Sutta Pitaka Banyak Mengungkap Gambaran mengenai Alam Semesta, Membuat Kita Tersadarkan Betapa Kecilnya Kehidupan di Planet Bumi Ini
Dalam penggambaran atau ilustrasi para peneliti / ilmuan alam semesta, galaksi digambarkan menyerupai pusaran atau lingkaran. Bentuk lingkaran ataupun bundar, bukan kubus ataupun persegi wujudnya, maka diantara dua atau lebih galaksi, terdapat “celah” berupa “ruang kosong”. Apakah “ruang kosong” yang membatasi dua atau lebih galaksi, memiliki kehidupan ataukah bukan alam apapun dalam artian hampa dalam arti absolut dari eksistensi apapun? Apakah benar-benar tiada cahaya yang dapat menembusnya?
Di Sutta Pitaka, kita dapat menemukan apa yang
dinamakan “alam ruang antara yang hampa dan tanpa dasar, kelam, gelap gulita,
di mana bulan dan matahari, yang kuat dan perkasa, tidak dapat menjangkaunya”, dimana
diantara setiap tiga sistem dunia terdapat sebuah ruang antara berukuran 8,000
yojana; ini seperti ruang antara ketiga roda kereta atau mangkuk yang saling
bersentuhan. Makhluk-makhluk terlahir kembali di sana karena melakukan
pelanggaran berat terhadap orang tua mereka atau para petapa dan brahmana baik,
atau karena kebiasaan-kebiasaan jahat seperti membunuh binatang, dan lain-lain.
Berikut petikan salah satu sutta dari Sutta Pitaka:
“Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
meninggal dunia dari alam surga Tusita dan masuk ke dalam rahim ibuNya, suatu
cahaya yang tidak terukur yang melampaui para dewa muncul di dunia ini bersama
dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para
petapa dan brahmana, dengan para pangeran dan rakyatnya. Dan alam ruang antara
yang hampa dan tanpa dasar, kelam, gelap gulita, di mana bulan dan matahari, yang
kuat dan perkasa, tidak dapat menjangkaunya – cahaya terang yang tidak terukur
melampaui kemegahan para dewa juga muncul di sana. Dan makhluk-makhluk yang
terlahir kembali di sana dapat saling melihat karena cahaya itu: “Sesungguhnya,
Tuan, ada makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu
sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul
cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa.’ Ini juga
kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
Salah satu pengungkapan kehidupan di luar Planet Bumi, di
alam semesta, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang
Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle
Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~ SUTTA 123 ~
Acchariya-abbhūta Sutta : Mengagumkan
dan Menakjubkan
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang duduk di aula pertemuan, di mana
mereka berkumpul setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah
makan, ketika diskusi ini muncul di antara mereka: “Sungguh mengagumkan,
Teman-teman, sungguh menakjubkan, betapa sakti dan berkuasanya Sang Tathāgata!
Karena Beliau mampu mengetahui tentang para Buddha masa lampau – yang mencapai
Nibbāna akhir, memotong [kekusutan] proliferasi, mematahkan siklus, mengakhiri
lingkaran, dan mengatasi segala penderitaan – bahwa kelahiran para Bhagavā itu
adalah seperti demikian, nama mereka adalah demikian, suku mereka adalah
demikian, moralitas mereka adalah demikian, kondisi [konsentrasi] mereka adalah
demikian, kebijaksanaan mereka adalah demikian, kediaman mereka [di dalam
pencapaian] adalah demikian, kebebasan mereka adalah demikian.”
[Kitab Komentar : Kemampuan tersebut ditunjukkan
dalam Dīgha Nikāya 14, yang memberikan informasi terperinci mengenai enam
Buddha sebelum Gotama.]
Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada para bhikkhu:
“Teman-teman, Para
Tathāgata adalah mengagumkan dan memiliki kualitas-kualitas mengagumkan. Para
Tathāgata adalah menakjubkan dan memiliki kualitas-kualitas menakjubkan.” [119]
Akan tetapi, diskusi mereka terhenti; karena Sang Bhagavā bangkit dari
meditasiNya pada malam itu, memasuki aula pertemuan, dan duduk di tempat yang
telah dipersiapkan. Kemudian Beliau bertanya kepada para bhikkhu sebagai
berikut:
“Para bhikkhu, untuk mendiskusikan apakah kalian duduk bersama di sini
saat ini? Dan diskusi apakah yang terhenti?”
