Kiat Memperoleh Kedamaian Internal dan Bersukacita dalam Kebersihan Batin
Bagaimanakah Cara Seorang Aparatur Penegak Hukum Melatih
Jalan Benar Selayaknya bagi Seseorang yang Mengenakan Seragam Aparatur Penegak
Hukum?
Mungkin tidak sedikit diantara kita yang merasa heran dan tidak dapat memahami, mengapa orang-orang yang berseragam penegak hukum, justru melanggar dan memelintirkan hukum. Orang-orang yang berseragam “civil servant”, alih-alih melayani masyarakat, justru meminta dilayani. Dapat kita jumpai sendiri pula, kalangan guru yang justru tidak layak disebut sebagai guru karena memberi teladan arogansi. Pemuka agama, namun justru merepresentasikan “iblis berwujud manusia”. Tidak terkecuali kalangan orangtua yang semestinya melindungi putera-puteri mereka, seringkali dalam mayoritas kasus, justru merupakan “predator anak”. Sabda Sang Buddha berikut, cukup relevan untuk diinternalisasi ke dalam diri masing-masing, apapun perannya dalam masyarakat:
“‘Petapa, petapa,’ para bhikkhu, itu adalah
bagaimana orang-orang mengenali kalian. Dan jika kalian ditanya, ‘Apakah kalian?’, maka kalian mengaku bahwa
kalian adalah para petapa. Karena itu adalah sebutan bagi kalian dan apa yang
kalian akui, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami
akan melatih jalan benar selayaknya bagi seorang petapa sehingga sebutan kami
menjadi benar dan pengakuan kami benar, dan sehingga pelayanan dari mereka yang
jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatannya kami gunakan akan memberikan
buah dan manfaat besar bagi mereka, dan sehingga pelepasan keduniawian kami
tidak sia-sia melainkan subur dan berbuah.’
“Bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak
melatih jalan benar selayaknya bagi seorang petapa? Selama seorang bhikkhu yang
tamak belum meninggalkan ketamakan, yang memiliki pikiran permusuhan belum
meninggalkan permusuhan, yang penuh kemarahan belum meninggalkan kemarahan,
yang penuh kekesalan belum meninggalkan kekesalan, yang bersikap meremehkan
belum meninggalkan sikap meremehkan, yang bersikap congkak belum meninggalkan
kecongkakan, yang iri-hati belum meninggalkan keiri-hatian, yang kikir belum
meninggalkan kekikiran, yang curang belum meninggalkan kecurangan, yang menipu
belum meninggalkan penipuan, yang memiliki keinginan jahat belum meninggalkan
keinginan jahat, yang berpandangan salah belum meninggalkan pandangan salah,
maka selama itu ia tidak melatih jalan benar selayaknya bagi petapa, Aku
katakan, karena kegagalannya dalam meninggalkan noda-noda bagi petapa ini,
cacat bagi petapa ini, sampah bagi petapa ini, yang merupakan landasan bagi
kelahiran kembali dalam kondisi sengsara dan yang akibat-akibatnya akan dialami
di alam yang tidak berbahagia.
“Aku tidak mengatakan bahwa status petapa datang
dari pemakai jubah bertambalan hanya karena mengenakan jubah bertambalan, juga
bukan dari seorang petapa telanjang hanya karena ketelanjangannya, juga bukan
dari seorang yang berlumuran tanah dan debu hanya karena berlumuran tanah dan
debu, juga bukan dari seorang pelaku ritual mandi hanya karena melakukan ritual
mandi, juga bukan dari seorang penghuni bawah pohon hanya karena menetap di
bawah pohon, juga bukan seorang yang menetap di ruang terbuka hanya karena
menetap di ruang terbuka, juga bukan dari seorang praktisi yang berlatih
terus-menerus berdiri hanya karena terus-menerus berdiri, juga bukan dari
seorang yang makan dalam interval waktu yang telah ditentukan hanya karena
makan dalam interval waktu yang telah ditentukan, juga bukan dari seorang
pembaca mantera hanya karena membaca mantera; Aku juga tidak mengatakan bahwa
status petapa datang dari seorang petapa berambut kusut hanya karena berambut
kusut.
