Faktanya, Tidak Semua Orang Suka dan Mampu Menerima Fakta
Ajahn Brahm, pernah berkata bahwa sungguh ironis bahwa banyak orang membawa diri mereka sendiri kedalam penderitaan akibat kekecewaan, ketika tim kesebelasan nasionalnya gugur dalam penyisihan piala dunia. Mengapa tidak memilih untuk mendukung / membela tim yang keluar sebagai juara, agar bahagia tanpa merasa kecewa? Femonena sosial yang sama dapat kita jumpai ketika kita memuji-muji lembaga seperti Kejaksaan Agung ataupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang selama ini berhasil mengungkap serta menindak berbagai tindak pidana korupsi besar, akan tetapi kemudian publik menjadi kecewa karena telah ternyata oknum-petinggi di institusi tersebut justru “memberantas korupsi, sembari nyambi korupsi”.
Rakyat kita pun pernah mengalami,
mengelu-elukan calon presiden atau presiden tertentu, telah ternyata dikemudian
hari kecewa, dan berbalik mengecamnya. Tidak terkecuali akibat
fanatisme-berlebihan, seseorang bisa menyakiti, merugikan, atau bahkan melukai
pihak lain dengan mengatas-namakan agama. Rakyat kita tampak seperti
simpatisan-berat satu bangsa tertentu di wilayah Timur-Tengah, atau menjadi simpatisan
kaum Rohingya di Rakhine, sebelum kemudian dikecewakan sendiri oleh orang-orang
pengusian Rohingya yang justru membuat ulah di Tanah Air, maupun Pekerja Migran
Indonesia (PMI) yang disekap dan diperbudak oleh pemberontak Rohingya untuk dijadikan
pekerja “online scam”.
Kita bisa jadi bersikap nasionalistik,
berjiwa kebangsaan. Telah tarnyata, yang selama ini kerap kali merugikan,
menyakiti, serta melukai kita pada era kemerdekaan ini, ialah oleh sesama anak
bangsa pelakunya, bukan oleh bangsa lain. Dalam kasus-kasus seperti TPPO (Tindak
Pidana Perdagangan Orang) maupun “online scam” di negara lain,
seringkali terdapat “oknum” berupa sesama WNI (Warga Negara Indonesia) yang
menjadi bagian dari sindikat yang bertugas merekrut orang Indonesia untuk
dijerat dan diperdagangkan. Kita bisa mengalami frustasi berat, bila telah
ternyata bangsa yang kita cintai dan banggakan, justru menyakiti kita.
Tidak mengherankan, bila Sang Buddha
pernah bersabda : “Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan
keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang
disayangi.” Mungkin Anda tidak sependapat, dan bersikukuh pada pendapat
sebaliknya. Namun, Sang Buddha tidak pernah mengemis-ngemis agar pernyataannya
disetujui. Perihal bagaimana Sang Buddha mengungkapkan fakta, dapat kita simak
dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu
Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh
Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
~SUTTA
87 ~
Piyajātika
Sutta: Terlahir dari Mereka yang Disayangi
[106] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Pada saat itu seorang putera tunggal tersayang dan tercinta dari
seorang perumah-tangga telah meninggal dunia. Setelah kematian puteranya, ia
tidak lagi berkeinginan untuk bekerja ataupun makan. Ia terus-menerus pergi ke
pekuburan dan menangis: “Putera tunggalku, di manakah engkau? Putera tunggalku,
di manakah engkau?”
3. Kemudian perumah-tangga itu mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah
bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Sang Bhagavā berkata kepadanya:
“Perumah-tangga, indria-indriamu
tidak seperti indria-indria mereka yang mengendalikan pikirannya.
Indria-indriamu tidak sewajarnya.”
“Bagaimana mungkin indria-indriaku bisa sewajarnya, Yang Mulia? Karena
putera tunggalku yang tersayang dan tercinta telah meninggal dunia. Sejak ia mati
aku tidak lagi berkeinginan untuk bekerja ataupun makan. Aku terus-menerus
pergi ke pekuburan dan menangis: ‘Putera tunggalku, di manakah engkau? Putera
tunggalku, di manakah engkau?’”
“Demikianlah, perumah-tangga, demikianlah! Dukacita, ratapan,
kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi,
muncul dari mereka yang disayangi.”
“Yang
Mulia, siapakah yang beranggapan bahwa dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka
yang disayangi? Yang Mulia, kebahagiaan dan kegembiraan ditimbulkan dari mereka
yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.”
Kemudian, karena tidak senang dengan kata-kata Sang Bhagavā, dengan tidak
menyetujuinya, perumah-tangga itu bangkit dari duduknya dan pergi.