“Di sini, Yang Mulia, kami sedang duduk di aula pertemuan, di mana kami
berkumpul setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan,
diskusi ini muncul di antara kami: ‘Sungguh mengagumkan, Teman-teman, sungguh
menakjubkan ... kebebasan mereka adalah demikian.’ Ketika hal ini dikatakan,
Yang Mulia Ānanda berkata kepada kami: ‘Teman-teman, Para Tathāgata adalah
mengagumkan dan memiliki kualitas-kualitas mengagumkan. Para Tathāgata adalah
menakjubkan dan memiliki kualitas-kualitas menakjubkan.’ Ini adalah diskusi
kami, Yang Mulia, yang terhenti ketika Sang Bhagavā datang.”
Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Kalau begitu,
Ānanda, jelaskanlah dengan lebih lengkap tentang kualitas-kualitas mengagumkan
dan menakjubkan dari Sang Tathāgata.”
3. “Aku mendengar dan mempelajari ini, Yang Mulia, dari mulut Sang
Bhagavā sendiri: ‘Dengan
penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, Ānanda, Sang Bodhisatta muncul di alam
surga Tusita.’ Bahwa [120] dengan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan Sang
Bodhisatta muncul di alam surga Tusita. Ini kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan
dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
[Kitab Komentar : Perihal kalimat “Sang
Bodhisatta muncul di alam surga Tusita.’” Ini merujuk pada kelahiran
kembali Sang Bodhisatta di alam surga Tusita, setelah kehidupannya di alam
manusia sebagai Vessantara dan sebelum kelahirannya di alam manusia sebagai
Siddhattha Gotama.]
4. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Dengan penuh perhatian
dan penuh kewaspadaan Sang Bodhisatta berada di alam surga Tusita.’ Ini juga kuingat
sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
5. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Sang Bodhisatta berada
di alam surga Tusita selama panjang umur kehidupan penuh.’ Ini juga kuingat
sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
6. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Dengan penuh perhatian
dan penuh kewaspadaan Sang Bodhisatta meninggal dunia dari alam surga Tusita dan
masuk ke dalam rahim ibuNya.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas
mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
7. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
meninggal dunia dari alam surga Tusita dan masuk ke dalam rahim ibuNya, suatu
cahaya yang tidak terukur yang melampaui para dewa muncul di dunia ini bersama
dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para
petapa dan brahmana, dengan para pangeran dan rakyatnya. Dan alam ruang antara
yang hampa dan tanpa dasar, kelam, gelap gulita, di mana bulan dan matahari,
yang kuat dan perkasa, tidak dapat menjangkaunya – cahaya terang yang tidak
terukur melampaui kemegahan para dewa juga muncul di sana. Dan makhluk-makhluk
yang terlahir kembali di sana dapat saling melihat karena cahaya itu:
“Sesungguhnya, Tuan, ada makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!”
Dan sepuluh ribu sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di
sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para
dewa.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari
Sang Bhagavā.
[Kitab Komentar : Perihal “alam ruang antara yang
hampa dan tanpa dasar, kelam, gelap gulita”, di antara setiap tiga sistem dunia
terdapat sebuah ruang antara berukuran 8,000 yojana; ini seperti ruang antara
ketiga roda kereta atau mangkuk yang saling bersentuhan. Makhluk-makhluk terlahir
kembali di sana karena melakukan pelanggaran berat terhadap orang tua mereka
atau para petapa dan brahmana baik, atau karena kebiasaan-kebiasaan jahat
seperti membunuh binatang, dan lain-lain.
Perihal “cahaya yang tidak terukur yang melampaui
kemegahan para dewa muncul di dunia ini”, yang kemunculannya pernah membuat
sepuluh ribu sistem dunia bergoyang dan bergoncang dan bergetar, membuat Sang
Buddha patut diberi gelar sebagai “CAHAYA” itu sendiri (LIGHT), bukan “the
Son of Light” juga bukan “utusan dari cahaya”.]
8. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
telah memasuki rahim ibuNya, empat dewa muda datang untuk menjaganya di empat
penjuru agar tidak ada manusia atau bukan-manusia atau siapapun dapat
mencelakai Sang Bodhisatta atau ibuNya.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas
mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
[Kitab Komentar : Empat dewa adalah Empat Raja Dewa (para
dewa yang menetap di alam surga Empat Raja Dewa).]
9. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
telah memasuki rahim ibuNya, sang ibu menjadi sungguh-sungguh bermoral,
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang
tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria,
menghindari kebohongan, dan menghindari anggur, minuman keras, dan minuman
memabukkan, yang menjadi landasan kelengahan.’ Ini juga kuingat sebagai satu
kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. [121]
10. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
telah memasuki rahim ibuNya, tidak ada pikiran indriawi yang muncul pada ibuNya
sehubungan dengan laki-laki, dan ia tidak tersentuh oleh laki-laki manapun yang
memiliki pikiran bernafsu.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan
dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
11. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
telah memasuki rahim ibuNya, sang ibu memperoleh kelima utas kenikmatan indria,
dan dengan memilikinya, ia menikmatinya.’ Ini juga kuingat sebagai satu
kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
12. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
telah memasuki rahim ibuNya, tidak ada penderitaan apapun yang muncul pada sang
ibu; ia bahagia dan bebas dari kelelahan jasmani. Ia melihat Sang Bodhisatta di
dalam rahimnya dengan seluruh bagian-bagian tubuhnya, lengkap dengan
organ-organ indria. Misalkan terdapat seutas benang berwarna biru, kuning,
merah, putih, atau cokelat menembus mengikat sebuah permata beryl yang indah
sebening air yang Pāling jernih, bersisi-delapan, dipotong dengan baik, dan
seseorang yang berpenglihatan baik, memegangnya dengan tangannya, mengamatinya
sebagai berikut: “Ini adalah permata beryl yang indah sebening air yang Pāling
jernih, bersisi-delapan, dipotong dengan baik, jernih dan cemerlang, memiliki
segala kualitas baik, dan seutas benang berwarna biru, kuning, merah, putih,
atau cokelat menembus mengikatnya.” Demikian pula, ketika Sang Bodhisatta telah
memasuki rahim ibuNya ... lengkap dengan organ-organ indria.’ Ini juga kuingat
sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. [122]
13. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ’Tujuh hari setelah
kelahiran Sang Bodhisatta, sang ibu meninggal dunia dan muncul kembali di alam
surga Tusita.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan
menakjubkan dari Sang Bhagavā.
[Kitab Komentar : Ibu dari Sang Bodhisatta meninggal
dunia dan muncul kembali di alam surga Tusita, hal itu terjadi bukan karena
kegagalan dalam persalinan, melainkan karena habisnya umur kehidupannya; karena
tempat (di dalam rahim) yang ditempati oleh Sang Bodhisatta, yang menyerupai
kamar bagian dalam dari sebuah cetiya, tidak dapat digunakan oleh orang lain.]
14. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ’Para perempuan lain
melahirkan setelah mengandung anaknya dalam rahim selama sembilan atau sepuluh
bulan, tetapi tidak demikian dengan ibu Sang Bodhisatta. Ibu Sang Bodhisatta
melahirkanNya setelah mengandungNya selama tepat sepuluh bulan.’ Ini juga kuingat
sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
15. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ’Para perempuan lain
melahirkan dalam posisi duduk atau berbaring, tetapi tidak demikian dengan ibu
Sang Bodhisatta. Ibu Sang Bodhisatta melahirkanNya dalam posisi berdiri.’ Ini
juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
16. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
keluar dari rahim ibuNya, pertama-tama para dewa menerimaNya, kemudian
manusia.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan
dari Sang Bhagavā.
17. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
keluar dari rahim ibuNya, Beliau tidak menyentuh tanah. Empat dewa muda
menerimanya dan mengangkatnya di depan sang ibu dengan mengatakan:
“Bergembiralah, O Ratu, seorang putera dengan kekuasaan luar biasa telah engkau
lahirkan.”’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan
dari Sang Bhagavā.
18. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
keluar dari rahim ibuNya, Beliau keluar dalam keadaan bersih, tidak berlumuran
[123] air atau cairan atau darah atau kotoran apapun juga, bersih, dan tanpa
noda. Misalkan terdapat sebutir permata yang diletakkan di atas sehelai kain
Kāsi, maka permata itu tidak mengotori kain atau kain mengotori permata.
