Arogansi Dibalik Keangkuhan dan Kesombongan, merupakan Delusi atau Kekotoran-Batin dalam Manifestasi yang Paling Kasar

Banyak Kejahatan Dilakukan oleh Umat Manusia, Akibat Delusi Dibiarkan Berkembang dan Menguasai Pikiran dan Perilaku Mereka. Betapa Dunia Telah Menyerupai “Sarang Penjahat dan Kejahatan”

Sikap arogansi, adalah cerminan minim dan miskinnya seseorang terhadap perenungan. Secara naif sekaligus delusif, banyak diantara anggota masyarakat kita yang berspekulasi bahwa dengan menjadi penguasa maka akan terbebas dari “ketakutan kehilangan / berpisah dengan kekuasaan”, dengan menjadi militer maka dapat menisdas rakyat jelata meski tetap tunduk pada “malaikat pencabut nyawa”, dengan menjadi milioner maka terbebas dari “perasaan kekurangan”, dengan menjadi pejabat maka dapat memeras warga sipil seakan nasib hidup yang penuh ketidak-pastian tidak akan dapat memeras sang pejabat bagaikan jeruk yang diperas, dengan menjadi kuat maka dapat menganiaya orang yang lebih lemah seakan dirinya tidak dapat menua dan menjadi lemah atau bahkan jatuh sakit.

Akibat delusi, mayoritas diantara kita berlomba-lomba memupuk “ego”, terdiri dari delusi “aku” atau “milikku” atau “diriku”—semisal ini istri atau tanah aku, ini uang atau kendaraan milikku, ini tubuh atau pikiran diriku. Secara sembrono, seseorang mengklaim bahwa dirinya sekalipun sepanjang hidupnya terbiasa mencandu nikotin bakaran tembakau namun tetap sehat dan tidak pernah jatuh sakit, atau arogansi / keangkuhan / kesembongan sejenis lainnya. Gagasan “aku”, “milikku”, dan “diriku” mewakili tiga gagasan yang mengganggu pikiran, yaitu pandangan identitas, keinginan, dan keangkuhan, secara berturut-turut.

Tubuh milikku kuat, dapat menyakiti orang yang lebih lemah, maka terjadilah penganiayaan maupun penindasan. Otakku cerdas, dapat membuat modus cerdik untuk korupsi tanpa dapat tersentuh oleh aparatur penegak hukum. Harta milikku banyak, dapat menikahi selusin istri dan melahirkan puluhan anak. Pengaruh dan jabatanku tinggi, dapat mengontrol negara dan mengendalikan orang lain. Mereka tidak pernah merenungkan, apalah artinya tubuh manusia yang kecil ini, bilamana telah ternyata air bah dapat meluluh-lantakkan daratan, kekeringan dapat membakar daratan, bahkan matahari sekalipun dapat kehabisan energinya dan menjelma planet-mati. Siswa Sang Buddha, merenungkan dengan perenungan sebagai berikut:

“Jika bahkan unsur tanah eksternal ini, yang begitu dahsyat, terlihat sebagai tidak kekal, tunduk pada kehancuran, kelenyapan, dan perubahan, apalagi jasmani ini, yang dilekati oleh ketagihan dan bertahan hanya sebentar? Tidak ada yang dapat dianggap sebagai ‘aku’ atau ‘milikku’ atau ‘diriku.’

“Sekarang, jika orang lain menyerang bhikkhu itu dalam cara yang tidak diinginkan, tidak disukai, dan tidak menyenangkan, melalui kontak dengan kepalan tangan, tongkat, kayu, atau pisau, ia memahami: ‘Jasmani ini memiliki sifat bahwa kontak dengan kepalan tangan, tongkat, kayu, atau pisau dapat menyerangnya.”

Bila ada diantara kita yang berpikir, dapat menganiaya orang lain adalah sebuah keuntungan dan kebanggaan, maka itulah yang disebut sifat “kekanak-kanakan” sekalipun mungkin rambutnya telah memutih, seolah dirinya sendiri tidak dapat menjadi objek penganiayaan dan teraniaya oleh orang lainnya. Sama seperti seseorang yang menertawakan seseorang yang mengalami bisul pada bokongnya, seolah dirinya sendiri tidak dapat mengalami hal serupa dikemudian hari. Seseorang pelaku kejahatan mungkin tidak tertimpa petaka atas perbuatannya tersebut, namun musibah dapat datang tanpa diduga dan tanpa diundang oleh sang pelaku dalam wujud lainnya.