4. Pada saat itu beberapa orang penjudi sedang bermain dadu tidak jauh
dari Sang Bhagavā. Kemudian perumah-tangga itu mendatangi para penjudi itu dan berkata:
“Baru saja, tuan-tuan, [107] aku mendatangi Petapa Gotama, dan setelah bersujud
kepada Beliau, aku duduk di satu sisi. Ketika aku telah melakukan demikian,
Petapa Gotama berkata kepadaku: ‘Perumah-tangga, indria-indriamu tidak seperti
indria-indria mereka yang mengendalikan pikirannya.’ ... (ulangi keseluruhan percakapan seperti di atas)
... ‘Yang Mulia, kebahagiaan dan kegembiraan ditimbulkan dari mereka yang
disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.’ Kemudian, karena tidak senang dengan
kata-kata Sang Bhagavā, dengan tidak menyetujuinya, aku bangkit dari dudukku
dan pergi.”
“Demikianlah, perumah-tangga, demikianlah! Kebahagiaan dan
kegembiraan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang
disayangi.”
Kemudian perumah-tangga itu pergi dengan pikiran: “Aku sependapat dengan
para penjudi itu.”
5. Akhirnya kisah ini sampai ke istana raja. Kemudian Raja Pasenadi dari
Kosala berkata kepada Ratu Mallikā: “Ini adalah apa yang telah dikatakan oleh Petapa
Gotama, Mallikā: ‘Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan
ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.’”
“Jika itu telah dikatakan oleh Sang Bhagavā, Baginda, maka demikianlah
adanya.”
“Tidak peduli apa yang dikatakan oleh Petapa Gotama, Mallikā selalu
memujinya sebagai berikut: ‘Jika itu telah dikatakan oleh Sang Bhagavā,
Baginda, maka demikianlah adanya.’ Bagaikan seorang murid yang memuji apapun yang
dikatakan oleh gurunya kepadanya, dengan mengatakan: ‘Demikianlah, guru,
demikianlah!’; demikian pula Mallikā, tidak peduli apa yang dikatakan oleh
Petapa Gotama, Mallikā selalu memujinya sebagai berikut: ‘Jika itu [108] telah
dikatakan oleh Sang Bhagavā, Baginda, maka demikianlah adanya.’ Pergilah,
Mallikā, pergilah engkau!”
6. Kemudian Ratu Mallikā berkata kepada Brahmana Nāḷijangha: “Pergilah, Brahmana, temui Sang Bhagavā dan bersujudlah atas namaku
dengan kepalamu di kaki Beliau, dan tanyakan apakah Beliau bebas dari sakit dan
apakah Beliau sehat, kuat dan berdiam dengan nyaman, dengan mengatakan: ‘Yang
Mulia, Ratu Mallikā bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā dan
menanyakan apakah Sang Bhagavā bebas dari sakit ... dan berdiam dengan nyaman.’
Kemudian katakan ini: ‘Yang Mulia, apakah kata-kata ini telah diucapkan oleh
Sang Bhagavā: “Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputusasaan
ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi”?’
Dengarkanlah baik-baik apa jawaban Sang Bhagavā dan laporkanlah kepadaku;
karena Sang Bhagavā tidak mengucapkan kebohongan.”
“Baik, Nyonya,” ia menjawab, dan ia mendatangi Sang Bhagavā dan saling
bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu
sisi dan berkata: “Guru Gotama, Ratu Mallikā bersujud dengan kepalanya di kaki Sang
Bhagavā dan menanyakan apakah Sang Bhagavā bebas dari sakit ... dan berdiam
dengan nyaman. Dan ia mengatakan ini: ‘Yang Mulia, apakah kata-kata ini telah
diucapkan oleh Sang Bhagavā: “Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan
keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang
disayangi”?’”
7. “Demikianlah, Brahmana, demikianlah! Dukacita,
ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang
disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.
8. “Dapat
dipahami dari ini, Brahmana, bagaimana dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka
yang disayangi. Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang wanita yang
ibunya meninggal dunia. Karena kematian ibunya, ia menjadi gila, menjadi tidak
waras, dan berkeliaran dari jalan ke jalan dan dari persimpangan ke
persimpangan, dengan mengatakan: ‘Apakah kalian melihat ibuku? Apakah kalian
melihat ibuku?’ [109]
9-14. “Dan
juga dapat dipahami dari ini bagaimana dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka
yang disayangi. Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang wanita yang
ayahnya meninggal dunia ... yang saudara laki-lakinya meninggal dunia ... yang
saudara perempuannya meninggal dunia ... yang puteranya meninggal dunia ...
yang puterinya meninggal dunia ... yang suaminya meninggal dunia. Karena
kematian suaminya, ia menjadi gila, menjadi tidak waras, dan berkeliaran dari
jalan ke jalan dan dari persimpangan ke persimpangan, dengan mengatakan:
‘Apakah kalian melihat suamiku? Apakah kalian melihat suamiku?’