“Para bhikkhu, jika dengan hanya mengenakan jubah
bertambalan seorang pemakai jubah bertambalan yang tamak meninggalkan
ketamakan, yang memiliki pikiran permusuhan meninggalkan permusuhan ... yang
berpandangan salah meninggalkan pandangan salah, maka teman-teman dan
sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, akan menjadikannya seorang pemakai
jubah bertambalan segera setelah ia dilahirkan dan menyuruhnya menjalani
praktik mengenakan jubah bertambalan sebagai berikut: ‘Marilah,
sayangku, jadilah seorang pemakai jubah bertambalan agar, sebagai seorang
pemakai jubah bertambalan maka, ketika engkau tamak maka engkau akan
meninggalkan ketamakan, ketika engkau memiliki pikiran permusuhan maka engkau
akan meninggalkan permusuhan ... ketika engkau berpandangan salah maka engkau
akan meninggalkan pandangan salah.’ Tetapi Aku melihat di sini seorang pemakai
jubah bertambalan yang tamak, yang memiliki pikiran permusuhan ... yang
berpandangan salah; dan itulah sebabnya mengapa Aku tidak mengatakan bahwa
status petapa datang dari pemakai jubah bertambalan hanya karena mengenakan
jubah bertambalan.
“Bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu melatih jalan
benar selayaknya bagi seorang petapa? Ketika seorang bhikkhu yang tamak telah
meninggalkan ketamakan, yang memiliki pikiran permusuhan telah meninggalkan
permusuhan, yang penuh kemarahan telah meninggalkan kemarahan, yang penuh
kekesalan telah meninggalkan kekesalan, yang bersikap meremehkan telah
meninggalkan sikap meremehkan, yang bersikap congkak telah meninggalkan
kecongkakan, yang iri-hati telah meninggalkan keiri-hatian, yang kikir telah meninggalkan
kekikiran, yang curang telah meninggalkan kecurangan, yang menipu telah
meninggalkan penipuan, yang memiliki keinginan jahat telah meninggalkan
keinginan jahat, yang berpandangan salah telah meninggalkan pandangan salah,
maka ia melatih jalan benar selayaknya bagi seorang petapa, Aku katakan, adalah
karena dengan meninggalkan noda-noda bagi petapa ini, cacat bagi petapa ini,
sampah bagi petapa ini, yang merupakan landasan bagi kelahiran kembali dalam
kondisi sengsara dan yang akibat-akibatnya akan dialami di alam yang tidak
berbahagia.
“Ia melihat dirinya murni dari kondisi-kondisi jahat yang
tidak bermanfaat ini, ia melihat dirinya terbebas dari kondisi-kondisi jahat
yang tidak bermanfaat ini. Ketika ia melihat ini, kegembiraan muncul dalam
dirinya. Ketika ia gembira, sukacita muncul dalam dirinya; dalam diri seorang
yang bersukacita, jasmaninya menjadi tenang; seseorang yang jasmaninya tenang
merasakan kenikmatan; dalam diri seorang yang merasakan kenikmatan, pikirannya
menjadi terkonsentrasi.
“Ia berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang
penuh dengan cinta kasih, demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke
tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke
sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya
sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran cinta
kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.
“Ia berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang
penuh dengan belas kasih ... dengan pikiran yang penuh dengan kegembiraan
altruistik ... dengan pikiran yang penuh dengan keseimbangan ... berlimpah,
luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.
“Misalkan terdapat sebuah kolam, dengan air yang
jernih, sejuk menyenangkan, bening, dengan tepian yang landai, indah, dan dekat
dengan hutan. Jika seseorang yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas,
lelah, terpanggang, dan kehausan, datang dari arah timur atau dari arah barat
atau dari arah utara atau dari arah selatan atau dari manapun kalian inginkan,
setelah mendatangi kolam itu ia akan memuaskan dahaganya dan demam
cuaca-panasnya. Demikian pula, para bhikkhu, jika siapapun dari kasta para
mulia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah, dan setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh
Sang Tathāgata, mengembangkan cinta kasih, belas kasih, kegembiraan
altruistik, dan keseimbangan, dan karenanya memperoleh kedamaian internal, maka karena kedamaian
internal itu ia melatih jalan benar selayaknya seorang petapa, Aku katakan.
Jika siapapun dari kasta brahmana meninggalkan keduniawian … jika siapapun dari
kasta pedagang meninggalkan keduniawian … jika siapapun dari kasta pekerja
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah, dan setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang
Tathāgata, mengembangkan cinta kasih, belas kasih, kegembiraan altruistik, dan
keseimbangan, dan karenanya memperoleh kedamaian internal, maka karena
kedamaian internal itu ia melatih jalan benar selayaknya seorang petapa, Aku
katakan.
“Para bhikkhu, jika siapapun dari kasta para mulia
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah, dan dengan menembus untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung di
sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan
melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda, maka ia telah
menjadi seorang petapa karena hancurnya noda-noda itu. Dan jika siapapun dari
kasta brahmana meninggalkan keduniawian … Jika siapapun dari kasta pedagang
meninggalkan keduniawian … Jika siapapun dari kasta pekerja meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan
dengan menembus untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan
saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui
kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda, maka ia telah menjadi
seorang petapa karena hancurnya noda-noda itu.”