Mengapakah? Karena kemurnian keduanya. Demikian pula Sang Bodhisatta keluar ...
bersih, dan tanpa noda.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan
menakjubkan dari Sang Bhagavā.
19. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
keluar dari rahim ibuNya, dua pancuran air memancar dari angkasa, satu sejuk
dan satu hangat, untuk memandikan Sang Bodhisatta dan ibuNya.’ Ini juga kuingat
sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
20. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Segera setelah Sang
Bodhisatta lahir, Beliau berdiri tegak dengan kaki menginjak tanah; kemudian
Beliau berjalan tujuh langkah ke arah utara, dan dengan payung putih
memayungiNya, Beliau mengamati tiap-tiap penjuru dan mengucapkan kata-kata
seorang Pemimpin Kelompok: “Akulah yang tertinggi di dunia; Akulah yang terbaik
di dunia; Akulah yang terkemuka di dunia. Inilah kelahiranKu yang terakhir;
sekarang tidak ada lagi penjelmaan baru bagiKu.”’ Ini juga kuingat sebagai satu
kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
[Kitab Komentar menjelaskan masing-masing aspek dari
peristiwa ini sebagai simbol dari pencapaian Sang Buddha kelak. Demikianlah,
berdiri pada kedua kakinya (pāda) dengan tegak di atas tanah adalah
simbol dari pencapaian empat landasan kekuatan batin (iddhipāda); Beliau
menghadap ke utara, melambangkan Beliau mengarah ke atas dan melampaui banyak makhluk;
tujuh langkahNya, melambangkan Beliau memperoleh tujuh faktor pencerahan
sempurna; payung putih, melambangkan Beliau memperoleh payung kebebasan;
mengamati segala penjuru, melambangkan Beliau memperoleh pengetahuan
kemahatahuan yang tanpa halangan; mengucapkan kata-kata seorang Pemimpin
Kelompok, melambangkan Beliau memutar Roda Dhamma yang tidak bisa dihalangi;
pernyataan “Inilah kelahiranKu yang terakhir,” melambangkan Beliau meninggal dunia
dan memasuki unsur Nibbāna tanpa sisa (dari faktor-faktor kehidupan).]
21. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
keluar dari rahim ibunya, suatu cahaya yang tidak terukur yang melampaui para
dewa muncul di dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, dalam
generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, dengan para pangeran dan
rakyatnya. Dan bahkan alam ruang antara yang hampa dan tanpa dasar, kelam, gelap
gulita, di mana bulan dan matahari, yang kuat dan perkasa, tidak dapat
menjangkaunya – [124] cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para
dewa juga muncul di sana. Dan makhluk-makhluk yang terlahir kembali di sana
dapat saling melihat karena cahaya itu: “Sesungguhnya, Tuan, ada
makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu sistem
dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya
terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa.’ Bahwa ketika Sang
Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, suatu cahaya yang tidak terukur yang
melampaui para dewa ... Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan
menakjubkan dari Sang Bhagavā.”
22. “Karena itu, Ānanda, ingatlah ini juga sebagai kualitas mengagumkan
dan menakjubkan dari Sang Tathāgata: Di sini, Ānanda, bagi Sang Tathāgata
perasaan-perasaan dikenali pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat
lenyapnya; persepsi-persepsi dikenali pada saat munculnya, pada saat
berlangsungnya, pada saat lenyapnya; pikiran-pikiran dikenali pada saat
munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya. Ingatlah ini juga,
Ānanda, sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.”
[Kitab Komentar : Pernyataan “dikenali pada saat
munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya” ini tampaknya
adalah cara Sang Buddha dalam menilai kualitas yang Beliau anggap sebagai yang sungguh-sungguh
mengagumkan dan menakjubkan.]
23. “Yang Mulia, karena bagi Sang Bhagavā perasaan-perasaan dikenali pada
saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya;
persepsi-persepsi dikenali pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada
saat lenyapnya; pikiran-pikiran dikenali pada saat munculnya, pada saat
berlangsungnya, pada saat lenyapnya - Ini juga kuingat sebagai satu kualitas
mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Ānanda. Sang Guru
menyetujuinya. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Yang
Mulia Ānanda.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.