Untuk menjadi seorang manusia yang bijaksana, perenungan yang sederhana sudah cukup memadai, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

~SUTTA 28~

Mahāhatthipadopama Sutta : Khotbah Panjang tentang Perumpamaan Jejak Kaki Gajah

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Yang Mulia Sāriputta memanggil para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu.” – “Teman.” Mereka menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

2. “Teman-teman, bagaikan jejak kaki makhluk hidup apapun juga yang berjalan dapat masuk ke dalam jejak kaki gajah, dan dengan demikian jejak kaki gajah dinyatakan sebagai yang terbesar karena ukurannya yang besar; demikian pula, semua kondisi-kondisi bermanfaat dapat dimasukkan dalam Empat Kebenaran Mulia. Dalam empat apakah? Dalam kebenaran mulia tentang penderitaan, [185] dalam kebenaran mulia tentang asal-mula penderitaan, dalam kebenaran mulia lenyapnya penderitaan, dan dalam kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan.

[Kitab Komentar : Struktur khotbah ini dapat digambarkan sebagai berikut: Pertama-tama YM. Sāriputta menguraikan Empat Kebenaran Mulia (paragraf nomor ke-2). Kemudian ia menganalisa kebenaran penderitaan dalam berbagai aspek (paragraf nomor ke-3). Dari antara semua ini, ia memilih yang terakhir dan menguraikan kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan (paragraf nomor ke-4). Berikutnya ia memilih kelompok unsur pertama, kelompok unsur bentuk materi (paragraf nomor ke-5). Menggunakan masing-masing dari unsur-unsur utama, ia menunjukkannya memiliki dua aspek – internal dan eksternal – aspek pertama dipilih untuk dianalisa secara terperinci, aspek ke dua hanya disebutkan secara singkat sebagai pelengkap dan perbandingan (misalnya, paragraf nomor ke-6 dan ke-7).

Masing-masing unsur dijelaskan sebagai suatu landasan bagi meditasi pandangan-terang serta untuk mengembangkan kesabaran, keyakinan, dan keseimbangan (misalnya, paragraf nomor ke-8 dan ke-10). Setelah selesai memeriksa unsur, YM. Sāriputta selanjutnya mengangkat aspek-aspek dari Empat Kebenaran Mulia yang sebelumnya ia kesampingkan. Ia memperkenalkan bentuk materi turunan melalui organ-organ indria dan objeknya (paragraf nomor ke-27, dan seterusnya), yang kemudian ia hubungkan dengan empat kelompok unsur kehidupan lainnya dari kebenaran mulia pertama. Akhirnya ia menguraikan keseluruhan topik yang rumit ini sehubungan dengan ketiga kebenaran mulia lainnya (paragraf nomor ke-28, dan seterusnya).

Khotbah Sang Buddha pada sutta ini telah diterbitkan secara terpisah dengan pendahuluan dan catatan oleh Nyanaponika Thera, The Greater Discourse on the Elephant-Footprint Simile.]

3. “Dan apakah kebenaran mulia tentang penderitaan? Kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan; dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan adalah penderitaan.

4. “Dan apakah kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan? Yaitu: kelompok unsur bentuk materi yang terpengaruh oleh kemelekatan, kelompok unsur perasaan yang terpengaruh oleh kemelekatan, kelompok unsur persepsi yang terpengaruh oleh kemelekatan, kelompok unsur bentukan-bentukan [kehendak] yang terpengaruh oleh kemelekatan, dan kelompok unsur kesadaran yang terpengaruh oleh kemelekatan.

5. “Dan apakah kelompok unsur bentuk materi yang terpengaruh oleh kemelekatan? Yaitu empat unsur utama dan bentuk materi yang diturunkan dari empat unsur utama. Dan apakah empat unsur utama ini? Yaitu unsur tanah, unsur air, unsur api, dan unsur udara.

(UNSUR TANAH)

6. “Apakah, teman, unsur tanah? Unsur tanah dapat berupa internal maupun eksternal. Apakah unsur tanah internal? Apapun yang internal, bagian dari diri sendiri, padat, keras, dan dilekati; yaitu rambut-kepala, bulu-badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, ginjal, jantung, hati, sekat rongga dada, limpa, paru-paru, usus, selaput pengikat organ dalam tubuh, isi perut, kotoran, atau apapun lainnya yang internal, bagian dari diri sendiri, padat, keras, dan dilekati: ini disebut unsur tanah internal. Sekarang baik unsur tanah internal maupun unsur tanah eksternal adalah unsur tanah. Dan itu harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Ketika seseorang melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, ia menjadi kecewa dengan unsur tanah dan menjadikan pikirannya bosan terhadap unsur tanah.