15-21. “Dan
juga dapat dipahami dari ini bagaimana dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka
yang disayangi. Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang laki-laki yang
ibunya meninggal dunia ... yang ayahnya meninggal dunia ... yang saudara
laki-lakinya meninggal dunia ... yang saudara perempuannya meninggal dunia ...
yang puteranya meninggal dunia ... yang puterinya meninggal dunia ... yang
istrinya meninggal dunia. Karena kematian istrinya, ia menjadi gila, menjadi
tidak waras, dan berkeliaran dari jalan ke jalan dan dari persimpangan ke
persimpangan, dengan mengatakan: ‘Apakah kalian melihat istriku? Apakah kalian
melihat istriku?’
22. “Dan
juga dapat dipahami dari ini bagaimana dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka
yang disayangi. Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang perempuan
yang menetap bersama keluarga sanak saudaranya. Sanak saudaranya ingin
menceraikan dirinya dari suaminya dan menyerahkan dirinya kepada orang yang
tidak ia sukai. Kemudian perempuan itu berkata kepada suaminya: ‘Suamiku,
sanak-saudaraku ingin menceraikan aku darimu dan menyerahkan aku kepada orang
lain yang tidak aku sukai.’ Kemudian sang suami memotong perempuan itu menjadi
dua [110] dan menusuk perutnya sendiri, dengan pikiran: ‘Kita akan bersama-sama
lagi dalam kehidupan berikut.’ Ini juga dapat dipahami dari ini, Brahmana,
bagaimana dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan
ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.”
23. Kemudian, dengan merasa senang dan gembira mendengarkan kata-kata Sang
Bhagavā, Brahmana Nāḷijangha bangkit dari duduknya, menghadap Ratu
Mallikā, dan melaporkan kepadanya seluruh percakapannya dengan Sang Bhagavā.
24. Kemudian Ratu Mallikā menghadap Raja Pasenadi dari Kosala dan
bertanya: “Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah engkau menyayangi Puteri
Vajiri?”
“Tentu, Mallikā, aku menyayangi Puteri Vajiri.”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Jika
perubahan terjadi pada Puteri Vajiri, akankah dukacita, ratapan, kesakitan,
kesedihan, dan keputus-asaan muncul pada dirimu?”
[Kitab Komentar : Ungkapan seperti “Jika
perubahan terjadi pada ...” ini sering digunakan sebagai bermakna penyakit
berat dan kematian.]
“Perubahan
pada Puteri Vajiri berarti perubahan dalam hidupku. Bagaimana mungkin dukacita,
ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam diriku?”
“Adalah
sehubungan dengan hal ini, Baginda, maka Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘Dukacita, ratapan, kesakitan,
kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul
dari mereka yang disayangi.’
25-28. “Bagaimana
menurutmu, Baginda? Apakah engkau menyayangi Ratu Vāsabhā? … Apakah engkau
menyayangi Jenderal Viḍūḍabha? … [111] … Apakah
engkau menyayangiku? … Apakah engkau menyayangi Kāsi dan Kosala?”
[Kitab Komentar : Viḍūḍabha adalah putera raja, yang akhirnya
menggulingkannya. Kāsi dan Kosala adalah negeri yang dikuasai oleh raja.]
“Tentu, Mallikā, aku menyayangi Kāsi dan Kosala. Kita berhutang pada Kāsi
dan Kosala dalam hal bahwa kita menggunakan kayu cendana dan memakai kalung
bunga, dupa, dan salep dari Kāsi”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Jika perubahan terjadi pada Kāsi dan
Kosala, akankah dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan
muncul dalam dirimu?”
“Perubahan
pada Kāsi dan Kosala berarti perubahan dalam hidupku. Bagaimana mungkin
dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam diriku?”
“Adalah
sehubungan dengan hal ini, Baginda, maka Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘Dukacita, ratapan,
kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi,
muncul dari mereka yang disayangi.’”
29. “Sungguh
mengagumkan, Mallikā, sungguh menakjubkan betapa jauhnya [112] Sang Bhagavā
menembus dengan kebijaksanaan dan melihat dengan kebijaksanaan! Pergilah, Mallikā, ambilkan aku air pencuci.”
[Kitab Komentar : Ia menggunakan air ini untuk
mencuci tangan dan kakinya dan membersihkan mulutnya sebelum memberi
penghormatan kepada Sang Buddha.]
Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala bangkit dari duduknya, dan setelah
membenahi jubah atasnya di salah satu bahunya, ia merangkapkan tangannya
sebagai penghormatan kepada Sang Bhagavā dan mengucapkan seruan ini tiga kali:
“Hormat kepada
Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna! Hormat kepada Sang
Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna! Hormat kepada Sang Bhagavā,
yang sempurna dan tercerahkan sempurna!”
©
Hak
Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril,
dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku
Penulis.
