. Karena makan begitu sedikit
kulit perutKu menempel pada tulang punggungKu; sedemikian sehingga jika Aku
menyentuh kulit perutKu maka akan tersentuh tulang punggungKu, dan jika Aku
menyentuh tulang punggungKu maka akan tersentuh kulit perutKu. Karena makan
begitu sedikit, jika Aku ingin buang air besar atau buang air kecil, maka Aku
terjatuh dengan wajahKu di atas kotoran di sana.Karena makan begitu sedikit,
jika Aku mencoba menyamankan diriKu dengan memijat badanKu dengan tanganKu, maka
bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku
menggosoknya.
29. “Saat itu ketika orang-orang melihatKu, beberapa berkata: ‘Petapa
Gotama hitam.’ Orang lain berkata: ‘Petapa Gotama tidak hitam, Beliau cokelat.
Orang lain lagi berkata: ‘Petapa Gotama bukan hitam juga bukan cokelat, ia
berkulit keemasan.’ KulitKu yang bersih dan cerah menjadi sangat kusam karena
makan sangat sedikit.
30. “Aku berpikir: ‘Para
petapa atau brahmana manapun di masa lampau telah mengalami perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha ini, ini adalah yang terjauh, tidak
ada yang melampaui ini. Dan para petapa atau brahmana manapun di masa depan
akan mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha ini, ini
adalah yang terjauh, tidak ada yang melampaui ini. Dan para petapa atau
brahmana manapun di masa sekarang mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa,
menusuk karena usaha ini, ini adalah yang terjauh, tidak ada yang melampaui
ini. Tetapi melalui latihan keras yang menyiksa ini Aku tidak mencapai kondisi
melampaui manusia apapun, keluhuran apapun dalam pengetahuan dan penglihatan
selayaknya para mulia. Apakah ada jalan lain menuju pencerahan?’
31. “Aku
mempertimbangkan: ‘Aku ingat ketika ayahKu orang Sakya yang berkuasa, sewaktu
Aku sedang duduk di keteduhan pohon jambu, dengan cukup terasing dari
kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku masuk
dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan
kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari
keterasingan. Mungkinkah itu adalah jalan menuju pencerahan?’ Kemudian, dengan
mengikuti ingatan itu, muncullah pengetahuan: ‘Itu adalah jalan menuju
pencerahan.’
[Kitab Komentar : Pada masa kecil Sang Bodhisatta
sebagai seorang pangeran, pada suatu ketika ayahNya mengadakan upacara membajak
sawah pada suatu festival tradisi orang Sakya. Sang Pangeran dibawa ke tempat
festival tersebut dan tempat untukNya dipersiapkan di bawah pohon jambu. Ketika
para pelayanNya meninggalkanNya untuk menyaksikan upacara membajak sawah,
Beliau secara spontan duduk dalam posisi meditasi dan mencapai jhāna pertama
melalui perhatian pada pernafasan. Ketika para pelayanNya kembali dan melihat
Sang Anak sedang duduk bermeditasi, mereka melaporkan hal ini kepada Sang Raja
yang segera datang dan bersujud menghormati putranya.]
32. “Aku berpikir: ‘Mengapa
[247] Aku takut pada kenikmatan itu yang tidak berhubungan dengan kenikmatan
indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat?’ Aku berpikir: ‘Aku tidak takut
pada kenikmatan itu karena tidak berhubungan dengan kenikmatan indria dan
kondisi-kondisi tidak bermanfaat.’
[Kitab Komentar : Paragraf ini menandai perubahan
dalam evaluasi kenikmatan oleh Sang Bodhisatta; sekarang kenikmatan tidak lagi
dianggap sebagai sesuatu yang ditakuti dan diusir melalui praktik keras,
tetapi, jika muncul dari keterasingan dan pelepasan, terlihat sebagai pendamping
yang berharga dari tingkat-tingkat yang lebih tinggi sepanjang perjalanan
menuju pencerahan. Baca Majjhima Nikāya 139.9 tentang dua kelompok kenikmatan.
Yang menarik untuk kita pahami dari paragraf di atas,
“terasing dari kenikmatan indria maupun kondisi-kondisi tidak bermanfaat”,
telah ternyata akan mampu mengantarkan kita kepada “kenikmatan yang tidak
berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat”.]
33. “Aku mempertimbangkan: ‘Tidaklah mudah untuk mencapai kenikmatan
demikian dengan badan yang sangat kurus. Bagaimana jika Aku memakan sedikit makanan padat –
sedikit nasi dan bubur.’ Dan Aku memakan sedikit makanan padat – sedikit nasi
dan bubur. Pada saat itu lima bhikkhu melayaniKu, dengan berpikir: ‘Jika Petapa
Gotama kita mencapai kondisi yang lebih tinggi, Beliau akan memberitahu kita.’