Selama seorang aparatur penegak hukum yang tamak
belum meninggalkan ketamakan, hakim yang curang belum meninggalkan kecurangan,
pemuka agama yang menipu belum meninggalkan penipuan, polisi yang memiliki
keinginan jahat belum meninggalkan keinginan jahat, Aparatur Sipil Negara yang
berpandangan salah belum meninggalkan pandangan salah, maka selama itu ia tidak
melatih jalan benar selayaknya status / seragam mereka, karena kegagalannya
dalam meninggalkan noda-noda demikian, cacat bagi mereka, sampah yang semestinya
disingkirkan akan tetapi ia akumulasi, yang merupakan landasan bagi kemerosotan
serta pelecehan terhadap seragam mereka, yang akibat-akibatnya akan berkebalikan
dari peran dan fungsi seragam mereka.
Kini, pertanyaan terbesarnya ialah, apakah mereka,
yang perilakunya bertentangan dengan status maupun peran mereka di tengah masyarakat,
benar-benar merasa bahagia dan mampu menikmatinya karena berhasil menghimpun
kekayaan secara ilegal dengan menyalah-gunakan wewenang mereka (illicit enrichment),
terlepas dari apakah mereka imun ataukah tidaknya dari penindakan hukum? Perhatikan
kembali kutipan sabda Sang Buddha berikut:
“Ia melihat dirinya murni dari kondisi-kondisi jahat yang
tidak bermanfaat ini, ia melihat dirinya terbebas dari kondisi-kondisi jahat
yang tidak bermanfaat ini. Ketika ia melihat ini, kegembiraan muncul dalam
dirinya. Ketika ia gembira, sukacita muncul dalam dirinya; dalam diri seorang
yang bersukacita, jasmaninya menjadi tenang; seseorang yang jasmaninya tenang
merasakan kenikmatan; dalam diri seorang yang merasakan kenikmatan, pikirannya
menjadi terkonsentrasi.”
Sesama anak bangsa, akan tetapi justru melukai,
merugikan, dan menyakiti sesama anak bangsa lainnya, bahkan melanggar sumpah-jabatan
dengan menyimpangi peran dan status seragam yang mereka kenakan, sejatinya
tidak mencintai bangsa mereka sendiri, tidak menghargai rakyat mereka sendiri, tidak
menghormati negara mereka sendiri, tidak berbelas-kasih kepada warga mereka
sendiri, tidak berjiwa nasionalistik, dimana karenanya mereka pun pada muaranya
berkhianat terhadap seragam yang mereka kenakan serta terhadap diri mereka
sendiri dengan menjerumuskan diri sehingga pada muaranya diamankan oleh aparatur
penegak hukum lainnya.
Aparatur penegak hukum, orangtua, guru, pemuka
agama, maupun peran lainnya, semestinya menjadi “oase”, bukan justru menjadi
sumber petaka. Mereka seharusnya memberi teladan “kebebasan pikiran” dan “kebebasan
melalui kebijaksanaan yang tanpa noda”. Adapun khotbah Sang Buddha selengkapnya
dalam sutta dimaksud, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~ SUTTA 40 ~
Cūḷa-Assapura
Sutta: Khotbah Pendek di Assapura
[281] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Negeri Anga di pemukiman penduduk Anga bernama Assapura. Di sana
Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,”
mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
2. “‘Petapa, petapa,’ para bhikkhu, itu adalah bagaimana orang-orang
mengenali kalian. Dan jika kalian ditanya, ‘Apakah kalian?’, maka kalian
mengaku bahwa kalian adalah para petapa. Karena itu adalah sebutan bagi kalian
dan apa yang kalian akui, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan melatih jalan
benar selayaknya bagi seorang petapa sehingga sebutan kami menjadi benar dan
pengakuan kami benar, dan sehingga pelayanan dari mereka yang jubah, makanan,
tempat tinggal, dan obat-obatannya kami gunakan akan memberikan buah dan
manfaat besar bagi mereka, dan sehingga pelepasan keduniawian kami tidak
sia-sia melainkan subur dan berbuah.’
[Kitab Komentar : Sementara sutta sebelumnya, Mahā-Assapura
Sutta, menggunakan frasa “hal-hal yang membuat seseorang menjadi seorang
petapa” (dhammā samaṇakaraṇā), di sini
sutta ini mengatakan “jalan selayaknya bagi petapa” (samaṇasamīcipaṭipada).]