[Kiteb Komentar : Upādinna, unsur tanah internal. Frasa “dilekati,” digunakan dalam Abhidhamma sebagai istilah teknis yang berlaku pada fenomena jasmani yang dihasilkan oleh kamma. Akan tetapi, di sini digunakan dalam makna yang lebih umum sebagai berlaku pada keseluruhan jasmani sejauh yang digenggam sebagai “milikku” dan disalah-pahami sebagai diri. Frasa “apapun lainnya” dimaksudkan untuk memasukkan unsur tanah yang terdapat dalam bagian-bagian tubuh yang tidak termasuk dalam daftar di atas. Menurut analisa materi dalam Abhidhamma, empat unsur utama adalah tidak terpisahkan, dan dengan demikian masing-masing unsur juga termasuk, walaupun dalam peran yang lebih rendah, dalam fenomena jasmani yang terdapat dalam ketiga unsur lainnya.

Pernyataan “baik unsur tanah internal maupun unsur tanah eksternal adalah unsur tanah” ini dibuat untuk menggaris-bawahi sifat tidak-hidup (acetanābhāva) dari unsur tanah internal dengan menghubungkannya dengan unsur tanah eksternal, sifat tidak-hidupnya menjadi jauh lebih mudah terlihat.]

7. “Sekarang ada saatnya ketika unsur air terganggu dan kemudian unsur tanah eksternal lenyap. Jika bahkan unsur tanah eksternal ini, yang begitu dahsyat, terlihat sebagai tidak kekal, tunduk pada kehancuran, kelenyapan, dan perubahan, apalagi jasmani ini, yang dilekati oleh ketagihan dan bertahan hanya sebentar? Tidak ada yang dapat dianggap sebagai ‘aku’ atau ‘milikku’ atau ‘diriku.’

[Kitab Komentar : Menurut Kosmologi India kuno siklus kehancuran dunia dapat terjadi karena air, api, atau angin. Baca Visuddhimagga XIII, 30-65.

Gagasan “aku”, “milikku”, dan “diriku” mewakili tiga gagasan yang mengganggu pikiran yaitu pandangan identitas, keinginan, dan keangkuhan, secara berturut-turut.]

8. “Maka dari itu, jika orang lain mencaci, mencerca, memarahi, dan menyerang seorang bhikkhu [yang telah melihat unsur ini sebagaimana adanya], ia memahami: ‘Perasaan menyakitkan ini yang muncul dari kontak-telinga telah muncul padaku. Yang bergantung, bukan tidak bergantung. Bergantung pada apakah? [186] Bergantung pada kontak.’ Kemudian ia melihat bahwa kontak adalah tidak kekal, bahwa perasaan adalah tidak kekal, dan bahwa kesadaran adalah tidak kekal. Dan pikirannya, setelah menjadikan suatu unsur sebagai objek pendukungnya, masuk ke dalam [objek pendukung yang baru itu] dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan keteguhan.

[Kitab Komentar menjelaskan bahwa paragraf ini, mengenai “bergantung pada kontak”, yang merujuk pada seorang bhikkhu yang mempraktikkan meditasi pada unsur-unsur, bermaksud untuk menunjukkan kekuatan pikirannya dalam menerapkan pemahamannya terhadap segala sesuatu pada objek-objek tidak menyenangkan yang muncul di “pintu” telinga. Dengan merenungkan pengalaman melalui kondisionalitas dan ketidak-kekalan, ia mentransformasikan situasi yang berpontensi memprovokasi karena dihina menjadi suatu kesempatan bagi pandangan-terang.