Tetapi ketika Aku memakan nasi dan bubur, kelima bhikkhu itu menjadi jijik dan
meninggalkan Aku, dengan berpikir: ‘Petapa Gotama sekarang hidup dalam
kemewahan; ia telah meninggalkan usahaNya dan kembali pada kemewahan.’
34. “Ketika
Aku telah memakan sedikit makanan padat dan memperoleh kembali kekuatanKu, maka
dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi
tidak bermanfaat, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Tetapi perasaan
menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap
di sana.
[Kitab Komentar : Kalimat di atas menjawab
pertanyaan pertama dari dua pertanyaan yang diajukan oleh Saccaka pada paragraf
nomor ke-11.]
35-37. “Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, Aku
masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua ... Dengan meluruhnya sukacita ... Aku
masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga ... Dengan meninggalkan kenikmatan dan
kesakitan ... Aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat ... Tetapi perasaan
menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap
di sana.
38. “Ketika
konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan,
[248] Aku mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Aku mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu
kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran,
sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh
kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus
ribu kelahiran, banyak kappa penyusutan-dunia, banyak kappa
pengembangan-dunia, banyak kappa penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di
sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku
seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur
kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di
tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan
seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku
seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku
muncul kembali di sini.’ Demikianlah
dengan segala aspek dan ciri-cirinya Aku mengingat banyak kehidupan lampau.
39. “Ini adalah pengetahuan sejati pertama yang dicapai olehKu pada jaga
pertama malam itu. Ketidak-tahuan
tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya
muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun,
rajin dan bersungguh-sungguh. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu
itu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana.
40. “Ketika
konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan,
Aku mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali
makhluk-makhluk. Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku
melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia,
cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk
berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku
buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam
pandangan mereka, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi
buruk, di alam rendah, dalam kehancuran, bahkan di dalam neraka; tetapi
makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran,
bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar
dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah
muncul kembali di alam yang baik, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan
mata-dewa yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat makhluk-makhluk
meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya
dan miskin, Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan
perbuatan mereka.
41. “Ini adalah pengetahuan sejati ke dua yang dicapai olehKu pada jaga
ke dua malam itu. Ketidak-tahuan
tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, [249] kegelapan tersingkir dan cahaya
muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun,
rajin dan bersungguh-sungguh. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu
itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana.
42. “Ketika
konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan,
Aku mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Aku secara langsung mengetahui sebagaimana
adanya: ‘Ini
adalah penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula
penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya
penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju
lenyapnya penderitaan.’ Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana
adanya: ‘Ini
adalah asal-mula noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya
noda-noda’; Aku
secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan
menuju lenyapnya noda-noda.’
43. “Ketika
Aku mengetahui dan melihat demikian, pikiranKu terbebas dari noda keinginan
indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan,
muncullah pengetahuan: ‘terbebaskan.’ Aku secara langsung mengetahui:
‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus
dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi
makhluk apapun.’
44. “Ini adalah pengetahuan sejati ke tiga yang dicapai olehKu pada jaga
ke tiga malam itu. Ketidak-tahuan
tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya
muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun,
rajin dan bersungguh-sungguh. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu
itu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana.
45. “Aggivessana, Aku ingat pernah mengajarkan Dhamma kepada ratusan
kelompok. Mungkin tiap-tiap orang berpikir: ‘Petapa Gotama sedang mengajarkan
Dhamma secara khusus untukku.’ Tetapi jangan dianggap demikian; Sang Tathāgata mengajarkan
Dhamma kepada orang lain hanya untuk memberikan pengetahuan kepada mereka. Ketika
pembabaran itu selesai, Aggivessana, kemudian Aku mengokohkan pikiranKu secara
internal, menenangkannya, memusatkannya, dan mengkonsentrasikannya pada
gambaran yang sama dengan gambaran konsentrasi sebelumnya, yang mana Aku
berdiam di dalamnya secara terus-menerus.”
[Kitab Komentar menjelaskan “gambaran konsentrasi” (samādhinimittā)
di sini sebagai buah pencapaian kekosongan (suññataphalasamāpatti). Baca
juga Majjhima Nikāya 122.6.]
“Ini adalah suatu hal yang mana Guru Gotama dapat dipercaya, karena
Beliau adalah Yang Sempurna dan Tercerahkan Sempurna. Tetapi apakah Guru Gotama
ingat pernah tertidur di siang hari?”
[Kitab Komentar : Itu adalah pertanyaan yang awalnya
ingin ditanyakan oleh Saccaka kepada Sang Buddha. Walaupun para Arahant telah
melenyapkan kelambanan dan ketumpulan, namun mereka masih perlu tidur untuk
mengusir keletihan fisik yang menjadi sifat alami tubuh.]