3. “Bagaimanakah,
para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak melatih jalan benar selayaknya bagi seorang
petapa? Selama seorang bhikkhu yang tamak belum meninggalkan ketamakan, yang
memiliki pikiran permusuhan belum meninggalkan permusuhan, yang penuh kemarahan
belum meninggalkan kemarahan, yang penuh kekesalan belum meninggalkan
kekesalan, yang bersikap meremehkan belum meninggalkan sikap meremehkan, yang
bersikap congkak belum meninggalkan kecongkakan, yang iri-hati belum
meninggalkan keiri-hatian, yang kikir belum meninggalkan kekikiran, yang curang
belum meninggalkan kecurangan, yang menipu belum meninggalkan penipuan, yang
memiliki keinginan jahat belum meninggalkan keinginan jahat, yang berpandangan
salah belum meninggalkan pandangan salah, maka selama itu ia tidak melatih
jalan benar selayaknya bagi petapa, Aku katakan, karena kegagalannya dalam
meninggalkan noda-noda bagi petapa ini, cacat bagi petapa ini, sampah bagi
petapa ini, yang merupakan landasan bagi kelahiran kembali dalam kondisi
sengsara dan yang akibat-akibatnya akan dialami di alam yang tidak berbahagia.
[Kitab Komentar : Sepuluh pertama dari dua belas
“noda bagi seorang petapa” ini termasuk di antara enam belas
“ketidak-sempurnaan yang mengotori batin” pada Majjhima Nikāya 7.3.]
4. “Misalkan senjata yang disebut mataja, terasah dengan baik pada kedua
sisinya, tertutup dan tersimpan dalam sarung kain. Aku katakan bahwa pelepasan
keduniawian bhikkhu itu adalah seperti senjata itu.
5. “Aku
tidak mengatakan bahwa status petapa datang dari pemakai jubah bertambalan
hanya karena mengenakan jubah bertambalan, juga bukan dari seorang petapa
telanjang hanya karena ketelanjangannya, juga bukan dari seorang yang
berlumuran tanah dan debu hanya karena berlumuran tanah dan debu, juga bukan
dari seorang pelaku ritual mandi hanya karena melakukan ritual mandi, juga
bukan dari seorang penghuni bawah pohon hanya karena [282] menetap di bawah
pohon, juga bukan seorang yang menetap di ruang terbuka hanya karena menetap di
ruang terbuka, juga bukan dari seorang praktisi yang berlatih terus-menerus
berdiri hanya karena terus-menerus berdiri, juga bukan dari seorang yang makan
dalam interval waktu yang telah ditentukan hanya karena makan dalam interval
waktu yang telah ditentukan, juga bukan dari seorang pembaca mantera hanya
karena membaca mantera; Aku juga tidak mengatakan bahwa status petapa datang
dari seorang petapa berambut kusut hanya karena berambut kusut.
6. “Para
bhikkhu, jika dengan hanya mengenakan jubah bertambalan seorang pemakai jubah
bertambalan yang tamak meninggalkan ketamakan, yang memiliki pikiran permusuhan
meninggalkan permusuhan ... yang berpandangan salah meninggalkan pandangan
salah, maka teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, akan
menjadikannya seorang pemakai jubah bertambalan segera setelah ia dilahirkan
dan menyuruhnya menjalani praktik mengenakan jubah bertambalan sebagai berikut:
‘Marilah, sayangku, jadilah seorang pemakai jubah bertambalan agar, sebagai
seorang pemakai jubah bertambalan maka, ketika engkau tamak maka engkau akan
meninggalkan ketamakan, ketika engkau memiliki pikiran permusuhan maka engkau
akan meninggalkan permusuhan ... ketika engkau berpandangan salah maka engkau
akan meninggalkan pandangan salah.’ Tetapi Aku melihat di sini seorang pemakai
jubah bertambalan yang tamak, yang memiliki pikiran permusuhan ... yang
berpandangan salah; dan itulah sebabnya mengapa Aku tidak mengatakan bahwa
status petapa datang dari pemakai jubah bertambalan hanya karena mengenakan
jubah bertambalan.
“Jika dengan ketelanjangan seorang petapa telanjang yang tamak
meninggalkan ketamakan ... Jika dengan berlumuran tanah dan debu ... Jika
dengan melakukan ritual mandi... Jika dengan menetap di bawah pohon ... Jika
dengan menetap di ruang terbuka ... jika dengan terus-menerus berdiri ... Jika dengan
makan pada interval waktu yang telah ditentukan ... Jika dengan membaca mantera
... Jika dengan berambut kusut ... [283] ... dan itulah sebabnya mengapa
Aku tidak mengatakan bahwa status petapa datang dari seorang petapa berambut
kusut hanya karena berambut kusut.