Tassa dhātārammaṇam eva cittaṁ pakkhandati, “Dan pikirannya, setelah menjadikan suatu unsur sebagai objek pendukungnya, masuk ke dalam [objek pendukung yang baru itu] dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan keteguhan”. Kalimat ini dapat ditafsirkan dalam dua cara alternatif, bergantung pada bagaimana kata majemuk dhātārammaṇam dipahami. YM. Nyanaponika menganggapnya sebagai objek dari kata kerja pakkhandati, dan ia memahami dhātu di sini sebagai “unsur bukan personal secara umum” yang mampu menerima suara, kontak, perasaan, dan sebagainya. Karena itu ia menerjemahkan: “Dan pikirannya masuk ke dalam objek itu [dengan menganggapnya hanya sebagai] unsur [tidak hidup].” Bhikkhu Ñāṇamoli membaca kata majemuk ini sebagai kata tambahan yang berarti citta, dan memberikan objek dari kata kerja dalam tanda kurung. Kitab Komentar sepertinya mendukung tulisan pertama; penerjemah lain secara eksplisit mengidentifikasikan dhātu sebagai unsur tanah, dengan demikian mendukung pernyataan ke dua. Kitab Komentar menjelaskan frasa “memperoleh keteguhan” bermakna bahwa meditator merenungkan situasi melalui unsur-unsur dan dengan demikian tidak melekati juga tidak menolaknya.]

9. “Sekarang, jika orang lain menyerang bhikkhu itu dalam cara yang tidak diinginkan, tidak disukai, dan tidak menyenangkan, melalui kontak dengan kepalan tangan, tongkat, kayu, atau pisau, ia memahami: ‘Jasmani ini memiliki sifat bahwa kontak dengan kepalan tangan, tongkat, kayu, atau pisau dapat menyerangnya. Tetapi telah dikatakan oleh Sang Bhagavā dalam “nasihat tentang perumpamaan gergaji”: “Para bhikkhu, bahkan jika para penjahat memotong kalian dengan kejam bagian demi bagian tubuh dengan gergaji bergagang ganda, ia yang memendam pikiran benci terhadap mereka berarti tidak melaksanakan ajaranKu.” Maka kegigihan tanpa lelah akan dibangkitkan dalam diriku dan perhatian tanpa kendur terbentuk, tubuhku tenang dan tidak terganggu, pikiranku terkonsentrasi dan terpusat. Dan sekarang biarlah kontak dengan kepalan tangan, tongkat, kayu, atau pisau akan menyerang jasmani ini; karena ajaran para Buddha ini sedang dipraktikkan (olehku).’

[Kitab Komentar : Kalimat “Jasmani ini memiliki sifat bahwa kontak dengan kepalan tangan, tongkat, kayu, atau pisau dapat menyerangnya” pada paragraf di atas, dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan bhikkhu yang bermeditasi ketika ia mengalami penderitaan melalui jasmani.

Khotbah Sang Buddha yang menyatakan “Para bhikkhu, bahkan jika para penjahat memotong kalian dengan kejam bagian demi bagian tubuh dengan gergaji bergagang ganda, ia yang memendam pikiran benci terhadap mereka berarti tidak melaksanakan ajaranKu.”, dapat dijumpai pada sutta terpisah pada Majjhima Nikāya 21.20, Kakacūpama Sutta: Perumpamaan Gergaji.]

10. “Ketika bhikkhu itu mengingat Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, jika keseimbangan yang didukung oleh hal-hal yang bermanfaat tidak terbentuk dalam dirinya, maka ia membangkitkan dorongan sebagai berikut: ‘Adalah kerugian bagiku, bukan keberuntungan, adalah keburukan bagiku, bukan kebaikan, bahwa ketika aku mengingat Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, keseimbangan yang didukung oleh hal-hal yang bermanfaat tidak terbentuk dalam diriku.’ Seperti halnya ketika seorang menantu-perempuan melihat ayah mertuanya, ia membangkitkan dorongan [untuk menyenangkannya], demikian pula, ketika bhikkhu itu mengingat Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, jika keseimbangan yang didukung oleh hal-hal yang bermanfaat tidak terbentuk dalam dirinya, maka ia membangkitkan dorongan. Tetapi jika, ketika ia mengingat Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, jika keseimbangan yang didukung oleh hal-hal yang bermanfaat terbentuk dalam dirinya, [187] maka ia menjadi puas dengannya. Pada titik ini, teman-teman, banyak yang telah dilakukan oleh bhikkhu itu.