46. “Aku ingat, Aggivessana, di bulan terakhir musim panas, ketika
kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan Aku menggelar
jubah luarKu yang dilipat empat, dan berbaring pada sisi kananKu, Aku jatuh tertidur
dengan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan.”
“Beberapa petapa dan brahmana menyebutnya kediaman dalam delusi, Guru
Gotama.” [250]
“Bukanlah
demikian seseorang itu terdelusi atau tidak terdelusi, Aggivessana. Sehubungan
dengan bagaimana seseorang itu terdelusi atau tidak terdelusi, dengarkan dan
perhatikanlah pada apa yang akan Aku katakan.” – “Baik, Yang Mulia.” Saccaka putra Nigaṇṭha menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
47. “Ia
Kusebut terdelusi, Aggivessana, yang belum meninggalkan noda-noda yang
mengotori, yang membawa penjelmaan baru, yang memberikan kesulitan, yang matang
dalam kesengsaraan, dan mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di
masa depan; karena adalah dengan tidak meninggalkan noda-noda maka seseorang
menjadi terdelusi. Ia Kusebut tidak terdelusi, yang telah meninggalkan
noda-noda yang mengotori, yang membawa penjelmaan baru, yang memberikan
kesulitan, yang matang dalam kesengsaraan, dan mengarah menuju kelahiran,
penuaan, dan kematian di masa depan; karena adalah dengan meninggalkan
noda-noda maka seseorang menjadi tidak terdelusi. Sang Tathāgata, Aggivessana,
telah meninggalkan noda-noda yang mengotori, yang membawa penjelmaan baru, yang
memberikan kesulitan, yang matang dalam kesengsaraan, dan mengarah menuju
kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan; Beliau telah memotongnya pada akarnya,
membuatnya seperti tunggul pohon palem, telah menyingkirkannya sehingga tidak
akan muncul kembali di masa depan. Seperti halnya sebatang pohon palem yang
pucuknya dipotong tidak akan mampu tumbuh lagi, demikian pula, Sang Tathāgata
telah meninggalkan noda-noda yang mengotori ... menyingkirkannya sehingga tidak
akan muncul kembali di masa depan.”
48. Ketika hal ini dikatakan, Saccaka putra Nigaṇṭha berkata: “Sungguh menakjubkan, Guru Gotama, sungguh mengagumkan bagaimana
ketika Guru Gotama menerima kata-kata sindiran lagi dan lagi, diserang oleh
ucapan yang tidak sopan, warna kulitNya menjadi cerah dan raut wajahNya jernih,
seperti yang seharusnya diharapkan dari seorang yang sempurna dan tercerahkan
sempurna. Aku
ingat, Guru Gotama, ketika terlibat perdebatan dengan Pūraṇa Kassapa, dan kemudian ia berbicara berbelit-belit, mengalihkan
pembicaraan, dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. Tetapi ketika Guru
Gotama menerima kata-kata sindiran lagi dan lagi, diserang oleh ucapan yang
tidak sopan, warna kulitNya menjadi cerah dan raut wajahNya jernih, seperti
yang seharusnya diharapkan dari seorang yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Aku ingat, Guru Gotama, ketika terlibat perdebatan
dengan Makkhali Gosāla ... Ajita Kesakambalin ... Pakudha Kaccāyana ... Sañjaya
Belaṭṭhiputta ... Nigaṇṭha Nātaputta, [251] dan kemudian ia berbicara berbelit-belit, mengalihkan
permbicaraan, dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. Tetapi
ketika Guru Gotama menerima kata-kata sindiran lagi dan lagi, diserang oleh
ucapan yang tidak sopan, warna kulitNya menjadi cerah dan raut wajahNya jernih,
seperti yang seharusnya diharapkan dari seorang yang sempurna dan tercerahkan
sempurna. Dan sekarang, Guru Gotama, kami harus pergi. Kami sibuk dan banyak
hal yang harus kami lakukan.”
“Sekarang adalah waktunya, Aggivessana, untuk melakukan apa yang engkau
anggap baik.”
Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha, dengan merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā,
bangkit dari duduknya dan pergi.
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa walaupun Saccaka
tidak mencapai pencapaian apapun atau bahkan tidak menerima Tiga Perlindungan,
namun Sang Buddha mengajarkan kepadanya dua sutta panjang untuk mengumpulkan
dalam dirinya suatu kesan batin (vāsanā) yang akan matang di masa depan.
Karena Beliau meramalkan bahwa kelak, setelah Ajaran berkembang di Sri Lanka,
Saccaka akan terlahir kembali di sana dan akan mencapai Kearahantaan sebagai
seorang Arahant besar, Kāḷa Buddharakkhita Thera.]
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.
