Semengerikan dan Semenakutkan apakah Siksaan Alam Neraka? Karena Itulah, Miliki Rasa Takut untuk Berbuat Buruk / Jahat, agar Terhindar dari Neraka
Tidak Berbuat Kejahatan, Tidak Merugikan Pihak Lain, Tidak Melukai Pihak
Lain, Tidak Menyakiti Pihak Lain, dan Bertanggung-Jawab ketika Berbuat Keliru,
Demi Kepentingan Pihak Siapakah?
Sang Buddha pernah menyebutkan, apa yang dipandang sebagai kenikmatan / kesenangan di mata orang awam kebanyakan, adalah dukkha (derita, tidak dapat terpuaskan, tidak memuaskan, dampak sampingan dari kondisi yang selalu berubah) di mata seorang Buddha. Apa yang di mata koruptor sebagai kemenangan karena berhasil lolos dari jerat hukum, adalah kekalahan di mata orang bijak. Apa yang dinilai sebagai cerdik di mata orang dungu—semisal memakan dan termakan dogma “penghapusan dosa” ataupun menyewa “mafia hukum” agar lolos dari jerat hukum pidana—adalah kebodohan di mata orang bijaksana.
Setidak-manusiawi
apapun kondisi penjara kita yang digambarkan serba “over-crowded”,
kondisinya akan jauh lebih mengenaskan bila sang penjahat pada muaranya jatuh
dalam siksaan neraka. Kita dapat terdemotivasi untuk berbuat jahat, dan disaat
bersamaan termotivasi untuk menghindari perbuatan-perbuatan buruk, dengan
mengintip seperti apakah kondisi di neraka, dan bagaimanakah derita para
tersiksa penghuni alam neraka. Dengan begitu, kita tidak akan lagi bersikap
“egois terhadap diri kita sendiri”, yakni tidak melakukan sesuatu yang akan
kita sesali sendiri akibat / konsekuensinya dikemudian hari.
Narapidana penghuni
neraka tidak memiliki hak untuk berlindung dibalik istilah “hak asasi manusia”,
karena tidak ada “hak asasi manusia” bagi para narapidana penghuni neraka, sebagaimana
dapat kita simak selengkapnya dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha
(Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of
the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli
to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu
Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh
Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
~
SUTTA 130 ~
Devadūta
Sutta : Utusan Surgawi
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para
bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
2. “Para bhikkhu, misalkan terdapat dua rumah berpintu dan seseorang yang
berpenglihatan baik berdiri di antara kedua rumah itu melihat orang-orang masuk
dan keluar dan berlalu-lalang. Demikian
pula, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat
makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan
buruk rupa, kaya dan miskin. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut
sesuai dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik
dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan
benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang bahagia,
bahkan di alam surga. Atau Makhluk-makhluk mulia ini, yang berperilaku baik
dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan [179] pencela para mulia,
berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam
manusia. Tetapi makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani,
ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan, memberikan
dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, telah muncul kembali di alam hantu. Atau makhluk-makhluk ini
yang berperilaku buruk … ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah
muncul kembali di alam binatang. Atau makhluk-makhluk ini yang berperilaku
buruk … ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam
kondisi buruk, di alam rendah, dalam kehancuran, bahkan di dalam neraka.’
3. “Sekarang para penjaga neraka menangkap makhluk itu pada kedua
lengannya dan membawanya ke hadapan Raja Yama, dengan berkata: ‘Baginda, orang
ini telah memperlakukan ibunya dengan buruk, memperlakukan ayahnya dengan
buruk, memperlakukan para petapa dengan buruk, memperlakukan para brahmana
dengan buruk; ia tidak menghormati para sesepuh sukunya. Silahkan Raja
menjatuhkan hukuman.’
[Kitab Komentar : Yama adalah dewa kematian. Kitab
Komentar mengatakan bahwa ia adalah raja makhluk halus yang memiliki istana
surgawi. Kadang-kadang ia menetap di istana surgawi menikmati kenikmatan
surgawi, kadang-kadang ia mengalami akibat kamma; ia adalah raja yang
baik. Kitab Komentar menambahkan bahwa sebenarnya ada empat Yama, satu di
setiap empat gerbang (neraka?).]