[Kitab Komentar : Perenungan Sang Buddha dilakukan di sini dengan mengingat bahwa Sang Bhagavā mengajarkan perumpamaan gergaji ini, perenungan Dhamma dengan mengingat nasihat yang terkandung dalam perumpamaan gergaji, dan perenungan Saṅgha dengan mengingat moralitas para bhikkhu yang mampu menahankan hinaan demikian tanpa memunculkan pikiran membenci. “Keseimbangan yang didukung oleh kondisi-kondisi bermanfaat” (upekkha kusalanissitā) adalah keseimbangan pandangan terang, enam keseimbangan yang tidak tertarik juga tidak menolak objek-objek yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan yang muncul di enam pintu indria. Dengan kata lain, enam keseimbangan yang hanya dimiliki oleh Arahant, tetapi di sini dikatakan dimiliki oleh bhikkhu dalam latihan karena pandangan terangnya mendekati keseimbangan sempurna Arahant.]

(UNSUR AIR)

11. “Apakah, teman, unsur air? Unsur air dapat berupa internal maupun eksternal. Apakah unsur air internal? Apapun yang internal, bagian dari diri sendiri, air, basah, dan dilekati; yaitu cairan empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak, ludah, ingus, cairan sendi, air kencing, atau apapun lainnya yang internal, bagian dari diri sendiri, air, basah, dan dilekati: ini disebut unsur air internal. Sekarang baik unsur air internal maupun unsur air eksternal adalah unsur air. Dan itu harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Ketika seseorang melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, ia menjadi kecewa dengan unsur air dan pikirannya bosan terhadap unsur air.

12. “Sekarang ada saatnya ketika unsur air eksternal terganggu. Air menghanyutkan desa-desa, kota-kota, wilayah-wilayah, dan negeri-negeri. Ada saatnya ketika air di samudra surut seratus liga, dua ratus liga, tiga ratus liga, empat ratus liga, lima ratus liga, enam ratus liga, tujuh ratus liga. Ada saatnya ketika air di samudra sedalam tujuh pohon palem, sedalam enam pohon palem … sedalam dua pohon palem, hanya sedalam satu pohon palem. Ada saatnya ketika air di samudra sedalam tujuh depa, sedalam enam depa … sedalam dua depa, hanya sedalam satu depa. Ada saatnya ketika air di samudra sedalam setengah depa, hanya setinggi pinggang, hanya selutut, hanya semata kaki. Ada saatnya ketika air di samudra tidak mencukupi bahkan hanya untuk membasahi sendi jari tangan. Ketika bahkan unsur air eksternal ini, yang begitu dahsyat, [188] terlihat sebagai tidak kekal, tunduk pada kehancuran, kelenyapan, dan perubahan, apalagi jasmani ini, yang dilekati oleh ketagihan dan bertahan hanya sebentar? Tidak ada yang dapat dianggap sebagai ‘aku’ atau ‘milikku’ atau ‘diriku.’

13-15. “Maka dari itu, jika orang lain mencaci, mencerca, memarahi, dan menyerang seorang bhikkhu [yang telah melihat unsur ini sebagaimana adanya], ia memahami: … (sama seperti paragraf nomor ke-8 s.d. ke-10) … Pada titik ini juga, teman-teman, banyak yang telah dilakukan oleh bhikkhu itu.

(UNSUR API)

16. “Apakah, teman, unsur api? Unsur api dapat berupa internal maupun eksternal. Apakah unsur api internal? Apapun yang internal, bagian dari diri sendiri, api, panas, dan dilekati; yaitu yang dengannya seseorang menjadi hangat, menua, dan terhabiskan, dan yang dengannya apa yang dimakan, diminum, dikonsumsi, dan dikecap sepenuhnya dicerna, atau apapun lainnya yang internal, bagian dari diri sendiri, api, panas, dan dilekati: ini disebut unsur api internal. Sekarang baik unsur api internal maupun unsur api eksternal adalah unsur api. Dan itu harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Ketika seseorang melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, ia menjadi kecewa dengan unsur api dan menjadikan pikirannya bosan terhadap unsur api.

17. “Sekarang ada saatnya ketika unsur api eksternal terganggu. Api membakar desa-desa, kota-kota, wilayah-wilayah, dan negeri-negeri. Api itu padam karena habisnya bahan bakar hanya ketika api itu mencapai rumput hijau, atau jalan, atau batu, atau air, atau ruang terbuka. Ada saatnya ketika mereka menyalakan api bahkan dengan bulu ayam dan kupasan kulit. Ketika bahkan unsur api eksternal ini, yang begitu dahsyat, terlihat sebagai tidak kekal, tunduk pada kehancuran, kelenyapan, dan perubahan, apalagi jasmani ini, yang dilekati oleh ketagihan dan bertahan hanya sebentar? Tidak ada yang dapat dianggap sebagai ‘aku’ atau ‘milikku’ atau ‘diriku.’