7. “Bagaimanakah,
para bhikkhu, seorang bhikkhu melatih jalan benar selayaknya bagi seorang
petapa? Ketika seorang bhikkhu yang tamak telah meninggalkan ketamakan, yang
memiliki pikiran permusuhan telah meninggalkan permusuhan, yang penuh kemarahan
telah meninggalkan kemarahan, yang penuh kekesalan telah meninggalkan
kekesalan, yang bersikap meremehkan telah meninggalkan sikap meremehkan, yang
bersikap congkak telah meninggalkan kecongkakan, yang iri-hati telah
meninggalkan keiri-hatian, yang kikir telah meninggalkan kekikiran, yang curang
telah meninggalkan kecurangan, yang menipu telah meninggalkan penipuan, yang
memiliki keinginan jahat telah meninggalkan keinginan jahat, yang berpandangan
salah telah meninggalkan pandangan salah, maka ia melatih jalan benar
selayaknya bagi seorang petapa, Aku katakan, adalah karena dengan meninggalkan
noda-noda bagi petapa ini, cacat bagi petapa ini, sampah bagi petapa ini, yang
merupakan landasan bagi kelahiran kembali dalam kondisi sengsara dan yang
akibat-akibatnya akan dialami di alam yang tidak berbahagia.
8. “Ia
melihat dirinya murni dari kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat ini, ia
melihat dirinya terbebas dari kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat ini.
Ketika ia melihat ini, kegembiraan muncul dalam dirinya. Ketika ia gembira,
sukacita muncul dalam dirinya; dalam diri seorang yang bersukacita, jasmaninya
menjadi tenang; seseorang yang jasmaninya tenang merasakan kenikmatan; dalam
diri seorang yang merasakan kenikmatan, pikirannya menjadi terkonsentrasi.
9. “Ia
berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh dengan cinta kasih,
demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke
empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala
arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam
dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran cinta kasih, berlimpah,
luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.
10-12. “Ia
berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh dengan belas kasih
... dengan pikiran yang penuh dengan kegembiraan altruistik ... dengan pikiran
yang penuh dengan keseimbangan ... berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa
pertentangan dan tanpa permusuhan.
13. “Misalkan
terdapat sebuah kolam, dengan air yang jernih, sejuk menyenangkan, bening,
dengan tepian yang landai, indah, dan dekat dengan hutan. [284] Jika seseorang
yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang, dan
kehausan, datang dari arah timur atau dari arah barat atau dari arah utara atau
dari arah selatan atau dari manapun kalian inginkan, setelah mendatangi kolam
itu ia akan memuaskan dahaganya dan demam cuaca-panasnya. Demikian pula, para
bhikkhu, jika siapapun dari kasta para mulia meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah menemukan
Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, mengembangkan cinta
kasih, belas kasih, kegembiraan altruistik, dan keseimbangan, dan karenanya
memperoleh kedamaian internal, maka karena kedamaian internal itu ia melatih
jalan benar selayaknya seorang petapa, Aku katakan. Jika siapapun dari kasta
brahmana meninggalkan keduniawian … jika siapapun dari kasta pedagang
meninggalkan keduniawian … jika siapapun dari kasta pekerja meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan
setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata,
mengembangkan cinta kasih, belas kasih, kegembiraan altruistik, dan
keseimbangan, dan karenanya memperoleh kedamaian internal, maka karena
kedamaian internal itu ia melatih jalan benar selayaknya seorang petapa, Aku
katakan.
14. “Para
bhikkhu, jika siapapun dari kasta para mulia meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan dengan menembus untuk
dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan saat ini masuk dan
berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa
noda dengan hancurnya noda-noda, maka ia telah menjadi seorang petapa karena
hancurnya noda-noda itu. Dan jika siapapun dari kasta brahmana meninggalkan
keduniawian … Jika siapapun dari kasta pedagang meninggalkan keduniawian … Jika
siapapun dari kasta pekerja meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan dengan menembus untuk dirinya sendiri
dengan pengetahuan langsung di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam
kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan
hancurnya noda-noda, maka ia telah menjadi seorang petapa karena hancurnya
noda-noda itu.”
[Kitab Komentar : Perihal “siapapun yang meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan
dengan menembus untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan
saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui
kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda, maka ia telah menjadi
seorang petapa karena hancurnya noda-noda itu”, bermakna ia telah menenangkan (samita)
segala kekotoran, maka ia adalah seorang petapa dalam makna tertinggi (paramatthasamaṇa).]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.