4. “Kemudian Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi pertama: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
pertama muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama
berkata: ‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang bayi lembut yang
berbaring telungkup, kotor dengan kotoran dan air kencingnya sendiri?’ Ia
berkata: ‘Pernah, Tuan.’
[Kitab Komentar : Menurut
legenda Buddhis, tiga dari para utusan surgawi – orang tua, orang sakit, dan
orang mati – menampakkan diri di hadapan Sang Bodhisatta ketika ia sedang
menetap di istana, menghancurkan pesona kehidupan duniawi dan menyadarkannya
pada keinginan untuk mencari jalan kebebasan. Baca Anguttara Nikāya 3:38/i.145-46 untuk penjelasan atas asal-usul
secara psikologis dari mana legenda ini berkembang.]
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada kelahiran, aku tidak terbebas dari kelahiran: tentu saja aku
lebih baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu atau ayahmu, [180] atau oleh saudara laki-laki atau
saudara perempuanmu, atau oleh teman-teman dan sahabatmu, atau oleh sanak
saudara dan kerabatmu, atau oleh para petapa dan brahmana, atau oleh para dewa;
perbuatan jahat
ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
5. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi pertama, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke dua: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
ke dua muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama berkata:
‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang laki-laki – atau seorang
perempuan – berumur delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun, tua,
bungkuk seperti rusuk atap, merunduk, berjalan dengan ditopang oleh tongkat,
terhuyung-huyung, lemah, kehilangan kemudaan, gigi tanggal, rambut memutih,
rambut berguguran, botak, keriput, dengan bercak pada bagian-bagian tubuh?’ Ia
berkata: ‘Pernah, Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada penuaan, aku tidak terbebas dari penuaan: tentu saja aku lebih
baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
6. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke dua, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke tiga: [181] ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan
surgawi ke tiga muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama
berkata: ‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang laki-laki – atau
seorang perempuan – yang sakit, menderita, dan sakit parah, berbaring dengan
dikotori oleh kotoran dan air kencingnya sendiri, diangkat oleh beberapa orang
dan dibaringkan oleh beberapa orang lainnya?’ Ia berkata: ‘Pernah, Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada penyakit, aku tidak terbebas dari penyakit: tentu saja aku
lebih baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
7. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke tiga, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke empat: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
ke empat muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama
berkata: ‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia, ketika seorang penjahat
perampok tertangkap, raja-raja menjatuhkan berbagai jenis hukuman padanya:
setelah menderanya dengan cambukan, memukulnya dengan rotan, memukulnya dengan
pemukul; setelah memotong tangannya, memotong kakinya, memotong tangan dan
kakinya; memotong telinganya, memotong hidungnya, memotong telinga dan
hidungnya; dikenai siksaan ‘panci bubur,’ ‘cukuran kulit kerang yang digosok,’
‘mulut Rāhu,’ ‘lingkaran api,’ ‘tangan menyala,’ ‘helai rumput,’ ‘pakaian kulit
kayu,’ ‘kijang,’ ‘kail daging,’ ‘kepingan uang,’ ‘cairan asin,’ ‘tusukan
berporos,’ ‘gulungan tikar jerami’; dan mereka disiram dengan minyak mendidih,
dan mereka dibuang agar dimangsa oleh anjing-anjing, dan mereka dalam keadaan
hidup ditusuk dengan kayu pancang, dan kepala mereka dipenggal dengan pedang?’
Ia berkata: ‘Pernah, Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Mereka
yang melakukan perbuatan jahat akan mengalami berbagai jenis siksaan di sini
dan saat ini; [182] apa lagi setelah kematian? Tentu saja aku lebih baik
melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
8. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke empat, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke lima: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
ke lima muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama
berkata: ‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang laki-laki – atau
seorang perempuan – satu hari setelah mati, dua hari setelah mati, tiga hari
setelah mati, membengkak, memucat, dan meneteskan cairan?’ Ia berkata: ‘Pernah,
Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada kematian, aku tidak terbebas dari kematian: tentu saja aku
lebih baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
9. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke lima, Raja Yama berdiam diri.
10. “Kemudian para penjaga neraka [183] menyiksanya dengan lima tusukan.