18-20. “Maka dari itu, jika orang lain mencaci, mencerca, memarahi, dan menyerang seorang bhikkhu [yang telah melihat unsur ini sebagaimana adanya], ia memahami: … (sama seperti paragraf nomor ke-8 s.d. ke-10) … Pada titik ini juga, teman-teman, banyak yang telah dilakukan oleh bhikkhu itu.

(UNSUR UDARA)

21. “Apakah, teman, unsur udara? Unsur udara dapat berupa internal maupun eksternal. Apakah unsur udara internal? Apapun yang internal, bagian dari diri sendiri, udara, berangin, dan dilekati; yaitu udara yang naik ke atas, udara yang turun ke bawah, udara dalam perut, udara dalam usus, udara yang mengalir melalui bagian-bagian tubuh, nafas masuk, nafas keluar, atau apapun lainnya yang internal, bagian dari diri sendiri, udara, berangin, dan dilekati: ini disebut unsur udara internal. Sekarang baik unsur udara internal maupun unsur udara eksternal adalah unsur udara. Dan itu harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Ketika seseorang melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, ia menjadi kecewa dengan unsur udara dan menjadikan pikirannya bosan terhadap unsur udara. [189]

22. “Sekarang ada saatnya ketika unsur udara eksternal terganggu. Angin menyapu desa-desa, kota-kota, wilayah-wilayah, dan negeri-negeri. Ada saatnya di bulan terakhir musim panas ketika mereka membuat angin dengan menggunakan kipas atau tiupan dan bahkan rumbai jerami di tepi atap jerami tidak bergerak. Ketika bahkan unsur udara eksternal ini, yang begitu dahsyat, terlihat sebagai tidak kekal, tunduk pada kehancuran, kelenyapan, dan perubahan, apalagi jasmani ini, yang dilekati oleh ketagihan dan bertahan hanya sebentar? Tidak ada yang dapat dianggap sebagai ‘aku’ atau ‘milikku’ atau ‘diriku.’

23-25. “Maka dari itu, jika orang lain mencaci, mencerca, memarahi, dan menyerang seorang bhikkhu [yang telah melihat unsur ini sebagaimana adanya], ia memahami: … [190] (sama seperti paragraf nomor ke-8 s.d. ke-10) … Pada titik ini, teman-teman, banyak yang telah dilakukan oleh bhikkhu itu.

26. “Teman-teman, seperti halnya ketika suatu ruang dikelilingi oleh kayu dan tanaman menjalar, rumput, dan tanah liat, maka itu disebut ‘rumah,’ demikian pula, ketika suatu ruang dikelilingi oleh tulang dan urat, daging dan kulit, maka itu disebut ‘bentuk materi.’

[Kitab Komentar : Itu dikatakan untuk menekankan sekali lagi sifat tanpa-ego dari jasmani. Ia menunjukkan bahwa empat unsur hanyalah sekadar unsur bukan milik diri; unsur-unsur itu adalah tanpa makhluk, tanpa jiwa.]

27. “Jika, teman-teman, secara internal mata dalam kondisi baik dan lengkap tetapi tidak ada bentuk-bentuk eksternal dalam jangkauan pandangan, dan tidak ada [kesadaran] yang bersesuaian bereaksi, maka tidak ada manifestasi dari kelompok kesadaran yang bersesuaian. Jika, secara internal mata dalam kondisi baik dan lengkap dan ada bentuk-bentuk eksternal dalam jangkauan pandangan, tetapi tidak ada [kesadaran] yang bersesuaian bereaksi, maka tidak ada manifestasi dari kelompok kesadaran yang bersesuaian. Tetapi jika secara internal mata dalam kondisi baik dan lengkap dan ada bentuk-bentuk eksternal dalam jangkauan pandangan, dan ada [kesadaran] yang bersesuaian bereaksi, maka ada manifestasi dari kelompok kesadaran yang bersesuaian.

[Kitab Komentar : Perihal “tidak ada manifestasi dari kelompok kesadaran yang bersesuaian” dijelaskan, untuk memperkenalkan bentuk materi yang diturunkan dari empat unsur utama. Bentuk materi turunan, menurut analisa materi Abhidhamma, termasuk lima organ indria (pasādarūpa) dan empat jenis pertama objek indria, objek sentuhan karena diidentifikasikan sebagai unsur utama itu sendiri.

“Aktivitas (kesadaran) yang bersesuaian” (tajjo samannāhāro) dijelaskan oleh Kitab Komentar sebagai perhatian (manasikāra) yang muncul dengan bergantung pada mata dan bentuk-bentuk, diidentifikasikan sebagai “lima pintu kesadaran penerima (pañcadvārāvajjanacitta), yang memutuskan aliran rangkaian kehidupan (bhavanga) untuk memulai proses pengenalan. Bahkan ketika bentuk-bentuk muncul dalam jangkauan mata, jika perhatian tidak terhubung dengan bentuk karena sedang terlibat pada hal lain, maka tidak ada manifestasi dari “kesadaran yang bersesuaian,” yaitu, kesadaran-mata.]

28. “Bentuk materi dalam apa yang telah muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur materi yang terpengaruh oleh kemelekatan. Perasaan dalam apa yang telah muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur perasaan yang terpengaruh oleh kemelekatan. Persepsi dalam apa yang telah muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur persepsi yang terpengaruh oleh kemelekatan. Bentukan-bentukan [kehendak] dalam apa yang telah muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur bentukan-bentukan yang terpengaruh oleh kemelekatan. Kesadaran dalam apa yang telah muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur kesadaran yang terpengaruh oleh kemelekatan. Ia memahami sebagai berikut: ‘Sungguh, ini adalah bagaimana terjadinya kebersamaan, pertemuan, dan berkumpulnya hal-hal ke dalam lima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan ini. Sekarang ini telah dikatakan oleh Sang Bhagavā: “Seorang yang melihat [191] kemunculan bergantungan melihat Dhamma; seorang yang melihat Dhamma melihat kemunculan bergantungan.” Dan kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan adalah muncul bergantungan. Keinginan, kegemaran, kecenderungan, dan cengkeraman yang berdasarkan pada kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan ini adalah asal-mula penderitaan. Lenyapnya keinginan dan nafsu, ditinggalkannya keinginan dan nafsu pada kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan ini adalah lenyapnya penderitaan.’ Pada titik ini juga, teman-teman, banyak yang telah dilakukan oleh bhikkhu itu.

[Kitab Komentar : Bagian “kelompok unsur materi yang terpengaruh oleh kemelekatan” ini dijelaskan untuk menunjukkan Empat Kebenaran Mulia melalui pintu-pintu indria. “Apa yang telah muncul demikian” (tathābhūta) adalah keseluruhan faktor-faktor yang muncul melalui kesadaran-mata. Dengan menganalisis faktor-faktor ini ke dalam lima kelompok unsur kehidupan, YM. Sāriputta menunjukkan bahwa setiap peristiwa pengalaman indria berada dalam kebenaran penderitaan.

Pernyataan Sang Buddha “Seorang yang melihat kemunculan bergantungan melihat Dhamma; seorang yang melihat Dhamma melihat kemunculan bergantungan.” ini belum terlacak secara langsung berasal dari Sang Buddha dalam sutta manapun dalam Kanon Pāli. Kitab Komentar mengemas, mungkin dengan sangat sedikit berhubungan dengan implikasi pernyataan yang lebih mendalam: “Seorang yang melihat kemunculan bergantungan melihat kondisi-kondisi kemunculan bergantungan (paṭicca samuppanne dhamme); seorang yang melihat kondisi-kondisi kemunculan bergantungan melihat kemunculan bergantungan.”

Perihal kalimat “Keinginan, kegemaran, kecenderungan, dan cengkeraman”, empat kata ini – chanda, ālaya, anunaya, ajjhasāna – adalah sinonim dari ketagihan (taṇhā).”

Pada paragraf ini, Walaupun hanya tiga dari Empat Kebenaran Mulia yang secara eksplisit ditunjukkan dalam teks, namun kebenaran ke empat juga tersiratkan. Menurut Kitab Komentar, ini adalah penembusan ketiga kebenaran ini melalui pengembangan delapan faktor sang jalan.]

29-30. “Jika, teman-teman, secara internal telinga dalam kondisi baik dan lengkap tetapi tidak ada suara-suara dalam jangkauan pendengaran (seperti pada paragraf nomor ke-27 s.d. ke-28) … Pada titik ini juga, teman-teman, banyak yang telah dilakukan oleh bhikkhu itu.