Mereka menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu tangan, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus tangan lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu kakinya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus kaki lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus perutnya. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
[Kitab Komentar : Penjelasan mengenai neraka berikut
ini, hingga ke paragraf nomor ke-16, juga terdapat pada Majjhima Nikāya
129.10-16.]
11. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke bawah dan mengulitinya
dengan kapak. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
12. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mengulitinya dengan alat pengukir kayu. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
13. “Kemudian para penjaga neraka mengikatnya pada sebuah kereta dan
menariknya ke sana-sini di atas tanah yang terbakar, menyala, dan berpijar. Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
14. “Kemudian para penjaga neraka menyuruhnya memanjat naik dan turun di
atas gundukan bara api yang terbakar, menyala, dan berpijar. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
15. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mencelupkannya ke dalam panci logam panas yang terbakar,
menyala, dan berpijar. Ia direbus di sana di dalam pusaran buih. Dan ketika ia
direbus di sana di dalam pusaran buih, ia kadang-kadang terhanyut ke atas,
kadang-kadang ke bawah, kadang-kadang ke sekeliling. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun
ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
16. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke dalam Neraka Besar. Sekarang sehubungan dengan Neraka Besar, para bhikkhu:
Neraka ini memiliki empat sudut dan dibangun
Dengan empat pintu, satu di setiap sisinya,
Terbatasi dinding terbuat dari besi dan mengelilinginya
Dan ditutup dengan atap besi.
Lantainya juga terbuat dari besi
Dan dipanaskan dengan api hingga berpijar
Luasnya seratus liga
Yang mencakup seluruh wilayah itu.
17. “Sekarang
lidah api yang menyambar dari tembok timur mengenai tembok barat. Lidah api
yang menyambar dari tembok barat mengenai [184] tembok timur. Lidah api yang
menyambar dari tembok utara mengenai tembok selatan. Lidah api yang menyambar
dari tembok selatan mengenai tembok utara. Lidah api yang menyambar dari lantai
mengenai atap. Lidah api yang menyambar dari atap mengenai lantai. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama
akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
18. “Pada
suatu saat, para bhikkhu, di akhir suatu masa yang lama, pintu timur Neraka
Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah dengan cepat. Ketika
berlari itu, kulit luarnya terbakar, kulit dalamnya terbakar, dagingnya
terbakar, uratnya terbakar, tulangnya berasap; dan hal yang sama terjadi ketika
kakinya diangkat. Ketika akhirnya ia mencapai pintu itu, pintu itu tertutup. Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
“Pada
suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, pintu barat Neraka Besar itu terbuka
... pintu utara Neraka Besar itu terbuka ... pintu selatan Neraka Besar itu
terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah dengan cepat ... Ketika
akhirnya ia mencapai pintu itu, pintu itu tertutup. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
19. “Pada suatu saat, para bhikkhu, di akhir suatu masa yang lama,
pintu timur Neraka Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah
dengan cepat. Ketika berlari itu, kulit luarnya terbakar, kulit dalamnya
terbakar, dagingnya terbakar, uratnya terbakar, tulangnya berasap; dan hal yang
sama terjadi ketika kakinya diangkat. Ia keluar melalui pintu itu.
20. “Persis
di sebelah Neraka Besar [185] adalah Neraka Kotoran yang luas. Ia terjatuh ke
dalam neraka itu. Di dalam Neraka Kotoran itu makhluk-makhluk bermulut jarum
mengebor kulit luarnya dan mengebor kulit dalamnya dan mengebor dagingnya dan
mengebor uratnya dan mengebor tulangnya dan melahap sumsumnya. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama
akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
21. “Persis
di sebelah Neraka Kotoran adalah Neraka Bara Api Panas yang luas. Ia terjatuh
di sana. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia
tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
22. “Persis
di sebelah Neraka Bara Api Panas adalah Hutan Pepohonan Simbali yang luas,
tingginya satu liga, berduri dengan duri-duri sepanjang enam belas lebar jari,
yang terbakar, menyala, dan berpijar. Mereka menyuruhnya memanjat pepohonan itu
naik dan turun. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk.
Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
23. “Persis
di sebelah Hutan Pepohonan Simbali adalah Hutan Daun-pedang yang luas. Ia masuk
ke sana. Dedaunannya, digerakkan oleh angin, memotong tangannya dan memotong
kakinya dan memotong tangan dan kakinya; memotong telinganya dan memotong
hidungnya dan memotong telinga dan hidungnya. Di sana ia merasakan perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
24. “Persis
di sebelah Hutan Daun-pedang adalah sungai besar berair tajam membakar. Ia
terjatuh di sana. di sana ia tersapu mengikuti arus dan melawan arus dan
mengikuti-sekaligus-melawan arus. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan,
menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya
belum habis.
25. “Kemudian
para penjaga neraka menariknya dengan kail, [186] dan menaikkannya ke atas
tanah, mereka bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau inginkan?’ Ia berkata: ‘Aku
lapar, Tuan-tuan.’ Kemudian para penjaga neraka membuka paksa mulutnya dengan
penjepit besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan berpijar, dan
mereka memasukkan bola besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan
berpijar ke dalam mulutnya, bola besi itu membakar tenggorokannya, membakar
perutnya, dan menerobos keluar melalui bawah membawa usus dan selaput pengikat
organ dalam tubuhnya. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa,
menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
26. “Kemudian
para penjaga bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau inginkan?’ ia berkata: ‘Aku
haus, Tuan-tuan.’ Kemudian para penjaga neraka membuka paksa mulutnya dengan
penjepit besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan berpijar, dan
mereka menuangkan tembaga cair yang terbakar, menyala, dan berpijar ke dalam
mulutnya. Tembaga itu membakar bibirnya, membakar mulutnya, membakar
tenggorokannya, membakar perutnya, dan menerobos keluar melalui bawah membawa
usus dan selaput pengikat organ dalam tubuhnya. Di sana ia merasakan perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
27. “Kemudian
para penjaga neraka melemparnya kembali ke dalam Neraka Besar.
28. “Pernah Raja Yama berpikir: ‘Mereka
yang di dunia melakukan perbuatan-perbuatan tidak bermanfaat sungguh akan
mengalami berbagai jenis siksaan yang dijatuhkan pada mereka. Oh, Semoga aku terlahir kembali menjadi manusia,
semoga seorang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, muncul di
dunia, semoga aku dapat melayani Sang Bhagavā itu, semoga Sang Bhagavā
mengajarkan Dhamma kepadaku, dan semoga aku memahami Dhamma Sang Bhagavā itu!’
29. “Para
bhikkhu, Aku mengatakan hal ini kepada kalian bukan sebagai sesuatu yang
Kudengar dari petapa atau brahmana lain. Aku mengatakan hal ini kepada kalian
sebagai sesuatu yang sebenarnya diketahui, dilihat, dan ditemukan olehKu
sendiri.” [187]
30. Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Setelah Yang
Sempurna mengatakan itu, Sang Guru berkata lebih lanjut:
“Walaupun
diperingatkan oleh para utusan surgawi,
Banyak
yang lalai,
Dan
orang-orang sungguh akan berdukacita dalam waktu yang lama
Begitu
pergi ke alam rendah.
Tetapi
ketika oleh para utusan surgawi
Orang-orang
baik di sini dalam kehidupan ini teringat,
Mereka
tidak berdiam dalam kelalaian
Namun
mempraktikkan Dhamma mulia dengan baik.
Dengan
takut mereka melihat kemelekatan
Karena
dapat mengakibatkan kelahiran dan kematian;
Dan
melalui ketidak-melekatan mereka terbebas
Dalam
hancurnya kelahiran dan kematian.
[Komentar : Dari sutta lainnya, yang dimaksud dengan
“hancurnya kelahiran dan kematian” artinya tiada lagi penjelmaan-baru, siklus
tumimbal-lahir (saṁsāra, Bahasa Pāli ini dibaca dengan lafal :
“sang-saa-ra”) terputus, Nibbana.]
Mereka
berdiam dalam kebahagiaan karena mereka aman
Dan
mencapai Nibbāna di sini dan saat ini.
Mereka
melampaui segala ketakutan dan kebencian;
Mereka
telah membebaskan diri dari segala penderitaan.”
©
Hak
Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril,
dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku
Penulis.