31-32. “Jika, teman-teman, secara internal hidung dalam kondisi baik dan lengkap tetapi tidak ada bau-bauan dalam jangkauan penciuman … Pada titik ini juga, teman-teman, banyak yang telah dilakukan oleh bhikkhu itu.

33-34. “Jika, teman-teman, secara internal lidah dalam kondisi baik dan lengkap tetapi tidak ada rasa kecapan dalam jangkauan pengecapan … Pada titik ini juga, teman-teman, banyak yang telah dilakukan oleh bhikkhu itu.

35-36. “Jika, teman-teman, secara internal badan dalam kondisi baik dan lengkap tetapi tidak ada objek-objek sentuhan dalam jangkauan sentuhan … Pada titik ini juga, teman-teman, banyak yang telah dilakukan oleh bhikkhu itu.

37. “Jika, teman-teman, secara internal pikiran dalam kondisi baik dan lengkap tetapi tidak ada objek-objek pikiran eksternal dalam jangkauan pikiran, dan tidak ada [kesadaran] yang bersesuaian bereaksi, maka tidak ada manifestasi dari kelompok kesadaran yang bersesuaian. Jika, secara internal pikiran dalam kondisi baik dan lengkap dan ada objek-objek pikiran eksternal dalam jangkauan pikiran, tetapi tidak ada [kesadaran] yang bersesuaian bereaksi, maka tidak ada manifestasi dari kelompok kesadaran yang bersesuaian. Tetapi jika secara internal pikiran dalam kondisi baik dan lengkap dan ada objek-objek pikiran eksternal dalam jangkauan pikiran, dan ada [kesadaran] yang bersesuaian bereaksi, maka ada manifestasi dari kelompok kesadaran yang bersesuaian.

[Kitab Komentar mengidentifikasikan “pikiran” (mano) dalam paragraf “secara internal pikiran dalam kondisi baik dan lengkap tetapi tidak ada objek-objek pikiran eksternal dalam jangkauan pikiran, dan tidak ada [kesadaran] yang bersesuaian bereaksi, maka tidak ada manifestasi dari kelompok kesadaran yang bersesuaian” ini sebagai kesadaran rangkaian-kehidupan (bhavangacitta).

Kitab Komentar mengilustrasikan kasus “secara internal pikiran dalam kondisi baik dan lengkap dan ada objek-objek pikiran eksternal dalam jangkauan pikiran, tetapi tidak ada [kesadaran] yang bersesuaian bereaksi, maka tidak ada manifestasi dari kelompok kesadaran yang bersesuaian”, melalui keterlenaan pikiran dengan objek yang sudah biasa dikenali ketika tidak memperhatikan rincian yang biasa dikenali dari objek tersebut. “Kelompok kesadaran yang bersesuaian” di sini adalah kesadaran-pikiran (manoviññāṇa), yang mengambil objek non-indria sebagai bidang pengenalannya.]

38. “Bentuk materi dalam apa yang muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur materi yang terpengaruh oleh kemelekatan. Perasaan dalam apa yang muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur perasaan yang terpengaruh oleh kemelekatan. Persepsi dalam apa yang muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur persepsi yang terpengaruh oleh kemelekatan. Bentukan-bentukan [kehendak] dalam apa yang muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur bentukan-bentukan yang terpengaruh oleh kemelekatan. Kesadaran dalam apa yang muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur kesadaran yang terpengaruh oleh kemelekatan. Ia memahami sebagai berikut: ‘Sungguh, ini adalah bagaimana terjadinya kebersamaan, pertemuan, dan berkumpulnya hal-hal ke dalam lima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan ini. Sekarang ini telah dikatakan oleh Sang Bhagavā: “Seorang yang melihat kemunculan bergantungan melihat Dhamma; seorang yang melihat Dhamma melihat kemunculan bergantungan.” Dan kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan adalah muncul bergantungan. Keinginan, kegemaran, kecenderungan, dan cengkeraman yang berdasarkan pada kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan ini adalah asal-mula penderitaan. Lenyapnya keinginan dan nafsu, ditinggalkannya keinginan dan nafsu akan kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan ini adalah lenyapnya penderitaan.’ Pada titik ini juga, teman-teman, banyak yang telah dilakukan oleh bhikkhu itu.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Sāriputta. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Yang Mulia Sāriputta.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Konsultan Hukum HERY SHIETRA & PARTNERS